Trading

Berhubung saya pernah posting pengalaman saya meraih Rp100 juta pertama saya di usia 27, apalagi mengingat posisi saya sebagai CTO dari perusahaan yang saya bangun bersama tim, ada satu pertanyaan yang sering saya dapatkan dari beberapa orang.

“Nan, ikut trading nggak?”

Saya menggeleng.

“Nggak.” Saya menjawab sederhana.

Pernah ada masa, mungkin sekitar 2021 atau 2022, yang mana saya sering melihat orang-orang di sekitar saya, termasuk beberapa tim saya yang “teracuni” oleh demam trading pada saat itu.

Sebelum itu, bagi yang belum paham apa itu trading, saya akan jelaskan secara sederhana mulai dari garis berikut. Yang sudah memahami, boleh lewati saja bagian ini:


Awal Penjelasan Trading

Gampangnya, trading itu adalah jual beli saham. Trading itu sendiri artinya perdagangan (trade).

Tetapi pada kenyataannya, orang-orang di sekeliling saya yang mendadak ikut trading, mereka kebanyakan menghabiskan waktu untuk memantau grafik saham.

Saham memiliki nilai atau valuasi yang naik turun. Jadi jika ingin trading yang menguntungkan atau cuan, kita beli saat nilainya sedang rendah, kemudian jual kembali saat nilainya sedang tinggi. Keuntungannya adalah selisihnya.

Misalnya, kita beli 10 lembar atau lot saham ketia harganya Rp100. Kemudian saat harga sahamnya naik jadi Rp1000, maka untung per lembarnya adalah Rp900. Karena kita jual 10 lembar yang kita beli, kita mendapatkan untung sebanyak Rp9000.

Sesederhana itu.

Masalahnya adalah saat kita beli saham di harga Rp1000, kemudian harga sahamnya anjlok menjadi Rp100, di sana kita menderita kerugian di setiap lembar yang kita beli.

Setelahnya ada yang namanya dividen, atau tebar keuntungan bersih perusahaan kepada kita yang telah membeli lembar saham para periode tertentu yang sudah ada jadwalnya pada setiap perusahaan.

Kalau perusahaannya untung, dividen atau kecipratan kita juga lebih besar per lembar saham.

Akhir Penjelasan Trading


Sebuah alasan dasar

Kembali kepada pembahasan, mengapa saya enggan ikut-ikutan trading seperti banyak orang di sekeliling saya?

Jawaban saya cuma satu, karena saya tidak tertarik.

Lagipula jika saya tidak memahami trading kemudian mengikuti trading untuk meraih keuntungan dengan risiko tinggi, itu sama saja saya berjudi.

Perkaranya ada pada ketidaktahuan saya mengenai naik turunnya harga saham. Itu jelas karena saya dari awal sudah tidak memiliki ketertarikan.

Nilai atau valuasi perusahaan bisa berubah drastis karena faktor yang tidak bisa kita duga.

Saya coba berikan contoh yang agak konyol, tapi bisa berpengaruh besar terhadap valuasi sebuah perusahaan.

Misalnya, sebuah valuasi saham sebuah restoran bisa anjlok hanya karena ada satu pegawainya yang terlibat konflik dengan salah satu kurir online. Kemudian kurir tersebut meminta solidaritasnya untuk berramai-ramai memberikan bintang satu dan review buruk di Google Maps.

Akibat rating yang buruk, jumlah pengunjung restoran tersebut berkurang drastis dan menurunkan penghasilan perusahaan secara signifikan.

Itu bisa terjadi dalam waktu semalam saja.

Masih sangat banyak faktor lain yang memengaruhi harga saham, baik dari faktor perusahaannya itu sendiri (internal) atau faktor dari luar (eksternal) seperti perusahaan yang kekurangan bahan baku, merugi karena bencana alam, dan sebagainya.

Belum lagi saat tiba-tiba banyak trader yang ramai-ramai menjual saham saat nilai sahamnya sedang tinggi.

Teman saya yang masih pemula di bidang trading, pernah merugi hingga Rp2 juta. Dan kerugian tersebut sebetulnya masih terhitung “kecil”.

Maka dari itu, saya lebih memilih fokus memperbaiki bidang yang saya tekuni. Penghasilan yang saya dapat dari klien yang puas tentu saja akan jauh lebih berharga daripada menjalani trading yang tidak saya begitu pahami.


