7 Alasan Mengapa Hari Ini Hampir Semuanya Membosankan

Semuanya Membosankan

Saya merasakan bahwa semakin hari setiap hal yang saya temui baik di dunia nyata atau maya semakin membosankan. Entah itu musik, desain, film, artikel, bahkan hingga olahraga. Bukannya tidak ada karya yang berkualitas, namun saya hanya merasa bahwa saya semakin jarang dalam mendapatkan sesuatu yang berkualitas hari ini.

Saya lihat hasilnya di internet, bahwa saya tidak sendiri, benar-benar tidak sendiri. Hasil dari Google mengenai “Boring Nowadays” menunjukkan hasil yang bermacam-macam. Apakah kalian merasakan hal yang sama? Bagaimana ini bisa terjadi?

Setelah saya pikir-pikir, mungkin 7 hal ini yang menyebabkan semakin sedikitnya sajian yang dapat kita nikmati sekarang-sekarang ini.


  • Terlalu mengikuti tren dan algoritma

Hari ini sedang tren musik yang bergenre rap, misalnya. Maka hal-hal trending yang sering kita dengar hampir semuanya berbau rap. Begitu pula dengan desain smartphone yang semakin hari semakin kaku dan tidak menarik. Semuanya hanya berbentuk persegi panjang dan sudah. Ingat dahulu kita memiliki telepon seluler yang bentuknya unik-unik?

Bukan tidak boleh memiliki desain telepon genggam yang kaku, karena saya lihat memang begitu yang efisiennya. Namun sepertinya memang bentuk telepon genggam yang seperti ini seperti sudah menjadi ‘tanda’ bahwa seperti inilah kreativitas yang akan kita nikmati untuk selanjutnya.

Belum lagi dengan desain-desain monoton dan (terlalu) minimalis yang sudah ribuan kali yang kita lihat. Atau efek-efek dalam dunia fotografi yang itu-itu saja. Memang efeknya saya akui bagus dan keren, namun semakin hari semakin membosankan. Namun bagaimana lagi, begitu kan trennya?

  • Tools yang lebih mudah dan banyaknya newbie

Dulu ketika saya melihat hasil manipulasi foto oleh software pengolah gambar semisal Adobe Photoshop, decak kagum saya akan mengalir deras dari bibir saya. Sekarang? Biasa saja. Mungkin sudah terlalu banyak yang dapat mengoperasikan toolsnya karena saya lihat hari ini hampir segala sesuatunya selesai hanya dalam beberapa kali klik.

Tools yang dibuat untuk memudahkan pekerjaan manusia, justru berdampak pada banyaknya karya-karya monoton yang dihasilkan oleh orang-orang yang tidak begitu paham seni. Bahkan saya melihat bahwa karya para pendatang baru dapat dikomparasikan dengan para profesional.

Apalagi hari ini sudah sangat banyak tutorial dan template yang dapat dinikmati secara gratis dari internet. Template yang seharusnya digunakan untuk mempercepat proses kerja, justru hanya diubah sedikit dan dipamerkan sebagai hasil karya. Tidak heran banyak konten-konten kreatif yang begitu serupa bentuknya yang berujung kepada kebosanan.

  • Hanya untuk industri dan uang

Ketika saya menyerah untuk mencari musik bagus yang setidaknya dapat bertahan di gadget saya berhari-hari, saya terpikir untuk mencari musik-musik jadul yang ternyata saya panen banyak. Dan saat saya sedang mendengarkan musiknya satu per satu di Youtube, saya melihat ada komentar yang kira-kira seperti ini,

“Why we can’t get musics like these nowadays?” (Mengapa kita tidak bisa lagi mendapatkan musik-musik seperti ini hari ini?)

Balasannya cukup membuat saya terklik, “Because most of today’s musics is only for industries and money.” (Karena banyak musik hari ini hanya berorientasi pada industri dan uang)

Jadi sudah sedikit sekali artis yang membuat konten murni dari hati yang menyimpan berbagai macam ingatan emosi dan kejadian-kejadian. Mungkin kalian jika mendengarkan musik-musik jadul, kalian akan berpikir bahwa inilah sebenar-benarnya musik dan tetap bertahan hingga kini. Begitu pun dengan perfilman dan video game zaman lawas, Jadi bukan karya yang sekedar “oh bagus”, namun karya yang dapat dinikmati hingga bila-bila.

  • Skup yang sangat terbatas

Meski hari ini kita dapat membuat segala sesuatu yang lebih luas karena tools yang lebih mudah dan fleksibel daripada zaman dulu, namun keadaan sepertinya berbanding terbalik. Kita seperti terkekang oleh sesuatu yang bahkan kita tidak tahu. Penulis sepertinya terkekang dalam lingkup yang itu-itu saja, begitu juga dengan para developer game yang sepertinya terkekang dalam mengembangkan sesuatu yang terlalu realistis.

