Dua Dimensi #2: Lampung Selatan, Pantai Tapak Kera & Air Terjun Way Kalam

Pantai Tapak Kera

Episode Sebelumnya, Anandastoon menyebrang sebuah dimensi yang berada di atas garis batas logika manusia, berhitung mundur dari bilangan tak terhingga, melayang melalui ruang waktu yang begitu sempit namun sangat luas, kemudian terbangun di atas kasur empuk di sebuah homestay di Lampung Selatan.

Setelah puas di pantai Bagus, saya melanjutkan tujuan saya ke Pantai Tapak Kera. Sepanjang perjalanan saya disuguhi banyak wisata pantai yang terkadang sepaket dengan penginapannya. Kemudian, saya berpisah dengan pesisir pantai dan memasuki pemukiman penduduk. Namun kali ini simbah Gugel sendiri kebingungan dengan aksesnya yang menurut para reviewer yang sudah ke sana, pantai tersebut sangat terpencil.

Saya disuruh belok kiri ke jalan tanah berbatuan. Mau nggak mau dong, namun ternyata saya menemukan pantai yang tidak terurus, banyak pelepah kelapa berjatuhan, dan saya disasarkan ke tengah-tengah rumah penduduk. Saya mengambil jalan lain, yang ternyata berujung ke tempat di mana saya pertama kali disuruh belok oleh simbah.

Pantai Tapak Keraaaa! Where are you?!!!


  • Sayang dibiarkan, dibiarkan sayang

Saya akhirnya meraba-raba sendiri, pasti tidak jauh dari sini. Kata penduduk yang saya tanya sih masih ke atas lagi. Maksudnya ke atas memang kontur jalanannya menanjak. Jadi saya ke atas deh. Apa masih dipandu oleh mbah Gugel? Nggak, doi udah saya cekek sampai tewas!

Entah kenapa di kiri saya tiba-tiba ada jalanan putih bebatuan yang saya tebak itu adalah jalan ke pantainya. Jalanannya bikin sakit pantat, padahal saya duduk di jok. Pas sampai di ujungnya, ternyata itu adalah pintu masuk pabrik. Zonk! Sok tau sih, akhirnya saya balik lagi.

Saya masih harus menanjak ke atas. Alamak, saya ini mau wisata pantai apa wisata puncak? Ternyata benar, ada plangnya di kiri jalan sebagai akses masuk ke pantai Tapak Kera. Alhamdulillah, saya masuk dong ke jalan tersebut. Lokasi pantai Tapak Kera sekitar 5km dari pantai Bagus.

Namun semakin ke dalam, jalanannya semakin hancur, mungkin hanya tinggal tanah, dengan sisa-sisa aspal atau beton. Pada akhirnya saya menemukan loket masuk yang dijaga oleh orang asli sana. Saya diminta Rp25000. Wew, untuk akses seperti ini Rp25rb masih termasuk harga yang cukup tinggi, semoga benar terbayarkan dengan pantainya.

Dan semoga… uang parkirnya dapat memperbaiki akses masuknya.

Bebs! Yang bawa mobil harap diparkir di loket masuk, karena yang dapat masuk ke dalam hanya sepeda motor. Dan itu pun aksesnya masya Allah. Saya tidak ingin menjelaskan dengan kata-kata, tapi lihat foto-foto berikut:

Pantai Tapak Kera Pantai Tapak Kera Pantai Tapak Kera

Kepleset dikit kelar hidup ente. Apalagi di tengah jalan kadang harus berpapasan dengan orang sananya yang mungkin membuka warung atau kegiatan lain dari pantai. Mereka mungkin nggak mau tahu kalau saya baru saja bisa mengendarai sepeda motor hehe…

Untung hanya 500 meter saja dari loket masuk. Namun begitu saya melihat pantainya, si Pirikidil langsung saya lempar ke antah berantah, saya terbang menuju nirwana.

Guys! Nggak perlu ke Bali atau Lombok sumpah! Tempat wisata kayak begini tuh underrated banget. Jarang orang tahu kalau ada pantai yang bisa sebanding sama dua pulau kayangan tersebut. Ya tapi wajar sih orang nggak pada tahu, wong aksesnya hancur lebur kecebur begitu. Katanya Indonesia itu indah, kok jumlah turisnya saingan sama negara kecil sebelah (baca: Singaparna, eh Singapur)?

Bening? Cek.

Batu alam cantik? Cek.

Asri? Cek.

Pasir putih? Cek.

Subhanallah? Cek.

Pantai Tapak Kera

Di pantai tersebut ada warung, tapi saya tidak melihat musala atau toilet. Saya yakin ada, cuma salah saya nggak ngeh gitu loh. Selama beberapa jam di pantai tersebut hanya ada saya seorang diri, terutama di atas bebatuan cantik tersebut. Saya memadukan suara deburan ombak dan musik yang saya dengarkan.

Subhanallahi wa bihamdih. Andai setiap orang merasakan ini.

Eh, lihat, itu ada si legendaris gunung Krakatau dari jauh, terbaring di atas lelautan yang sepertinya masih sakit batuk-batuk karena terlihat asap-asap kecil mengepul dari kawahnya. Moga-moga gunungnya nggak kena COVID hahah. Atau asap tersebut hanya awan biasa. Saya tidak tahu.

Pantai Tapak Kera

Sudah jam 10, dan sudah puas juga. Jadilah saya happy berlenggang… lewat jalan tadi. Ampun deh. Pengen gitu register jadi mentri pariwisata cuma pengen benerin akses yang kayak begini tuh. Maluuk sama negara tetangga yang pada masuk 20 besar negara yang paling banyak dikunjungi turis ahelah.

Tapi jabatan jadi menteri sayangnya berat sih, saya jadi citizen yang baik aja ah, atau netizen yang suka komen mulu hehe.


  • Petualang yang bukan petualang

Oh iya, berdasarkan prinsip saya yang sudah saya dalami bertahun-tahun, di mana ada gunung, di situ pasti ada air pada jatoh. Air terjun, bahasa bakunya begitu. Cuma ini saya nggak lagi ada di Jawa Barat dan sekitarnya, jadi nama air terjun di sini nggak lagi dinamain Curug dan sungainya nggak lagi dinamain Ci yang berarti cai atau air dalam bahasa Sunda.

Air terjun apa itu? Air terjun Way Kalam. Way, sebutan untuk sungai dalam bahasa Lampung, atau Sumatera bagian selatan. Okay, 20km lagi saya meluncur! Semoga sempat dapat feri yang saya pesan jam 15 juga.

Sebenarnya sudah ada plang jalan menuju air terjun Way Kalam, namun aksesnya benar-benar lebih terpencil daripada yang tadi. Ditambah, saya sendirian. Jalanannya juga nggak begitu bagus, apalagi tadi Pirikidil kesandung lobang jalanan rusak yang bikin mesinnya mati mendadak. Eh ternyata kuncinya ke off hehe… Tapi keras banget sih itu, semoga nggak ada organ Pirikidil yang rusak.

 Air Terjun Way KalamAir Terjun Way Kalam

Tiba di tempat parkir, ternyata tempat wisatanya masih belum begitu dibuka, baru saya yang parkir dan seorang penjaga. Saya ditagih Rp10000 untuk tiket masuk. Saya langsung turun tangga yang cukup licin dan tangganya buanyak, tapi nggak lebih dari 100 anak tangga sih, kayaknya.

Di bawah, saya benar-benar sendirian. Sendirian lagi, saya bebas mau ngapa-ngapain. Cuma terdengar suara kera, atau orang utan, atau bekantan, saya tidak yakin. Semua saling sahut-menyahut dari pohon ke pohon di atas saya. Tapi hanya ada saya seorang diri di sini, bahkan monyet-monyet tersebut tidak tampak batang hidungnya menemani saya.

*Hiks…

Di bawah belum ada warung dan fasilitas apa pun, semuanya ada di tempat parkir. Jadi kalau mau bilas lebih baik setelah naik tangga. Kebetulan air terjunnya tidak besar, maksud saya tidak sebesar yang saya lihat di simbah Gugel, tapi cukup asyik untuk menyendiri.

Terlihat ada jembatan yang sepertinya baru dibangun oleh pengelola, atau diremajakan.

Air Terjun Way Kalam

Saya di bawah hanya merenung. Ya habis nggak bisa ngapa-ngapain juga di bawah. Ada tempat berendam, cuma saya nggak bawa salin. Eh, bawa deh, tapi males gantinya. Ya sudah, nikmatin aja sebisa saya. Terus saya pulang lagi deh.

Kali ini naik tangganya saya akui melelahkan, saya tiga kali istirahat. Untung ada background music dari para monyet-monyet yang lagi pada chatting di hutan. Jadi seenggaknya ada hiburan sedikit lah ya.

Akhirnya tiba juga saya di atas dengan kondisi yang basah kuyup karena keringat. Sudah ada pengunjung datang satu dua, sedangkan saya ganti baju di kamar ganti. Kamar gantinya kotor, jadi saya bersihkan dengan air mengalir, cling terlihat seperti baru deh. Selesai ganti baju saya langsung kabur mengejar feri.

