Setahun Pirikidil: FAQ Belajar Mengendarai Sepeda Motor

Belajar Mengendarai Sepeda Motor

Akhirnya setahun (lebih) sudah saya dapat mengendarai sepeda motor yang saya beri nama Pirikidil. Yay!

Kenapa saya beri nama Pirikidil? Awalnya tuh saya maunya mogek alias motor gede! Eh saya justru diamuk oleh teman saya sendiri, “Ahelah gak bisa naik motor kok minta moge! Matik aja dulu!”

Akhirnya datanglah si Pirikidil ke pangkuan. Tapi, tapi… kok ujug-ujug dikasih nama Pirikidil? Kata teman saya pas saya diajari sepeda motor ini, saya disuruh beri nama sepeda motor saya dengan sebuah nama agar cepat menyatu dengannya. Saya beri nama Pirikidil soalnya kecil sih hahah.

Tanpa terasa, si Pirikidil ini saya pernah bawa ke Majalengka, Sukabumi dan Cianjur Selatan, Sawarna, Banten Lebak, hingga Lampung, sendirian.

Maka dari itu, di acara ulang tahun si Pirikidil ini, saya sengaja ingin membuat daftar F.A.Q alias pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan saat ingin belajar sepeda motor. Tujuannya agar mereka yang belum bisa mengendarai sepeda motor bisa ada bayangan ke depannya. Flashback dari artikel belajar sepeda motor saya yang dibuat empat jilid.

Jadilah saya mewawancara diri saya sendiri.


  • Wawancara

Beli motornya cash atau kredit?
Alhamdulillah cash, bekas sih soalnya.

Kenapa nggak yang baru?
Yang namanya belum bisa, sayang kan kalau misalnya kenapa-kenapa hehe…

Nabungnya berapa lama?
Rp10 juta selama setahun lebih.

Berapa lama dari belajar sampai lancar?
Saya nggak tau patokan lancar itu apa ya. Apa maksudnya bisa selap-selip mobil atau nyetir pakai satu tangan atau… kalau saya karena belajarnya langsung dari Bogor ke Jakarta (52 km) jadi dua hari langsung bisa bawa sendiri. Tapi kalau masalah lancar, sebenarnya bahasanya bukan lancar, tapi familiar dengan keadaan jalan atau sekitar.

Sebelumnya pernah belajar motor?
Pernah, itu pun pas belok langsung banting stir hahah.

Ada insiden atau pernah jatoh nggak pas belajar?
Insidennya alhamdulillah cuma nabrak trotoar doang pas lagi belajar. Itu pun saya langsung di jalan raya, turunan tajam plus tikungan, jalanan rusak, dan banjir. Saya nggak tau apa yang ada di pikiran teman saya pada saat itu. Mana doi saya bonceng, seakan nyawanya udah kayak kucing.

Selama ini pernah jatoh pas naik motor?
Pernah, empat kali. Dua kali menyerempet dengan kendaraan lain. Ada kok ceritanya di artikel ini dan artikel ini. Yang duanya lagi jatoh karena lubang yang tidak terlihat hehe…

Saya takut belajar motor karena takut kecelakaan.
Sama, saya juga awalnya sehari sebelum belajar, gugupnya bukan main. Panik iya, khawatir iya, ngebayangin yang nggak-nggak. Apalagi saya pada saat belajar sudah menyentuh usia 25, udah tuak hahah.

Kalau belajar motor tuh perlu skill buat nyeimbangin atau ngimbangin motor gak sih?
Kalau untuk para pemain akrobat atau sirkus, iya. Tapi kalau untuk yang sering kita lihat mondar-mandir di jalanan, gak perlu. Skill menyeimbangkan sepeda motor boleh saya katakan itu hanya mitos. Tidak perlu memusingkan bagaimana menyeimbangkan sepeda motor, jika kecepatan sudah di atas 20km/jam, sepeda motor akan seimbang sendiri bahkan dapat lepas dua tangan beberapa detik.

Waktu masih gak bisa naik motor, pernah diejek sama orang lain gak sih?
Bukan pernah lagi, tapi selalu. Wahahah. Benar, sampai-sampai saya fobia dengan sepeda motor karena seringnya mendapat cibiran. Namun yang mencibir saya ternyata bukan orang hebat, dalam hidupnya pun mengeluh melulu. Jadi saya maklum jika satu-satunya hiburan mereka adalah merendahkan orang lain, atau satu-satunya prestasi yang dapat mereka banggakan hanyalah ‘keahlian’ mereka mengendarai sepeda motor.

Kalau gak bisa naik motor gak apa-apa kan?
Siapa yang bilang bisa mengendarai sepeda motor itu kewajiban? Kecuali seseorang itu adalah pembalap, kurir, atau tukang ojeg, maka sepeda motor itu adalah barang sekunder yang seakan diprimerkan. Justru di negara yang transportasi umumnya sudah dapat diandalkan, memiliki kendaraan pribadi benar-benar hanya jadi pilihan semata, tidak sampai menjadi tuntutan. Tidak akan ditanya juga nanti oleh malaikat.

Tapi saya gak pede kalau belajar motor ngeliat anak-anak bocah sudah pada lihai di jalanan…
Yang terpenting dari mengendarai sebuah kendaraan adalah taat peraturan lalu lintas. Mengapa kita harus berpanutan dengan yang tidak jelas? katanya ingin hidup tertata? Tantangan untuk taat peraturan itu sangat berat. Saya memiliki rasa hormat yang luar biasa bagi mereka yang masih dapat taat di bawah tekanan para pelanggar yang banyaknya sekebon itu. Justru kita miris melihat fenomena yang katanya sarat budaya timur namun kelakuan pengendara di jalanan yang… yah tahu sama tahu.

Oke deh, moga-moga bisa tahan malu pas belajar motor nanti.
Mereka yang sudah berada di jalan raya sekarang, mungkin dulunya pernah tercebur di got, tergeletak tengah sawah, bahkan katanya bisa ada sekali adegan jatuh tiap medan yang berbeda. 🙂

Isi kotak di bawah untuk berkomentar, atau artikel di atas dapat kalian diskusikan di Forum Terbaru Anandastoon. :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon