Saya pernah menemukan orang yang menghakimi ADHD sebagai orang yang buta waktu, tukang ngaret, atau istilahnya “Time Blindness”.
Time blindness ini bukanlah kebutaan terhadap waktu atau minim literasi waktu.
Justru time blindness ini adalah sebuah bentuk tekanan waktu yang membuat kita sebagai ADHD seolah hanya punya dua jenis waktu: Sekarang, dan tidak sekarang.
Sebaliknya, kita justru punya “fitur” efisiensi yang tinggi.
Contohnya pada kasus saya pribadi, saya sudah tahu kalau dari rumah ke kantor itu pasti memakan waktu satu jam, misalnya.
Namun yang saya bikin cemas (anxiety) dan membuat adrenalin saya membara adalah faktor ketidakpastiannya.
ADHD benci dengan ketidakpastian ini.
Jadi kalkulasi saya mengenai jarak rumah ke kantor itu memakan waktu satu jam memang benar adanya.
Sayangnya, kita seringkali luput dari faktor mendadak seperti gangguan kereta, macet panjang, dan seterusnya.
Kecuali faktor yang terjadi di luar kontrol seperti bencana alam, dan bukan faktor kelalaian yang disengaja, kita bisa memaklumi dan memaafkan hal itu.
Perlu diketahui, kita dengan keunikan ini sengaja mengatur segalanya dengan mepet karena kita justru tidak menyukai adanya waktu yang terbuang sia-sia. Dan kegiatan menunggu itu adalah salah satu bentuk waktu yang terbuang sia-sia.
Kita tidak menyukai sebagian besar kegiatan menunggu karena itu adalah aktivitas pasif yang mana kita tidak melakukan apa-apa selama kegiatan itu.
Menunggu hal yang seharusnya tidak perlu ditunggu dapat menjadi siksaan fisik dan batin bagi otak yang kelaparan dopamin.
Tetapi, jika menunggu yang dimaksud adalah menunggu antrian, menunggu bus atau kereta saat sedang santai, itu justru tidak masalah sama sekali, bahkan bisa menjadi playground untuk mengisi kejenuhan otak dan menemukan sesuatu yang baru.
Jadi, Apakah ADHD Tidak Bisa Membaca Waktu?
Tidak, kita tahu jam berapa sekarang. Yang tidak dimiliki oleh otak ADHD adalah indera intuitif untuk merasakan berjalannya waktu.
Bagi kita, waktu 10 menit saat sedang hiperfokus di dunia ide bisa terasa seperti 1 menit. Sebaliknya, 10 menit menunggu di kemacetan atau menunggu jam berangkat bisa terasa seperti 1 jam.
Kalau menurut bahasa AI, “Kita tidak meremehkan waktu orang lain, kita hanya sedang bertarung dengan persepsi waktu internal kita yang elastis.”
Tetapi memang nyatanya seperti itu. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu diperbaiki di sini.
Kita hanya perlu terbiasa dengan kenyataan kalau di sekeliling kita masih banyak orang yang tidak memiliki sense of urgency dan terlalu banyak faktor unpredictability-nya.
Kita, sebagai sesama ADHD, sangat tidak menyukai orang yang merenggut waktu kita.
Bayangkan, kita sudah mengalkulasi waktu dengan begitu efisien, ternyata malah bertemu dengan orang-orang yang seenaknya dan mengganggu waktu kita.
Jujur, saya dulu seringkali menemukan orang yang berjalan terlalu pelan di tengah saat mengejar KRL di Stasiun Manggarai.
Apalagi kalau saya sedang mengendarai sepeda motor, terkadang ada saja pengendara yang bikin emosi. Seolah saya terjebak dalam lingkup pengendara yang bengong di tengah jalan, dan pengendara yang tidak sabar.
Padahal orang-orang seperti itulah yang layak kita sematkan istilah “Time Blindness” itu.
Pemandangan seperti itu cukup menyiksa bagi saya sebab otomatis mengaktifkan alarm fight or flight dalam diri saya.
Oh, dan Satu Lagi…
Karena manajemen waktu ADHD terlalu efisien karena tidak adanya ruang abu-abu yang bisa bernafas di antaranya, maka ada satu hal menarik mengenai jadwal dan prioritas.
Seperti yang kita tahu, kita memiliki fitur mudah mendapatkan pacuan dopamin. Masalahnya, itu jadi sangat berpengaruh kepada manajemen prioritas pada jadwal kita.
Misalnya, hari itu ada jadwal penting seperti berangkat ke bandara, janji temu dokter, dan bahkan acara yang kita tunggu.
Anggap saja jadwalnya baru mulai pukul 4 sore. Maka biasanya time blindness ini membuat kita sulit fokus dan terkekang dalam mode menunggu sebelum pukul 4 sore itu.
Karena kita menganggap jadwal itu prioritas, kita jadi terpaku oleh jadwal itu dan menjadikan kegiatan yang lain hanya dalam zona waktu tunggu.
Pengalaman saya pribadi, saya ingin jalan-jalan ke Cianjur Selatan yang sudah saya rencanakan dari jauh hari dan rencananya berangkat malam pukul 8.
Sepanjang hari, saya begitu deg-degan menunggu jadwal itu jadi saya tidak fokus mengerjakan agenda saya yang lainnya pada hari itu.
Begitu sudah pukul 8, barulah saya lega selega-leganya sebab prioritas yang saya nantikan sudah tiba saatnya.