Sejujurnya saya kurang suka dengan istilah “SDM Rendah”. Rendah apanya? Tinggi badannya? Gajinya? Atau levelnya?
Ternyata maksud dari SDM rendah di sini adalah Sumber Daya Manusia yang berkualitas rendah. Istilah tersebut mulai digaungkan beberapa tahun lalu dan semakin nyaring kita dengar semakin hari.
Kita sudah saling memahami bahwa SDM berkualitas rendah yang dimaksud di sini adalah rendah kualitas kemampuannya (hard skill) dan rendah kualitas akhlaknya (soft skill).
Tetapi apakah ada ciri lain yang mungkin lebih jelas dari SDM rendah? Dan seberapa besar dampak atau bahayanya bagi perusahaan yang merekrut mereka?
Pertanyaan terakhir, apakah SDM berkualitas rendah tersebut memiliki dampak buruk bagi masyarakat dan lingkungan hingga negara? Saya jawab tentu saja iya.
Mengenai detailnya, kita coba diskusikan lewat artikel berikut. Saya berusaha untuk objektif karena memang bahasannya cukup berat. Saya tidak menyinggung siapa pun sebab ini adalah masalah sosial. Harapannya untuk kebaikan kita juga.
SDM rendah identik dengan sumbu pendek, minim literasi, dan drama queen.
Kita mungkin sering juga mendengar orang-orang yang minim literasi. Mereka bukannya tidak bisa membaca, tetapi mereka justru tidak bisa memahami konteks bacaan atau diskusi.
SDM berkualitas rendah hanya dapat mencerna pembicaraan dengan ego mereka, bukan dengan pikiran mereka.
Misalnya, beberapa kali saya lihat di postingan-postingan di media sosial yang membahas tentang celah perbaikan sebuah sistem, justru banyak orang yang nyinyir bahwa perbuatan itu sia-sia.
Atau saat ada orang yang membahas negara yang lebih maju dengan harapan untuk kita tiru, tidak sedikit orang yang terganggu bahkan sampai mengusir orang tersebut untuk pindah saja ke negara itu.
Para SDM rendah hanya ingin kehidupan fantasi yang mana negeri dongeng saja tidak ada yang sampai kepada ekspektasi mereka.
Contohnya, dalam dongeng Cinderella, sebelum bertemu pangeran, Cinderella pun berjuang dan bersabar dengan siksaan ibu dan saudara tirinya. Semua kehidupan tokoh utama dalam cerita dongeng pasti tetap memerlukan upaya yang tidak main-main sebelum mendapatkan kehidupan bahagia mereka.
Namun SDM rendah tidak mengenal konsep pengorbanan, mereka hanya ingin kehidupan yang sesuai dengan selera mereka saja, tidak peduli itu melawan kodrat alam sekalipun.
Mereka bahkan tak segan-segan mencibir bahkan menghina orang yang berlelah-lelah dalam berusaha, biasanya dengan dalih agama seperti “ngapain capek-capek rezeki udah ada yang ngatur.” dan sebagainya.
Akibatnya, para SDM rendah yang tidak terbiasa berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka akan mudah mengeluh mengerjakan hal umum yang setiap orang dapat melakukannya.
Mereka pasti akan lebih sering berdrama daripada benar-benar bekerja, meski pekerjaan itu hanya menjaga toko tetapi bagi mereka lelahnya seperti orang yang mondar-mandir naik turun gunung.
SDM rendah selalu berteriak “Hargailah Kami” namun justru merekalah yang nyatanya paling tidak dapat menghargai.
Mereka tidak menghargai perusahaannya, tidak menghargai pelanggannya, tidak menghargai orang lain, tidak menghargai lingkungannya, bahkan tidak menghargai diri mereka sendiri.
Banyak dari SDM rendah yang kerap tidak melayani pelanggan mereka dengan baik, berdalih bahwa ada pelanggan mereka yang tidak menghormati mereka.
Pelanggan yang buruk pasti ada, tetapi masalahnya pelanggan yang baik pun tidak mendapatkan pelayanan yang cukup dari para SDM rendah tersebut.
Para SDM rendah tidak menghargai pelanggan sebagai pintu rezeki mereka sendiri. Mereka hanya fokus dengan pelanggan yang buruk meski jumlahnya sedikit daripada fokus dengan kinerja mereka yang hancur lebur dan cenderung merugikan perusahaan.
Lebih parah lagi, jangankan terpikir oleh mereka untuk memperbaiki kualitas kerja mereka, kalau bisa perusahaan dan para pelanggan harus mengikuti cara mereka bekerja seolah merekalah pemilik perusahaannya.
Saya lihat banyak sekali buruh di media sosial yang mendukung postingan-postingan yang menyudutkan pengusaha, bahkan tambahan-tambahan fitnah yang tidak perlu seperti pengusaha hanya ingin jajan di restoran mahal dan buruhlah yang turut menyejahterakan pedagang kaki lima.
Para buruh tersebut merasa mereka sudah dapat menggaji diri mereka sendiri tanpa perlu pengusaha.
Belum lagi ada yang bilang, “Pengusaha kalau rugi teriak, tapi kalau untung diam saja.”
Perlu diketahui, pengusaha kalau untung, mereka akan mempekerjakan lebih banyak orang. Sekarang mereka sendiri kalau dapat untung, berapa yang menerima manfaatnya?
Pada akhirnya, jika sebuah usaha terpaksa harus tutup atau pindah karena tidak tahan dengan perilaku para SDM rendah tersebut, para pekerja yang baik dan totalitas pun akan ikut terkena getahnya.
SDM rendah hobi membuat perkumpulan atau solidaritas.
Sedari duduk di sekolah, beberapa anak murid senang membuat geng mereka masing-masing.
Hal ini terbawa hingga mereka dewasa.
Betul bahwa sebagian kita senang bergabung dalam komunitas-komunitas tertentu. Tetapi komunitas kita itu saya yakin sudah kita pastikan isinya “daging” semua. Kita hanya ingin bergabung ke dalam komunitas yang bermanfaat dan itu hal yang sangat baik.
Berbeda dengan orang-orang yang hobi membuat solidaritas bak pepesan kosong. Mereka hanya menang secara kuantitas, tetapi nyatanya hampir tidak ada yang datang kepada mereka saat mereka sedang membutuhkan.
Apalagi jika komunitasnya hanya memiliki dua keuntungan, yakni keuntungan untuk berdemo, dan keuntungan iring-iringan jika nanti ada anggotanya yang meninggal dunia tak peduli iring-iringannya akan merepotkan pengguna jalan lain.
Inilah yang membuat para SDM rendah tersebut semakin tidak terkontrol, mereka sudah begitu terorganisir. Mereka kuat karena bisa main keroyokan. Belum lagi banyak kalangan masyarakat yang mendukung secara tidak langsung.
Mendiamkan dan menyuruh diam akan sebuah keburukan itu termasuk mendukung para pelakunya.
Tidak mengapa jika kita belum sanggup untuk menegur perilaku orang-orang meresahkan seperti itu. Namun setidaknya, masih ada rasa di dalam hati kita yang tidak membenarkan mereka.
Yang saya tekankan di sini adalah, masih banyak sekali masyarakat yang mencari aman dan berdalih, “Udah biarin aja, yang penting kita nggak kayak gitu.” Terkesan membiarkan dan menoleransi keburukan-keburukan tersebut.
Bahkan tak sedikit masyarakat yang melegalkan ulah orang-orang itu hanya karena menganggap mereka sebagai “rakyat kecil”.
Akibatnya, para pejabat korup menjadi begitu sulit dibasmi karena sudah begitu kuatnya solidaritas mereka yang mereka terbiasa bangun sewaktu mereka masih menjadi rakyat. Mereka punya kode khusus tersendiri, bahkan mereka lebih mengerikan dari apa yang terjadi di film-film laga.
SDM rendah senang mengganggu sekitar sebab itu adalah gengsi mereka.
Pernah beberapa kali saya sampaikan kepada tim saya,
Orang yang tidak berguna sudah pasti akan menyusahkan.
Saya sedang tidak membahas orang yang sedih sebab merasa tidak berguna karena setidaknya mereka masih berpikir untuk menjadi berguna.
Orang yang sudah benar-benar tidak berguna sama sekali, mereka tidak akan pernah berpikir untuk menjadi berguna, jangankan memperbaiki diri. Mereka sudah nyaman dengan kegiatan mereka yang memang tidak berguna.
Orang yang tidak berguna akan selalu menyalahkan orang lain apabila mereka temukan sesuatu yang salah dari dalam diri mereka. Itu karena jelas mereka tidak mengenal apa arti dari memperbaiki diri.
Parahnya, orang yang tidak berguna pun juga memiliki gengsi, tetapi mereka tidak pernah terpikirkan hal positif dalam meraih gengsi mereka.
Sehingga, bisa menakut-nakuti orang lain adalah prestasi bagi mereka.
Maka dari itu tidak perlu heran dengan orang-orang yang merasa hebat saat menegur kesalahan orang lain tetapi dirinya akan marah saat ada orang lain yang mencoba menegur kesalahan mereka.
Gengsi mereka juga masih satu level dengan pamer murahan seperti memaksakan membeli kendaraan mewah meski mereka tahu tidak akan sanggup membayar cicilannya. Kemudian dengan angkuhnya orang-orang tidak berguna itu mengganggu pengguna jalan lain dengan kendaraan cicilannya, dengan mudahnya membunyikan klakson sebagai ajang unjuk gigi.
Mereka begitu percaya diri karena mereka yakin sebagian besar masyarakat pasti akan memihak kepada mereka dengan segala drama “rakyat kecil”nya.
SDM rendah sudah hampir mustahil untuk diperbaiki.
Mereka terbiasa menyerang siapa pun yang tidak sejalan dengan mereka.
Pernah dengar ada orang yang melaporkan seorang koruptor tetapi yang melapor justru yang dipenjara? Ya, itu tak ubahnya seperti perilaku sebagian besar masyarakatnya itu sendiri.
Coba lihat sekeliling kita. Saat kinerja buruk seseorang dilaporkan oleh orang lain, masih ada dari masyarakat kita yang bukannya memperbaiki diri, justru malah mencari-cari dan meneror siapa yang melapor. Jika demikian, apa bedanya dengan para SDM rendah itu?
Sebuah negara yang penuh dengan manusia-manusia berkualitas rendah, akan semakin sulit keluar dari sebuah lingkaran setan.
Tentu saja karena masing-masing akan hobi salah-menyalahkan dan enggan memperbaiki diri. Orang-orang yang berpikiran maju dan peduli kepada bangsa dan negara akan terhimpit di tengah lautan masyarakatnya yang kebanyakannya berkualitas rendah.
Kita akan sulit memutus rantai korupsi apabila hampir setiap kalangan ternyata melakukannya. Alah bisa karena terbiasa bukan?
Contoh yang paling mudah, seseorang yang baru bisa mengendarai sepeda motor biasanya akan taat peraturan di awal-awal hingga pelan-pelan mereka mengikuti sang pelanggar yang jumlahnya memang sudah banyak. Yang masih taat pun biasanya akan mendapatkan tekanan sosial dari para pelanggar supaya ikut melanggar.
Bagaimana kita bisa memberantas koruptor jika keadaan masyarakatnya itu sendiri masih banyak yang seperti ini? Memang siapa yang akan menghukum mereka? Pastinya para koruptor itu akan mengangkat penegak hukum dari golongan mereka sendiri juga.
Ingin melawan para koruptor tersebut? Nyawa taruhannya.
Pun sama dengan lingkaran setan di bidang pendidikan, kebudayaan, keagamaan, dan lain sebagainya.
Sebuah negara yang kaya sumber daya alam melimpah pasti akan kalah dengan negara yang memiliki sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Karena tentu saja, sumber daya alam harus dikelola dan perlu SDM yang baik supaya hasilnya dapat bermanfaat.
Banyak yang bilang katanya negara ini tidak kekurangan orang pintar tetapi kekurangan orang jujur. Hanya saja, saya agak kurang setuju dengan pernyataan itu.
Jikalau masyarakat kita benar-benar banyak yang pintar, negara pasti sudah maju. Nyatanya orang-orang pintar yang kita maksud, jumlahnya mungkin tidak sampai satu persen dari total penduduk Indonesia tercinta ini.
Orang yang pintar karena usahanya sendiri dari nol, ia pasti merasakan lelahnya pengorbanan dan akan menjadi manusia yang jujur dengan sendirinya demi menghindari drama.
Kesimpulannya, akui saja bahwa negara kita masih kekurangan orang pintar dan orang jujur. Dengan mengakui kekurangan, kita sudah terbebas dari satu ciri SDM rendah.
Kemudian langkah selanjutnya setelah kita berhasil mengidentifikasi kekurangan itu, yang kita lakukan adalah menambalnya, dan membuat kemajuan sebagai ‘tebusan’.
Pertanyaannya, sanggupkah kita melakukan hal itu? Minimal dari diri kita sendiri saja terlebih dahulu.
Mirisnya yang terjadi justru kebanyakan kita, entah pemerintah atau rakyatnya, masih banyak yang gemar melempar kesalahan dan enggan memperbaiki diri.
Saat kita membahas pemerintah yang gemar mempersulit rakyatnya, coba tanya kepada diri kita sendiri, apa yang telah kita lakukan untuk mempermudah orang lain, minimal mempermudah diri kita sendiri terlebih dahulu.
Jika kita tidak terpikirkan bagaimana cara mempermudah suatu urusan, pemerintah pun sama. Bagaimana pun pemerintah kita dulunya bagian dari lapisan masyarakat kita juga yang tidak terbiasa mempermudah urusan orang lain.