Dulu saya pernah bermain permainan biliar di konsol Nintendo. Permainannya tidak hanya menyodok bola ke lubang-lubang namun juga setiap lubang terkadang memiliki bonus dan tantangan tersendiri. Saya terkesan. Bahkan setelah levelnya selesai, akan muncul sebuah level tantangan unik di mana kita harus berpikir keras untuk menyelesaikan tantangannya. Side Pocket nama permainannya.

Hari ini? Orang hanya terkekang untuk mendapatkan pujian grafis dan gameplay yang menyematkan fitur-fitur modern seperti akselerasi atau bahkan gesture. Namun bukan game unik yang kita dapatkan, melainkan game yang hanya membuat bosan dari hari ke hari. Setidaknya sampai hari ini saya masih bermain candy crush dari tahun 2016 dan selalu tiba di level terakhir hehe…

Bidang yang lain pun sama, seperti pemusik hari ini yang terkekang untuk menyisipkan instrumen-instrumen bertema tekno, fotografer yang terlalu terkekang untuk menerapkan efek seperti long-exposure di air terjun, bokeh, dan lain sebagainya. Jika mereka tidak mengaplikasikan itu semua, mereka akan merasa ketinggalan zaman dan terlihat bodoh. Kebanyakan mindsetnya memang demikian.

  • Kurangnya imajinasi

Saya menghubungi teman saya di Norwegia yang waktu dulu kami sama-sama pernah develop game jadul. Saya memberitahunya mengenai bagaimana kabar permainan hari ini dan dia menjawab dengan jawaban yang sangat bagus,

But I feel at times that people focus too much on high quality and realism, and forget imagination. I think of it like books. Literal books don’t have pictures at all but still, books come to life through our imagination. I think games can work in a similar way.

For the classic games, when something was pixelated and unclear, we used imagination to fill the details.

(Tapi kadang-kadang saya merasa orang-orang terlalu fokus pada kualitas tinggi dan realisme, dan melupakan imajinasi. Saya menganggapnya seperti buku. Buku-buku tidak memiliki gambar sama sekali namun tetap, buku-buku seakan menjadi hidup melalui imajinasi kita. Saya pikir game bisa bekerja dengan cara yang sama.
Untuk game klasik, ketika sesuatu hanya digambarkan dengan piksel dan tidak jelas, kami menggunakan imajinasi untuk mengisi detail)

Wow, saya tidak bisa menyetujuinya lebih dari ini.

  • Inovasi yang aneh-aneh

Sebuah artikel di internet (lupa tidak saya bookmark, maaf) mempermasalahkan inovasi yang begitu aneh dan tidak penting. Katakanlah sebuah telepon genggam yang dapat layarnya dapat dilengkungkan atau bahkan dapat dilipat. Saya tidak mengerti untuk apa mereka berlomba-lomba menciptakan fitur begitu. Alasannya mungkin agar lebih ramah saku jika memang tidak ingin berorientasi pada status atau pujian.

Web developer seperti saya akan merasa pusing dua kali dengan inovasi tersebut karena akan menyesuaikan lebar layar dua kali atau bahkan lebih.

Kemudian smartwatch yang saya tidak pula mengerti untuk apa tujuannya. Jam tangan biasa pun sudah dapat menghandle kebutuhan waktu lebih baik daripada gadget tangan yang harus di-charge ketika baterainya habis. Bahkan hingga kini, saya tidak memiliki tablet karena merasa tidak butuh.

Dari inovasi yang terlihat keren, berapa yang benar-benar dapat bermanfaat?

  • Influencer

Terakhir, influencer. Merekalah yang bertanggung jawab akan semua hal ini karena mereka yang ikut mempopulerkan tren dan melakukan marketing besar-besaran akan sesuatu yang hebat sehingga lama-kelamaan menjadi monoton. Kalian mungkin akan berpikir bahwa kalian sudah melihat konten tersebut berulang kali.

Mereka menggunakan slogan-slogan untuk menakut-nakuti masyarakat yang mana mereka akan disebut kolot atau ketinggalan zaman jika mereka tidak mengikuti tren tersebut. Bahkan media-media sosial semisal Youtube dan Instagram juga ikut andil mengambil bagian dalam hal ini via algoritma statis mereka.

Situs-situs media mainstream juga berlomba-lomba memuat orang-orang yang terlihat berprestasi untuk mengisi trafik situs mereka, yang pada akhirnya para kreator tersebut hanya menjadi debu dari gumpalan debu yang lain, tidak ada yang benar-benar menjadi emas atau setidaknya, perak dan perunggu. Menyedihkan.

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)