Sebab dan akibat

Betul bahwa trading tidak harus lewat saham. Bisa lewat kripto, valuta asing atau nilai mata uang negara lain (forex), dan yang paling populer adalah dengan investasi emas (komoditas).

Intinya hanya satu dari trading: beli saat harga rendah, jual saat harga tinggi. Keuntungannya dari sana, itu yang kita kejar, ‘kan?

Dan balik lagi kepada tujuan awal manusia yang pada dasarnya ingin mendapatkan keuntungan, apa pun istilahnya.

Tetapi ada satu hal yang sering luput dari pengetahuan dasar kebanyakan kita.

Contohnya ketika kita menambang kripto, kemudian kita hasilkan uang dari kegiatan tersebut. Pertanyaannya adalah, uang yang kita hasilkan itu sumbernya dari mana?

Inilah yang banyak orang enggan untuk memahami prinsip dasar seperti ini.

Analoginya, kita ingin nilai matematika yang bagus (cuan) namun kita tidak ingin paham mengapa satu tambah satu sama dengan dua.

Tidak heran mengapa begitu banyak orang, terutama mereka yang pemula dan sekadar ikut-ikutan, yang alih-alih melakukan trading untuk mendapatkan keuntungan, justru menjadi sarana perjudian yang rawan menderita kerugian.

Benar-benar tidak ada bedanya seperti perjudian yang terjadi di pos ronda di pedalaman desa. Semua pemainnya “pasang” taruhan, kemudian yang menang mengambil seluruh uang taruhannya.

Maka kembali lagi kepada pertanyaan saya di atas, “Saat menambang kripto, sumber penghasilannya dari mana?”

Saya beri ini untuk bahan berpikir: jumlah uang atau kekayaan di dunia ini, sebanding dengan jumlah kekayaan yang terkandung di planet Bumi yang kita hidup di atasnya.

Uang atau kekayaan di muka bumi ini tidak bisa muncul entah dari mana dengan sendirinya.

Uang tidak hadir dari panen menambang kripto. Uang hadir dari panen hasil bumi yang tadinya tidak ada.

Mudahnya seperti ini, seorang petani menanam sebuah pohon tomat. Kemudian saat panen, ia tanam lagi sepuluh pohon tomat. Maka, pohon tomat petani tersebut bertambah sepuluh. Artinya, kekayaan si petani bertambah senilai sepuluh buah pohon tomat.

Atau penambang emas. Dari total emas yang hanya 10 ton pada tahun 2013, kemudian bertambah menjadi 20 ton pada tahun 2014. Artinya, kekayaan si penambang bertambah 10 ton emas selama setahun.

Sesederhana itu. Saya tidak ingin yang rumit karena prinsip dasar memang tidak pernah rumit.

Sekarang saat penambang kripto mendapatkan keuntungan, nah kekayaan si penambang kripto berasal dari mana? Apakah ada hasil bumi atau sumber daya yang ia hasilkan? Bermanfaat untuk apa hasil tambangnya?

Ini yang harus kita pikirkan sedari awal. Jadi bukannya menambang kripto itu tidak boleh, tetapi pondasi atau fundamental sederhana yang seperti ini perlu jadi perhatian.

Begitu pun dengan trading yang lain.


Niat awal mendominasi

Tidak sedikit saya perhatikan orang-orang yang terjun ke dalam ranah trading dengan tujuan sebagai jalan pintas meraih kekayaan. Istilahnya, “Cuan Instan”.

Ujung-ujungnya mereka hanya berjudi dengan trading tersebut, berharap-harap cemas apakah mereka akan hoki dengan itu.

Awalnya disebabkan oleh beberapa influencer yang memengaruhi dengan dahsyat lewat seluruh jejaring sosial yang menggambarkan orang bisa langsung kaya-raya lewat trading.

Padahal influencer hanya mempromosikan aplikasi, platform, atau sarana tradingnya saja. Mereka dibayar untuk itu.

Lagi-lagi kejadiannya persis seperti orang-orang yang berbondong-bondong jadi Youtuber tahun 2016 silam, tentu saja karena iming-iming cuan instan tersebut.

Kita banyak yang seolah tidak memahami bahwa segala sesuatu yang mendulang keuntungan instan tidak akan pernah berakhir baik.

Mereka yang kita pikir terlihat mudah untuk menjadi kaya, begitu banyak kegiatan di belakang layar mereka yang tidak kita rasakan. Kita tidak pernah tahu bagaimana proses seseorang sehingga membuat mereka begitu handal meraih keuntungan.

Saya beri contoh lain, teman saya dulu kagum dengan trik ketok magic di sebuah bengkel. Kok cuma ngetok doang bisa cepet gitu ya?

Kita melihatnya sebagai “ketok doang”, tetapi apakah setiap orang bisa dengan sembarangan melakukan “ketok doang” itu?

Begitu pun dengan keahlian lain, termasuk trading. Kita tidak pernah paham bagaimana kegagalan dan optimasi yang dilakukan para ahli trading di balik layar sebelum mereka mendapatkan apa yang kita sebut dengan “cuan instan” itu.

Sebab jika niat awal kita sudah menampik proses demi kekayaan mendadak, maka kita hanya akan menjadi polusi di bidang tersebut.

Akan ada dua akibat dari polusi trading yang kita hasilkan:

  1. Kita mengganggu para trader yang murni hobi dan ahli di bidang tersebut karena membuat harga saham tidak stabil dengan seringnya beli dan jual saham.
  2. Kita menjadi santapan empuk bagi mereka untuk menyedot uang kita entah lewat menggoreng harga saham, atau trik lainnya.

Polusi profesi ini sudah sangat banyak kita saksikan dan hasilnya bukanlah mendorong kemajuan ekonomi, justru membuat ekonomi semakin timpang.

Seperti Youtuber pada awal kejayaannya, mereka yang benar-benar mendulang keuntungan mungkin hanya di bawah 10%, sedangkan lebih dari 90%-nya hanya bertahan dan terseok-seok (survivorship bias), hingga menyerah dengan sendirinya.


Cara uang bekerja

Kita yang sering mempertanyakan mengapa jurang pemisah antara si kaya dan si miskin bertambah lebar, seperti yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.

Itu terjadi karena perputaran uang tidak seimbang, alias tersumbat di suatu titik.

Sama seperti sungai, yang jika tersumbat akan membuat satu tempat mengalami banjir dan tempat yang lain akan kekurangan air.

Ekonomi yang sehat adalah jika perputaran uangnya lancar dan merata, tidak berakhir di sebuah titik yang tidak jelas.

Petani menghasilkan uang saat panen, kemudian uangnya ia belanjakan ke warung tetangga. Artinya uang telah berputar dari petani ke pemilik warung, tidak tersumbat di dompet petani saja dan berhasil menghidupi si pemilik warung.

Kemudian pemilik warung membeli pulsa telepon. Ini juga perputaran uang dari pemilik warung ke operator telepon, yang jadi sumber pendapatan para karyawan operator telepon.

Lalu, salah seorang karyawan operator telepon menggunakan ojeg sebagai transportasi utama perjalanan ke kantor. Betul, perputaran uang terjadi lagi di sini.

Tetapi, ternyata si tukang ojeg menggunakan uangnya untuk judi online dan membeli rokok ilegal. Di sinilah perputaran uangnya berakhir, tersumbat kepada sesuatu yang tidak jelas dan tidak bermanfaat.

Agama melarang perjudian dan mendorong sedekah atau zakat guna memperlancar perputaran uang demi menghidupkan ekonomi banyak umat manusia.

Apalagi jika perputaran uang tersebut berakhir tersumbat di luar negeri.

Contohnya seperti banyak server judi online yang dikelola oleh warga negara asing, itu bisa menyedot stok kekayaan negara ini ke negara tersebut.

Pun sama dengan trading. Saat seseorang melakukan pertambangan kripto, seperti yang sudah saya sebutkan, sumber penghasilannya berasal dari mana? Jangan-jangan dari mereka yang kalah peralatan tambangnya? 🤷🏻‍♂️🤷🏻‍♀️


Apakah saya akan trading?

Apakah saya akan trading untuk memutarkan uang saya yang sudah ratusan juta ini?

Jawaban saya, mungkin.

Tetapi sebelum itu, saya menjaga tabungan tiga digit saya di program deposit bank yang memiliki bunga positif.

Bukan, ini bukanlah bunga di mana saya mencekik bank untuk melebihkan tabungan saya per bulan bak rentenir. Bunga positif ini justru ditawarkan oleh bank sendiri sebagai proses bagi hasil.

Jadi tabungan saya tidak mengendap di bank, melainkan dipakai oleh bank untuk memberi modal sebuah usaha, kemudian membagi penghasilannya dengan saya.

Alhasil, saya sudah melakukan investasi dengan sendirinya tanpa ikut program investasi atau trading apa pun. Bunga positif yang saya dapat pun sudah mencapai lebih Rp500 ribu per bulannya, jauh lebih besar daripada saya ikut program yang tidak saya pahami.

Kecuali kalau saya berbicara tentang trading bursa saham untuk perusahaan-perusahaan yang IPO, maka di sinilah yang menariknya.

Pertama, tentu saya lihat kondisi negaranya terlebih dahulu. Apakah politiknya stabil, baik pemerintah atau pun rakyatnya? Kalau kita lihat IHSG yang turun naik tidak menentu, kecil kemungkinan saya trading di sana.

Menanam uang di pasar uang yang minim risiko pun hanya menyisakan kekosongan dalam batin saya karena meski untung, tetapi apa bedanya dengan bunga positif dari tabungan saya di bank?

Saya tidak trading untuk keren-kerenan. Tujuan saya trading untuk mendukung tumbuhnya ekonomi yang mana manfaatnya akan kembali kepada masyarakatnya juga.

Sebagai finalisasi, sebenarnya ada satu perusahaan yang mana mungkin suatu saat saya akan tercantol melakukan trading dengannya.

Perusahaan apa itu? Apakah kepada perusahaan yang dulunya digadang-gadang sebagai unicorndecacorn, popcorn, atau apalah itu?

Bukan. Perusahaan itu adalah…

Nintendo.

Benar, perusahaan video game legendaris asal Jepang itu, yakni dengan ID saham 7974 pada Tokyo Stock Exchange. Mengapa saya pilih Nintendo?

Saya bukan gamer, bahkan tidak punya konsol Nintendo apa pun selain NES tahun 1994 lalu. Saya bahkan awalnya membenci Nintendo karena permainannya bagi saya terlalu kekanak-kanakan.

Tetapi sampai saat ini, detik ini saya menulis ini pun, saya sembari mendengar musik-musik permainan Nintendo.

Banyak karya saya, termasuk desain blog ini dan AST Fair, yang terinspirasi dari musik dan desain tampilan permainan Nintendo modern yang tidak biasa.

Intinya, Nintendo telah berjasa memberikan banyak senyuman untuk saya, dan itu selaras dengan salah satu misi Nintendo untuk memberikan senyuman kepada banyak orang.

Dengan melakukan trading atau membeli saham Nintendo, saya tidak mengejar cuan karena tujuan utama saya adalah turut berkontribusi menjaga konsistensi Nintendo untuk tetap membuat banyak orang, termasuk saya, senantiasa berbahagia dan terpenuhinya kebutuhan escapism.

Meskipun, nilai trading saya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan investor-investor Nintendo yang lain.

Lalu, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, nilai atau valuasi saham perusahaan bergantung kepada kinerja atau progres positifnya.

Nintendo konsisten memproduksi permainan dan inovasi yang terlihat lebih baik dan lebih matang dari tahun ke tahun, menjadi faktor utama dalam meraih kepercayaan investor.

trading

Sekalipun saham Nintendo anjlok, biasanya itu terjadi saat penutupan tahun fiskal atau laporan keuangannya, sebelum akhirnya meroket kembali ketika pengumuman sekumpulan permainan barunya pada program yang bernama Nintendo Direct.

Saya sendiri ikut terciprat bahagianya karena akan banyak sekali inspirasi “gratis” yang saya dapatkan lewat produknya yang tidak biasa itu.

Intinya, kenali dahulu sebuah perusahaan sebelum kita melakukan trading pada mereka, sehingga tujuan kita trading tidak kosong dan sia-sia.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke X
🤗 Selesai! 🤗
Punya uneg-uneg atau saran artikel untuk Anandastoon?
Yuk isi formulir berikut. Gak sampe 5 menit kok ~

  • 0 Jejak Manis Ditinggalkan

    Minta Komentarnya Dong...

    Silakan tulis komentar kalian di sini, yang ada bintangnya wajib diisi ya...
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. 😉

    Kembali
    Ke Atas