Fotografi, Sebuah Hobi yang Tinggal Klik?

Fotografi

Saya penasaran dengan sebuah story pada sebuah akun di Instagram saya. Begitu saya lihat, ternyata sebuah banner ilustrasi yang menegaskan bahwa fotografi itu bukanlah hobi yang mudah dengan sekali klik. Dalam banner tersebut diperlihatkan pula berbagai perlengkapan ‘ribet’ fotografer yang semakin membuktikan bahwa fotografer itu bukanlah hobi yang tinggal klik.

Namun saya berpikir lagi. Baiklah sebelumnya memang saya memiliki kamera Nikon DSLR yang berharga di atas 7 juta. Begitu juga dengan tripod, pembersih kamera, lensa tambahan, filter, dan sebagainya yang jika ditotal-total perlengkapan tersebut bernilai hampir 10 juta. Meskipun saya membeli semua itu dengan tunai, bukan berarti tabungan saya kemudian tidak memaki-maki pemiliknya.

Kembali lagi dengan pemikiran bahwa “fotografer adalah hobi mudah karena hanya bermodal ‘klik'” seakan berkata bahwa pelukis adalah hobi yang mudah karena hanya tinggal gores-menggores saja. Sejauh ini, saya tidak pernah mendengar bahwa kesan ‘memudahkan’ itu dialamatkan pada pelukis, lalu mengapa kemudian fotografi menjadi suatu hobi yang diremehkan sebagian orang?

Dan memangnya siapa ‘sebagian orang’ tersebut?


  • Akar mana akar?

Saya sudah pernah menulis artikel tentang karya-karya anak bangsa yang tidak dihargai dan bagaimana menyikapinya. Penyebab-penyebab orang yang tidak menghargai yang paling umum adalah karena memang tidak tertarik dengannya, dan tentu saja, karena iri.

Saya dahulu pernah membuat gambar animasi bergerak berformat .gif dengan sepenuh hati dan menunjukkannya kepada salah satu teman saya. Namun apa responnya?

“Ah, itu mah gampang.”

Wait, what? Memang sudah seberapa ahli teman saya itu sehingga dia sedikit meremehkan kerja keras saya? Saya tebak bahkan dia mungkin tidak mengerti bagaimana cara membuatnya. 10 tahun kemudian, yakni ketika artikel ini saya tulis, saya baru menyadari bahwa teman saya tidak senang dengan saya yang memperlihatkan karya saya. Dia hanya berusaha untuk membahasakan “berhentilah pamer“.

Ada lagi orang yang memang tidak senang disaingi ilmunya meskipun dia sendiri tidak lebih baik dari orang lain sehingga begitu dia ditunjukkan sebuah mahakarya, dia berkata bahwa itu adalah hal mudah dengan mengabaikan setiap kerja keras si pemilik karya. Yang namanya sudah termakan dengki, seseorang akan berusaha menjatuhkan lawannya dari segi apapun, terutama dari mentalnya.


  • Tinggal ‘klik’

Tinggal ‘lep’… ehm, maksudnya tinggal ‘klik’ adalah sebuah dasar yang dijadikan perkara oleh para fotografer atas tidak dihargainya jerih payah mereka. Tak ayal, para fotografer kemudian berlomba-lomba membuat hal-hal dimana fakta dan opini dicampur untuk membuat berbagai macam pembelaan diri.

Begitu pun dengan orang yang meremehkan para fotografer tersebut, alih-alih mereka mengangguk dan menerima alasan dari fotografer, justru orang-orang itu berbalik membuat balasan-balasan serupa seperti, “itu kan hanya alat”, atau “kalian tidak menggunakan semuanya kan?”, dan sebagainya di mana lingkaran setan adu argumen ini sepertinya tidak akan pernah berhenti.

Jangan khawatir, bukan hanya fotografer saja yang mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan semacam itu, bahkan okupasi lain semisal aktor, desain grafis, atau bahkan penulis sekalipun kerap disandarkan argumen-argumen yang seakan tidak menghargai.

Mari beristirahat dari orang-orang yang menyebalkan itu sejenak, saya akan fokus kepada pemain utama itu sendiri.


  • Dari mana asalnya asap? Dari api

Sejujurnya saya termasuk orang yang tidak menerima jika fotografi itu adalah hobi yang tinggal ‘klik’. Bahkan untuk menguatkan argumen saya ini, saya akan lampirkan beberapa foto yang saya ambil sendiri, yang pastinya dengan kamera sendiri.

fotografi

Tidak ada yang tahu jika saya mengambil foto di atas dengan bertarung melawan medan pijakan yang licin, membungkuk dan menyamping sambil mempertahankan keseimbangan, mengatur cahaya agar masuknya pas, dan memutar kamera hingga ditemukan sudut yang baik.

Fotografi

Saya mencari objek yang unik, menanamnya di pasir, berjongkok-jongkok sambil menahan kamera agar tidak terciprat ombak, berulangkali mengatur kecepatan rana dan bukaan agar cahaya dan blur masuk optimal, serta menahan malu dilihat orang lain.

Curug Citambur

Teman saya cukup sabar menunggu saya dalam mendapatkan foto bunga yang sering tertiup angin sehingga mengacaukan fokus dalam sepersekian detik.

Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Mengapa usaha yang sedemikian sulit itu ternyata tidak mendapatkan apresiasi dari sebagian orang dan justru berkata bahwa fotografi itu adalah hobi yang tinggal ‘klik’? Pertanyaan inilah yang menjadi jantung pembahasan pada artikel ini.

Baidwei, saya pernah tulis artikel yang membahas tentang budaya fotografi yang mungkin menurut saya hampir hilang. Hari ini banyak saya lihat tour fotografi yang dipimpin oleh seorang atau beberapa orang ahli di mana para anggotanya -hanya- bermodal kamera ‘mahal’ dan peralatan seadanya. Target mereka biasanya air terjun, matahari terbenam, pantai, atau kombinasi.

Saya juga melihat para anggota rombongan tour tersebut diberitahu apa saja setting yang harus digunakan dalam mengambil foto tersebut agar terlihat menakjubkan. Ketika semua sudah siap dengan pengaturan kameranya, jadilah mereka memotret secara ‘berjamaah’. Lalu mereka mungkin seperti diberikan tips bagaimana cara mengedit hasil gambarnya di Photoshop.

Tak heran, banyak amateur yang seakan mendadak jadi fotografer ahli dalam sekejap. Apa yang mereka posting di jejaring sosial kini membuat mata terbelalak, hingga di posting ulang oleh akun dunia internasional. Saya bahkan sudah sangat bosan melihat foto yang sama, di tempat yang sama, dengan tonal yang sama, tetapi oleh fotografer yang berbeda setiap harinya.

Bahkan foto-foto yang ‘biasa’ pun menjadi luar biasa hanya karena efek template yang juga sepertinya hanya sekali ‘klik’, tapi saya tidak tahu.

Pada akhirnya saya berhenti mengikuti para ‘fotografer’ tersebut semuanya. Bahkan teman saya yang senang fotografi mikro pun melarang saya untuk membeli filter ND stopper untuk keperluan eksposur panjang karena dia sendiri juga sama dengan saya, yaitu bosan melihat foto-foto eksposur panjang yang pengaturan dan tempatnya kurang lebih sama.

Saya tidak tahu apakah dari sinilah yang menjadi salah satu sebab orang-orang kemudian meremehkan jasa fotografi, dengan sebab para fotografer itu sendiri yang menyajikan dan menciptakan paradigma ‘tinggal klik’ yang demikian itu ke sebagian audiensnya.


  • Kesimpulan

Tidak perlu memaksa orang yang tidak suka dengan karya kita untuk menghargai hasil jerih payah kita. Kita lebih baik fokus kepada audiens yang siap mendukung kita tanpa menghiraukan apa yang diucapkan orang lain jika hal itu tidak benar dan membuat down.

Bukankah kita sendiri yang berkata bahwa hidup tanpa ‘haters’ itu tidak asik?

Terlebih dari hal itu, buatlah konten orisinal tanpa harus meniru gaya orang lain secara berlebihan. Inilah ujian terbesar yang harus dilewati oleh para pembuat konten kreatif. Kebanyakan kita selalu meniru konten yang sudah ada, dengan hanya mengubah-ubahnya sedikit agar popularitas juga menempel kepada diri kita.

Yang pada akhirnya, kita sendiri yang akan dilupakan oleh zaman.

Jika kalian sendiri tidak bahagia dengan foto yang kalian jepret, jangan-jangan benar apa yang dikatakan orang bahwa hobi fotografi kalian adalah hobi yang tinggal ‘klik’.

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)