• Saya Berhenti Masking Karena Kejadian Ini

    Semenjak saya sudah begitu lama tidak pernah lagi masking, saya sampai lupa alasan mengapa neurodivergent seperti ADHD dan Autisme perlu masking pada awalnya.

    Seperti yang kita sudah ketahui bahkan lakukan, masking yang dilakukan neurodivergent adalah berpura-pura untuk dapat diterima di lingkungan masyarakat yang mayoritas neurotipikal.

    Saya sudah menulis pada artikel sebelumnya, kalau dunia dirancang untuk para neurotipikal karena jelas mereka sebagai mayoritas. Ini disebut dengan Neurohegemoni.

    Manusiawi sebenarnya. Tetapi itu juga yang menyebabkan para neurodivergent harus memakai topeng (masking) untuk bersikap layaknya neurotipikal untuk dapat diterima di tengah masyarakat.

    Karena masking itulah banyak neurodivergent menjadi tidak mengenal diri mereka sendiri, dan kelelahan (burnout) karena terpaksa mengikuti pola masyarakat yang bukan bagian dari diri mereka sendiri.

    Efeknya mirip dengan introvert yang terpaksa harus bersosialiasi setiap saat di negara yang mayoritasnya adalah ekstrovert.

    Sebuah kisah pendek

    Beberapa tahun lalu, saya berhenti masking hanya karena di lingkungan kantor saya waktu itu ada orang yang memiliki sifat yang tidak disukai oleh tim, sebut saja si K.

    Namun, setiap saya mengutarakan komplain karena tidak senang dengan perilaku si K, saya justru disuruh menerima sifatnya apa adanya oleh tim yang lain.

    “Sudah Nda, si K mah orangnya memang begitu.”

    Dan itu bukan satu atau dua kali saya mendengar kalimat itu terlontar mulus ke telinga saya.

    Sedangkan saya sendiri, ketika perilaku saya tidak cocok dengan tim, saya mendapatkan teguran jikalau saya tidak boleh bersikap seperti itu.

    Menyadari itu, alarm hiper-justice saya aktif. Hampir setiap malam, atau saat saya bangun tidur, pikiran yang mempertanyakan ketimpangan itu kerap datang dengan sendirinya.

    Padahal saya hanya ingin hari yang damai tanpa adanya pikiran yang membebani, namun saya tidak bisa.

    Pertanyaan ini seolah menanti sebuah jawaban hingga aksi:

    Kenapa saat saya yang berperilaku tidak menyenangkan bagi mereka, langsung kena teguran? Kenapa yang justru benar-benar menyebalkan tidak?

    Mungkin neurotipikal akan langsung menenangkan saya dengan bilang, “itu karena mereka sayang dengan kamu makanya hanya kamu yang mendapatkan teguran.”

    Saya marah. Saya tidak ingin menerima pernyataan penenang seperti itu. Sudah jelas itu tidak meredakan alarm hiper-justice saya ini justru membuatnya semakin nyaring.

    Apakah itu karena selama ini usaha masking saya tidak dihargai? Mungkin.

    Tapi ada yang lebih penting: penerimaan sosial haruslah dua arah.

    Ingat, fitur hyper-justice yang dimiliki oleh neurodivergent bersifat objektif, bukan masalah pribadi, dan tidak memihak.

    Hak dan Kewajiban Ekstra

    Saya juga memiliki hak untuk menjadi diri sendiri.

    Banyak orang yang seolah harus bisa menerima perilaku orang lain yang jelas tidak menyenangkan atau meminta toleransi berlebih, mengapa mereka tidak bisa menerima saya?

    Topeng yang selama ini saya pasang untuk membuat orang lain nyaman meski dengan menekan diri saya sendiri, saya buang seketika.

    Selamat datang diri saya yang apa adanya ini. Mereka juga harus memahami sifat saya yang ADHD ini.

    Tidak ada lagi masking, saya merdeka.

    Tidak, saya tidak berubah jadi villain atau orang jahat. Jadi, apa yang ditakutkan?

    Saya terkadang tidak bisa diam dan melakukan hal yang aneh-aneh di tempat kerja seperti mencorat-coret kertas, geleng-geleng kepala mengikuti alunan musik, mencari artikel Wikipedia yang tidak biasa, atau mengobrol dengan AI tentang masalah umum.

    Tidak mengganggu bukan? Jadi untuk apa masking?

    Di tambah lagi, saya tidak tertarik ikut drama kantor, saya tidak ikut kegiatan yang minim manfaat, saya tidak berpartisipasi dengan acara yang aneh-aneh.

    Dan yang terpenting, saya langsung ke inti dan minim basa-basi. Setiap ada drama yang menghambat produktivitas, saya utarakan rasa risih saya secara langsung meski saya berusaha masih dalam koridor etika seperti tidak dengan bahasa kotor, dst.

    Bagian inilah yang membuat saya saya kerap kali tidak disukai oleh orang lain.

    Padahal tim kerja lain banyak yang begitu bising saat jam kerja, minim progres, tidak bisa diam dan selalu mengajak obrol, hingga menjilat atasan. Bukankah itu lebih parah?

    Namun itu di kantor saya yang dulu.

    Lagipula, memang ada masanya saya “berisik” seperti menyanyi dan bersuara nyaring. Namun itu hanya berlangsung sangat sebentar karena saat saya sudah masuk mode hiperfokus, saya bisa anteng selama berjam-jam.

    Hasilnya? Bukan hanya pekerjaan yang sekadar selesai, namun juga saya optimasi, saya berikan sentuhan ekstra (extra-mile) sehingga atasan seringkali bangga dengan hasil kerja saya.

    Hikmah Besar

    Saya sekarang jadi CTO atau presdir IT di perusahaan yang saya bangun bersama tim.

    Dan ya, sifat tanpa masking ini masih terus saya pertahankan. Biarlah tim saya mengenali saya apa adanya.

    Ternyata tim saya justru menjadi nyaman dengan saya karena saya apa adanya dan bagi mereka perilaku aneh saya ini cukup menghibur.

    Seperti, terkadang ada saja gebrakan tidak masuk akalnya seperti membuat lelucon dengan program atau membuat bahasa baru yang bikin cekikikan.

    Tetapi itu juga yang membuat saya semangat untuk membuat fitur yang menyenangkan bagi tim. Fitur tersebut begitu mempermudah pekerjaan mereka.

    Saya tetap tegas, tetap “galak”, meski masih memiliki batas toleransi.

    Awalnya, saya mungkin merasa tidak tega jika terlalu tegas atau terlalu spontan dalam menegur kesalahan tim yang diluar toleransi saya sehingga terkesan memarahi.

    Tetapi saya merasa seperti orang tua yang galak karena sayang kepada anaknya. Jadi setelah saya keras dengan tim saya danmelihat mereka dapat menyadari kesalahan mereka, biasanya saya cairkan suasana seperti mengajak mereka jajan di minimarket pada lantai dasar gedung.

    Itu membuat tim saya yang kebetulan bersalah, merasa tidak enak dengan sendirinya.

    Tim saya sudah menerima karakteristik ADHD saya ini, jadi tidak perlu lagi saya melakukan masking sebagai metode survivial untuk membuat orang lain bisa menerima saya yang justru membuat saya tambah stres dan tidak produktif.

    Suka
    Komentar
    pos ke FB
    pos ke X
  • 0 Jejak Manis Ditinggalkan

    Mari Berdiskusi...

    Anggap rumah sendiri, utarakan uneg-uneg kalian.
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. 😉