5 Alasan Saya Menyukai FRIENDS (Serial Sitkom)

Saya Menyukai FRIENDS

Hanya gara-gara meme-meme yang banyak bertebaran di Internet, saya benar-benar terbesit sekelebat ide untuk menelusuri sumber-sumber meme tersebut. Salah satunya “Friends” sebagai salah satu sumber meme yang paling sering saya jumpai di media-media sosial.

Sebenarnya saya agak ‘males’ untuk menonton acara yang ada suara tawa audiensnya di latar belakang, tipikal kebanyakan sitkom (situasi komedi) yang beredar. Bahkan saya sempat melihat hingga serial kartun Scooby Doo ada yang ‘sengaja’ memiliki suara tawa penonton di saat-saat yang menurut direktornya lucu.

Termasuk Friends ini, pertama kali saya melihatnya hanya tontonan jadul boring yang saya nggak ngerti maksudnya apa tiba-tiba ada suara tawa audiens. Kok bisa ya film beginian jadi meme? Apa selera humor masyarakat dunia sudah luntur?

Sampai akhirnya saya menonton yang judulnya “UNAGI”. Di sana baru saya kelepasan untuk ngakak sebebas-bebasnya. Belum lagi saya sempat melihat karakter Phoebe yang tiba-tiba teriak nggak jelas. Wah, keren juga wahahah. Bahkan saya hingga buat artikel spesial yang membahas tentang si Phoebe itu.

Tepat di tulisnya artikel ini, tujuh season Friends sudah saya nikmati dari akun Netflix ‘numpang’ yang dijadikan obyekan oleh karyawan saya sendiri. Yah, lima belas ribu rupiah tiap bulan really worth every penny.

Jadi, apa alasan saya kepincut sinema komedi itu?


Karakter yang unik dan merata

Saya Menyukai FRIENDS

Setiap pemeran utama memiliki karakter yang sangat mudah untuk dikenal.

  • Chandler Bing: Si sarkas
  • Monica Geller: Si perfeksionis
  • Rachel Green: Si drama queen
  • Joey Tribbiani: Si bodoh namun perhatian dan doyan makan
  • Ross Geller: Kakaknya Monica yang aneh dan bikin canggung suasana
  • Phoebe Buffay: Karakter favorit saya, everything hahah

Bahkan Google hingga G*r*a*b pun sepertinya juga kepincut drama komedi ini, tepat saat saya mulai menonton seriesnya, mungkin karena bersamaan dengan rencana reunian tokoh Friends ini.

Saya kaget saat melihat tutorial Flutternya Google, ada daftar karakter Friends di seri widget AnimatedListView-nya. Dan G*r*a*b, memplesetkan nyanyian Smelly Catnya Phoebe menjadi smelly bug. Saya lupa gimana liriknya hahah, baru ngeh pas lihat what’s newnya saat sedang update appnya.

Bahkan, ketika kalian search di Google ke enam karakter Friends di atas, ada ikon kecil yang dapat dimainkan di bagian sisinya.
Saya Menyukai FRIENDS

Misalnya, Google akan memunculkan gitar Phoebe Buffay dan akan memainkan lagu Smelly Catnya saat diklik. Coba deh search tokoh yang lain, saya ngakak yang Joey Tribbiani.

Intinya, benar-benar tidak ada yang membosankan dari ke enam karakternya.


Drama bersambung

Saya Menyukai FRIENDS

Ingat saat saya bilang sitkom Friends adalah tontonan jadul boring di paragraf-paragraf awal? Yes, itu karena saya menontonnya dari sembarang episode. My bad.

Friends bukanlah tontonan komedi yang kita dapat menonton dari sembarang episode. Semua ceritanya bersambung dan saya baru dapat lucunya saat saya benar-benar mengikuti satu per satu episodenya. Jalan ceritanya cukup cepat untuk 10 seasons dan saya sebisa mungkin untuk tidak ‘berkedip’ saat menonton agar tidak terlewat jalan ceritanya.

Masing-masing punya jalan ceritanya. Meski yah, memang kebanyakan cuma masalah hubungan dan pacaran tok namun ternyata konfliknya tidak sesederhana yang saya bayangkan. Oke, mungkin karena dulu saya kebanyakan nonton sinetron Indos*ar dan S*C*T*V.


Jalan cerita rasional

Saya Menyukai FRIENDS

Betul memang Friends memiliki jalan cerita yang sangat tidak realistis seperti, bagaimana orang pengangguran bisa tinggal di apartemen menengah yang cukup apik? Tapi bukan itu yang jadi sorotan saya mengenai drama fiktif ini.

Semua jalan ceritanya rasional alias masuk akal. Hampir tidak ada adegan yang terlalu dibuat-buat hanya demi gelak tawa. Jalan ceritanya natural dan benar-benar berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Saya berpikir mungkin banyak hal di hidup saya ini yang begitu sarat humor, namun yang saya lakukan hanya melewatkannya.

Dan juga, kebalikan dari beberapa sinema elektronik alias sinetron yang bergentayangan di layar-layar kaca TV kita (yang saya juga udah nggak pernah colek lagi itu TV sampe TVnya ilang tau kemana) di mana temanya kebanyakan pacaran/selingkuh dan hanya berputar-putar saja di lingkaran setan itu, Friends tidak.

Maksud saya, meski memang jalan cerita Friends memang kebanyakan tentang romantisme, namun bukan hanya hal mengenai pacaran saja yang disorot. Friends tidak men-skip adegan saat Ross berada di museum sehingga kita menghargai kinerja seorang ilmuwan, Friends juga tidak men-skip adegan kerja Chandler sehingga pemirsa juga memiliki sedikit bayangan bagaimana suasana kerja dari beberapa profesional.

Nilai plus untuk yang satu ini.


Banyak pelajaran yang dipetik

Saya Menyukai FRIENDS
Seperti yang telah saya jelaskan sedikit di artikel saya yang bertema Phoebe Buffay, ada setidaknya beberapa pelajaran sosial via visual yang dapat saya tangkap dari sinema komedi Friends ini.

Misalnya, tentang bagaimana saya memecah suasana yang kaku (secara, saya agak introvert dan insecure), dan saya sebenarnya agak iri saat mereka dapat dengan mudah meminta maaf setelah mereka berbuat kesalahan. Yah, meski memang beberapa tidak pada saat itu juga meminta maaf dan sempat ‘ngotot’ membela diri saat salah.

Di sini juga banyak hal yang saya nggak sangka terutama beberapa nilai pengorbanan antar teman yang mungkin sudah agak jarang disaksikan pada hari ini. Saya ingat betul saat Joey merelakan waktunya demi membantu Monica yang dibully oleh rekan-rekan kerja barunya.

Atau bahkan Phoebe yang sampai merelakan rahimnya untuk adiknya yang ingin memiliki anak meski sebelumnya orang-orang melarang dan Phoebe sempat galau berkepanjangan. Saya tahu ini hal yang sangat tabu untuk dilakukan namun saya terkesan saat ia berkata, “Jika mereka bahagia, saya pun.”


Terduga dengan cara tidak terduga

Saya Menyukai FRIENDS
Saya cukup kagum dengan jalan cerita Friends yang sebenarnya ringan, atau bahkan sangat ringan untuk diikuti. Namun kenyataannya, Ferguso bahkan sudah mengakui bahwa untuk menebak apa yang terjadi selanjutnya memang sangat tidak mudah.

Jadi saya dapat menyimpulkan bahwa kandungan plot dadakan atau mini plot twist sangat kental di sini dan inilah mungkin yang disebut dengan komedi yang jenius.

Belum lagi ada mini plot yang memang ditujukan untuk menjadi hiburan ekstra di setiap akhir episode setelah kreditnya keluar. Atau tepatnya, setiap post credit. Formulanya mudah, biasanya ada beberapa plot hole saat episodenya sedang berlangsung di mana pemirsa mungkin tidak menyadari hal itu dan adegan post creditnya menambal plot hole tersebut dengan cukup memuaskan.

Well, alasan-alasan inilah mungkin yang membuat serial Friends di sini memiliki banyak penggemar di seluruh dunia, bahkan hingga memiliki dubbing sendiri di negara-negara Eropa dan Jepang.

Namun sayangnya, ada tiga hal yang saya tidak suka dari Friends. Silakan klik untuk membaca aritkelnya di mari…

Isi kotak di bawah untuk berkomentar, atau artikel di atas dapat kalian diskusikan di Forum Terbaru Anandastoon. :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon