• Jangan Khawatir, ADHD Sama Sekali Bukan Gangguan Jiwa

    Sebagai seorang neurodivergent, saya paham sekali bagaimana lelahnya hidup di tengah masyarakat yang minim pemahaman tentang kesehatan mental dan gemar menilai secara sepihak ternyata jadi tantangan sendiri bagi para pemilik kepribadian unik.

    Terkhusus untuk para ADHD dan autisme. Namun untuk autisme saya tidak akan bahas sekarang.

    Kita mungkin sudah tahu bahwa huruf “D” terakhir pada “ADHD” adalah “Disorder”, yang artinya secara jelas adalah gangguan atau ketidaknormalan.

    Apalagi saat medis cenderung menyebutkan “gejala” (symptom) daripada “ciri-ciri” (trait) kepada ADHD yang membuat seolah itu adalah bentuk kelainan jiwa.

    Lengkaplah sudah bukti yang dapat mendekatkan prasangka masyarakat bahwa ADHD termasuk ODGJ (orang dalam gangguan jiwa).

    Cukup dengan Analogi Saja

    Apakah ADHD seperti kita-kita ini termasuk gangguan jiwa? Saya akan jelaskan dengan analogi dengan harapan kita bisa mudah memahaminya.

    Saya langsung saja beri contoh “Introvert”. Masyarakat kita kebanyakan mengenal introvert sebagai orang yang sangat pendiam dan hobi mengurung diri.

    Lebih parah lagi, beberapa kalangan mengucilkan introvert dan menuduh mereka sebagai orang yang membenci sosialisasi.

    Padahal introvert hanyalah salah satu keunikan atau fitur manusia saja.

    Inilah yang kita sebut dengan bakat. Introvert adalah bakat, ADHD adalah bakat, punya suara tinggi adalah bakat. Bakat adalah identitas unik pada setiap manusia.

    Jangan hanya karena tidak terbiasa berhadapan dengan kepribadian orang yang unik, kemudian kita dengan serta-merta menyebut mereka sebagai “kelainan”.

    Bahkan ekstrovert pun di negara introvert seperti Jepang akan merasa terasing juga karena negara tersebut begitu sunyi, tenang, dan sangat menghargai privasi sesama.

    Kemudian sama halnya dengan sebutan “Bule” bagi mereka yang berasal dari luar negeri khususnya negara-negara Barat (kulit putih atau kaukasian).

    Atau seperti sebutan “Kafir” bagi mereka yang bukan pemeluk Islam.

    Semuanya sebutan itu hanya identitas yang sifatnya netral, bukan sebutan negatif sama sekali. Stigma masyarakatlah yang bisa menggeser maknanya.

    Misalnya, karena ada beberapa provokator yang berteriak “Kafir” kepada para non-muslim, akhirnya secara tidak sadar kita terbawa dan ikut memandang orang kafir dengan citra negatif pula.

    Saya berbicara seperti ini dari sudut pandang seorang muslim. Masalah surga dan nerakanya orang kafir bukanlah urusan manusia, dan tidak berhak mengganggu orang lain dengan sebutan yang seharusnya netral.

    Pun Sama dengan ADHD

    ADHD itu hanyalah sebuah identitas unik yang memang cara kerja otaknya memang berbeda dari kebanyakan manusia pada umumnya.

    Bukan, bukan kelainan sama sekali.

    Anggaplah ADHD sebagai pohon kelapa. Pohon kelapa yang tumbuh sendiri di tengah kebun mangga akan merasa terasing karena berbeda sendiri.

    Betul bahwa ADHD sarat stimulasi berlebih (overstimulation) dibandingkan dengan orang lain atau neurotypical pada umumnya.

    Berarti sama saja bukan dengan ekstrovert yang memiliki energi berlebih untuk bersosialisasi?

    Jangan khawatir, saya sebagai neurodivergent pun merasakan bagaimana kesepiannya hidup di tengah masyarakat yang neurotypical.

    Jadi bagi para ADHD, jangan pernah merasa ada yang salah dalam diri hanya karena tumbuh di lingkungan yang berbeda.

    Setiap orang sudah memiliki tempat dan lingkarannya sendiri. Inilah maksud dari rezeki yang tidak akan pernah tertukar.

    Sekarang tantangannya adalah, mencari tempat tumbuh yang optimal. Itu adalah tugas dari masing-masing manusia mencari “tempat basah” mereka sendiri.

    Pohon kelapa hampir mustahil tumbuh di dataran tinggi. Begitu juga dengan pohon apel merah yang kesulitan tumbuh di dataran rendah tropis.

    Misalnya, seorang yang memiliki bakat bersuara merdu dari lahir memang layak jadi penyanyi.

    Seseorang yang berbakat introvert sebaiknya mencari pekerjaan yang nyaman di belakang layar, mungkin seperti seniman atau programmer.

    Begitu pun dengan neurodivergent.

    Tapi Faktanya Ada yang ODGJ Betulan

    Di balik itu semua, saya pernah melihat seorang ibu yang anaknya menderita gejala kelainan jiwa dan anaknya juga mendapatkan diagnosis sebagai ADHD.

    Jika memang ada ADHD dengan kelainan jiwa, itu memang kebetulan saja dan hanya segelintir saja. Tanpa perlu harus ADHD, kelainan jiwa bisa terjadi pada setiap orang.

    Banyak ADHD yang justru kehidupannya baik-baik saja hingga dewasa.

    Lalu kenapa ada ADHD yang diberi obat oleh psikiater?

    Sepengetahuan saya, jika ADHD masih anak-anak, biasanya obat tersebut hanya membuat mereka bisa menjalani aktivitas di tengah lingkungan yang tidak ramah neurodivergent.

    Dan jika ADHD sudah dewasa, obat yang diberikan psikiater biasanya karena faktor traumanya, bukan karena faktor ADHD-nya.

    Dilemanya adalah, banyak psikolog dan psikiater yang memang bukan dari kalangan neurodivergent, jadi mereka hanya mengenal ADHD lewat teori yang telah mereka pelajari.

    Mengenai apa yang terjadi dalam otak para neurodivergent, bagaimana beratnya masking, alarm amigdala yang terus menyala, itu semua kebanyakan para psikolog tidak pernah merasakannya.

    Di sinilah sesama neurodivergent memang harus memiliki komunitas kuat agar mereka saling mengenal satu sama lain.

    Neurodivergent perlu ruang di mana mereka bisa melepas topeng mereka dan bernafas dengan lega di lingkungan mereka.

    Suka
    Komentar
    pos ke FB
    pos ke X
  • 0 Jejak Manis Ditinggalkan

    Mari Berdiskusi...

    Anggap rumah sendiri, utarakan uneg-uneg kalian.
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. 😉