Please, sebelum kalian membaca cerita lanjutan ini, saya sangat sarankan agar baca cerita sebelumnya di sini. Terima kasih. πCerita sebelumnya:
Teman saya, Uwi, bercerita bahwa dirinya ingin bermain PS pada pukul 09.00 malam. Meski orang tuanya melarangnya, dia nekat pergi. Berjalan 5-6 km menyusuri hutan yang sangat gelap, dia ternyata bertemu makhluk setengah anjing dan setengah manusia, yang dikenal dengan nama Setan Aul.
Pemilik PS menyarankan agar pulangnya besok pagi saja. Namun Uwi ingin pulang pada saat itu juga, yakni pukul 2 malam. Akhirnya pemilik mengutus seseorang untuk menemani Uwi hanya sampai batas desa saja. Dan diantarlah Uwi hingga tempat yang dijanjikan, dan meneruskan perjalanan pulang melewati hutan yang gelap tadi.
Setelah beberapa kilo berjalan, penerangan satu-satunya yang ia bawa yaitu HPnya justru mati. Baterainya habis karena sepanjang jalan ia bermain tetris. Akhirnya ia berjalan menyusuri hutan hanya dengan bantuan sinar bulan. Melewati bebatuan dan semak belukar, dia berjalan dengan yakin.
Sampai di suatu tempat, tiba-tiba HP yang ia genggam menyala dengan terangnya, walaupun baterainya sudah habis. Uwi jelas bingung. Di sinarilah sekelilingnya karena ia penasaran sedang ada di mana. Di sampingnya ada sebuah tugu, yang ternyata setelah ia sinari adalah gerbang sebuah pemakaman. Uwi tentu saja kaget, ternyata ia sedang berada di area pemakaman.
Ia menyinari sekeliling, dan menemukan seseorang dalam jarak beberapa puluh meter, sepertinya sedang duduk. Uwi menyapa orang itu dengan bahasa Jawa, namun orang tersebut tetap bergeming di tempatnya. Uwi akhirnya mendekati orang tersebut dan berhenti ketika kakinya menyentuh sebuah akar pohon.
Uwi menyorot lampu HPnya ke arah orang tersebut. Dan ternyata itu bukan orang! Sesosok makhluk yang agak transparan, berkepala botak tanpa hidung, dengan mata yang hampir berlubang dengan tengkoraknya. Mulutnya tersenyum sangat lebar hingga hampir menyentuh pipi, dan tanpa rambut sama sekali. Mereka berdua kini bertatap-tatapan.
Makhluk tersebut tidak duduk, melainkan merangkak. Itulah mengapa makhluk tersebut dinamai dengan Padjadjaran. Jika kalian penasaran bagaimana bentuknya, kalian dapat cari di Google dengan kata kunci “The Rake”. Tapi saya beri sebuah peringatan, jangan mencarinya di Google Images apalagi ketika malam, kecuali kalian benar-benar berani.
Makhluk tersebut benar-benar menatapnya sambil merangkak, tanpa ekspresi. Setelah melihat agak ke bawah, salah satu tangannya menyentuh kaki Uwi yang ia kira tadi adalah akar pohon. Setelah menelan ludah, ia tidak ingin mengambil resiko lebih. Lari! Tidak ada pilihan lain.
Uwi berlari tunggang-langgang tanpa peduli apapun di sekelilingnya. Ia hanya peduli jalan menuju rumahnya saja. Dia juga melewati sumur yang jika seseorang tidak melihat sumur tersebut maka dia akan tersesat di sana selamanya. Namun ia tetap tidak peduli, yang penting ia sampai di rumah segera.
Di belakangnya terdengar suara langkah yang sangat cepat dan tidak beraturan. Benar, makhluk tersebut mengejarnya dari kejauhan. Sial, sial, sial! Uwi menambah kecepatan larinya sambil berharap-harap cemas. Di sebuah jembatan bambu di atas sebuah sungai, langkah Uwi terdengar lebih berisik karena pijakannya dengan keras menghantam bambu-bambu tersebut.
Tetapi beberapa detik kemudian terdengar suara yang jauh lebih mengerikan,
“Brbugbrekbugrbrebugbrgkbugbgbugbrek”
Makhluk tadi mengejar dengan sangat cepat dan tidak beraturan dengan keempat kaki-kakinya melewati jembatan bambu tersebut sehingga menimbulkan suara bising seperti banyak orang yang sedang berlari sprint menuju ke arah Uwi.
Uwi pun kelelahan berlari di hutan yang minim cahaya tersebut, namun dari kejauhan ia melihat sebuah cahaya. Ia semakin mempercepat langkahnya diikuti dengan makhluk tersebut dari belakang. Ternyata cahaya yang ditemukan Uwi adalah sebuah lampu dari sebuah gerbang sekolahan. Ia memilih istirahat sebentar di bawah terang lampu tersebut.
Dari kejauhan, makhluk Padjadjaran tersebut masih menatap Uwi dengan tatapan kosongnya yang miring, kemudian berbalik menjauh dengan kaki-kakinya seperti seekor laba-laba.
Tak lama kemudian, terdengar suara deru sepeda motor dari kejauhan. Uwi melihat ke arah suara dan terlihat bapak tua mengendarai sebuah sepeda motor jadul yang sedang menuju ke arahnya. Uwi langsung memberhentikan bapak itu serta memohon tumpangan ke desanya. Untunglah pak tua tersebut menyanggupi.
Diboncenglah Uwi. Pak tua tersebut memakai batik seperti ingin pergi kondangan. Perjalanan akhirnya dilakukan juga menuju rumahnya. Namun Uwi merasakan keanehan. Dibalik deru knalpot, ternyata dia tidak merasakan sedikitpun getaran atau goncangan di jalan yang berbatu. Pelan-pelan ia melihat ke arah bawah, dan ternyata rodanya tidak berputar!
Bagaimana ini, Uwi tetap yakin, ia pasti sampai. Dan benarlah, ia pun sampai ke rumahnya pada pukul 3 pagi. Uwi pun berterima kasih dan mengambil uang dua ribuan yang pada saat itu sudah termasuk nominal yang cukup besar dan menyerahkan kepada bapak tersebut sebagai rasa terima kasih.
Dari kejauhan saudaranya yang belum tidur melihat Uwi, dan berteriak ke arahnya,
“Kamu ngapain nyodorin uang ke hutan? Ingin pamer?!”
kurang realistis
Hai Dodhy, terima kasih atas komentarnya. Memang awalnya saya juga nggak percaya sama cerita teman saya itu hehe. Cuma karena saya akhirnya pernah ‘tur gaib’ sama dia sendiri, jadi saya sedikit lebih percaya.
Oh iya, pengalaman teman saya si Uwi ini juga ada di kisah #1, #3, #4, #8, #9, dan #10. Silakan dibaca ya… ^_^