Pengalaman Horor Teman Terbaik #10 : Kembali Pulang

Kembali Pulang

Sambungan dari kisah #9.

Kisah sebelumnya, Uwi, kakaknya, dan dua temannya berencana mudik dengan menggunakan sepeda motor ke Cirebon, namun di daerah kebun karet di Subang justru Uwi mendapatkan insiden yang menyebabkan semuanya harus menginap di pemukiman terdekat. Akhirnya mereka semua ditampung di rumah seorang sepuh yang disegani di kampung tersebut, mereka diajak berwisata gaib oleh sang Kakek.


Semalaman Uwi dkk. diajak berwisata gaib dengan sang Kakek, tak terasa langit sudah sedikit lebih terang, seakan fajar akan menyingsing. Uwi yang kelelahan di rumah sang Kakek, mencoba rebahan dan mengecek smartphonenya, sementara yang lain mulai tertidur. Uwi lumayan terkejut dengan apa yang ia temukan di layar smartphonenya.

Jam di smartphone tersebut masih menunjukkan pukul dua dinihari, sama seperti saat mereka pertama kali datang ke rumah sang Kakek. Uwi tidak tahu, namun waktu sepertinya tidak berjalan sama sekali. Apakah jam di smartphonenya rusak? Sepertinya sangat kecil kemungkinan.

Langit sudah semakin terang, namun azan subuh tak kunjung terdengar. Sang Kakek pergi ke kamar mandinya. Sayup-sayup terdengar suara ‘cipyak cipyuk’ dari kamar mandi. Uwi berpikir bahwa sang Kakek berwudlu untuk shalat subuh, namun setelah didengar-dengar, suara air tersebut semakin keras dan menjadi ‘byar byur’.

Sang Kakek mandi ternyata.

Uwi mencoba keluar untuk mengecek seluruh sepeda motor, memastikan tidak ada yang hilang. Terlihat dari pekarangan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun dari pintu tiba-tiba muncul sang Kakek entah dari mana.

“Kamu mau ke mana?” Kata sang Kakek.

“Ma… mau cek kendaraan mbah…” Uwi menjawab dengan gugup.

“Oh, ya sudah.” Sang Kakek kembali berjalan ke samping rumahnya.

Aneh. Uwi merasa ada yang aneh. Baru saja Uwi mendengar sang Kakek mandi, namun kenapa tadi sang Kakek tidak basah sama sekali. Baju dan tangannya kering semua. Uwi langsung berlari ke arah teman-temannya dan membangunkannya.

“Ada apa sih orang masih ngantuk!” Gerutu kakaknya. Begitu pun dengan Ole dan Sule.

“Cepet pulang! Di sini nggak beres!”

Untungnya, meski dengan enggan, mereka menuruti Uwi. Masalahnya mereka semua pun khawatir akan menjadi tumbal atau setidaknya, kelinci percobaan sang Kakek. Begitu mulai beranjak, sang Kakek muncul kembali dari dapur rumahnya ke arah ruang tamu.

“Mau ke mana kalian?”

“Mau pamit kita mbah…” Ucap salah seorang dari mereka.

“Kenapa buru-buru, saya mau cerita lagi sini…”

Jadilah kami menuju ruang tamu dan sang Kakek kembali bercerita setelah kami suguhkan sebatang rokok untuknya.

“Dulu saya dari muda merantau ke sini bersama keluarga saya. Di sini saya memang berprofesi sebagai cenayang selama bertahun-tahun. Orang-orang desa ini juga begitu menghormati saya. Tetapi, saya ternyata memiliki lawan yang bernama Ki Ageng. Ki Ageng adalah orang yang begitu disegani di desa tersebut, dan saya, sebagai pendatang baru ingin menguji ilmu beliau.”

Sang Kakek mengepulkan asap rokok dari mulutnya, sembari melanjutkan ceritanya.

Ki Ageng begitu kaget begitu dirinya ditantang oleh seorang pendatang baru. Mereka akhirnya berduel dan pendatang itu kalah. Namun si pendatang yakin suatu saat akan mengalahkan Ki Ageng. Si pendatang itu terus berlatih dan berlatih hingga akhirnya tiba saatnya Ki Ageng ditantang berduel kembali dengan si pendatang.

Nyatanya, Ki Ageng berhasil dikalahkan pada saat itu dan si pendatang begitu senang karena ilmunya sudah melebihi Ki Ageng. Ia kembali ke keluarganya dengan sukacita, mengenang prestasinya. Namun siapa sangka ternyata Ki Ageng menaruh dendam kepadanya. Ki Ageng lalu mencari celah si pendatang baru itu agar dapat dijadikan mediator dan tibalah saat ketika si pendatang itu lengah.

Dari situlah Ki Ageng seakan mengendalikan si pendatang dan membuatnya membunuh keluarganya satu per satu. Dari mulai istri hingga anak-anaknya. Menyisakan hanya dirinya seorang diri. Meratapi apa yang terjadi, akhirnya si pendatang begitu depresi dan memutuskan untuk gantung diri.

“Bagus ceritanya mbah.” Tanggap Uwi.

Sang Kakek memberikan pesan terakhir, “Kalau kalian ingin pulang di pagi yang masih belum begitu terang ini, saya pesan satu. Teruslah menghadap ke depan. Jangan sekali-kali menengok ke belakang jika kalian tidak ingin merasakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Apa pun itu mungkin akan mengganggu kalian dan membuat kalian penasaran, yang pasti, tetap jalan lurus dan menghadap ke depan.”

Sang Kakek kembali menegaskan, “Pokoknya jangan menengok ke belakang! Saya tidak mau tahu kalau kalian lihat yang macam-macam.”

Kemudian sang Kakek terlihat terkekeh, dengan ekspresi muka yang begitu aneh, mulutnya maju mundur hampir sama seperti Ole ketika ia dirasuki pocong tadi malam.

“Baik mbah…” Uwi dan kawan-kawan mengiyakan, dengan dibumbui banyak rasa takut.

Jadilah mereka pamit dengan sang Kakek dan mulai berkendara meninggalkan rumah sang Kakek secepat mungkin dan mencoba bagaimana pun agar tidak menengok ke belakang. Dari belakang, mereka dengan jelas mendengar bahwa sesuatu berjalan cepat mengikuti mereka, jadilah mereka memutar gas lebih dan berkendara secara terburu-buru karena dibalut rasa takut yang hebat.

Tak terasa, mereka sudah tiba di bibir jalan raya, yang dikelilingi kebun karet. Rasa lega menghampiri mereka semuanya. Saat Uwi mulai menyentuh aspal, tiba-tiba Uwi teringat sesuatu dari cerita sang Kakek, khususnya pada akhir cerita.

“…Meratapi apa yang terjadi, akhirnya si pendatang begitu depresi dan memutuskan untuk gantung diri.”

Si pendatang itu sudah jelas sang Kakek, berarti selama ini mereka menginap bersama hantu. Uwi langsung membunyikan klakson dan memberitahukan hal ini kepada kakak serta teman-temannya.

Mereka juga baru menyadari hal yang sama setelah Uwi memberitahukannya, bulu roma mereka kini berdiri semua. Menghindari rasa panik, mereka berinisiatif mencari warung pinggir jalan sambil melanjutkan istirahat.

Aneh, langit tiba-tiba kembali gelap, seperti kembali ke tengah malam. Padahal tadinya semua mengira matahari akan segera terbit. Uwi mengecek kembali smartphonenya, memang masih pukul dua malam.

Setelah mereka berkendara sebentar, mereka akhirnya menemukan sebuah warung dan mencoba menepi di sana. Ada juga beberapa orang yang sedang menepi di warung tersebut, terlihat dari beberapa sepeda motor yang juga terparkir di warung itu.

Sebentar, sepeda motor tersebut berjumlah tiga buah. Dan sepertinya mereka semua tidak asing dengannya.

Itu adalah sepeda motor mereka semuanya! Mereka jelas sangat kaget dan tidak percaya, mereka langsung melihat ke bawah dan selama ini mereka berjalan mengangkang dengan pose seakan-akan mengendarai sepeda motor.

“Cukup! Cukup! Capek dengan semua ini!” Ole menggerutu. Sule terlihat ingin menangis karena begitu takut atas pengalaman menyeramkan yang sepertinya tidak berkesudahan.

Pemilik warung keluar, menatap mereka sejenak, dan berkata, “Kalian buang air kecil lama sekali? Sudah setengah jam saya tunggu. Buang air kecilnya di mana?”

“Kita nggak buang ai…”

“Oh! Kita tadi buang air kecil di sana!” Uwi yang paham segera memotong pembicaraan Ole. Ole pun seakan mengerti dan memilih untuk diam.

“Di mana?” Kata pemilik warung.

“Di sana. Di pemukiman itu. Ada toilet jadi kami buang air di sana. Kami tidak biasa buang air sembarangan pak…” Kata Uwi sambil menunjuk desa yang dari sana mereka semalamam bermukim, di rumah sang Kakek yang ternyata sudah almarhum.

“Di sana?” Pemilik warung mencoba meyakinkan. Uwi dan kawan-kawan mengangguk pasti.

“Itu kan kuburan!”

Jawaban pemilik warung benar-benar membuat semuanya menjadi lemas secara maksimal. Mereka kembali gaduh mempertanyakan.

“Ya sudah, kalian istirahat saja di sini. Di daerah ini memang kerap terjadi kecelakaan. Mungkin pengemudi lelah atau bahkan mereka adalah tumbal, saya tidak tahu. Kalian istirahat saja ya. Saya juga mau istirahat.” Ucap pemilik warung sambil menunjuk lesehan yang berada di samping warungnya, mempersilakan Uwi dkk. untuk beristirahat.

Jadilah pemilik warung masuk ke dalam dan mematikan lampunya, sedangkan Uwi dan kawan-kawan mencoba untuk beristirahat di lesehan dan mereka mulai tertidur pulas.

Kakak Uwi memiliki kebiasaan tidur yang buruk, Uwi yang sedang terlelap sampai terbangun karena kakaknya menendang mukanya dengan cukup keras. Uwi tentu saja marah dan mencoba untuk memukul balik kakaknya. Gaya tidurnya begitu buruk!

Namun kini Uwi benar-benar kaget setengah mati.

Ia sekarang sedang berada di atas rumput, ia benar-benar terbangun di antara rerumputan di pinggir jalan. Terlihat sepeda motornya yang sudah jatuh beberapa meter darinya. Ia syok, masalahnya kini ia sendirian di pinggir jalan, yang masih dinaungi oleh kebun-kebun karet. Jalanan begitu gelap dan sepi, kemana kakak dan kawan-kawannya? Uwi mulai berdiri dan panik.

“Maaasss! Oleee! Suleee!” Uwi berteriak memanggil semuanya.

Tak lama terlihat beberapa orang terbangun dari rerumputan. Ternyata itu adalah kakak dan kawan-kawannya, namun masing-masing dari mereka terpisah sejauh puluhan meter. Lho, kok kita bisa ada di sini? Kita kenapa ada di sini??? Ke mana warungnya??? Semuanya mempertanyakan sesuatu yang mereka sendiri tidak dapat menjawab.

Pada akhirnya ditariklah kesimpulan bahwa mereka semua terjatuh dari sepeda motor mereka masing-masing, termasuk Sule yang dibonceng Ole. Uwi menelepon bapaknya akan hal ini dan mereka semua diangkut oleh truk bapaknya dari Cirebon.

Pagi itu, di perjalanan selama berada di truk, mereka kembali mengingat-ingat kejadian tak masuk akal yang baru saja menimpa semuanya.

Dan Uwi pun kembali mempertanyakan, siapa yang memukul kepalanya hingga ia terbangun di rerumputan tadi malam?

Isi kotak di bawah untuk berkomentar, atau artikel di atas dapat kalian diskusikan di Forum Terbaru Anandastoon. :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon