Wah, kamu menemukan tempat rahasia Anandastoon!
Hehe, nggak deng. Ini adalah lokasi journaling atau diari Anandastoon yang berisi tentang
hal-hal yang berhubungan dengan produktivitas Anandastoon baik langsung maupun tidak langsung.
Misalnya, tentang inspirasi, motivasi, pengembangan diri, atau sesuatu di balik layar bagaimana konten di Anandastoon bisa muncul.
Bukan curhatan masalah pribadi kok. Isinya tentang progres atau calon progres saja.
Kamu juga bisa mencari lebih banyak diarinya dengan menelusuri kalender di bawah.
Makanya saya sebut "AST Lendah", alias AST Kalender dengan kelebayan lokal wakakak.
Yah, intinya hanya catatan kecil kira-kira satu atau beberapa paragraf.
Semoga bisa saling menginspirasi ya!
Selengkapnya mengenai bagaimana si Lendah ini bisa lahir ke dunia, silakan kunjungi diari di tanggal 2 Mei 2025 atau klik di sini.
Akhir-akhir ini banyak postingan yang bilang kalau anak ADHD cenderung nakal dan susah diatur.
Saya yang membaca itu semua mengingat-ingat kembali masa lalu saya, dan saya mengakui kalau saya juga bandel waktu kecil.
Hanya saja, pernahkah kita menelaah “sebandel” apa ADHD sewaktu mereka kecil?
Ini yang seringkali terlewat untuk dibahas. Apalagi kebanyakan yang membahas itu bukanlah psikolog atau bahkan neurodivergen sama sekali.
Akibatnya, tidak jarang saya membaca tuduhan-tuduhan melenceng yang sampai menggeneralisasikan bahwa anak nakal pasti ADHD.
Padahal ada satu ironi besar di sini.
Senakal-nakalnya anak ADHD, jarang yang sampai kurang ajar. Mereka hanya hiperaktif yang mana itu jadi ciri utamanya.
Anak ADHD terkadang bertindak spontan yang sering dikira nakal. Seperti tiba-tiba berteriak padahal sebenarnya jarang berisik. Berbeda dengan beberapa anak yang memang pada dasarnya hobi berteriak-teriak.
Berkaca dari saya sendiri: saya tidak pernah bolos sekolah, tidak pernah sengaja malas membuat PR, dan tidak pernah berkata kotor.
Bahkan saya cenderung steril dari pergaulan anak-anak seusia saya yang sebagiannya “begajulan”.
Jadi, sebagai ADHD, di mana letak nakal saya?
Kasus saya dulu, ibu saya kesal saat saya terkadang melempar barang ke belakang kemudian menggeleng-gelengkan kepala saya.
Tentu barangnya bukan barang yang mudah pecah karena waktu itu saya sudah sangat mengerti. Hiper-empati saya sudah aktif meski saya masih 4 tahun.
Tetapi kenapa harus melempar barang (seperti buku tulis atau tempat pensil) ke belakang kemudian kepala saya geleng-geleng?
Itu karena saya sering melihat kartun (seperti Looney Tunes, Tom & Jerry, Popeye, Walt Disney, Scooby Doo, dll) yang tokohnya jatuh, atau tertimpa batu di luar kamera, kemudian kameranya bergoyang seolah gempa.
Bagi saya,Β trope atau pola kartun tersebut sangat menyentil hiperaktivitas saya sehingga saya tiru. Memang bikin kesal bibi dan ibu saya namun mau bagaimana lagi? π€
Atau saya dulu pernah lihat episode Shinchan tentang mamanya yang ingin belajar mengendarai mobil.
Nah, Shinchan dan mamanya menempelkan banyak rambu-rambu di penjuru rumah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Bagi saya itu menarik untuk saya tiru.
Maka saya yang masih 3 tahun, melihat buku atlas yang ada rambu-rambunya meski entah apa artinya, saya gambar di buku, dan saya gunting.
Kemudian saya tempel acak di penjuru rumah persis seperti di adegan Shinchan itu.
Bibi saya untungnya tahu dan langsung bilang kepada saya, “Ngikutin Shinchan ya…”
Saya pada saat itu langsung malu danΒ ngibrit ke kamar, melompat ke kasur lalu mengubur diri di bawah tumpukan bantal. π
Pernah juga saya dipukul ibu saya karena menuang pewarna kue ke air di gayung karena ingin eksperimen sesuatu yang saya lupa.
Hikmahnya, waktu SMP saya pernah bikin kue racikan sendiri yang entah apa bentuknya, tapi ibu saat mencicipi itu, beliau bilang enak. Akhirnya saya diberi ruang di dapur dan bisa memasak nasi goreng sekeluarga.
Seperti yang sudah saya sebutkan bahwa menurut ibu saya, saya termasuk yang tidak bisa diam waktu kecil.
Maka dari itu, almarhum ayah saya membelikan konsol Nintendo jadul (NES). Ibu saya bilang, saya kalau sudah di depan layar bisa anteng sampai berjam-jam.
Tapi, saya dulu begitu menurut saat ibu saya bilang kalau maksimal saya bermain adalah dua jam saja. Begitu sudah dua jam, saya langsung mematikan meski belum tamat.
Di sini bagian menariknya. Setiap anak pasti akan “anteng” jika sudah bermain game, ‘kan? Jadi bukan hanya ADHD saja. Lalu di mana spesialnya?
Pernahkah terbesit untuk kita cari tahu? Karena saya pun baru mengetahuinya ketika mulai ramai klaim bahwa anak ADHD cenderung nakal dan tidak dapat tenang.
Saya baru sadar juga, kalau ibu saya mengizinkan saya bermain game Nintendo pada hari libur karena efek antengnya bisa bertahan seharian. Saya tidak nakal, tidak bandel, hampir seharian justru tenang di hari itu.
Ada satu hal yang paling saya ingat. Game Nintendo yang paling saya sering mainkan pada saat itu adalah Mega Man 3.
Saya mencoba menempelkan kembali ingatan saya dengan mendengarkan musik Mega Man 3.
Sampai tiba saya dengarkan musiknya Magnet Man. Semuanya kembali teringat.
ADHD seperti saya pastinya termasuk hiperaktif, apalagi saat anak-anak yang belum paham tentang regulasi perasaan.
Game Mega Man 3 itu memberikan jatah dopamin yang saya inginkan pada saat itu. Terutama musiknya, saya menyerap banyak melodinya pada saat itu.
Bukan karena Mega Man adalah game aksi yang sarat tembak-menembak, musiknya harus semangat dan heboh. Justru sebaliknya, melodinya seolah punya cerita dan saya bisa menangkapnya.
Musiknya Mega Man yang saya dengarkan pada saat itu, (Magnet Man, Gemini Man, Spark Man, dst) adalah jangkar ketenangan yang berhasil bikin saya tenang walaupun sudah selesai bermain game.
Pada saat itu, saya bisa menangkap melodi harapan, kesepian, mensyukuri hal-hal kecil, berpikir segala sesuatu. Hiper-empati dan sensitivitas saya bekerja penuh.
Setelah bermain game, saya duduk di kursi belakang, melihat awan, sembari bersenandung melodi musik game yang baru saja saya dengar.
Game Mega Man memang terkenal melodi-melodinya yang penuh rasa dan sarat melankolis, membuat saya berpikir tentang segala sesuatu, termasuk kepedulian.
Membayangkannya begitu berkesan, dan “sparks”-nya ternyata masih bertahan hingga kini.
Banyak orang yang tidak bisa merasakan ini karena mereka hanya mau mendengarkan musik dari lirik dan bagusnya instrumen saja, bukan dari melodinya.
Mereka tidak dapat merasakan “renyah”nya perasaan lewat melodi meski instrumennya hanya “tet-tot-tet-tot”.
Sampai sekarang, saya masih senang mendengarkan musik game, membaca melodinya, dan sibuk dengan visualisasi yang dihasilkan dari rentetan melodi tanpa lirik tersebut.
Hasilnya? Saya bukan fotografer, namun foto saya di Instagram menjadi berwarna berkat melodi tersebut. Saya bukan desainer, namun desain blog utama saya adalah hasil dari melodi-melodi itu.
Terakhir, musik Rainbow Road dari game Mario Kart World berhasil membuat saya memantapkan tujuan hidup saya tanpa perlu lagi membanding-bandingkan dengan orang lain, apalagi sampai kehilangan “sparks” dan haus validasi.
Ternyata hal ini sudah saya rasakan dari kecil.
Nakalnya anak ADHD, sebenarnya tidak sampai kurang ajar, berkata kotor, bolos sekolah, dan melawan orang tua.
Jika ada yang sampai demikian, wajib kita tanya apa alasannya.
ADHD nakal karena faktor hiperaktif mereka, bukan karena faktor akhlak atau etikanya.
Anak ADHD begitu spontan hingga tidak jarang mengganggu kita, atau melakukan sesuatu yang menurut kita begitu aneh dan tidak biasa.
Lain kali, jika anak kita telah terbukti atau setidaknya terdiagnosis ADHD, jangan langsung kita berikan obat-obatan untuk meregulasi perasaannya. Itu bisa menekan kreativitas dan bahkan jalan takdirnya.
Ketika mereka sedang melakukan yang aneh-aneh, mengapa tidak bertanya tentang hal menarik apa yang sedang terjadi di kepalanya?
Dan terakhir, berikan mereka ruang. Mereka bisa berkembang menjadi jenius saat mendapatkan ruang, seperti saya dahulu dengan konsol Nintendo jadul.
Berikan sesuatu yang sarat imajinasi. Bukan game realistis, bukan gadget yang sarat tren medsos, dan bukan acara yang tidak memiliki makna untuk dipikirkan.
Game-game Nintendo banyak mengandung unsur ini. Berikan mereka Super Mario Bros, Kirby, Zelda, dan biarkanlah mereka berkreasi sendiri. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam dunianya.
Semakin diasah, otak seorang anak akan semakin tajam di masa pertumbuhannya. Biarkan mereka menerka kemana pipa pada game Mario ini akan membawa mereka, dst.
Bukan hanya ADHD, namun segala sesuatu yang mengandung imajinasi positif wajib diberikan kepada seluruh anak. Video game, buku cerita, apa pun.
Kebetulan ADHD bisa memroses informasi berkali-kali lipat, itulah yang membuat hiperaktifnya “kambuh”, namun itulah juga yang membuat mereka jauh lebih matang daripada neurotipikal di kemudian hari.
Jadi, bersyukurlah orang tua yang memiliki anak ADHD, seharusnya tidak lagi minder karena takut mendapatkan cap negatif dari orang-orang sekitar.
| Min | Sen | Sel | Rab | Kam | Jum | Sab |
|---|
Numpang ngiklan dikit hehe...
Di bawah iklan ini ada galeri dan game tebak kata harian.
Anandastoon lagi ngerjain apa ya? Apakah ada update gebrakan baru?
Menampilkan maks 3 progres terakhir
Update: Data dan styling awal
15 Oktober 2026, pukul 22:16
Update: Pengumpulan Data
07 September 2026, pukul 01:35
Update: -
28 Agustus 2026, pukul 16:57
Catatan Terakhir
Membuat Custom Post Type baru khusus pemrograman
Hasil jepretan foto Anandastoon sendiri lho...
Menunggu...
Numpang ngiklan lagi dong...