To The Next Level: Pengalaman Buat Paspor

Pengalaman Buat Paspor

Inginnya saya keluar negeri yang berarti saya harus punya paspor. Artinya, saya harus buat paspor terlebih dahulu. Baiklah, saya baca persyaratannya…

  • KTP asli… cek.
  • Kartu Keluarga asli… aduh di orang tua, di Pekanbaru lagi, saya di Jakarta.
  • Akta kelahiran atau Ijazah… aduh gak tau dimana.

Memang harus asli ya? Tidak bisa fotokopi kah? Saya terkendala pembuatan paspor hingga satu tahun lamanya di sini. Hingga akhirnya kakak saya mengirimkan Kartu Keluarga asli lewat salah satu jasa pengiriman barang dari Pekanbaru dan tiba di Jakarta dengan mulus… lus… lus.

Alhamdulillah. Tinggal akta kelahiran atau ijazah terakhir. Bisa pilih salah satu sih, sama saja. Tapi saya justru ‘borong’ semuanya ketika saya tahu itu semua ada di tumpukan folder penting di rumah almarhumah nenek saya.


Oh, sekarang tidak bisa antri manual ya? Harus pakai aplikasi lewat playstore yang sayangnya hanya tersedia untuk Android dan itu pun minimum harus Marshmallow. Fix. Saya download. Merepotkan sekali jika tidak punya android yang minimum versi 6 atau OSnya di luar itu seperti Blackberry atau iOS.

Saya isi biodata yang diperlukan sejujur-jujurnya, maksudnya, pakai nama asli (tidak pakai nama alay), alamat sesuai KTP meskipun sekarang sudah beda. Kemudian saya mendapatkan konfirmasi dan membuat user serta password yang wajib diingat alias tidak boleh lupa.

Kebetulan ada kantor imigrasi kelas 1 dekat indekos saya, hanya 600 meter hahah. Apalagi di depannya tepat halte busway yang namanya juga Imigrasi. Alhamdulillah puji syukur saya karena tempatnya strategis.

Namun kuotanya ternyata selalu penuh. Setelah saya cari informasi, ternyata kuota reset setiap Jumat pukul 16.00, jadi pada hari dan jam itu saya temukan semua kuota antrian di setiap kantor imigrasi masih hijau klimis semua.

Dengan senang hati saya pilih kantor imigrasi di Jakarta Selatan tersebut dan dapat nomor antrian. Horeeeee!!!

OH WAIT!!!

Saya salah pilih kantor! WHAT?! Tertulis kantor tersebut hanya melayani penggantian paspor, bukan pembuatan. Maygawd! Cancel… cancel!

Dan ternyata dengan membatalkan antrian, saya ternyata kena penalti tidak boleh mengambil jadwal antrian hingga hari yang sama bulan berikutnya. Sial! Saya beri bintang satu untuk aplikasinya. Titik. Maaf ya, saya hanya dikubur rasa kesal hahah.


Bulan berikutnya, saya baru teringat ketika habis shalat ashar di kantor bahwa hari tersebut adalah hari Jumat. Langsung ta cuss buka aplikasi imigrasinya. Hampir copot jantung saya begitu saya sadar bahwa saya hampir lupa passwordnya. Tapi alhamdulillah terbuka juga meski saya hanya menebak.

Saya kali ini pastikan memilih kantornya dan meyakinkan via Google Maps bahwa alamat kantor imigrasinya cocok. Trauma soalnya dapat penalti sebulah bahahah. Alhamdulillah warna kuota masih hijau mentereng… saya bisa pilih hari Selasa.

Kenapa bukan hari Senin? Takut kecapean kalau semisal saya habis liburan hehe…

Hari Selasa itu saya berangkat pagi pukul 7 mengingat yang saya dapat di aplikasi adalah kuota antrian, bukan nomor antrian. Jadi tetap saya harus berantem agar saya dapat antrian di awal-awal. Saya pakai batik terbaik untuk sesi foto, beserta dokumen yang diperlukan.

Malamnya padahal saya hampir tidak bisa tidur karena galau memikirkan bagaimana wawancaranya. Apakah paspor saya akan ditolak?

Saya berangkat ke kantor imigrasi Jakarta Selatan dengan berjalan kaki, dan cuma makan waktu 12 menit. Jadi saya tiba di samping satpamnya pukul 7.12. Alhamdulillah.

Saya melihat ada seorang perempuan komplain kepada satpam karena kuota antrian selalu penuh, saya hanya beri masukan agar mengecek setiap Jumat pukul 16 dan satpam setuju. Saya pun diarahkan untuk mengambil nomor antrian di lantai 2.


Saya langsung ke antrian pengambilan nomor antrian (hah?). Petugas menanyakan apa keperluan saya dan saya katakan pembuatan paspor baru. Saya menyerahkan seluruh dokumen asli ke petugas tersebut beserta HP saya untuk mereka jual… EH! BUKAN! Pastinya untuk di-scan dong barkode antrian yang sudah saya book di aplikasi Jumat sore kemarin. Dan saya dapat nomor antrian 2-010.

Petugas memasukkan dokumen saya ke maps mereka dan menyuruh saya mengisi formulir khusus seperti jika kalian ingin menunaikan sebuah keperluan di bank. Meja dan pulpennya sudah disediakan kok…

Di formulir ada tinggi badan. Mana saya tahu berapa hahah… saya isi asal saja 172cm. Karena ayah kandung saya sudah tidak ada, jadi formulir bapak kandung saya kosongkan.

Kemudian saya memfotokopi seluruh dokumen saya ke tukang fotokopi di koperasi imigrasi. Mereka memfotokopi semuanya tanpa dipotong dan memang tidak boleh dipotong meskipun itu hanya fotokopi KTP. Alhamdulillah petugas fotokopinya profesional hehe…

10 menit sebelum jam 8 pagi, ada petugas ganteng (ehm, saya normal) mengumumkan dengan bahasa baku mengenai prosedur dan petugas berkeliling ke setiap hadirin jika ada yang ingin ditanyakan. Pelayanannya keren!

Nomor antrian: 0-001 ke loket 1. 3-001 ke loket 8. 3-002 ke loket 4. 7-001 ke loket 14.

What? Nomor antrian saya 2-010. Kapan saya akan dipanggil? Loketnya ada 16, tapi…

Oh, cepat, hanya 10 menit. Ya sudah, pukul 8.10 saya tinggal masuk ke loket 2.


“Bapak Ananda?” Sapa sang petugas. Mereka tegas namun ramah, mereka tidak judes ternyata bhahahah.

Dokumen saya kasih, yang ternyata juga dimulai proses wawancara.

“Pembuatan baru?”, “Ya, baru. 48 halaman.”

“Nama ibu kandung?”, Saya jawab dengan mantap.

“Ingin ke mana buat paspor?”, “Saya punya rencana berlibur ke luar negeri.”

“Ke mana?”, “Singapura.” Saya menjawab asal, tapi benar kok tujuan saya memang ingin liburan.

“Sudah bekerja?”, “Sudah.”

“Boleh saya lihat ID cardnya?”, “Saya tidak punya ID card, tapi ada kartu nama. Tidak apa?”

“Oh, ya sudah jika tidak ada ID card. Bapak Ananda domisili di Jakarta Pusat, pernah mencoba ke Imigrasi sana?”, “Belum.”

“Kenapa?”, Aduh mampus deh gueh, harus jawab apa ya saya? “Karena saya baru buat…”

“Oh baru… Ya sudah langsung foto dan pengambilan sidik jari ya…”

Alhamdulillah selesai. Saya langsung diberi kertas petunjuk pembayaran dan diminta transfer ke ATM yang di lantai 1. Saya meninggalkan ruangan dan petugas menekan nomor antrian berikutnya. Artinya, selesailah hajat saya dengan petugas loket imigrasi.

ATMnya ternyata gangguan. Sial. Tapi ternyata alhamdulillah tidak lama. Saya hanya memasukkan nomor MPNG2 di ATM sesuai kertas yang telah diberikan petugas loket. Kata petugasnya tidak boleh di internet banking supaya struknya bisa disimpan jika lewat ATM.

Setelah bukti transfer keluar, saya staples dan saya lipat dua. Saya melenggang ke kantor dengan Transjakarta. Pengambilan paspor dihitung 5 (lima) hari kerja, yang artinya seminggu kemudian.


Kali ini pengambilan saya datang ke kantor imigrasi pukul 8.30 tanpa perlu lagi pakai aplikasi antrian. Saya hanya memasukkan nomor permohonan di kertas petunjuk pembayaran yang saya staples beserta bukti pembayaran itu dan nomor antrian keluar.

Cepat kok, meski saya dapat yang ke-52 (6-052), namun saya hanya menunggu 5 menit karena isinya hanya permintaan nomor telepon dan tanda tangan saja. Petugasnya pun ramah betul. Alhamdulillah, mudah ya buat paspor.

Pengalaman Buat PasporItu paspor mau dikemanakan setelah itu? Ya saya simpan saja hehe… Barangkali dapat rezeki bisa ke luar negeri hahah. Aamiin.

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)