• Dunia Dirancang untuk Neurotipikal

    Dunia sebenarnya tidak dirancang untuk para neurotipikal, namun pernyataan “Dunia Dirancang Untuk Neurotipikal” tidak sepenuhnya salah.

    Tentu saja itu karena manusia lebih memilih untuk membuat norma yang berpihak kepada banyak khalayak. Norma-norma itulah yang menjadi standar yang berlaku di masyarakat setempat.

    Misalnya contoh yang paling mudah, hidup di negara yang mayoritas masyarakatnya ekstrovert akan begitu melelahkan bagi para introvert. Baterai sosial mereka kerap habis terkuras untuk bersosialisasi dan mengikuti banyak kegiatan bersama.

    Sebaliknya, hidup di negara yang mayoritas masyarakatnya introvert pasti akan menjadi tantangan sendiri bagi para ekstrovert yang seolah dipaksa “hening” hampir dalam segala aspek.

    Saya yakin kita sudah saling mengetahui bahwa jumlah neurodivergent tidak banyak. Pernah ada yang bilang jumlahnya hanya sekitar empat atau lima persen saja namun itu masih perlu rujukan data.

    Artinya, seolah seluruh norma dan standar lebih memihak kepada neurotipikal, meski itu memang wajar karena jumlah neurotipikal di dunia ini memang lebih banyak.

    Tidak heran para neurodivergent banyak yang terpaksa masking demi dapat diterima di lingkungan masyarakat yang kebanyakannya adalah neurotipikal.

    Kegiatan masking setiap saat itu sangat melelahkan karena membuat para neurodivergent harus meninggalkan identitas mereka sendiri dan menyesuaikan identitias para “mayoritas”.

    Akibatnya, para neurodivergent yang terus-menerus melakukan masking sedari mereka kecil akan membuat keberadaan mereka sulit ditemukan, yang membuat jumlah neurodivergent yang sudah sedikit akan menjadi lebih sedikit.

    Saya sendiri sudah tidak pernah masking dan menampilkan sisi neurodivergent saya yang lebih condong kepada ADHD. Saya seolah “memaksa” tim dan orang di sekitar saya untuk tahu siapa saya, karena tentu saja pastinya akan ada sifat saya yang mungkin kurang cocok dengan orang lain.

    Tetapi banyak juga sifat orang lain yang kurang cocok pada diri kita juga, ‘kan?

    Hanya saja, sekarang ini ada satu hal yang lebih saya khawatirkan mengenai topik yang sedang saya bahas.

    Melihat dari Atas Cakrawala

    Hal yang sering mengganjal pada saya justru bukanlah masking, melainkan mengenai salah satu superpower atau bakat neurodivergent yang saya berusaha untuk tumbuhkan.

    Seperti yang telah saya jelaskan pada artikel sebelumnya, salah satu fitur neurodivergent adalah “hyper-justice”nya. Justru bagi saya ini adalah sebuah dilema.

    Bisa memahami permasalahan sosial di saat para neurotipikal kebanyakan hanya fokus kepada masalah individual mereka sendiri itu menjadi tekanan tambahan tersendiri.

    Ketika masyarakat ramai-ramai menyalahkan sebuah sistem, saya justru berhenti sejenak dan melayangkan pertanyaan:

    • Apakah sistem itu muncul dengan sendirinya?
    • Siapa yang membuat sistem yang dibenci itu?
    • Siapa juga yang memilih pejabat berwenang yang membuat sistem yang dibenci itu?
    • Apakah jika pemerintahnya diganti, sistemnya bisa otomatis diperbaiki tanpa adanya pertentangan?
    • Apakah yang menyalahkan sistem itu memiliki sistem yang lebih baik untuk mengatur kehidupannya sendiri?
    • Dan lain sebagainya.

    Di luar itu, saya juga banyak mempertanyakan segala sesuatu, termasuk fenomena-fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.

    Sejujurnya, saya sendiri kebanyakan melawan arus dari hampir setiap tren yang sedang berlaku di masyarakat.

    Sedari awal saya memang tidak pernah tertarik dengan istilah-istilah tren seperti “pelari kalcer (culture)”, “vibe coding” meski saya programmer, atau sekadar mengikuti tren yang berlaku pada saat itu.

    Bukan berarti seluruh tren itu buruk, saya memang hanya tidak tertarik saja mengikuti apa yang sedang hype.

    Namun bagaimana pun, bersikap skeptis dengan setiap perilaku sosial yang ada, itu menyelamatkan saya dengan dampak dari perilaku mayoritas masyarakat itu sendiri yang kebetulan memang negatif.

    Misalnya, saya bersyukur karena tidak pernah tersentuh dari glamornya media sosial yang saya belum mampu mencapainya.

    Sejauh ini, saya tidak pernah memiliki cicilan, pinjol, atau paylater.

    Sekali pun pernah berhutang, itu jumlahnya sangat sedikit dan itu hanya untuk mencukupi kebutuhan dasar saya saja.

    Saya pun tidak pernah kehilangan sparks. Akar identitas saya sudah menghujam dengan mantap ke dalam sanubari saya tanpa harus mengikuti apa yang sedang hangat diperbincangkan pada saat itu.

    Detektor Risiko

    Sebagai programmer, saya kenal betul dengan istilah vibe coding yang ramai digaungkan karena AI bisa langsung mengoding dengan hanya memberikan perintah (prompt) semau kita.

    Hasilnya luar biasa, bahkan orang yang tidak bisa mengoding bisa menciptakan aplikasi luar biasa hanya dengan menyuruh agent AI andalannya.

    Sebenarnya saya pun mengoding dibantu AI juga, hanya saja saya menggunakan AI untuk tips terbaik (best practice) dan bukan menyuruh AI mengetik kodingan begitu saja.

    Tren vibe coding ini juga yang membuat saya merasa terasing.

    Forum dan topik programming di internet sebagian besar justru menjadi pembahasan token AI, bukan masalah membahas algoritma dan teknik mengoding.

    Saat orang lain melihat vibe coding sebagai “keajaiban masa depan yang keren”, radar saya mendeteksi adanya ancaman terhadap etika kerja, hilangnya penghargaan terhadap proses belajar, dan kepalsuan SDM. Karena orang lain belum melihat dampaknya, saya merasa seperti sendirian di tengah keramaian.

    Sama sekali bukan berarti vibe coding akan berakibat seperti itu. Radar saya hanya mendeteksi segala hal, secara objektif.

    Tidak sedikit programmer hari ini yang memamerkan hasil aplikasinya yang terlihat luar biasa. Tetapi saat ditanya bagaimana teknisnya, mereka kebingungan. Atau saat aplikasinya mulai mendapatkan banyak pengguna, masalah demi masalah mulai timbul hingga aplikasinya tidak lagi dapat digunakan.

    Bukan Sosiolog

    Sayangnya, karena saya bukanlah seorang sosiolog, saya sendiri kebingungan menerjemahkan kejanggalan yang saya rasakan dari sebuah tren.

    “Mengapa saya tidak senang dengan tren itu?”

    “Apakah saya hanya iri saja? Namun sepertinya bukan?”

    Radar yang selalu bekerja ini selalu menangkap banyak sinyal yang para neurodivergent seringkali kewalahan dalam mengelolanya. Itu bisa berkembang menjadi ADHD Burnout.

    Masalahnya radar ini memang berfungsi secara default. Saat ada neurotipikal yang bilang, “sudah jangan dipikirkan”, itu memang karena para neurotipikal tidak memiliki fitur radar yang selalu ON ini.

    Neurotipikal biasanya baru bisa memahami masalah sosial yang kompleks saat mereka belajar semacam sosiologi dan mengenyampingkan masalah pribadi mereka.

    Secercah Harapan

    Sebenarnya neurodivergent hanya menginginkan hal yang sangat sederhana, semudah sebab dan akibat.

    Semuanya itu akan bertabrakan jika yang dihadapi oleh neurodivergent adalah ironi.

    Contohnya, bukan sekali dua kali saya menemukan orang yang menyebut mereka “pelari kalcer” namun jalan kaki ke stasiun terdekat yang hanya 300 meter ternyata mengeluh.

    Otak saya tidak bisa memroses hal yang bertentangan ini.

    Pada akhirnya di sinilah saya mempelajari banyak karakter manusia modern alih-alih ikut tren yang saya tidak paham apa urgensinya bagi diri saya.

    Jika ingin lari pagi, saya sesimpel pakai sepatu yang nyaman lalu lari hingga lima kilometer tiga kali seminggu.

    Tanpa kamera, tanpa perlu validasi media sosial, kecuali hanya satu atau dua kali (wajar manusiawi), hanya fokus lari, kemudian sudah.

    Sayangnya, banyak neurodivergent yang merasa tidak nyaman dengan suatu tren, lebih memilih masking demi dapat melebur dengan mayoritas neurotipikal.

    Maksudnya, para neurodivergent sudah terlalu lelah dengan dunia yang semakin cepat, penuh drama, dan tren yang membludak.

    Bagi para neurotipikal, mereka dapat beradaptasi dan bisa mengabaikan seluruh kebisingan itu, meski tetap punya batasnya masing-masing.

    Namun bagi kita yang rawan ter-overstimulasi, sebuah kebisingan sudah cukup melelahkan dan kerap terpikirkan.

    Tentu saja karena kita paham apa itu masalah sosial, dan kita hanya ingin kehidupan yang sesederhana memiliki sebab-akibat yang jelas.

    Suka
    Komentar
    pos ke FB
    pos ke X
  • 0 Jejak Manis Ditinggalkan

    Mari Berdiskusi...

    Anggap rumah sendiri, utarakan uneg-uneg kalian.
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. 😉