Cinta Rasul
Lagi, artikel kedua saya dengan judul ala-ala clickbait, yang pertamanya di sini.

Bermula dari jejaring sosial di mana saya sering mengisi waktu untuk melihat beberapa aktivitas beberapa teman-teman saya di beranda, kebanyakan dari orang-orang yang menjaring pertemanan dengan saya yang tidak saya kenal sebelumnya.

Di antara postingan-postingan yang saya saksikan dari mulai mereka yang bercerita tentang bagaimana hari-hari mereka, keluhan, rasa bahagia, hingga beberapa orang yang memposting sesuatu yang bertema agama.

Ternyata tidak sedikit orang-orang yang menggaung-gaungkan kalimat “Kembali kepada Sunnah” dan semacamnya. Saya lihat itu adalah hal yang positif.

Hingga akhirnya ada seorang ulama fikih yang saya ikuti, beliau membuka mata saya untuk memahami arti kembali ke sunnah. Beliau berpesan agar tidak semerta-merta menelan sebuah hadits kemudian dengan tanpa ilmu mencoba menerka-nerka apa maksud yang terkandung di dalamnya, mereka langsung menerapkan hadits tersebut dan bangga akannya, seakan-akan telah merasa menjadi umat Rasulullah saw. yang setia.

Bahkan, beberapa orang yang merasa telah mengamalkan sunnah tersebut tidak sedikit yang merasa setingkat lebih baik daripada muslim yang lain. Menggaung-gaungkan istilah “Cinta Rasul” dengan nada yang sedikit mengganggu.

Di luar itu, tidak jarang saya melihat perdebatan sengit antar muslim itu sendiri, ingin membuktikan bahwa diri merekalah yang paling sesuai sunnah dengan mengadu kesahihan hadits tanpa dibekali ilmu musthalah (cabang ilmu khusus pembedahan hadits) yang memadai.

Saya ingat suatu hari saya pernah dicandai oleh seorang pengurus masjid. Kata beliau, “Kalau seseorang mengaku cinta rasul, masuk masjid sudah mendahului kaki kanan belum? Sudah minum dengan tangan kanan belum? Itu dulu saja yang paling dasar.”

Dari sana, dan ditambah melihat realita yang sering saya temui akhir-akhir ini, terpikirlah saya untuk membuat artikel ini. Sebab masalahnya, rasa cinta yang tinggi itu seharusnya menular kepada orang lain, bukan membuat seseorang justru merasa lebih baik dari orang lain.

Tidak perlu puluhan hadits, tiga hadits sepertinya cukup untuk membuat orang lain, baik muslim itu sendiri dan non-muslim turut mencintai panutan agung nabi Muhammad saw.


Hadits Pertama

“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”
(HR. Bukhari)

Saya hanya merasa ini adalah hadits yang sangat dahsyat karena salah satunya dapat digunakan untuk panduan berinovasi, saya pernah bahas di artikel berikut. Seandainya seorang muslim benar-benar mengamalkan hadits ini, berapa banyak hal-hal berguna yang dapat ia ciptakan untuk membuat orang lain merasa tertolong dengan penemuan tersebut.

Ingat, ada empat poin dalam hadits tersebut.

1. Permudahlah.

2. Jangan mempersulit.

3. Berilah kabar gembira.

4. Jangan buat orang lari.

Sebuah perusahaan insyaAllah akan memiliki jaminan sukses yang sangat besar jika menerapkan hadits tersebut. Tidakkah kita melihat banyak produk-produk, terutama produk elektronik yang semakin kemari semakin berlomba-lomba memperkenalkan fitur yang dapat mempersingkat waktu para penggunanya?

Namun sayangnya, banyak dari para muslim itu sendiri yang bahkan tidak tahu harus berbuat apa untuk membuat hidupnya lebih baik.


Hadits Kedua

Diriwayatkan dari Abu Syuraih RA, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman.” Seseorang lalu bertanya, “Siapa ya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang membuat tetangganya merasa tidak aman dari kejahatannya.”
(HR Bukhari).

Semua bermula dari tetangga yang merupakan aspek sosial di luar keluarga yang paling dekat dengan kita. Membuat tetangga aman bukan berarti harus menjaga mereka dari maling dan perampok. Aman di sini bisa juga berarti nyaman.

Sebab menjaga kenyamanan orang lain memang bukanlah hal yang mudah. Bahkan mungkin lebih sulit dari pelajaran eksak seperti matematika, fisika, atau kimia. Sebab, ini berurusan langsung dengan prilaku dan kebiasaan yang harus dibina sedari kecil.

Bagaimana perasaan kita yang mungkin ‘malas’ jika bertemu dengan seseorang yang mungkin akan berbuat atau setidaknya berucap sesuatu yang tidak menyenangkan kepada kita? Saya yakin kemungkinan besar dari kita akan berusaha menghindari orang yang membuat kita ‘malas’ bertemu dengannya.

Di sini kita sudah mengakui bahwa orang tersebut membuat kita tidak aman.

Saya pernah menuliskan artikel bahwa mood atau keadaan hati adalah hal yang sangat mahal. Mood yang rusak dapat membuat hancur hari-hari seseorang yang mana dapat menghambat produktivitasnya. Inilah mengapa negara-negara maju berlomba-lomba melakukan sesuatu yang sebisa mungkin dapat menjaga atau memperbaiki suasana hati warganya.

Karena tentu saja, warga negara yang moodnya cemerlang, mereka akan dapat dengan mudah mendapatkan inspirasi dan motivasi yang dapat mendorong produktivitas mereka. Warga dan pejabat yang tetap sibuk dengan hal positif akan memperkecil tindakan kriminal dan melancarkan penerimaan serta pengelolaan pajak negara yang membuat negara lebih maju dan berkembang.

Semua bermula dari hal yang kecil, yakni praktik agar selalu memberikan rasa aman dan nyaman dengan tetangga.

Termasuk di dalamnya, menghindari debat. Tidak ada yang ingin dikenal dengan julukan tukang debat. Berdebat atau berbantah-bantahan, tentu dapat membuat orang merasa tidak nyaman karena khawatir ia akan didebat oleh si tukang debat setiap kali ia berbicara atau menulis di media sosial. Berdebat tidak menambah ilmu, justru menghinakan sang pemilik ilmu.

Masyarakat di negara maju, Singapura contohnya, mereka hingga berkata seperti ini, “Kami tidak ingin menyinggung kepercayaan atau ras lain meski kami hanya bercanda karena kami khawatir akan merusak prestasi keharmonisan yang telah kami bina selama ini.”


 

Hadits Ketiga

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289)

Ini adalah salah satu hadits yang paling sering kita dengar mungkin hingga konteksnya sudah jauh di luar kepala. Tapi berapa banyak dari para muslim itu sendiri yang sepertinya tidak memiliki bayangan untuk mengamalkannya?

Sayangnya, masih begitu banyak orang yang berprinsip bahwa ia akan membantu sesama hanya jika sudah tertimpa suatu musibah. Padahal sebaiknya jangan sampai menunggu ada bencana terlebih dahulu baru kita tergerak untuk menjadi bermanfaat. Karena saya khawatir, suatu negara dapat Allah timpakan bencana silih berganti karena masyarakatnya baru mau berbuat baik hanya jika ada bencana.

Negara-negara maju, mereka selalu dituntut untuk berkontribusi untuk masyarakat atau bahkan negaranya di setiap waktu. Mereka berlomba-lomba untuk membuat yang sudah baik menjadi lebih baik lagi. Mereka bersedia melaporkan setiap saat kepada para pemangku tanggungjawab apa pun ketidaknyamanan yang mereka temui.

Masyarakat negara maju, bahu-membahu untuk membangun daerahnya sendiri. Karena manfaatnya bukan hanya mereka sendiri yang merasakan kenyamanannya, mereka pun akan meraih gengsi seperti dihormati oleh orang-orang karena kebermanfaatan yang mereka miliki.

Pada akhirnya, manusia yang telah terbiasa untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain akan sampai ke tahap ia akan menolak setiap bantuan pemerintah yang ditujukan kepadanya karena ia merasa bahwa ia tidak memerlukan lagi bantuan tersebut sebab banyak yang lebih berhak menerimanya.

Di tingkat yang lebih ekstrem, orang yang bermanfaat akan menghindari segala bentuk tindakan korupsi karena sama saja itu akan membuat usahanya untuk menjadi orang yang bermanfaat sia-sia. Gamer yang sudah pro player akan merasa terlecehkan jika ia menggunakan cheat.


Kalian mungkin memiliki rujukan hadits tersendiri sebagai panduan kalian untuk meraih rasa cinta kalian kepada Nabi Muhammad saw. Dan bukan itu saja, orang lain akan ikut mencintai Beliau karena sifat mulia Beliau sedikit tertoreh dalam kehidupan kalian.

Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammadin.

—<(Wallahu A’lam Bishshawab)>—

  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


    Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon

  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Kembali
    Ke Atas
    Mode Gelap