?

AST Lendah

Wah, kamu menemukan tempat rahasia Anandastoon!
Hehe, nggak deng. Ini adalah lokasi journaling atau diari Anandastoon yang berisi tentang hal-hal yang berhubungan dengan produktivitas Anandastoon baik langsung maupun tidak langsung.

Misalnya, tentang inspirasi, motivasi, pengembangan diri, atau sesuatu di balik layar bagaimana konten di Anandastoon bisa muncul.
Bukan curhatan masalah pribadi kok. Isinya tentang progres atau calon progres saja.

Kamu juga bisa mencari lebih banyak diarinya dengan menelusuri kalender di bawah.
Makanya saya sebut "AST Lendah", alias AST Kalender dengan kelebayan lokal wakakak.

Yah, intinya hanya catatan kecil kira-kira satu atau beberapa paragraf.
Semoga bisa saling menginspirasi ya!

Selengkapnya mengenai bagaimana si Lendah ini bisa lahir ke dunia, silakan kunjungi diari di tanggal 2 Mei 2025 atau klik di sini.

0

1234
?
143 hari lagi menuju 2027
61.1%

Nggak ada diari di tanggal ini 🤷🏻

Saya juga ingin dengar kisahmu juga dong ~

10 Agustus 2026 Tutorial Menjadi Apatis Untuk Para ADHD

Sebenarnya postingan ini saya tujukan untuk seluruh neurodivergent, bukan untuk ADHD saja. Tetapi karena banyak dari masyarakat kita yang lebih mengenal ADHD, jadi ya saya “menumpang kata kunci” itu hehe…

Apatis itu sendiri memiliki makna negatif, sebab apatis itu berkaitan erat dengan ketidakpedulian dan bersikap masa bodoh dengan kondisi sekitar.

Ini tentu sangat bertentangan dengan pribadi neurodivergent yang memiliki fitur hyper-empathy dan hyper-justice.

Tetapi tidak perlu risau, saya pun neurodivergent juga, dan menjadi apatis di sini tidak membunuh sifat empati para neurodivergent, hanya menurunkan saja kadarnya sehingga mendekati normal dan menjadi tidak begitu menyiksa.

Kapan ADHD Perlu Apatis?

Seperti yang telah saya sebutkan pada postingan sebelumnya, bahwa ADHD memiliki kekuatan super berupa empati yang begitu tinggi.

Bagi neurodivergent, menolong orang lain akan memercikkan dopamin tersendiri yang menimbulkan sensasi kebahagiaan yang lebih pekat dibandingkan dengan kebanyakan orang pada umumnya.

Karena inilah banyak neurodivergent, termasuk ADHD dan autisme, yang menjadi naif dan begitu mudahnya terenyuh untuk tergerak menolong setiap orang.

Saya sendiri pernah terperosok dalam lubang depresi yang begitu dalam yang digali oleh orang yang telah saya tolong dengan sepenuh hati.

Tidak, saya tidak menuntut rasa terima kasih dari orang lain. Saya hanya menuntut hal yang normal saja.

Bukankah menyaksikan dunia yang begitu damai dan kita termasuk salah satu yang turut berkontribusi merupakan sebuah prestasi tersendiri?

Sayangnya memang dunia tidak seindah negeri dongeng. Bahkan di negeri dongeng itu sendiri, orang-orang jahat yang hobi memanfaatkan orang lain pun berkeliaran juga.

Namun memang saya memahami bahwa cukup sulit meyakinkan sesama neurodivergent tentang perlunya menjadi apatis dalam kondisi tertentu.

Kebanyakannya memang harus lewat pembelajaran trauma yang mendalam dahulu supaya bisa melihat dengan lebih jernih fakta di lapangannya.

Jangankan neurodivergent, neurotypical saja banyak yang harus terjerumus ke dalam kenyataan pahit yang harus mereka terima setelah secara terang-terangan dikhianati oleh orang yang mereka tolong.

Contoh kasusnya bermacam-macam, dari lingkup keluarga hingga lingkup sosial.

Misalnya untuk lingkup sosial, ada orang yang mencoba membantu orang-orang miskin di sekitarnya, tetapi yang dibantu justru ketagihan dan terlalu bergantung kepada sang donatur. Bahkan sampai dicela saat bantuannya habis.

Dari sana sang donatur baru belajar jika orang-orang seperti itu menjadi miskin karena mental mereka sendiri yang memang miskin, dan sama sekali bukan karena kemiskinan struktural.

Banyak sekali kejadian seperti ini di masyarakat kita.

Hanya saja, rasa sakit akibat pengkhianatan yang diterima oleh para neurodivergent akan jauh lebih berlipat ganda dan rekaman peristiwa itu akan terus terputar sepanjang masa.

Rasa sakit kita bisa separah itu juga disebabkan oleh fitur superpower yang lain, yakni selalu berusaha untuk “extramile”.

Neurodivergent mencintai untuk menaruh pengorbanan dan kasih sayang dari setiap karya atau perbuatan yang mereka buat, dan itu melelahkan.

Bagaimana jadinya jika seluruh hati yang tercurahkan itu ternyata bukan hanya bertepuk sebelah tangan, namun juga diubah jadi senjata yang mematikan oleh sang penerima kebaikan?

Saya sudah pernah ada di tahap itu dan saya mengalami rasa perihnya selama berbulan-bulan.

Apatis Menjadi Penawar Alami

Bagi para neurotypical, meski mengalami pengkhianatan itu menyakitkan, namun mereka bisa move on dengan singkat dan langsung berucap, “Oh, jadi begitu ya.”

Sayangnya, neurodivergent tidak bisa seperti itu. Bahkan dalam beberapa kasus yang parah, pengalaman yang menyakitkan itu menjadi urusan yang belum selesai dan akan terputar terus kapan pun yang bisa merusak produktivitas di tengah hari yang damai.

Belum lagi, menjadi apatis juga bukan merupakan hal yang mudah bagi para neurodivergent karena memang pada dasarnya kita memiliki hyper-empathy.

Namun, ada satu kunci yang membuat kita justru lebih mudah menjadi apatis.

Pertama kita yakini dahulu bahwa sifat empati kita memang tidak akan hilang karena hyper-empathy itu memang ciri default dari neurodivergent.

Kemudian, kita juga memiliki fitur untuk memikirkan segala sesuatu. Kita bisa menggunakan waktu kosong untuk berpikir tentang masalah sosial supaya kita bisa mengenali sifat masyarakat kita lebih jauh.

Dari sana, kita bisa mengenali mana orang yang layak kita tolong dan mana orang yang layak kita tepis.

Tidak lupa juga, kita olah setiap berita, kasus, hingga ingatan masa lalu kita menjadi sesuatu yang bisa mencegah kemungkinan buruk terjadi sebelum kita menuangkan hati kita dalam setiap aktivitas. “Mawas diri” istilahnya.

Terakhir, berbuat baiklah kepada diri kita sendiri bukan karena kita egois, melainkan karena kita lebih tahu tugas kita sendiri hidup di muka bumi ini.

Jika kita mengabaikan hak pada diri kita, baik hak fisik maupun hak mental, bagaimana kita bisa bersinar secara maksimal dan menjadi tokoh utama pada naskah takdir kehidupan kita sendiri?

Bagaimana pun, kita lebih memahami standar kita sendiri dan jangan biarkan ada pengacau yang kita izinkan untuk mengacak-acak itu semua.

Tidak ada salahnya di satu hari kita menolak sebuah pekerjaan bukan karena kita sudah penuh dengan tugas, namun karena kita menginginkan waktu lebih untuk menemani diri kita sendiri.

Saat kita merasa sudah berjuang sepenuh hati dan terbukti usaha kita bisa membahagiakan sekitar, cobalah ambil satu waktu secara rutin di mana kita fokus bahagiakan diri kita sendiri sebagai motor utama setiap kegiatan sepenuh hati kita itu.

Berhasil memiliki agenda khusus untuk menulis artikel ini serta mendesain tampilannya adalah salah satu bentuk kegiatan me-time bagi diri saya, dan tentu saja itu adalah sebuah prestasi.


Kalender diari Anandastoon

Agustus 2026
Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab

Numpang ngiklan dikit hehe...

Di bawah iklan ini ada galeri dan game tebak kata harian.


Progres Anandastoon

Anandastoon lagi ngerjain apa ya? Apakah ada update gebrakan baru?

Menampilkan maks 3 progres terakhir

Postingan Interaktif: Musik Indonesia 8-Bit


SELESAI!

Update: KELAR
09 Agustus 2026, pukul 16:53

Neurodivergent: Bangun Sub Tema Neuro

10%

Update: Setting CPT
09 Agustus 2026, pukul 01:53

Postingan Interaktif: Titik-Titik di Huruf Arab

25%

Update: Metodologi
09 Agustus 2026, pukul 01:52

Catatan Terakhir

Buat Custom Post Type baru di Anandastoon

06 Agustus 2026, pukul 23:35

Galeri Hari Ini

Hasil jepretan foto Anandastoon sendiri lho...

Foto Anandastoon
Gunung Talaga Bodas, 2018
Selengkapnya di sini

Gim Hari Ini

Menunggu...

K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K

Numpang ngiklan lagi dong...