Sayang, tengah jalan hujan lebat. Jadi saya campakkan si Pirikidil di jalanan sedangkan tuannya berlindung di saung yang kebetulan ada di samping.

Air Terjun Way Kalam


  • Jungkir balik

Saya tidak sendiri, banyak komunitas pesepeda yang juga bersama saya berteduh. Jadilah kami bersukacita selama hujan. Namun jam telah menunjukkan pukul 12, saya mulai khawatir, jika jam setengah satu hujan tidak berhenti, mungkin saya akan terlambat. Saya ditenangkan oleh para pesepeda kalau masih bisa naik feri berikutnya, tapi karena saya baru pertama kali naik feri untuk jalan pulang, jadi saya tetap khawatir.

Hujannya pun memiliki alur yang sangat acak. Saya sudah senang hujannya mengecil, ternyata kembali deras, begitu hingga sudah setengah satu. Akhirnya saya terobos ketika sedikit mengecil.

Sudah jalanannya licin, bensin ingin habis, hujannya ternyata tambah deras. Dan yang paling menyedihkan, spakbor belakang si Pirikidil juga ternyata agak rusak jadi saya tidak bisa membuka jok belakang, padahal ada jas hujan. Menderita banget saya di sana. Tapi alhamdulillah ternyata itu hanya hujan gunung saja, karena begitu saya turun sedikit sudah terang kembali.

Jadilah saya mengebut untuk menyelamatkan sisa waktu, saya pasang mapsnya simbah katanya 15 menit lagi, namun ternyata saya mendapatkan ‘penghargaan’ dari simbah ketika sampai pelabuhan katanya ‘Anda lebih cepat 1 menit!’

Saya abis ini kayaknya ikutan audisi jadi aktor Fast and Hilarious.

Ketika sampai di pelabuhan saya bingung karena sama sekali tidak ada petunjuk arah ke pintu masuk. Hanya ada plang menuju tol dan jalan lain. Saya berhenti dan ngedumel sambil buka maps. Ketika saya melihat ke depan, saya ternyata sudah ada di gerbang pelabuhan dan seorang petugas memanggil saya.

Sang petugas memperlihatkan lencana kepolisian kepada saya dan menginterogasi saya. Saya dengarnya dia bilang, “Mau kemana?” Dan saya yang agak kagok menjawab, “Mau ke pelabuhan.”

Dia ternyata mengamuk dan memaki-maki saya, dia katanya tadi bertanya “dari mana” bukan “ke mana”. Saya yang tidak senang memaki balik anggota kepolisian tersebut.

“Nggak profesional banget sih!” Memang harus ya menggertak begitu calon penumpang hanya karena salah jawab?! “Saya bayar pajak untuk membayar bapak!” Apalagi saya wisatawan yang baru pertama kali pakai jasa feri.

Sang petugas diam, tak lama kemudian dia bertanya, “Sudah punya tiket?”

“Sudah! Eksekutif!” Saya balik menjawab dengan nada keras.

Dia pergi, padahal baru saja ingin saya tanya namanya siapa, ingin saya laporkan. Sok menggertak, dikira saya begal apa hahah. Gajinya kurang atau dia dari kecil tidak pernah dihargai oleh orang lain jadi ingin orang lain segan dengan menakut-nakuti dan menggertak begitu? Baru dapat jabatan ‘sedikit’ sudah begitu hahah.

Saya masuk kapal dan saya langsung telepon customer service ASDP, yang katanya itu berasal dari KSKP Lampung. Jadi saya adukan ke kepolisian atas dasar penyalahgunaan wewenang.

Malamnya setelah saya tiba di atas kasur empuk saya, saya langsung buka laptop dan mengirim email banyak-banyak ke pemprov Lampung dan dinas pariwisatanya untuk memperbaiki destinasi-destinasi wisatanya dan tentu saja, ke kepolisian setempat untuk mengadukan petugas yang tadi. Semoga yang tadi hanya oknum.


  • Galeri

Pantai Tapak Kera Lampung Selatan Pantai Tapak Kera Pantai Tapak Kera Lampung Selatan Air Terjun Way Kalam Pantai Tapak Kera

Ingin piknik ke tempat indah namun sedang malas berkendara, atau tidak punya kendaraan, atau bahkan tidak bisa berkendara? Ada angin segar, Anandastoon memiliki banyak artikel yang memuat tempat wisata angkotable. Klik dimari. Tengkyuk... (Sama jangan lupa follow IG saya @anandastoon untuk info jalan-jalan lainnya hehehe)

  , . Bookmark.

Isi kotak di bawah untuk berkomentar, atau artikel di atas dapat kalian diskusikan di Forum Terbaru Anandastoon. :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon