Kembali
Ke Atas
  • Kalau orang Indonesia memang sebenarnya banyak yang pintar, negara ini sudah maju. Titiknya berada di sana, tanpa pengecualian.

    Saya pribadi pernah tersindir ketika orang Singapura ditanya mengenai sebab mengapa negara mereka bisa maju, salah satu poin jawabannya adalah, “Ketika yang lain sibuk mencari sensasi agar dikenal dunia, yang kami lakukan hanyalah terus membuat perbaikan-perbaikan.”

    Sekarang berapa banyak orang Indonesia yang juara di kancah internasional bahkan dari sektor MIPA, namun sistem dan kualitas pendidikan kita masih banyak dipertanyakan orang.

    Ketika ada anak-anak negeri yang mengharumkan nama bangsa, saya sejenak berpikir, harumnya memang tahan sampai berapa lama?

    Kita ini berada di negeri sejuta alasan, ujung-ujungnya pasti menyalahkan pemerintah dan merengek jika karya kita tidak dihargai, kemudian beberapa dari kita ‘kabur’ ke luar negeri dan lebih memilih untuk bermukim di sana dengan alasan karya yang lebih mudah dihargai di luar negeri. Kita seperti mengaku bahwa kita sebenarnya nasionalis, namun dengan dalih bahwa kita tidak difasilitasi pemerintah dan tidak dihargai.

    Bahkan saya sempat ditanya oleh seseorang, “Apakah pemerintah betul-betul tidak pernah menghargai karya anak bangsa?”

    This is partially true, quite sadly. Benar bahwa ada beberapa karya anak bangsa yang tidak dihargai, saya tidak menutup mata akan hal itu, namun perlu dicatat bahwa itu hanya sebagian kecil. Jika memang pemerintah tidak pernah menghargai karya anak bangsa, tidak akan ada unicorn-unicorn dan start up yang merajai negeri ini bahkan dapat bersaing di Asia Tenggara.

    Sebelumnya, akui saja dulu bahwa kita memang masih dalam tahap negara berkembang.

    Lalu mengapa banyak karya anak bangsa yang hebat namun tidak dihargai? Barangkali kalau kita ingin menurunkan ego kita, kemungkinan alasannya ada tiga:

    • Belum matang

    Saya ingat salah seorang guru SD saya pernah berkata, “Orang Indonesia ini pintar-pintar, namun sayang karbitan. Dipakai belum bisa namun dibuang sayang.”

    Ada orang Indonesia yang jago fotografi hingga karyanya dimuat dalam media-media internasional, ada orang Indonesia yang jago desain hingga dipuja-puja orang asing, dan sebagainya. Namun mungkin pada kenyataannya lingkup yang mereka mahir hanya seputar itu saja, mereka belum siap untuk bekerja secara serius dan dihargai secara maksimal.

    Banyak keluhan dari perekrut kerja bahwa beberapa pelamar mengaku dirinya handal dengan portfolio yang begitu memukau namun ketika diwawancara ternyata teknik yang mereka gunakan masih sebatas yang mereka dapat dari tutorial tok atau bahkan hanya template. Jangankan mendapatkan gaji lebih, dapat diterima kerja saja sudah syukur.

    Dulu saya hampir tiap malam mencari artikel mengenai anak-anak bangsa yang berprestasi, hingga pada akhirnya saya ‘mengharamkan’ diri saya untuk mencari di internet dengan kata kunci itu lagi. Mengapa bisa demikian? Karena saya memang sudah terlalu lelah untuk itu. Banyak karya yang hanya ditujukan untuk ego, padahal tidak begitu bermanfaat bahkan bagi dirinya sendiri. Tidak berkesan, atau berkesan sebentar, namun dilupakan selamanya.

    Saya pun dulu pernah membuat permainan dari bahasa pemrograman assembly 6502 yang saya yakin masih sangat sedikit orang Indonesia yang bisa. Berbagai pujian dan review positif telah saya dapatkan dari luar, padahal usia saya pada saat itu masih 18 tahun. Bahkan ada orang luar yang ingin mengunjungi Indonesia karena karya saya itu.

    Apakah itu membuat saya senang? Tentu saja. Tapi saya tidak ingin muluk-muluk berharap bahwa dengan karya saya itu Indonesia akan menjadi negara super power. Tidak sama sekali, buktinya saya hampir tidak mendapatkan apa-apa setelah masa pujiannya selesai. Satu atau dua email terkadang masih mendarat di kotak surat saya, namun sudah tidak sesering dulu. Setelah itu apa yang saya lakukan? Saya hanya melakukan hal yang normal, seperti bergabung dengan bekas rekan kerja saya, membuat aplikasi yang katanya di Indonesia belum ada sehingga kami belum memiliki saingan hingga akhirnya saya dan partner dapat membangun perusahaan kami sendiri dan merekrut mereka yang fresh graduate menjadi karyawan-karyawan saya. Sudah, itu saja.

    Lagipula, mereka yang katanya karya mereka tidak dihargai, namun nyatanya mereka memiliki ribuan follower, jutaan komentar pujian, dan like yang tidak terhingga dari luar atau dari sesama anak bangsa itu sendiri. Memangnya mereka ingin dihargai seperti apa lagi? Nanti jika karyanya sudah banyak yang meniru dan trennya sudah habis, bisa-bisa mereka ngambek ketika orang lain berkata, “Oh, tekniknya cuma gitu doang? Itukan gampang, teman saya juga banyak yang bisa.”

    • Ego dan gengsi yang tinggi

    Saya sudah hafal betul ketika ada anak bangsa yang berprestasi, beberapa media memberitakannya siang dan malam hingga berhari-hari sampai saya bosan dan kesulitan mencari berita yang lain. Setelah itu? Tren tentang orang itu menurun dan dilupakan.

    Apalagi media paham bagaimana perilaku pelanggannya, tidak heran jika banyak judul berita yang dibuat fantastis. “Seorang anak bangsa merajai teknologi dunia”, padahal isinya hanya ada orang luar negeri yang memuji karyanya, dan itu mungkin hanya satu-satunya yang memuji karyanya. Kira-kira begitu permisalannya. Apa yang dilakukan media tersebut salah? Lho, mereka kan hanya ingin ‘barang dagangan’nya laku agar para jurnalisnya bisa menghidupi anak dan istrinya.

    “Ada anak bangsa yang masih duduk di sekolah menengah berhasil mengehack NASA.” Serius, bagi saya berita tersebut seperti sebuah penghinaan terhadap NASA. Sebuah lembaga astronomi yang risetnya mati-matian bertahun-tahun demi sumbangsih mereka kepada sains, lalu yang orang kita lakukan adalah mengacaukan sistemnya dan dijadikan pahlawan? Serius, oleh negara lain bahkan kegiatan mengehack NASA itu menjadi bahan meme tersendiri.

    Kalau benar anak tersebut memiliki prestasi dan minat di bidang teknologi, berdayakanlah. Jangan hanya menjadikannya gorengan berita kemudian hilang sudah. Sekali lagi apakah media salah? Mereka hanya ingin ‘barang dagangan’nya laku agar para jurnalisnya bisa menghidupi anak dan istrinya.

    “Ada anak bangsa yang masih di bawah umur menemukan listrik di pohon kedondong!” Bahkan ada orang yang mendengar berita ini langsung menanggapinya secara habis-habisan, yang menanggapi pun masih dari anak bangsa juga, dia bilang bahwa dia juga tahu bahwa ada listrik di pohon kedondong, namun energinya terlalu kecil sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan listrik sehari-hari.

    Saya ulangi lagi, jika memang anak tersebut memiliki minat di bidang sains. Berdayakanlah.

    Lagipula apakah setelah kita mendengar berita-berita bombastis tentang prestasi-prestasi anak bangsa tersebut kemudian kita langsung mengikuti sepak terjangnya? Mengakunya terinspirasi, namun yang dilakukannya setelah itu hanyalah kembali menatap layar gadgetnya dan menggulir-gulir sosial media. Terinspirasi untuk apa?

    • Masa lalu yang kelam, tidak ada yang dibanggakan

    Kalau ditelisik dari sejarah, saya merasa dari semenjak nenek moyang negara ini memang sudah memiliki watak demikian. Kalau membahas sejarah dari garis besar, Belanda menggunakan strategi devide et impera agar bangsa ini terpecah-belah dan mudah diserang. Saya yakin mau negara Eropa mana pun selain Belanda yang menjajah, kalau tahu watak bangsa ini seperti ini, pasti menerapkan strategi serupa.

    Bahkan sudah lebih dari 75 tahun merdeka, strategi tersebut masih dapat diterapkan kok. Tidak percaya? Taruh saja seorang provokator di perbatasan RT, lihat berapa persen kemungkinannya akan terjadi tawuran.

    Kita dijajah Belanda selama 350 tahun, membanggakan senjata bambu runcingnya hingga berdarah-darah dan memakan banyak korban jiwa demi mengusir penjajah. Tetapi ketika Jepang mampir, Belanda ‘diusir’nya dalam sekejap, membuat kita yang selama 3,5 abad bertarung mati-matian dengan mengelu-elukan sebuah senjata berupa bambu runcing itu hanya dapat terbengong-bengong. Emang Belanda diapain sama Jepang sampai dengan gampangnya dibuat kabur begitu? Dan ternyata Jepang pun hilang dari bumi pertiwi ini karena negerinya dibom Amerika Serikat, mengakibatkan seluruh pasukan Jepang di Asia Tenggara pada saat itu ditarik kembali ke negaranya.

    Jadi berterimakasih jualah secara tidak langsung kepada Amerika Serikat.

    Setelah itu? pada 14 Agustus 1945, tidak ada lagi penjajah, masa-masa vakum, apa yang akan terjadi berikutnya? Para pemuda memaksa presiden pertama Alm. Ir. Soekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan negara tercinta ini. Kalau sampai tidak? Mereka sendiri yang akan berbuat kerusuhan, bahkan hal ini hingga membuat presiden pertama diungsikan ke Rengasdengklok. Untung pada akhirnya diproklamirkanlah kemerdekaan negeri ini, kalau tidak? Kita yang akan dijajah oleh bangsa kita sendiri, sesuai dengan perkataan beliau, sang presiden pertama, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”

    Minimnya prestasi bangsa yang orang-orangnya dapat kita hitung dengan jari, membuat kita kehabisan gengsi di mata dunia, yang pada akhirnya kita hanya membangga-banggakan kekayaan alam kita sendiri padahal yang mengelola banyak dari campur tangan negara lain, baik sebagian atau seluruhnya. Bersyukur negara kita terletak di kepulauan dan beriklim tropis, kalau terletak di tengah gurun pasir apa yang ingin dibanggakan? Minyak? Kalau ada.

    Sebagai senjata pamungkas, kita akhirnya mengklaim bahwa orang Indonesia itu ramah-ramah. Ya, saya akui itu benar, orang kita itu memiliki budaya keramah-tamahan yang cukup apik. Namun please, jangan sampai kita terlena dengan klaim tersebut dan mengabaikan fakta bahwa masih banyak orang-orang di negara ini yang menerapkan budaya senggol bacok, solidaritas tanpa arah, mudah tersulut emosi alias sumbu pendek, keras kepala, merasa suku, agama, ras, dan anatomi (SARA) mereka lebih unggul daripada saudara sebangsanya sendiri, dan sudah cukup banyak saya dengar keluhan dari para pekerja sektor dasar yang jobdescnya baru disuruh senyum kepada pelanggan yang menggajinya saja sudah mengeluh.

    Bahkan karena setelah itu kita kehabisan ide untuk memunculkan sesuatu yang dibanggakan, pada akhirnya kita mau tidak mau menjadi begitu bangga dengan beberapa cap yang diberikan oleh negara lain seperti “Indonesia negara paling santuy” dan sebagainya yang saya pribadi masih belum paham apakah rekor tersebut bermakna positif atau tidak.


    • Kesimpulan

    Intinya jika ingin berkarya, ya silakan berkarya. Tidak perlu terlalu punya hasrat ingin terkenal dan masuk media padahal pemahaman konsepnya masih minim dan hanya belajar sebentar via tutorial yang terbatas. Memang pada akhirnya, sang seniman benar-benar dapat apresiasi dan timbal balik positif yang berlimpah atas karyanya karena sudah diniatkan demikian, namun jangan berharap lebih karena belum tentu karyanya dapat bermanfaat dan menghasilkan.

    Foto-foto saya di Instagram pun sering difeature dan direpost oleh akun-akun sebangsa atau bahkan akun luar negeri. Tapi setelah itu ya sudah, senangnya hanya sebatas itu saja, tidak sampai kemudian saya mengklaim bahwa saya menjadi fotografer profesional dan sebagainya. Saya tidak pernah mengklaim apa pun.

    Saya pun sudah begitu lelah menulis artikel yang membahas keadaan karya anak-anak bangsa yang entah, saya cuma mengomentari sebatas ‘entah’, karena saya tidak tahu bagaimana proses yang sebenarnya. Apalagi yang saya saksikan hari ini, mereka kebanyakan hanya berprestasi di dunia maya tanpa bisa memberikan tips-tips yang bermanfaat kecuali hanya tips-tips dasar yang sudah diketahui bahkan oleh anak sekolah dasar.

    “Seperti apa sih tipsnya agar bisa hebat seperti kakak? Tipsnya ya kalian harus tekun berlatih, terus berusaha, dan punya fasilitas memadai. Itu saja.”

    Seriously, itukah yang kalian sebut dengan tips??? Kembalikan kuota internet saya sekarang juga. Lebih baik saya tanya kepada anak putih merah yang berjalan di luar jendela saya karena saya yakin saya akan mendapatkan jawaban serupa, atau bahkan lebih baik.

    Kalau orang Indonesia memang benar pintar-pintar, negara ini sudah maju. Titiknya di situ tanpa kecuali. Sekarang faktanya, negara kita saja sudah mulai jauh tertinggal dari India. Padahal sama-sama menyandang sebagai negara yang jumlah penduduknya banyak, pendidikan masih banyak yang terbelakang, dan negara yang indeks korupsinya tinggi. Tanya kenapa? Apa masih ingin komplain dan menyalahkan negara kita yang berupa kepulauan jadi pemantauannya sulit?

    Kemudian apa lagi sektor yang diunggulkan? Pariwisata? Yang katanya Indonesia itu indah? Yang beberapa tahun lalu video pariwisata kita juara internasional? Faktanya? Jumlah turis di negeri ini hanya beda sedikit dari Singapura yang luasnya bahkan tidak seluas Yogyakarta. Hal itu terjadi akibat minimnya akses ke tempat-tempat pariwisata sebab masyarakat kita kebanyakan sudah mahir menggunakan kendaraan pribadi di jalan rusak, jadi setiap turis seakan dipaksa untuk seperti itu jika ingin ke tempat indah. Akhirnya orang kita banyak memilih wisata keluar negeri karena aksesnya lebih mudah.

    Siapa di sini yang peduli dengan akses transportasi umum atau masal yang berjarak minimal 4 kilometer dari tempat wisata indah terdekat dan dengan jam keberangkatan yang dapat diandalkan?

    Di sisi lain, masyarakat kita sangat pintar dan terampil membuat fitur selfie berlatar pemandangan indah hingga tak sedikit yang kemudian viral dan tempat tersebut banyak dikunjungi, namun sayangnya keterampilan yang mengagumkan itu tidak diiringi dengan manajemen, belum lagi diperparah dengan maraknya pungutan liar dan pengelola yang kurang ramah. Pada akhirnya? Saya pernah mendengar seorang ibu pemilik warung di Bogor yang berkata bahwa beberapa tempat selfie tersebut sekarang sudah sepi, warung-warung di sana kini sudah tinggal sebagian kecil saja yang bertahan.

