Diari #8: The Power of Hamba Allah

Hamba Allah

Setiap orang bangga dengan sebutan, “Anak Lurah.”

Setiap orang merasa hebat dengan sebutan, “Anak Bupati.”

Setiap orang dikagumi dengan sebutan, “Anak Presiden.”

Setiap orang yang merasa punya penyokong yang agung dan ditakuti akan mendapat respon yang istimewa dari orang-orang yang mengenalnya.

Sedangkan saya? Bukan anak siapa-siapa. Ayah kandung saya telah meninggal, ayah tiri saya tidak begitu banyak yang mengenal.

Saya mah apa atuh? Hanya seorang “Hamba Allah”. Kemudian saya merendah, dan merasa rendah.

Namun saya merasa diketuk oleh sesuatu ketika saya shalat.

Mengapa kamu tidak bangga dengan istilah ‘Hamba Allah’? Mereka yang merupakan anak seorang pejabat tinggi saja bangga padahal pejabat tinggi tersebut juga masih sama-sama makhluk Allah. Sedangkan deklarasi kamu sebagai ‘Hamba Allah’ membuktikan bahwa penyokongmu bukan lagi makhluk, melainkan Khalik dari seluruh semesta.

Rasa kecil hilang, jiwa besar terbit, tanpa disetir rasa angkuh, lalu mengapa saya masih mengeluh?

“Ya Allah, ‘cukupkanlah’ nikmatMu untuk hari ini, karena tubuh hambaMu dapat hancur karena tidak kuasa menampung setiap rasa syukur hamba kepadaMu akan setiap nikmat yang telah Engkau berikan pada hamba.”

Sekumpulan nikmat-nikmat remeh yang dapat menutupi masalah-masalah setinggi gunungan receh, bukanlah hal yang remeh.


AST2018

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)