Derita Pirikidil: Lebak, Curug Rame & Curug Munding

Curug Munding

Saya iseng-iseng melirik sebuah provinsi yang dekat dari Jakarta, tapi seakan-akan sudah seperti di luar pulau. Banten, untung ada Tangerang hehe… Padahal Banten itu potensi wisatanya tinggi, tapi yang bikin dirikuh ngedumel tanpa akhir adalah kurangnya perhatian dari pemdanya. Padahal pengelolaan tempat wisata bisa jadi ladang duwidh lho bagi pemerintahannya.

Yasudalah.

Curug demi curug tumbuh bermunculan bak jamur di musim hujan pada hamparan Google Maps. Ada Curug Munding (Curug Kebo?), Curug Sata, Curug Caringin, Curug Rame, Curug… aakkk! Mau lah. Makasih deh Google Street View yang bisa sedikit diandalkan untuk survey jalanannya gimana di sana. Alhamdulillah sudah beton, tapikir masih tanah merah hehe. Cus? Cuuusss…


  • Ujian bagi si Pirikidil

Siapa yang kangen Pirikidil? Kata para pembaca: Elah, siapa lagi si Pirikidil, jangan bawa tokoh yang bukan-bukan! Emang siapa sih Pirikidil? Itu tuh, kucing besi peliharaan dirikuh yang sudah kali keempat (sama ini) saya bawa brutal menyusuri tempat-tempat yang… sebenernya nggak terpencil-terpencil amat sih, target saya mengunjungi pariwisata di mana dalam radius 5km kemungkinan besar tidak tersentuh oleh babang angkot. Atau dilewatin, cuma saya yang lagi males naik angkot hehe…

Saya baru belajar ngendarain sepeda motor, dengan membangor episode ke empat, padahal baru banget bikin SIM. Dengan si Pirikidil ini diharapkan bisa memuaskan nafsu saya melihat yang ijo-ijo (bukan babang ojol) lebih sadis lagi.

Akhirnya setelah tahu jaraknya ternyata 160km lebih dari apartemen saya, jam 10 pagi Sabtu itu (maaf ya kesiangan) saya mulai memecut si Pirikidil untuk melakukan tugasnya, membawa sang majikan ke tempat yang diinginkan. Hiyaaa! Hiyaaa! Daan Mogot, Tangerang, Rangkas Bitung, semua dilewati dengan tenaga kudanya.

Wah di Rangkas Bitung sudah jam 12, Zhuhuran dulu ah, dari sinilah kemudian treknya dari aspal menjadi beton. Oh iya, sepanjang jalan Tiga Raksa sampai Rangkas inilah saya sering banget bejek-bejek rem sampe udah kayak adonan. Ada apa emangnya? Ada sumbangan masjid yang berhiaskan polisi tidur dadakan setiap beberapa ratus meter sekali.

Alamak, padahal masjidnya banyak yang udah kayak istana sultan, bukan tumpukan semen lagi, terus sumbangannya buat apa lagi sih? Buat nyaingin istananya Disney gituh? Tapi serius, kadang saya harus siapin mental tentang “ada apa dengan cinta”, eh salah, salah! Maksudnya “ada apa setelah tikungan”. Masalahnya jalanannya itu belang-belang sama aspal plus banyak lobang-lobang cantik nan mengerikan. Serius, itu tuh jalanan apa keju swiss? Belum lagi beberapa sumbangan masjid langsung main cilukba setelah tikungan.

Dan setelah ngiang-ngiung sama si Pirikidil nyalip-nyalipin truk, kontener, serta kendaraan monster lainnya, saya tiba-tiba sampai di perkebunan kelapa sawit yang mirip di Cikidang itu, apa saya malah nyasar ke Cikidang? Oh jalanannya beton jadi perbedaannya jauh banget sama Cikidang yang aspal.

Curug Munding

Sampailah di desa yang bernama Gunung Kencana. Eh Gunung Kencana kan adanya di Bogor dan itu gunung beneran loh. Kalo Gunung Kencana ini cuma sebatas nama desa, sejarahnya apa ya? Ah persetan, yang pasti ada plang jalan yang bertuliskan “Curug Munding” mengarah ke arah kiri. Asikkk.

Tapi jangan salah ya, gerbang masuk Curug Munding besar yang kalian lihat di Google Maps itu ngarahnya ke Curug Caringin atau sering juga disebut Curug Sewu. Kalau jalan masuk ke Curug Munding yang aslinya itu…

Curug Munding

Hi… jalanannya rusak, lumayan jauh sepanjang 3km, mana sendirian lagi. Terkadang di jalan ada bocah-bocah, jadi saya tanya aja di mana curugnya, eh semuanya yang saya tanya pada jawab kompak, “MASIH JAOOOHHH!”. Ahahahsyaap dekkk! Btw tengkyu infonya.

Nah jalanan ke Curugnya tiba-tiba ada mulus, tapi hati-hati terkadang ada aspal ambles dan di sampingnya jurang. Jadi jangan tergoda untuk memutar gas full ya mentang-mentang jalanannya cukup meningkatkan nafsu secara maksimal hehe… soalnya saya salah satu yang hampir nungging gegara tiba-tiba ada aspal bolong dan tanah-tanah basah.

Curug Munding

Tiba-tiba jalanan menurun curam sambil berkelak-kelok. Ini juga jalanannya demen banget temenan sama jurang. Jadilah rem saya bejek lagi dua-duanya. Tapi ternyata dari sana tinggal 200 meter lagi ke gerbangnya, yang saya kelewatan soalnya cuma ada tulisan “Tempat Parkir” doang sih.


  • Penyiksaan Pirikidil masih berlanjut

Saya cuma ditagih parkir Rp5000 dan tiket masuk Rp1000 perak doang. Dan saya disuruh oleh pengelola untuk melihat ke seberang dan di sanalah ada kamera prank yang selanjutnya saya disuruh melambaikan tangan ke kamera tersebut… eh, kok malah nyambungnya ke sana, maklum mata saya sudah ngajak berantem gegara kasur nih. Maksud saya, oleh pengelola saya disuruh melihat ke seberang karena di sana ada…

Curug Munding

Gerbang masuk! Alamak kenapa saya cuma ngeliat tulisan “Tempat Parkir” aja ya tadi? Mana saya dengan PeDenya mengacuhkan itu tulisan lagi dan melanjutkan melenggang ke antah berantah seakan saya sudah seperti peta berjalan. Aduh malu deh ogut. Oh kata pengelola nggak jauh dari gerbang masuk.

Tapi beneran nggak jauh kok, nggak kayak yang kapan tau ada pengelola yang bilang deket tau-taunya jarak jalan kaki dari gerbang sampai ke air terjunnya udah kayak mudik. Di sepanjang perjalanan terdapat hamparan sawah yang luas dan kita disediakan jembatan selebar sepuluh senti buat nyebrangin got.

Dan setelah itu sudah jelas…

Curug Munding

Ya ampun niat banget bikin tangganya. Tapi baguslah, terima kasih ya siapa pun yang sudah bercapek-capek untuk mengerjakan ini. Dirikuh tersanjung lho… Okay, dengan tangga yang sudah ciamik begitu, saya mengangkat celana sedikit dan turun bak Sinderela yang sedang dikejar-kejar Kuntilanak.

Karena setiap orang pasti sudah tahu, kalau di bawah itu adalah…

Hore 100! Airnya cukup deras, dan banyak pengunjung juga ternyata. Tapi saya tidak tahu kalau airnya bisa dipakai berenang atau tidak, namun anak-anak ternyata banyak yang mandi di sungainya, yang agak jauh dari pusat air terjunnya.

Saya ke warung sekalian makan siang. Sudah pukul 2 lewat dan saya cuma memesan mi goreng. Oh iya, saya bincang-bincang sama si Ibu penjaga warung.

Saya: Bu, nggak ada minuman dingin?

Ibu: Nggak ada jang, adanya es batunya doang. Listrik belum turun ke sini jang…

S: Oiya bu, kalau ke sini ada angkot nggak?

I: Nggak ada jang. 🙁

S: Kalau ojeg?

I: Kalau mau dari Rangkas Bitung ada Damri sih, nanti di Gunung Kencana turunnya, terus ke sininya naik ojeg jang…

Oalah… ternyata akses umumnya susah ya, yasudadeh saya nggak jadi pakai tag “Wisata Dengan Angkot” untuk artikel ini. Maafnya ngetengers~

Yasudah saya bayar mi gorengnya yang seharga Rp8000 itu dan berterima kasih kepada si Ibu atas infonya. Oh air terjun ini fasilitasnya lengkap juga dari toilet dan musalanya lho.

Curug Munding

Okai tokai mokai, lanjut hunting air terjun lagi ah di Lebak ini. Setengah tiga lewat saya pulang dan kembali ke jalan gede, lanjut ngiang-ngiung lagi sama si Pirikidil. Kemana kita berikutnya? Curug Rame! Hore… eh, maksudnya air terjunnya berisik kayak lagi konser gitu? Entah, pokoknya Curug Rame!

Dan mbah Google menyuruh saya untuk menuju tempat asing yang jalanannya jauh lebih rusak daripada jalanan ke Curug Munding tadi. Ya Allah Ya Karim, menjerit ini Pirikidil! Mana sudah jam empat lagi!

Curug Rame

Eh, alhamdulillah 500 meter kemudian jalanannya mulus. Jadilah saya melesat menuju…

“Putar balik…”

Simbah Gugel menyuruh demikian. Ah, padahal jalanannya sudah mulus.

Curug Rame

Saya lebih memilih untuk meneruskan jalannya, melawan simbah. Semoga aja tembus ke curugnya, atau tanya orang, kalau memang kebetulan lewat.

“PUTAR BALIKKK!!!”

Simbah tetiba mengamuk. Biasa aja kaleee! Yasudah saya putar balik menuruti simbah. Aduh sudah jam empat lewat. Saya mencari-cari rute yang diinginkan simbah yang ternyata EH SUMPELOH GUEH DISURUH LEWAT BEGINIAN???

Curug Rame Curug Rame

Itu dua foto di atas masih versi “mulus”nya. Saya nggak foto yang seremnya, aduh itu tanah merah sama bebatuan pada berantakan di jalannya. Duh mana dua kilo disuruh lewat sini lagi, tega kau mbah! Yaampun si Pirikidil kalau dikasih nyawa udah tereak-tereak minta ampun ini. Alhamdulillah nggak hujan kalau iya dirikuh bisa terjebak di sini.

Baru belajar motor aja saya sudah dihadapkan medan yang bermacam-macam. Alhamdulillah tidak jatuh dirikuh wahahahah (angkuh parah).

Skip, skip. Intinya saya sampai di sebuah pintu air besar yang ada jembatan di sampingnya yang ternyata itu adalah pintu masuknya. Lagi-lagi, di seberangnya ada perumahan warga yang tergantung tulisan “Tempat Parkir” di pohon di depannya. Di sana juga kayaknya pernah ada spanduk Curug Rame tapi sudah koyak.

Curug Rame

Saya masuk, tidak ada yang jaga, cuma bertemu seorang ibu yang entah sedang apa. Percakapan kembali terjadi.

Saya: Bu, curugnya dekat?

Ibu: Dekat jang… nanti kalau ada dua jalan, belok kiri ya, curugnya ada di Lebak de. (Maksudnya Lebak tuh di bawah, bukan kabupaten Lebak, tapi memang curugnya benar-benar di kabupaten Lebak sih makanya rancu)

S: Lagi sepi ya Bu di sini?

I: Enggak jang, tadi barusan ada rombongan ibu-ibu baru dari sini.

S: Kalau di sini ada penginapan nggak Bu?

I: Nggak ada jang, kalau mau nanti ibu cariin rumah ya…

S: (Ngadu sama si ibu tentang perlakuan si mbah Gugel tadi) Bu, tadi saya lewat jalan yang rusak ituh… (Bandel emang simbah, gebuk bu, sabet simbahnya!)

I: Aduh dek, nanti pulang lewat sana aja, udah bagus jalannya. Nanti jembatan di pintu air itu belok kiri.

Okay tengkyu ibu, saya nggak mau nurut sama simbah lagi. Jadi ke mana kita? Di mana jalan ke kirinya? Saya hanya telusuri parit besar di sebelah kanan saya. Saya fokus mencari percabangan jalannya, saya mendengar amukan air terjunnya sudah terdengar dari jauh. Bener-bener curug “rame”.

Wah, percabangan jalannya ketemu! Eh, tapi pada ngeh nggak ya kalau percabangannya begini?

Curug Rame

Nah, dengan mencoba untuk yakin saya benar-benar ambil yang kiri, yang berujung kepada sekumpulan tangga-tangga tanah yang saya turuni dengan pasti. Turunnya nggak jauh-jauh amat sih, dan pas di bawah itu adalah pematang sawah. Saya harus berjalan di antara pematang, ditambah nyebrang sungai dikittt… banget supaya sampai ke seberang karena ternyata air terjunnya bener-bener monster! Pantesan rame!

Curug RameDan saya sendirian, bengong menikmati air yang pada seluncuran. Jumlah air terjunnya lumayan banyak bak orang-orang yang mau pada demo di gedung DPR. Sebenarnya di kanan kirinya juga masih ada beberapa, cuma terlalu luas untuk lensa kamera saya. Pokoknya air terjunnya lebar banget sampai kemana-mana.

Curug Rame

Saya mendekat, menikmati serangan air-air yang turun secara brutal dari mana-mana. Sudah seperti game online yang perang-perangan itu loh. Apalagi ditambah saya benar-benar sendirian total di sana, serasa milik sendiri air terjunnya. Cuma sayang, gegara simbah yang kurang ajar itu tadi, saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, mana belum salat ashar lagi.

Ya sudah, sekali jepretan langsung pulang deh.

Curug Rame

Curug Rame ini memang belum terlalu dikelola dengan fasilitas dan petunjuk jalan yang begitu minim, buktinya masuknya gratis dan hanya bayar parkir Rp5000. Warga yang jaga parkirnya lumayan ramah kok. Yasudah cuss lewat jalan yang versi bagusnya untuk cari masjid.

Oh iya, si Pirikidil mulai rewel minta mimi cucu… untung ada yang jualan pertamini dan ternyata ada pertamax alhamdulillah, jadilah saya jejelin bensin buat si Pirikidil sampe full. Setelah itu saya bertanya sama si Ibu pemilik pertamini dimana masjid. Wah, nggak nyangka ada musala dengan jarak cuma 2 rumah dari rumahnya si Ibu.

…tapi airnya mati, saya nggak bisa wudu padahal sudah setengah enam.

Alhamdulillah ada anak baik yang mengizinkan saya wudu di rumahnya via izin dari emaknya. Rumahnya pun masih sangat, sangat sederhana. Bilik semuanya bambu, masih pada pakai sumur. Tapi kok warganya pada punya sepeda motor semuanya ya hahah. Mungkin akibat akses yang sangat buruk, jadi saya tidak tahu harus komentar apa lagi.

Curug Rame

Seselesainya saya shalat dan saya memberi imbalan sukarela kepada warga sekitar terkhusus yang saya titipkan si Pirikidil, saya masih bingung akan melanjutkan perjalanan ke mana. Ini sudah mau maghrib, dan saya masih berada di tempat yang saya bahkan tidak tahu. Katanya sih cukup ikutin aspal jalan dan terus ambil kiri di setiap percabangan jalan.

Curug Rame

Saya menurut kepada titah para warga. Saya seakan naik turun bukit, benar-benar seperti Ninja Hatori saya di saat-saat mau magrib begini. Mana angker lagi kelihatannya, semoga sudah tidak ada lagi setan-setan yang muncul di kala hari sudah mulai gelap. Saya hanya yakin menelusuri jalan yang TERNYATA SAYA BERTEMU JALAN BAGUS YANG TADI SAMA SIMBAH MALAH DISURUH PUTER BALIK!!!

Curug Rame

Brengsek kau mbah, brengsek memang. Resiko pakai mode motor mungkin yah mapsnya. Saya akhirnya melanjutkan perjalanan ke selatan yang sebentar lagi sampai ke pantai selatan Bagedur, yaitu Malingping dan mencari hotel di sana. Rangenya sih saya survey kisaran Rp120ribu (sering penuh) hingga Rp300ribu. Yah pelayanannya sama saja, ada sarapannya sih.

Pada kepikiran nggak ya bikin usaha hotel ala backpacker gitu? Padahal pakai kipas dan kamar mandi dalam saja sudah lebih dari cukup kok. Tidak perlu WiFi dan tempat sauna juga nggak apa-apa kok hahah.

Saya check in. Solat, bobok.

Curug Rame


  • Ketika Pirikidil akhirnya menyerah, momen klimaks paling menyedihkan

Saya check out dari hotel, sayangnya jam 11 siang. Ah! Saya membawa kembali Pirikidil menuju kebuasan saya mencari air terjun lain. Saya seperti biasa memacunya hingga 70 atau 80km/jam. Banyak mobil hingga kontener yang saya salip, padahal saya sadar, stang kemudinya sedang tidak stabil.

Hingga akhirnya sebuah kontener saya salip, namun saya merasa bersalah karena saya tahu itu tikungan. Sebelumnya karena turunan, jadi saya pastikan sisi lainnya juga dalam keadaan kosong.

Kontener tersebut juga dalam keadaan melaju kencang.

Saya menyalip dan itu tikungan.

Kecepatan masih dalam keadaan tinggi, sekitar 70km/jam.

Pirikidil sudah menjerit, namun justru saya abaikan.

Saya pun masih awam dengan prilaku kontener saat menikung.

Jadi, saya mulai menyalip, sebuah kontener yang sama-sama berkecepatan tinggi.

Saya menikung…

Menyalip…

BRAKKKK!!!

ALLAHU AKBAR!!!

Pantat si Pirikidil tiba-tiba diseruduk oleh kontenernya, lalu saya memang sudah benar-benar mustahil menyeimbangkan stirnya. Wahai Pirikidil, maafkan dirikuh yang begitu menzhalimi dikau…

Saya memutuskan untuk membanting pirikidil, saya terpelanting ke beton jalan, terguling sejauh 100 meter lebih.

Dalam pikiran saya saat itu adalah Pirikidil yang begitu terseret hingga saya melihat kulit-kulitnya terlepas dan terpental entah ke mana. Begitu adegan guling-guling bak di film laga selesai, saya langsung berdiri dan langsung berjalan ke arah Pirikidil yang telah tergeletak tak berdaya jauh di cekungan jalan.

Saya menoleh ke arah kontener, kendaraan itu ternyata telah berhenti jauh di belakang saya. Beberapa orang dari warung bergerumul menuju ke arah saya, beberapa menyelamatkan si Pirikidil, dan beberapa memeriksa keadaan saya. Sang supir kontener turun dari kendaraannya dan berlari-lari kecil ke arah saya, menyodorkan tangannya yang ternyata setelah saya sadar dia mengajak bersalaman.

“Tidak apa pak, saya yang salah.” Kata saya.

Celana sobek, saya berdarah hebat di lutut, siku, dan bahu. Alhamdulillah helm saya full face jadi kepala dan helm saya tidak apa-apa. Hanya saja tas saya robek dan kaca laptop saya retak, untung masih berfungsi.

Si Pirikidil spionnya pecah, stangnya miring, tidak bisa dihidupkan. Tapi saya tidak tahu entah dari mana ada warga yang memiliki pipa besi jadi stang si Pirikidil dipaksa untuk lurus. BLETUK! mereka benar-benar memaksa stang si Pirikidil untuk lurus. Aduh ngilu ngedengernya. Pirikidilkuh yang lembut telah mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan karena majikannya yang gila begitu.

Masalah tidak bisa distarter, adalah karena kabel yang tersangkut standar. Aduh mana masih 160km dari Jakarta. Akhirnya oleh orang yang sedikit paham, kulit si Pirikidil dijebol (saya lagi-lagi ngilu) untuk akhirnya kabelnya diikat dengan plastik.

Alhamdulillah si Pirikidil bisa lagi dinyalakan.

Saya dibawa ke warung, kanan kiri tidak ada perumahan. Saya ditawarkan untuk dipijit, namun saya dengan halus menolak. Alhamdulillah di tas saya yang serbaguna ini ada betadin, plester, dan P3K lainnya.

Jadilah saya berterimakasih dan memberikan upah untuk seluruh penghuni warung.

Mereka menolak, katanya buat beli bensin saja, namun saya memaksa mereka agar menerima sebagai rasa terima kasih saya.

Jadilah saya kembali pulang ke Jakarta dengan si Pirikidil yang sudah lelah dan pincang. Agenda kembali mencari air terjun di Banten terpaksa saya batalkan. Sepanjang jalan saya hampir menangis sambil mengelus-elus Pirikidil. Maaf ya, Pirikidil…

Apakah saya masih melaju dengan kencang dan menyalip kontener? YOYOY! BRING IT ON! CIYANG-CIYUNG KEMBALI KONTENER SAYA SALIP-SALIPIN! WOOOO!!! Dasar majikan stress!

Perlu waktu 4 jam dalam menempuh jarak 160km pasca tabrakan tadi ditambah dengan bumbu kemacetan di Rangkas Bitung dan Tigaraksa sampai akhirnya saya kembali ke apartemen ‘dengan selamat’.

Tapi dari sini ada pelajaran berharga pastinya, saya jadi lebih paham bagaimana medan jalan dan kelakuan beberapa kendaraan. Keesokan harinya si Pirikidil saya masukkan ke ruang IGD, dan saya menyuruh karyawan saya untuk menjemput saya ke kantor. Luka di tubuh saya semuanya masih basah tapi yasudahlah. Besoknya saya kembali happy bersama si Pirikidil menuju rutinitas harian ke tempat kerja. Sambil ditemani bayang-bayang mentari senja, saya menggandeng Pirikidil untuk kembali beraktivitas seperti sedia kala, bersama-sama.

Minggu depannya apakah saya masih mengajak Pirikidil jalan-jalan ke luar kota? Tentu dong, sudah malah hahah, coba deh cek di sini. Tapi apa nggak trauma? Kalau dibilang trauma sih iya banget, tapi mau sampai kapan?


  • Galeri

Curug Munding Curug Munding Curug Rame Curug Rame

Ingin piknik ke tempat indah namun sedang malas berkendara, atau tidak punya kendaraan, atau bahkan tidak bisa berkendara? Ada angin segar, Anandastoon memiliki banyak artikel yang memuat tempat wisata angkotable. Klik dimari. Tengkyuk... (Sama jangan lupa follow IG saya @anandastoon untuk info jalan-jalan lainnya hehehe)

  , . Bookmark.

Isi kotak di bawah untuk berkomentar, atau artikel di atas dapat kalian diskusikan di Forum Terbaru Anandastoon. :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon