Personalisasi

Entah, di sebuah Minggu malam yang biasanya saya sedang bermalas-malasan di atas kasur selepas salat Isya, saya tiba-tiba teringat sebuah hal yang menderingkan sebuah bel dalam hati saya.

Saya langsung buka laptop, mencari tema-tema HP dan komputer yang dulu pernah saya koleksi.

Bersamaan dengan itu, saya menemukan video kompilasi tema-tema atau skin dari aplikasi pemutar musik jadul nan legendaris, Winamp dan Windows Media Player.

Senyum saya melebar melihat itu, dan yang saya rasakan bukan sekadar nostalgia. Ada sesuatu yang lebih dalam yang saya rasakan saat melihat tema-tema kreatif itu.

Personalisasi

Winamp Skin Museum

Personalisasi

Sumber: Internet

Saya membuka komentar video kompilasi tema itu, dan menemukan banyak komentar yang ternyata kangen masa-masa di mana mereka bebas melakukan personalisasi dari apa yang mereka punya, yakni memberi tema sesuai selera penggunanya.

Banyak juga yang mengait-kaitkan dengan produk hari ini yang serba minimalis dan kaku.

Meskipun produk hari ini dibuat dengan standardisasi yang memudahkan setiap pengguna berikut pengembangnya, tetapi sebagian orang justru menjadikan aliran minimalis sebagai jalan pintas meraih gengsi dan cuan yang pernah saya jelaskan di artikel ini.

Padahal, minimalisme bertujuan untuk membuat lebih bersih, rapi, dan tertata, bukan untuk menghilangkan identitas, keunikan, dan kreativitas.

Banyak orang hari ini yang mendapatkan berbagai macam tuntutan untuk mengikuti sosialita di sekelilingnya, membuat mereka begitu lelah batin.

Bahkan hingga di dalam zona aman mereka seperti di dalam kamar tidur mereka yang begitu nyaman sekali pun, mereka masih belum bisa terbebas dari lelahnya mengikuti aturan main sosialita.

Di atas kasur dan bantal yang empuk, emosi kebanyakan orang ternyata masih diaduk-aduk lewat postingan-postingan di media sosial yang membuat kondisi mental mereka semakin penat.

Mulai dari postingan tentang pencapaian, cara untuk mengejar sesuatu yang tidak detail, harus begini, dan harus begitu.

Personalisasi bisa menjadi salah satu ramuan mujarab dalam mengatasi beberapa masalah mental kita hari ini.

Jika kita lahir di era 90-an, kita mungkin ingat dulu sewaktu kita masih duduk di bangku sekolah, kita sering bertukar info lewat buku catatan kebanggaan kita yang kita hias-hias dan bongkar pasang secantik mungkin.

Saya sendiri pun pernah berada di masa sewaktu saya bisa “memamerkan” tema terbaik saya di HP saya kepada teman-teman saya di bangku SMA.

Seru juga melihat tema aneh dan tidak biasa antar teman sekelas yang masing-masing saling berdecak kagum hingga merasa lucu jika temanya begitu konyol.

Tanpa kita sadari, personalisasi ternyata telah membentuk budaya “pamer” yang menyehatkan daripada memamerkan barang yang hanya sebatas gengsi sosial semata.

Sedangkan pada hari ini, standar masyarakat membuat segala sesuatunya harus sama dan menjadi terlihat membosankan. Akibatnya, banyak dari kita yang berusaha menunjukkan gengsi dengan cara yang lebih wow dari standar yang sudah ada.

Itu sangat melelahkan dan tak berujung.

Mereka yang berhasil meraih perhatian atau engagement terbanyak akan mengalami kekosongan, dan mereka yang gagal akan mengalami depresi hingga menutup diri.

Di tengah standar tak berdasar yang serba kelabu minim warna, mereka yang menang akan jadi abu, kalah akan jadi arang. Tidak ada yang menguntungkan pada kedua belah pihak.

Mengapa personalisasi bisa menjadi solusi, sebab personalisasi membuat pemilik suatu barang merasa memiliki barang tersebut, ada “sense of belonging”.

Manusia senang mengontrol segala sesuatu karena mereka memiliki fitur pengendali.

Bisa mengustomisasi sebuah produk sesuai selera kita adalah salah satu bentuk kekuatan di tengah standar masyarakat yang tidak bisa kita kontrol.

Maka dari itu, ketika ada orang yang berhasil membuat personalisasi di sebuah barangnya, ia lebih akan menghargai barang tersebut dan mengurangi komparasi dengan barang orang lain yang lebih bagus.

Bisnis personalisasi, dari mulai tema, hingga kustomisasi barang rumah tangga seperti produk-produk IKEA (IKEA effect) menjadi salah satu bisnis yang tak lekang ditelan zaman, karena berhubungan dengan naluri dasar manusia itu sendiri yang pada dasarnya senang mengontrol sesuatu.

Bahkan bukan hanya itu, saat kita berkunjung ke tempat yang memiliki identitas atau personalisasi yang tinggi, kita akan merasa lebih betah karena keunikan tempat tersebut yang tidak dimiliki oleh tempat lain.

Seperti kafe dengan desain tertentu, perpustakaan yang memiliki atmosfer khusus, atau taman dengan tema yang khas.

Personalisasi juga akan meninggalkan jejak waktu yang dapat melahirkan nostalgia positif, di mana kita bersyukur melewati waktu dengan pengalaman seperti itu.

Inilah alasan kenapa mulai banyak orang, di seluruh dunia, yang menghargai estetika rumah nenek. Meski hanya sebuah rumah, namun pengalaman yang berbeda telah berhasil menitikkan rasa rindu mereka kepada rumah nenek, yang mungkin termasuk kita juga.

Rumah nenek, baik di kota atau pun di desa, memiliki kustomisasi khusus yang memberikan identitas sendiri yang tidak dimiliki oleh kebanyakan rumah hari ini.

Barang-barang antik yang tidak biasa, furnitur dengan ukiran dan corak yang rumit, dan warna cat atau hiasan dinding yang bervariasi.

Sebagai langkah awal melakukan personalisasi, kita bisa mulai dari kamar tidur kita atau kubikal kantor kita terlebih dahulu.

Kita mulai dari yang minimalis, yang mana menjadi pondasi dasar sebelum kita personalisasi ruang nyaman kita. Kemudian baru kita hias sesuai selera kita.

Mungkin personalisasi kita itu bisa membuat lebih ekstra dalam membersihkan tempat kita di suatu hari nanti, tetapi saya ingin katakan satu hal:

Bisa terlepas dari jeratan standar masyarakat yang melelahkan sepanjang hari adalah seperti mendapatkan seteguk air di tengah ganasnya padang pasir.

Berbicara masalah produk yang bisa kita personalisasi, terkhusus produk IT, sayangnya perusahaan hari ini lebih mengedepankan konsep minimalisme untuk menghemat anggaran mereka, dan mengeluarkan produk dengan tema yang sama setiap kalinya.

Awalnya banyak orang yang suka desain polos dan minimal, hingga sebagian mulai menganggap biasa dan tidak lagi terkesan dengan desain tersebut.

Beberapa orang mulai lelah dengan website yang pola desainnya sama, hanya berbeda gambar di headernya saja.

Saya sendiri sebagai pengembang software, menganggap bahwa:

Produk yang terpaku pada standar menganggap kita sebatas pengguna.
Produk yang bisa dipersonalisasi menganggap kita sebagai manusia.

Maka dari itu, meskipun penghasilan iklan saya di blog Anandastoon ini hanya Rp10 rupiah per bulan (ya, memang serendah itu), tetapi saya terus memperbarui blog ini karena saya melakukan personalisasi semau saya tanpa mengurangi kenyamanan para pembaca.

Contohnya, setiap kategori memiliki warna dan tema tersendiri. Bahkan seluruh kategori di blog saya ini jika disingkat maka menjadi kependekan dari Anandastoon itu sendiri.

Personalisasi membuat produk dapat bertahan lama meski dalam senyap, karena fitur personalisasi bersifat mengundang, menjanjikan senyaman rumah, tidak lagi hanya berperan sebatas produk.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke X
🤗 Selesai! 🤗
Punya uneg-uneg atau saran artikel untuk Anandastoon?
Yuk isi formulir berikut. Gak sampe 5 menit kok ~

  • 0 Jejak Manis Ditinggalkan

    Minta Komentarnya Dong...

    Silakan tulis komentar kalian di sini, yang ada bintangnya wajib diisi ya...
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. 😉

    Kembali
    Ke Atas