Apakah seorang neurodivergent bisa meramal masa depan? Jawabanya, iya bisa.
Namun pilihan kata “meramal” ini lumayan sensasional karena kita memang tidak tahu apa-apa tentang masa depan itu sendiri.
Kita, para neurodivergent, bukanlah mereka yang seringkali disebut dengan “indigo” atau dukun, atau entah. Tapi memang kita punya kemampuan untuk menerawang masa depan.
Mungkin daripada disebut “meramal”, lebih cocok dengan “memprediksi”.
Tingkat keakuratan prediksi masa depan dari seorang neurodivergent yang sudah matang bisa mencapai 80% atau bahkan lebih dari itu.
Ini juga merupakan salah satu superpower neurodivergent yang lupa saya sebutkan pada artikel saya sebelumnya tentang apa saja superpower ADHD.
Bagaimana kita bisa mendapatkan bakat seistimewa ini?
Tumbuh Secara Normal
Perlu dicatat, sebagai manusia yang memiliki kemampuan berpikir, jangan kita sangka kalau kekuatan meramal ini bisa digunakan begitu saja.
Dengan kata lain, kekuatan ini bukan mukjizat, karomah, atau sesuatu yang di luar nalar manusia. Saya akan jelaskan alasannya di artikel ini.
Nyatanya, tidak sedikit juga para neurodivergent yang tidak menyadari kemampuan ini bahkan hingga masa tua mereka.
Mengapa banyak yang tidak menyadari? Karena alih-alih mereka dapat perhatian dan dukungan mengenai karakteristik neurodivergent mereka, mereka justru fokus mempertanyakan mengapa mereka berbeda dari lingkungan mereka.
Kembali kepada kekuatan super yang satu ini. Bagaimana pun, kekuatan atau bakat itu perlu ditumbuhkan. Seperti seorang yang berbakat melukis namun kemampuan menggambarnya tidak ia asah, maka ia tidak akan pernah bisa menjadi pelukis hebat.
Maka dari itu, sebagai seorang neurodivergent, saya akan menjelaskan secara transparan mengapa bakat menerawang masa depan ini normal dan tidak ada hubungannya dengan supranatural sedikit pun.
Menghormati Hukum Alam
Dunia ini berjalan sesuai formula yang telah ditetapkan. Orang menyebutnya sebagai “hukum alam” atau “sunnatullah”.
Neurodivergent, dengan fitur hyper-justice mereka, sangat menghormati harmonisasi hukum alam ini. Mereka sebenarnya gemar membaca tanda-tanda alam dan tidak fokus kepada masalah pribadi mereka sendiri.
Maka jika seorang neurodivergent sudah matang, mereka bisa memprediksi apa yang terjadi di masa depan berkat rasa peka mereka dengan tanda-tanda alam tersebut.
Tanda-tanda alam di sini bukanlah bisa memperdiksi kapan terjadi gempa bumi atau tsunami, justru neurodivergent tidak bisa membaca itu secara default. Biarkan para ilmuwan saja yang bisa membaca itu.
Justru tanda-tanda alam di sini jauh lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Contoh paling mudahnya, jika seorang murid malas belajar, maka di masa depan nilai rapornya akan buruk dan kemungkinan besar ia akan tinggal kelas.
Memang sesederhana itu cara neurodivergent menerawang masa depan. Tidak ada yang spesial bukan?
Namun masalahnya, itu baru matematika dasarnya saja yang hampir setiap orang pasti bisa memecahkannya.
Saya akan membagikan pengalaman saya sendiri menerawang ini.
Kasus Nyata Di Tengah Masyarakat
Di saat kebanyakan orang hanya fokus dengan masalah pribadi mereka sendiri, para neurodivergent fokus dengan masalah sosial yang terjadi di masyarakat.
Dan di saat kebanyakan orang hanya gemar menyalahkan pemerintah sebagai pelampiasan, para neurodivergent justru sibuk menelaah mengapa pemerintah itu bisa terpilih, serta membuat beberapa perbandingan dengan negara yang lebih maju.
Ini berkat fitur hiper-empati yang menyebabkan kita mampu melihat berbagai permasalahan yang seringkali dilewatkan oleh kebanyakan orang.
Kebanyakan orang saat membahas perilaku masyarakat yang mengkhawatirkan, mereka dengan tidak acuhnya bilang,
“Ah saya nggak gitu tuh!”
“Ah, itu mah pas lagi apes aja ketemu yang begitu.”
“Itu kan karena pemerintah.”
Menyisakan sedikit sekali mereka yang mau diajak diskusi tentang inti permasalahannya.
Inilah kenyataan pahit dari kalangan masyarakat kita yang memang sangat sulit membedakan mana masalah pribadi dan masalah sosial. Wajar jika kemampuan menerawang masa depan ini tidak mereka miliki.
Padahal, bagaimana solusi bisa hadir jika akar masalahnya saja tidak mampu kita identifikasi?
Contoh Saya Pribadi
Fenomena “kehilangan sparks” yang cukup membuat heboh akhir-akhir ini sebenarnya sudah saya terawang dari sejak 2019 lalu.
Beberapa artikel saya yang membahas mengapa segala sesuatunya menjadi begitu membosankan, sudah pernah saya tulis di tahun itu.
Tetapi karena pada saat itu masyarakat sedang dalam fase hype, mereka tidak menyadari efek sampingnya dari jauh-jauh hari.
Begitu juga dengan fenomena startup atau perusahaan rintisan yang sempat menjamur namun kemudian satu per satu tumbang.
Alhamdulillah sebagai direktur utama IT (CTO), saya sudah menangkap ini dari 2018 dan fokus membangun bahtera saya sendiri untuk menyelamatkan tim saya di masa depan daripada sibuk meributkan teknologi mana yang paling canggih.
Bahkan hingga kini, obrolan saya dengan AI kebanyakannya adalah berdiskusi tentang efek samping yang akan terjadi di masa depan sebagai validasi.
Saya tidak FOMO, ikut-ikutan tren, apalagi menggunakan pinjol atau paylater.
Saya terjaga dari kebisingan sosial, karena saya sudah dapat menerawang mana kegiatan yang bermanfaat untuk saya dan menghasilkan di masa depan. Saya tidak pernah merasa kehilangan sparks sebab saya sudah punya generator sparks sendiri.
Tidak mengapa hari ini saya jalan terseok namun pasti, daripada berlari secepat kilat di awal namun kolaps sebelum tiba di garis finis.
Saya justru lebih sering berbincang dengan AI masalah terumbu karang, banjir rob yang kian parah, tenggelamnya Jakarta, hingga dampak dari masyarakat yang terlalu abai masalah ini.
Kesimpulan
Intinya seluruh kekuatan super yang dimiliki para neurodivergent tidak lain hanya bakat manusiawi tanpa adanya bantuan gaib.
Para neurodivergent yang sudah matang bisa menerawang masa depan dan memiliki ketepatan sekitar 80% bahkan lebih, tidak muncul begitu saja.
Kita justru menghormati proses yang disebut dengan hukum alam atau sunnatullah. Maka dari itu kita lebih peka dengan tanda-tanda alam ini.
Banyak orang yang bilang, kalau mengobrol dengan saya punya sensasi healing tersendiri, jauh berbeda dari tema pembicaraan pada umumnya.
Misalnya, kata mereka, orang di sekitarnya hanya sibuk membahas pencapaian, flexing, membicarakan orang lain, mengejar tren, dan hanya candaan umum.
Tetapi ketika berbicara dengan saya, katanya saya membahas hal atau tips yang mereka ternyata baru tahu dan mereka bilang itu menarik dan bermanfaat untuk mereka.
Saya menyadari itu adalah salah satu “kekuatan super” saya yang harus saya pelihara bahkan harus saya jadikan lebih baik lagi.
Terakhir, mengenai negara ini, bisakah negara Indonesia ini bebas korupsi?
Jawaban saya sederhana. Di negara maju yang indeks korupsinya rendah, masyarakatnya kebanyakan tertib dan senang berinovasi mempermudah orang lain.