Wah, kamu menemukan tempat rahasia Anandastoon!
Hehe, nggak deng. Ini adalah lokasi journaling atau diari Anandastoon yang berisi tentang
hal-hal yang berhubungan dengan produktivitas Anandastoon baik langsung maupun tidak langsung.
Misalnya, tentang inspirasi, motivasi, pengembangan diri, atau sesuatu di balik layar bagaimana konten di Anandastoon bisa muncul.
Bukan curhatan masalah pribadi kok. Isinya tentang progres atau calon progres saja.
Kamu juga bisa mencari lebih banyak diarinya dengan menelusuri kalender di bawah.
Makanya saya sebut "AST Lendah", alias AST Kalender dengan kelebayan lokal wakakak.
Yah, intinya hanya catatan kecil kira-kira satu atau beberapa paragraf.
Semoga bisa saling menginspirasi ya!
Selengkapnya mengenai bagaimana si Lendah ini bisa lahir ke dunia, silakan kunjungi diari di tanggal 2 Mei 2025 atau klik di sini.
Beberapa kali saya melihat di media sosial seperti Threads yang bilang kalau ADHD itu pelupa.
Misalnya seperti sering lupa jadwal, atau bahkan lupa kunci kendaraan.
Saya hanya menyeringai membaca itu.
Maksudnya, lupa hal seperti itu berlaku untuk seluruh manusia, bukan hanya neurodivergen (seperti ADHD) saja.
Banyak neurotipikal yang sering lupa di mana mereka menaruh sesuatu, meski bagi mereka barang itu penting. Jadi tidak ada kaitannya dengan ADHD.
Lalu saat ada yang bilang ADHD itu pelupa, apa maksudnya?
Dari pengalaman saya dan juga apa yang saya perhatikan dari para neurodivergen yang pernah saya kenal, ada satu hal yang spesial dalam segi “lupa” di sini.
Bagaimana jika saya bilang, kalau neurodivergen itu hampir tidak pernah lupa?
Para neurodivergen, termasuk ADHD dan autisme, biasanya melupakan sesuatu saat ada prioritas yang lebih penting untuk diingat dari itu.
Pengalaman saya sendiri, saya tidak pernah terlewat membayar biaya langganan parkir bulanan sejauh ini, kecuali satu kali.
Kapan itu? Kapan satu kali yang bikin saya terlupa itu?
Ternyata saat saya memiliki jadwal yang padat dan begitu merangsang stimulasi saya. Alhasil fokus saya secara penuh teralihkan untuk itu supaya hasilnya bukan hanya maksimal, melainkan juga ekstra.
Perihal membayar parkir baru teringat saat loket pembayaran sudah ditutup, yakni saat jam pulang kerja pukul 17.
Apakah kemudian saya menyalahkan diri saya sendiri karena terlupa? Tidak. Tidak sama sekali.
Saya justru memaafkan diri saya dengan bersegera jika memang sudah jatuh tempo, dengan mempersiapkan segala sesuatunya jadi saat tenggat atau beberapa hari sebelumnya, saya sudah sedia.
Dan itu manjur.
Pun sama halnya dengan lupanya saya membayar BPJS bulanan karena kesalahan saya sendiri yang belum memasukkan kegiatan itu ke dalam prioritas saat gajian.
Ya sudah, tinggal saya bayar saja dendanya. Beres.
Apalagi bank digital sekarang punya pengingat pembayaran, jadi tidak ada yang perlu saya khawatirkan masalah ini.
Ini yang paling menarik. Lupanya para neurodivergen justru kebanyakan di tengah aktivitas karena tiba-tiba ada rangsangan yang masuk.
Misalnya, saat tengah berbicara, tiba-tiba gagap dan terbata-bata seperti mendadak lupa.
Atau lupa dengan perintah yang baru saja didapatkan. Seperti, saat kita menyuruh ADHD untuk mengambil pesanan, tiba-tiba ADHD melupakan perintah itu seolah tidak ada apa-apa.
Sekali lagi, sebenarnya neurotipikal juga mengalami “mendadak lupa” seperti itu. Biasanya karena disela pikiran yang lebih menarik yang tiba-tiba muncul.
Namun, pikiran menarik yang tiba-tiba muncul itu akan menjadi stimulan berkali-kali lipat lebih dahsyat bagi ADHD sehingga memicu “amnesia” mendadak.
Kemudian apa yang harus dilakukan jika kerabat, pasangan, orang tua, atau anak yang neurodivergen tiba-tiba melupakan sesuatu atau berbicara gagap (terbata-bata)?
Alih-alih memarahinya dengan konstan yang bisa membuat ADHD tambah stres, ada hal yang jauh lebih menarik mengenai kasus lupa ini.
Maksudnya, ini bukan lupa seperti lupa menaruh barang atau lupa dengan acara tertentu, melainkan jenis lupa yang begitu mendadak di tengah aktivitas itu sendiri.
Lalu apa yang menariknya dari kejadian lupa mendadak ADHD ini?
Kita mungkin kesal karena harus memberitahunya lagi. Tetapi pernahkah kita tertarik dengan badai pikiran yang tetiba menghantamnya pada saat itu?
Jika waktu kita luang, cobalah untuk memberi ruang aman bagi para ADHD untuk bisa mengungkapkan apa pikiran yang tiba-tiba menghantamnya pada saat itu.
Bisa jadi itu sebuah ide menarik, kepedulian, atau kemarahan karena urusan yang belum selesai.
Dan yang paling penting, neurotipikal tidak boleh mengomentari isi pikiran ADHD, seaneh apa pun itu jika memang tidak dapat mencerna.
Sebenarnya ini normal dan hanya kecerdasan emosional biasa karena pastinya kita sendiri terkadang hanya ingin bercerita tanpa dihakimi (di-judge) orang lain ‘kan?
Orang yang cerdas biasanya menyenangi food for thought atau bahan renungan. Kita bisa memanen banyak hal ini dari ADHD.
ADHD bisa terlalu bahagia atau terlalu sedih, diperparah dengan mereka harus terjejal dengan isi pikiran mereka sendiri.
Padahal, kebanyakan masalah para neurodivergen bukanlah masalah pribadi mereka sendiri.
Para neurodivergen sangat mampu bahkan sangat senang jika kita bahas tentang masalah sosial, seperti kejadian di sekitar kita, dampaknya untuk kita, dan apa yang harus kita waspadai.
Kemudian ada sebuah ironi cantik: kebanyakan kita mungkin benci jika dimanfaatkan orang.
Tetapi para neurodivergen akan dengan senang hati jika aliran sungai deras di otak mereka dimanfaatkan orang banyak selama itu menghormati ruang dan waktu mereka.
Tanyalah segala sesuatu kepada neurodivergen. Bukan berarti mereka paham semuanya, tetapi karena terlalu banyak variabel di otak yang bisa mereka sambungkan.
Apalagi mereka memiliki hiper-empati dan hiper-justice, membuat para neurodivergen menjadi teman diskusi yang nyaman karena kemampuan mereka melihat permasalahan secara obyektif.
Apa itu obyektif? Tidak memihak. Lawan dari subyektif yang hanya berdasarkan selera masing-masing saja.
Kemampuan ini jarang ada. Saya sendiri merasakan, sulit sekali menemukan lawan bicara yang obyektif. Kebanyakan hanya terfokus kepada individu saja.
Lupanya para neurodivergen itu normal, sama seperti lupanya para neurotipikal.
Tetapi ada satu masalah krusial di sini. Seorang neurodivergen mungkin akan kebingungan jika ia tiba-tiba terlupa di tengah aktivitasnya yang begitu penting hanya karena ada badai pikiran yang terjadi secara mendadak.
ADHD bukan hanya lupa, namun juga sekaligus terjadi ledakan emosi seperti terlalu bahagia, terlalu sedih, atau terlalu marah berkat badai pikirannya itu.
Berbicara menjadi terbata-bata, atau gerakan terhenti dan menjadi menggantung, atau bahkan berteriak karena frustrasi.
Lalu apa yang harus dilakukan jika itu terjadi?
Saya sendiri terkadang mengalami ini, sejauh ini yang saya lakukan.
Karena pikiran neurodivergen terlalu kompleks, mengabaikannya hanya menimbun masalah yang akan menjadi bola salju besar yang siap menggelinding dan menjadi bencana.
Inilah kenapa neurodivergen menyenangi problem solving dengan sendirinya, karena pemicu bakat mereka sedari lahir memang itu.
| Min | Sen | Sel | Rab | Kam | Jum | Sab |
|---|
Numpang ngiklan dikit hehe...
Di bawah iklan ini ada galeri dan game tebak kata harian.
Anandastoon lagi ngerjain apa ya? Apakah ada update gebrakan baru?
Menampilkan maks 3 progres terakhir
Update: Pengumpulan Data
07 September 2026, pukul 01:35
Update: -
28 Agustus 2026, pukul 16:57
Update: TERBIT
19 Agustus 2026, pukul 01:28
Catatan Terakhir
Membuat Custom Post Type baru khusus pemrograman
Hasil jepretan foto Anandastoon sendiri lho...
Menunggu...
Numpang ngiklan lagi dong...