• Apakah Saya Ingin Dilahirkan Sebagai Neurodivergent?

    Pernah saya lihat sebuah utas di Threads berbahasa Inggris yang intinya bertanya “Jika kamu bisa memilih, apakah kamu ingin dilahirkan kembali sebagai neurodivergen (ADHD atau Autisme)?”

    Dan yang membuat saya terkejut, semuanya serempak bilang seperti “Heck, No!” dan penolakan lainnya.

    Benar, semuanya menolak.

    Apakah benar neurodivergen seburuk itu?

    Padahal, saya sendiri sudah merasa nyaman bahkan merasa istimewa dengan kondisi neurodivergen berspektrum ADHD ini.

    Mengapa saya justru semakin betah dengan kondisi saya ini?

    Pertama, seperti yang pernah saya tulis di artikel berikut, neurodivergen sama sekali bukan disabilitas. Berbeda bukan berarti cacat.

    Kedua, saya sudah mengenal diri saya sendiri termasuk kelebihan-kelebihannya, jadi tidak perlu lagi ikut standar masyarakat. Plus, saya sudah lama berhenti masking.

    Mencari Asap dari Api

    Melihat banyaknya neurodivergen yang enggan dengan keunikan mereka sendiri dan lebih ingin menjadi neurotipikal, membuat alarm hiper-empati saya aktif.

    Hiper-empati ini bukan sekadar rasa kasihan, namun lebih condong kepada melihat alasan di balik penolakannya supaya paham akar masalahnya.

    Bagaimana solusi bisa muncul jika sumber masalahnya saja tidak kita hiraukan?

    Setelah saya berdiskusi dengan psikolog dan membaca banyak artikel psikologi, saya bisa menyimpulkan setidaknya tiga alasan ini yang membuat neurodivergen tidak ingin menjadi diri mereka sendiri:

    1. Trauma atau kelelahan masking.

    Rasa lelah menggunakan topeng (masking/mirroring) yang membuat neurodivergen lakukan sedari kecil agar dapat diterima di lingkungan neurotipikal.

    Padahal jika kita pikirkan, untuk apa kita perlu masking?

    Ya, kita aneh karena adanya disregulasi dopamin. Tapi itu bukan bug, melainkan fitur. Sama sekali bukan cacat.

    Justru dopamin yang tiba-tiba membludak membuat kita sering kehilangan fokus sebenarnya adalah ledakan kreativitas yang harus dicatat dan dikendalikan.

    Maka dari itu neurodivergen memiliki kekuatan super untuk berlari lebih cepat, apalagi sekarang ada AI untuk mendetailkan ledakan dopamin kita.

    Sayangnya, memang banyak neurodivergen itu sendiri yang belum paham jadi mereka sendiri kewalahan saat terjadi kebanjiran dopamin. Dulu, saya menyebut momen ini sebagai “terlalu bahagia” bahkan sampai gagap bicara.

    Sekarang saya sudah bersahabat dengan diri saya sendiri, menemukan sumber sparks dan kenyamanan mahal yang hampir tidak saya temukan pada orang lain.

    Begini, untuk apa kita repot-repot menutupi keunikan diri kita di saat kita temukan para neurotipikal yang melakukan sesuatu sesuai selera mereka masing-masing?

    Di kantor, kita masking demi taat kepada sistem yang ada. Namun beberapa neurotipikal justru bising, bergosip, menonton, bermain game, hingga keluar pada jam kerja.

    Bukankah itu ironi? Jadi untuk apa kita masking (baca: menutupi) produktivitas kita sendiri?

    2. Hambatan fungsi eksekutif (Executive Dysfunction)

    ADHD atau neurodivergen pada umumnya ini unik sekali.

    Di satu sisi, kita tahan dalam mode hiper-fokus kita yang berjam-jam itu. Namun di sisi lain, kita kesulitan untuk bahkan memulai hal kecil seperti mandi, atau sekadar memulai tugas termudah.

    Terdengar bertentangan? Pasti.

    Tetapi, pernahkah kita berdamai dengan keunikan diri kita pribadi dengan bertanya kenapa kita kesulitan untuk memulai hal sepele?

    Saya sudah menemukan jawabannya, mungkin saya akan tulis di artikel lain.

    Berdamai dengan diri sendiri sangatlah murah, karena kita tidak perlu lagi meminum obat pengatur dopamin secara rutin.

    Aneh ya, kita harus meminum obat-obatan supaya bisa menyamakan kadar atau regulasi dopamin dengan para neurotipikal.

    3. Overstimulasi dan alarm amigdala yang terus ON

    Saya tidak bisa pungkiri kalau neurodivergen memiliki rasa cemas yang konstan atau terus-menerus karena dipaksa menerima keadaan sekitar.

    Padahal yang kita inginkan adalah kedamaian, dan kita paham kalau kedamaian perlu kita raih dan tidak otomatis datang dengan sendirinya.

    Tapi para neurotipikal banyak yang tidak paham itu. Mereka banyak menoleransi segala hal seperti membela para pelanggar hanya karena mengaku sebagai rakyat kecil, dan sebagainya.

    Padahal, gangguan kecil itu menyebabkan fitur hiper-justice kita aktif dan bisa mengganggu aktivitas kita sepanjang hari.

    Saat alarm amigdala kita aktif, artinya ada efek domino yang sangat berbahaya jika terus diabaikan masyarakat ke depannya. Maka dari itu belum lama ini saya menulis kalau neurodivergen bisa “meramal” masa depan.

    Lalu, para autisme pun seringkali menerima rangsangan sensorik yang berlebihan seperti knalpot dan klakson bising, lampu ruangan kantor/mal yang sangat terang, dst.

    Akibatnya, para autisme seringkali kelelahan dengan reseptor yang sangat sensitif tersebut dan membuat mereka meltdown.

    Padahal ini sebenarnya sebuah sinyal yang bagus untuk mendeteksi adanya ketimpangan atau celah yang bisa kita perbaiki dan optimasi.

    Memang bukan ranahnya kita untuk memperbaiki itu semua, kita tidak memiliki kuasa untuk mengubahnya selain dari aksi kecil-kecilan seperti melapor atau bertindak apa yang kita bisa.

    Tetapi berkat itulah kita jadi paham indikator negara maju, apalagi saat membandingkannya dengan negara seperti Jepang dan Singapura.

    4. Model sosial dengan model medis disabilitas

    Banyak dari masyarakat yang tidak paham medis, mencap neurodivergen sebagai kerusakan atau cacat yang harus diperbaiki.

    Sekali lagi, mirip seperti introvert yang seringkali mendapatkan penghakiman sebagai orang yang anti-sosial hanya karena baterai sosial mereka cepat habis.

    5. Tantangan “kesepian” yang dahsyat

    Neurodivergen jumlahnya tidak banyak, jadi wajar merasa kesepian di tengah masyarakat yang neurotipikal.

    Tetapi itu adalah porsi sosial yang pas jika para neurodivergen memahami diri mereka sendiri.

    Inovator yang punya empati itu memang tidak dirancang untuk sama seperti kebanyakan orang. Apalagi neurodivergen sudah punya tools atau bakatnya dari awal.

    Justru kesendirian ini menjadi sandbox atau laboratorium sendiri bagi kita untuk bereksperimen dan menuangkan hasil uneg-uneg dari apa yang kita saksikan sendiri.

    Bedanya dengan ide biasa, inovasi yang dicetuskan neurodivergen biasanya sarat empati karena mempertimbangkan banyak hal seperti kemudahan, kepraktisan, harga, dst.

    Seperti saya, sebagai presdir IT (CTO) di perusahaan saya sendiri, saya kerap membuat framework baru supaya tim saya menjadi cepat dan mudah dalam menyelesaikan tugas klien yang tidak pernah habis.

    Tentu saja tim saya sumringah saat saya mengumumkan ada fitur baru, karena mereka paham betul kalau fitur itu pasti akan mempermudah pekerjaan mereka.

    Penutup

    Setelah semua keistimewaan yang saya dapat itu semua, mengapa saya harus membuang baju neurodivergen saya dan memakai baju mayoritas yang bahannya belum tentu cocok di saya?

    Saya sudah nyaman di “kerajaan” saya sendiri, yang tentunya saya sudah bangun dengan penuh perjuangan dan susah payah selama bertahun-tahun.

    Suka
    Komentar
    pos ke FB
    pos ke X
  • 0 Jejak Manis Ditinggalkan

    Mari Berdiskusi...

    Anggap rumah sendiri, utarakan uneg-uneg kalian.
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. 😉