    Ya iya dong Bu, kita ke sana untuk piknik dan mencari kenyamanan dari penatnya kesibukan selama hari kerja, kita berwisata bukan sekedar untuk foto-foto yang kemudian ditagih oleh pengelola setiap beberapa langkah sekali. Padahal pengunjungnya mungkin memiliki kondisi ekonomi yang sama dengan masyarakat yang mengelola. Atau mungkin di perkotaan, sang pengunjung hanya bekerja sebagai staf kelas bawah?

    Yep, inilah maksud karbitan dari perkataan guru SD saya di atas itu. Dipakai belum bisa, dibuang sayang.

    Negara ini humoris dan kreatif, sayangnya sering stuck. Padahal Indonesia begitu kaya budaya dan sumber daya alam.

    Bahkan hari ini kepada anak-anak bangsa yang bekerja di perusahaan bonafid di luar negeri yang kalau dulu saya kagum kepada mereka hingga saya kejang-kejang, sekarang saya hanya menanggapi, “Alhamdulillah, setidaknya mereka bisa terpakai di sana.”

    Oh iya, negara kita ini memiliki bahasa yang paling mudah di dunia. Apa yang terdengar, itulah yang tertulis, what you hear is what you get. Tanpa ada grammar, tanpa nahwu, tanpa sharaf, tanpa diakritik apa pun meski hanya bertengger di huruf ‘E’, bahkan imbuhannya pun friendly. Contohnya imbuhan ‘me-kan’ yang artinya menginginkan seseorang untuk melakukan hal tersebut, dst. Tapi masalahnya berapa orang yang nilai bahasa Indonesianya paling buruk sewaktu masih sekolah, atau bahkan hingga hari ini? Membedakan pelafalan huruf ‘F’ (ef) dan ‘V’ (ve) saja masih banyak yang tidak mampu. Membedakan titik dan koma saja masih sangat sulit, apalagi membedakan kata sambung “dari” dan “daripada”.


    Ayolah, ayo dong, kalau bangsa ini maju kan kita semua yang mendapatkan timbal balik positifnya. Saya begitu sayang dengan negara ini. Saya yakin kita semua juga pun sayang dengan bumi pertiwi yang insyaAllah banyak diberkahi ini. Bahkan seperti kata orang tua kita, bahwa mereka galak kepada anaknya karena sayang. Ya kira-kira saya pun seperti ini kepada bangsa ini.

    Anak-anak kita sudah jago di bidang seni, tinggal diseimbangkan di bagian eksak. Dan jago seninya pun diharapkan bukan sekedar dari tutorial dan template semata sehingga karyanya cuma sekedar keren, namun tidak membekas dan berkesan kecuali hanya sedikit.

    Turunkanlah ego kita, janganlah malu-malu untuk belajar minimal dari Singapura saja dahulu. Tidak perlu mencontoh kecerdasan mereka jika kita belum sanggup. Contohlah akhlaknya saja dahulu seperti mengantarkan orang yang bertanya hingga tujuan, Singapura pun memiliki skill untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada orang lain, tidak sekedar “yang penting kan”, atau “masih mending kan”.

    Dan satu lagi. Bagi yang menyanggah, “kan tidak semua anak bangsa sifatnya seperti itu…?”

    Ya memang, masalahnya sudah terlalu banyak yang seperti itu, kita hanya terlalu ingin dinilai yang baik-baiknya saja seakan sudah seperti Tuhan yang tidak pernah memiliki kesalahan, padahal NabiNya pun pernah melakukan kesalahan dan beliau bersedia menerima kritik dan masukan.

    Dan lagipula kalau pertanyaan, “kan tidak semua orang Indonesia seperti itu?” kemudian saya jawab “Ya”, setelah itu respon balik si penanya akan bagaimana? Apakah akan seperti anak kecil yang diberi permen?

  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.


    Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon

  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *