
“Dasar kapitalis!”
Begitu yang saya sering saksikan di media sosial setiap saya melihat sebuah kebijakan perusahaan atau korporat yang tidak menyenangkan. Hari ini, semakin sering saya melihat para warga ramai-ramai menyalahkan kapitalisme.
Lembur tidak mendapatkan bayaran, menetapkan harga produk semaunya, jadwal meeting yang berlebihan, atasan yang semena-mena, membayar pekerja dengan upah yang sangat rendah pada jam kerja yang ketat, membuat label kapitalis ini semakin empuk disematkan kepada perusahaan seperti itu.
Kapitalisme itu sendiri hanyalah sebuah sistem perekonomian, dan itu sebenarnya sudah ada sejak beberapa abad yang lalu di Eropa.
Tetapi… apakah benar kapitalisme seburuk itu?
Saya sendiri sebenarnya mendukung kapitalisme, tentu dengan satu syarat yang saya tulis di bagian kesimpulan atau bagian bawah pada artikel ini.
Memang apa ada hubungannya kebijakan perusahaan yang tidak menyenangkan dengan kapitalisme?
Sebelumnya, kapitalisme itu sendiri adalah sistem perekonomian di mana yang memegang kendali roda ekonomi adalah perorangan atau swasta.
Mudahnya, kapitalisme adalah di mana pengusaha punya andil penuh dalam menggerakkan ekonomi sebuah daerah atau bahkan negara. Hampir tanpa intervensi atau campur tangan dari pemerintah.
Jadi pada kapitalisme, pengusaha memiliki kebebasan menetapkan harga-harga barang, hampir tanpa campur tangan dari pemerintah.
Terdengar mengerikan bukan? Di bayangan kita, seolah-olah perusahaan bisa memonopoli pasar, mengatur harga semaunya. Toh, roda ekonomi ada di tangan pengusaha, jadi suka-suka mereka dalam mengatur kegiatan ekonomi masyarakat.
Akibatnya, pikiran kita terjerumus ke arah yang lebih bernuansa negatif tentang kapitalisme ini.
Karena perusahaan bisa semaunya dalam mengatur perekonomian, pengusaha menjadi semena-mena dalam membuat kebijakan, dan dalam pikiran kita, sudah pasti kebijakan tersebut lebih condong ke arah yang tidak menyenangkan.
Apalagi dalam kapitalisme ini, pemerintah tidak bisa berbuat banyak dalam menindak para pengusaha yang semaunya tersebut.
Tidak heran banyak yang membenci kapitalisme karena hal ini.
Tetapi bagaimana kalau saya katakan kalau sebenarnya masalahnya bukan ada di kapitalismenya itu sendiri?
Apakah saya pribadi mendukung atau menolak kapitalisme? Jawabannya adalah, tidak mendukung, tidak menolak, dan tidak pula netral.
Jawaban saya adalah, “tergantung”. Bahkan saya bisa mendukung kapitalisme dengan syarat yang sekali lagi, saya jelaskan pada kesimpulan di bawah artikel.
Karena kapitalisme menitikberatkan kepada pengusaha yang menjadi pemeran utama pergerakan sebuah ekonomi, sebetulnya bukanlah hal yang buruk.
Setiap orang jadi bebas menjadi pemeran utama dalam penggerak ekonomi, tidak terkekang oleh kebijakan pemerintah (komunis), dan tidak pula terkekang oleh kemauan masyarakat (sosialis).
Kita bisa dengan bebas memilih mana perusahaan atau pengusaha yang menghasilkan produk terbaik dan harga yang terjangkau.
Ekonomi menjadi tumbuh karena setiap pengusaha berlomba agar produk mereka diminati oleh khalayak luas.
Kita coba ambil contoh sekolah swasta dengan sekolah negeri.
Banyak orang yang memilih kualitas sekolah swasta meski biayanya tidak murah daripada kualitas kebanyakan sekolah negeri. Mengapa?
Di sinilah salah satu kelebihan kapitalis karena pemegang kendali sepenuhnya berada di tangan pengusaha, tanpa ada bantuan atau subsidi berarti dari pemerintah.
Jika sekolah swasta ingin bertahan, taruhannya adalah persaingan kualitas dengan sekolah swasta lainnya. Berbeda dengan sekolah negeri yang memang sudah mendapatkan pendanaan sehingga tidak terlalu memusingkan itu semuanya.
Hari ini, kebanyakan orang, termasuk pengusaha hanya fokus mencari cuan atau keuntungan tanpa dibarengi dengan kepedulian akan produk mereka sendiri.
Bahkan sedari awal, cara yang mereka tawarkan untuk bersaing pun sebenarnya sudah tidak menunjukkan sesuatu yang bisa bertahan dalam jangka panjang.
Saling menebar diskon dan promo yang berlebihan pada masa “bakar uang” sebenarnya bukan persaingan yang benar-benar sehat. Justru itu hanya melahirkan banyak pengguna yang tidak menghargai nilai dari sebuah produk.
Terlebih, persaingan lewat “bakar uang” bisa mencekik para pemain bisnis lain yang bersungguh-sungguh dalam menciptakan produk mereka namun belum mampu membanting harga seperti perusahaan besar yang sedang dalam proses “bakar uang”nya.
Akibatnya, setelah masa promonya sudah habis, para pengusaha dihadapkan pada dua pilihan:
Seperti para pedagang di lapak online yang mendapatkan banyak tambahan biaya atau bertambahnya potongan bagi hasil yang menjadikan para pedagang online tersebut menerima keuntungan yang semakin tipis.
Padahal, jika memang sebuah produk memang harus mahal, tidak masalah. Yang paling penting, para pengusaha memahami produk mereka sendiri dan bisa membuktikan kalau produknya lebih baik daripada yang lain.
Memesan makanan lewat aplikasi memang harus lebih mahal daripada langsung di restoran, karena kita sedang membeli kepraktisan.
Masyarakat perlu mendapatkan edukasi bahwa biaya server tidaklah murah, biaya pengantaran tidaklah murah, dan dengan harga yang tidak murah tersebut, masyarakat mendapatkan kemudahan sebagai gantinya.
Masalah nantinya pengusaha restoran akan memberikan voucher bagi pelanggan yang memesan lewat aplikasi, itu kembali kepada pengusahanya dan tidak bisa kita tuntut.
Contoh lain, argo taksi pun pada dasarnya tidak murah. Perusahaan taksi yang baik pasti memahami kendala tarif argo yang mahal ini dengan mengedepankan kualitas mereka.
Sekarang, tidak sedikit orang yang mengeluhkan jasa ride hailing atau taksi online yang lebih murah namun dengan kondisi mobil yang seringnya kurang layak dan sikap pengemudi yang kebanyakannya tidak menyenangkan.
Para pengusaha taksi konvensional bisa menarik pelanggan dengan kualitas yang lebih baik dari jasa taksi online tersebut karena harga mendukung kualitas layanan yang mumpuni tanpa perlu ada fase “bakar uang”.
Tadi saya bilang, ada saat di mana saya mendukung kapitalisme itu sendiri. Dalam kondisi yang bagaimana saya bisa berpihak kepada sistem kapitalisme?
Terkadang kita lupa bahwa kapitalisme hanyalah sebuah sistem atau alat.
Sistem itu kebanyakannya netral, manusia yang menjalankan sistem itulah yang membuatnya menjadi baik atau buruk.
Mirip seperti sebuah pisau yang terlihat menakutkan karena tajamnya. Tetapi di tangan koki atau tukang yang berpengalaman, pisau bisa membuahkan suatu produk yang menyenangkan.
Kapitalisme ini terlihat menakutkan karena seperti membuat pengusaha bisa mengatur roda ekonomi dan ketenagakerjaan sesuka hati.
Namun kini, saya beri contoh dua entitas kapitalis yang justru saya dukung bahkan menjadi percontohan. Mereka menjadi kapitalis yang langka di masa sekarang ini.
Ya, saya ingin kapitalisme diterapkan jika seperti Singapura.
Dan ya, saya mendukung perusahaan kapitalisme seperti Nintendo.
Saya bahas Singapura terlebih dahulu.
Singapura adalah negara dengan sistem kapitalis. Di sana, para pengusaha bebas bersaing dan menentukan harga semau mereka dengan sedikit kontrol dari pemerintah.
Tetapi, masyarakatnya tidak khawatir karena pemangku kebijakan benar-benar orang yang ahli di bidangnya. Para penguasa di Singapura betul-betul paham bagaimana membuat sebuah pekerjaan benar-benar selesai tanpa ada drama.
Bahkan seringkali, ada kebijakan extra mile yang menjadi kejutan bagi masyarakat Singapura itu sendiri seperti program voucher atau bansos dari “kelebihan” pajak yang dibayarkan.
Lihat? Bagaimana kapitalisme bisa begitu berbuah positif di tangan orang yang tepat.
Kemudian Nintendo. Perusahaan video game yang awalnya saya kurang suka karena bagi saya permainannya terlihat kekanak-kanakan.
Apa yang membuat Nintendo menjadi kapitalis yang begitu spesial? Bahkan Nintendo jadi perusahaan nomor satu yang diidamkan para generasi muda di Jepang untuk bekerja di sana.
Meskipun, Nintendo memiliki kebijakan aneh yang “hobi” menuntut orang lain masalah hak cipta dan terkadang berlebihan. Tetapi itu hanya usaha Nintendo untuk melindungi produk utamanya agar tidak kehilangan nilainya.
Nintendo memahami kualitas konten permainannya dan menghargai kinerja karyawannya, maka dari itu tidak heran banyak permainan Nintendo yang harganya hingga mencapai $70 atau sejuta lebih apabila dirupiahkan.
Bahkan jarang sekali harga permainan dan konsolnya turun meski sudah bertahun-tahun kemudian.
Tetapi Nintendo menjamin bahwa harga yang tidak murah itu memang sepadan dengan kualitasnya dan tidak mengecewakan fans mereka. Karakter kebanggan mereka seperti Mario, Zelda, dan lain sebagainya tetap bersinar berpuluh-puluh tahun kemudian.
Belum lagi, Nintendo hampir tidak pernah melakukan layoff atau PHK. Tercatat Nintendo berhasil mempertahankan hingga 98% karyawannya.
Di saat kegagalan finansial karena penjualan konsol Nintendo Wii U yang jauh dari harapan, para petinggi Nintendo memilih untuk memangkas gajinya daripada memecat para karyawannya.
Bukankah itu pencapaian kapitalis yang luar biasa?
Terakhir, sebenarnya ada satu faktor yang membuat saya tidak masalah sistem apa pun yang diterapkan.
Kembali lagi kepada hal yang paling dasar. Apa pun sistemnya, saya tidak peduli.
Saya hanya menilai seseorang dari seberapa produktif dan bermanfaatnya ia.
Kapitalisme berhasil di tangan orang yang produktif.
Orang yang produktif adalah mereka yang “kecanduan” untuk menghasilkan sesuatu yang positif.
Justru berbagai permasalahan dan kekacauan yang kita alami hari ini, disebabkan kurangnya orang produktif yang bisa menjalankan sebuah sistem.
Orang yang tidak produktif, mereka akan lebih senang berdrama dan mengulur-ulur waktu karena mereka tidak paham gebrakan positif apa yang bisa mereka hasilkan.
Seperti, para manajer yang hobi melakukan meeting dengan kesimpulan kosong dan waktunya habis membahas hal yang lain. Itu menyusahkan para pegawai yang memiliki urusan lain dan menyita hak waktu para peserta meeting.
Orang yang tidak produktif tidak memiliki gengsi positif yang bisa ia banggakan, maka dari itu gengsi yang ia bisa lakukan adalah memamerkan barang yang ia belum mampu untuk mendapatkannya.
Mereka yang tidak produktif pun cenderung tidak senang orang lain lebih berhasil dari mereka meski orang tersebut berusaha mati-matian untuk mencapai mimpinya (crab mentality).
Terkadang kita pun bingung, mengapa ada orang yang punya energi untuk “jahat” kepada orang lain seharian. Jawabannya mudah, karena orang itu tidak memiliki hal positif untuk ia lampiaskan energinya. Jadi energi itu ia habiskan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat dan menyusahkan orang lain.
Jadi, mau apa pun sistemnya, selagi pemimpin dan masyarakatnya minim produktivitas apalagi progres, jangan harap akan mendapatkan sistem yang bersih dan tidak korup.
Karena orang produktif hobi membuat gebrakan positif berkala, itu membuat orang di sekelilingnya menjadi tenang sebab pasti ada yang dapat mereka nikmati dari orang yang produktif tersebut setiap beberapa periode sekali.
Warga Singapura tenang karena mereka tahu pemimpinnya pasti selalu kerja dan menghasilkan sesuatu yang mengejutkan. Di ranah transportasi umum saja, hampir tiap tahun ada jalur atau stasiun MRT baru yang diresmikan.
Pun, dengan Nintendo, para fansnya hampir tidak pernah kecewa karena Nintendo memiliki sepuluh divisi dan semuanya bekerja. Jadi setiap bulan, para fans pasti akan mendapatkan info yang menyenangkan.
Sejujurnya, saya sendiri merasa terinspirasi dari Singapura dan Nintendo. Sebagai CTO, saya memang mematok untuk membuat fitur “Wonder” setiap bulan guna memudahkan pelanggan dan tim-tim saya, baik tim dalam divisi saya atau mau pun tim pada divisi yang berbeda.
Dan itu menyenangkan saat melihat mereka sumringah dengan fitur yang saya buat. Saya merasa rezeki saya pun semakin mengalir karena banyak orang yang puas dengan kinerja saya.
Sekarang, siapa orang produktif yang kita kenal? Jumlah mereka jarang. Saya pun kesulitan menemukan orang yang sama-sama produktif hari ini.
Kelebihan lain dari orang yang produktif, adalah apabila kita mengobrol dengan mereka, topiknya pasti akan berbeda dengan obrolan pada umumnya karena lebih memiliki bobot.
Orang produktif yang bermanfaat hampir tidak pernah pamer kecuali sesekali dan ia akan berikan tipsnya juga secara spesifik.
Di mana orang-orang produktif itu sekarang? Saya tidak masalah dengan kapitalisme selagi dijalankan oleh orang-orang yang “bisa kerja”.