• Sedari Kapan Autisme Dianggap Idiot?

    Tahun 2022, saya belanja di minimarket dekat rumah. Saat saya di antara rak memilih produk yang ingin saya beli, dari tempat kasir terdengar huru-hara jadinya saya penasaran dan langsung melihat apa yang terjadi.

    Saya lihat kotoran manusia bercecer dari tempat antrian kasir ke pintu luar. Saya tidak sempat tahu siapa yang buang air sembarangan seperti itu.

    Langsung saya tanya pegawai minimarket terdekat, “Itu ada apa? Kok bisa begitu ya?”

    “Autis, bang.” jawab pegawai minimarket secara singkat.

    Sejauh ini karena kurangnya literasi psikologi saya dan terbawa juga dengan persepsi masyarakat kebanyakan, saya jadi ikut-ikutan menganggap autis sebagai indikasi gangguan jiwa.

    Padahal autisme hanyalah bagian dari karakteristik atau keunikan otak, sama seperti introvert yang sudah sering saya jelaskan pada artikel sebelumnya, dan ADHD.

    ADHD sendiri sudah mendapatkan cap negatif dari masyarakat sebagai orang yang identik dengan nakal, tidak bisa diam, sulit mengatur waktu, dan sebagainya.

    Ternyata autisme mendapatkan anggapan negatif jauh lebih parah lagi, bahkan hingga disamakan dengan orang idiot atau terbelakang (Down Syndrome).

    Saya sendiri termasuk salah satunya yang baru tahu kalau autisme ternyata bagian dari keluarga neurodivergent, dan sama sekali bukan kelainan mental.

    Menyusur Kilas Balik Sejarah

    Saya meminta tolong untuk mencarikan sumber bacaan untuk membedah awal dari persepsi menyimpang banyak orang kepada autisme ini.

    Google AI Overview kemudian memberikan beberapa sumber bacaan seperti Repositori UIN Malang, National Georgraphic Indonesia, dan Kompas Klasika.

    Kesimpulannya kira-kira seperti ini:

    Pada awal tahun 2000-an, kesadaran tentang isu kesehatan mental anak mulai masuk ke Indonesia.

    Istilah “Autisme” sering muncul di TV dan media massa. Sayangnya, media saat itu sering kali salah menggabungkan visual.

    Mereka memberitakan tentang autisme, tetapi menampilkan video anak-anak dengan disabilitas kognitif berat atau Down Syndrome.

    Karena masyarakat enggan membaca buku medis, mereka langsung menelan visual tersebut dan menyimpulkan bahwa semua anak berkebutuhan khusus dengan ciri fisik tertentu dinamakan “autis”.

    Bahkan tidak cukup sampai sana, istilah “autis” menjadi lelucon populer di tahun 2010-an.

    Ini adalah fase yang paling merusak.

    Pada era komedi TV dan pergaulan remaja tahun 2010-an, kata “autis” diadopsi menjadi bahan bercandaan peyoratif (merendahkan).

    Jika ada teman yang telat mikir (lemot), dibilang autis. Jika ada orang yang perilakunya aneh di jalan atau tidak bisa mengontrol diri (seperti kasus buang air di minimarket tadi), masyarakat menggunakan kata “autis” sebagai makian instan.

    Hal ini mirip dengan bagaimana kata “gila” digunakan di masa lalu, namun bedanya, “autis” adalah diagnosis medis nyata yang identitasnya direbut dan dirusak oleh ketidaktahuan publik.

    Pergeseran makna ini terjadi karena kombinasi antara kemalasan masyarakat untuk belajar dan kebiasaan melabeli sesuatu secara instan.

    Publik membutuhkan satu kata sebagai “payung” untuk menyebut semua hal yang tidak normal di mata mereka, dan sialnya, kata “autis” yang menjadi korbannya.

    Mengapa Minim Pembelaan?

    Saya sendiri sampai marah ketika membaca artikel-artikel seperti itu.

    Maksudnya, saya bersyukur gerakan melek kesehatan mental mulai bermunculan akhir-akhir ini.

    Tetapi, kemana para pegiat medis zaman dulu? Kenapa mereka seolah diam saja melihat pergeseran makna seperti ini? Bukankah ini membuat para autisme sungguhan merasa menderita dan dikucilkan?

    Faktanya, komunitas medis masa lalu tidak melawan karena mereka sendiri merupakan bagian dari masalahnya.

    Fokus pada “Normalisasi”:

    Paradigma kedokteran zaman dulu menganggap bahwa tugas dokter adalah mengubah orang neurodivergent agar terlihat “normal” demi kenyamanan masyarakat neurotipikal.

    Inilah alasan mengapa autisme dan ADHD mendapatkan pengobatan. Obat tersebut bukan untuk mengobati keunikan mereka, melainkan agar mereka lebih dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya.

    Dan yang paling penting: kurangnya edukasi publik.

    Asosiasi dokter dan psikolog saat itu lebih fokus di dalam ruang klinik.

    Sedikit sekali dari mereka yang turun ke masyarakat atau ke media massa untuk meluruskan salah kaprah istilah, sehingga bola liar penyalahgunaan kata “autis” di televisi seakan dibiarkan begitu saja.

    Untuk istilah “Neurodiversity” itu sendiri baru pertama kali dicetuskan oleh sosiolog bernama Judy Singer pada akhir tahun 1990-an.

    Maka dari itu, bagi sesama neurodivergent yang memahami kasus sosialita seperti ini, mencari komunitas lokal yang suportif lebih diutamakan sebagai tahap awal.

    Karena tentu saja, kita tidak bisa mengubah persepsi masyarakat dengan cepat. Kita hanya belajar mengontrol apa yang bisa kita kontrol.

    Suka
    Komentar
    pos ke FB
    pos ke X
  • 0 Jejak Manis Ditinggalkan

    Mari Berdiskusi...

    Anggap rumah sendiri, utarakan uneg-uneg kalian.
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. 😉