Merawat BumiSebenarnya postingan ini hampir tidak ada kaitannya dengan hari Bumi, namun malam itu saya biasanya melakukan stargazing di rooftop kantor.

Saat saya mencoba melihat sekeliling, saya tiba-tiba terketuk akan suatu hal yang membuat saya bangkit dari kursi rooftop dan mencoba berjalan ke sisi terjauh rooftop. Ettt, bukan untuk bunuh diri lho ya wakakak, namun saya melihat sesuatu yang entah kenapa bagi saya tidak nyaman.

Pemandangan malam gedung-gedung Jakarta memang sudah menjadi makanan sehari-hari saya, namun malam ini… berbeda.

Saya melihat begitu jelas kabut-kabut cahaya dari kejauhan seakan fajar ingin menjelang, dan awan-awan di langit begitu terang di malam itu.

Mungkinkah ini yang dimaksud dengan polusi cahaya? Sebuah polusi yang sangat mudah untuk dilewatkan ini ternyata membabat hampir seluruh pemandangan bintang di langit Jakarta.

Kemudian saya melaporkan kepada teman saya yang juga aktif peduli lingkungkan mengenai polusi cahaya ini, secara mengejutkan ia berkata yang intinya, segala jenis polusi di tempat kita ini memang sudah cukup parah.

Namun nyatanya sedikit sekali orang yang ingin mengerti untuk senantiasa merawat bumi ini.

Dari situlah, saya kemudian tertarik untuk mulai peduli kepada planet yang sedang saya pijak di atasnya ini.

Memang separah apa sih akibat jangka panjang jika bumi sudah rusak akibat ulah manusia? Dan mengapa aksi merawati bumi ini dapat menyelamatkan bumi, atau setidaknya memberikan kenyamanan lebih lama untuk para penduduknya?

Saya rangkumkan lima buah tips singkat merawat bumi, mohon dinikmati. Kebetulan artikel ini ditulis saat hari Bumi, dan diterbitkan di hari kemudian.


Mematikan lampu

Hampir setiap hari bumi, setiap orang disarankan untuk mematikan lampu minimal 15 menit saat malam. Terkadang saya sendiri mempertanyakan, apa hubungannya mematikan lampu dengan menyelamatkan bumi?

Saya kemudian berdiskusi dengan teman saya yang juga punya ketertarikan untuk merawat lingkungan mengenai hal ini, dia menjawab antara iya dan tidak.

Maksudnya, mematikan lampu dapat merawat bumi sebab masih banyak pembangkit listrik yang menggunakan batu bara atau bahan bakar fosil. Pembangkit-pembangkit tersebut menjadi salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia.

Dengan menghemat listrik, yang mana lampu adalah salah satu pionir atau simbol utama dalam penggunaan listrik, setidaknya dapat membantu menghemat penggunaan bahan bakar fosil.

Sebenarnya mematikan lampu hanya menjadi simbol untuk menghemat penggunaan listrik, mendorong kita untuk mematikan barang elektronik lain jika tidak digunakan, termasuk lampu itu sendiri.

Sedangkan mematikan lampu tidak memiliki andil dalam menyelamatkan bumi jika lampu tersebut menggunakan energi terbarukan seperti lewat panel surya.

Namun tetap, penggunaan lampu yang tidak berlebihan saat malam hari dapat membantu mengurangi polusi cahaya seperti yang telah saya sebutkan di paragraf-paragraf awal artikel.

Sebab dahulu, Jabodetabek pernah mengalami blackout atau pemadaman masal, dan coba tebak, banyak orang yang kagum ternyata tampak dengan jelas bintang-bintang yang bertaburan di langit Jakarta, yang selama ini tertutup oleh polusi cahaya dari penerangan jalan yang berlebih, papan iklan elektronik, dan lampu yang menghiasi gedung-gedung bertingkat.


Tidak membuang makanan

Mungkin sedari kecil kita dinasehati agar tidak membuang-buang makanan karena masih banyak orang-orang kelaparan yang membutuhkan asupan pangan.

Namun ternyata, sebenarnya ada efek yang jauh lebih dahsyat dari makanan yang terbuang, yakni memiliki kontribusi sekitar 8-10% dalam perubahan iklim.

Pertanyaan lainnya, mengapa membuang makanan ternyata memiliki pengaruh besar terhadap perubahan iklim?

Makanan yang terbuang akan membusuk dan mengeluarkan gas metana. Gas metana itu akan menguap dan terperangkap dalam atmosfer. Tentu itu dapat memperparah efek rumah kaca, yang mengakibatkan bumi semakin panas.

Jika bumi sudah semakin panas, perubahan iklim terjadi. Akibatnya dapat memicu kekeringan, kebanjiran, badai dan puting beliung, cuaca tidak menentu, tenggelamnya pesisir pantai, hingga gelombang panas.

Membuang-buang makanan ternyata memiliki efek yang jauh lebih parah dari sekedar ‘peduli dengan orang yang kelaparan’ sebab perubahan iklim mengancam kehidupan global, meski efeknya masih jangka panjang.

Pernah saat saya memesan nasi goreng untuk makan malam, saya melihat ada sepasang kekasih yang sedang makan nasi goreng. Namun sayang, baru tiga suap, si perempuan meninggalkan sepiring penuh nasi dengan alasan, “porsinya terlalu banyak.”

Apa kemudian bekas nasi goreng tersebut kemudian disalurkan ke fakir miskin? Tidak. Tentu saja dibuang. Dan proses pembusukan makanan inilah yang dapat memicu perubahan iklim.

Belum lagi proses pembuatan makanan pastinya melibatkan kerja keras dari para petani, pengantar logistik makanan, dan segala macam polusi yang dihasilkan dari seluruh proses pengemasan bahan baku tersebut.

Cukup disesalkan jika semua itu hanya berakhir di tempat sampah.


Menyumbang pohon

Saya pernah menjelaskan secara panjang lebar mengenai pentingnya peran pohon dalam menjaga planet yang sedang kita tempati ini.

Pohon, dari mulai menyaring polusi, menjaga air terjun dan sungai-sungai, menurunkan temperatur, hingga menjadi pemacu turunnya hujan.

Yang menyedihkan, pembukaan lahan justru marak terjadi dan hanya segelintir orang yang peduli tentang masalah ini.

Pernahkah kalian berjalan-jalan atau menggunakan transportasi melewati kebun atau hutan? Pernahkah kalian melihat ada bagian yang gundul, yang masih ada bercak gosong di tanahnya? Yap, kalian baru saja menyaksikan lahan yang baru saja dibuka.

Kebanyakan penebangan pohon untuk membuka lahan dilakukan secara tidak resmi atau bahkan ilegal, membuat lahan hijau di daerah kita menjadi lebih sedikit.

Inilah mengapa kita sebenarnya sudah memiliki kewajiban untuk menanam pohon, meskipun hanya tanaman pot.

Tidak dapat menanam pohon? Tidak masalah. Belilah tanaman dari para penjual tanaman. Tanaman yang terjual akan memotivasi penjual tanaman untuk menanam lebih banyak pohon untuk dijual.

Atau tidak dapat memiliki pohon? Tetap tidak perlu khawatir. Cobalah cari komunitas relawan yang memerlukan sumbangan untuk menanam pohon dan sumbanglah mereka.

Di internet saya yakin banyak, kalian dapat cari lewat Google.

Jika kalian masih khawatir apakah komunitas penanam pohon benar-benar melakukan tugasnya atau tidak, cobalah untuk mencari laporan-laporannya sebagai bentuk keterbukaan atau transparansi. Jika tidak kalian temukan, kalian dapat mencari komunitas relawan lainnya.


Memanajemen sampah

Masalah sampah di negeri ini, terkhusus di ibukota sebenarnya telah menjadi masalah yang sangat serius. Namun, sedikit sekali orang-orang yang ingin sadar akannya.

Sama seperti kasus membuang makanan, sampah organik (atau sampah dari makanan/tumbuh-tumbuhan), akan membusuk dan mengeluarkan gas metana.

Sedangkan sampah non-organik akan masuk ke tempat penampungan sampah dan menjadi sarang penyakit bagi lingkungan sekitar, belum lagi proses pengelolaan sampah memerlukan pembuangan atau emisi yang juga memiliki andil dalam perubahan iklim.

Beberapa negara maju bahkan sudah mengampanyekan program zero waste atau nol sampah. Maksudnya bukan berarti tidak boleh membuang sampah, namun produksi sampah harus lebih dikurangi seminimal-minimalnya.

Contoh, daripada memesan nasi boks setiap hari, alangkah baiknya kita langsung makan di restorannya atau membawa peralatan makan kita sendiri.

Atau jika tantangan di atas dirasa masih berat, mulailah kita membeli barang-barang yang diperlukan saja.

Ingat, konsep minimalis selain dapat meminimalisir produksi sampah, juga dapat membuat rumah atau kamar kita menjadi lebih luas dan nyaman.

Atau bagaimana jika mulai dari sekarang kita membuka beberapa video Youtube untuk mendaur ulang beberapa sampah plastik atau kardus bekas menjadi sesuatu yang unik dan bermanfaat? Seperti pot bunga, tempat alat tulis, atau wadah bumbu dapur.


Edukasi dan penyuluhan

Seperti yang telah dikatakan, perubahan iklim memiliki efek jangka panjang. Mungkin hari ini kita tidak merasakan kecuali sebagian kecil orang yang sudah terkena dampak mengerikannya, namun masa tua kita dan anak cucu kita yang akan mengalaminya nanti.

Tidak menutup kemungkinan perubahan iklim dapat memicu banyak krisis. Seperti krisis pangan dan air, serta krisis udara bersih.

Kita tidak ingin anak dan cucu kita mengalami hal yang mengerikan seperti itu di masa mendatang.

Bahkan, warga negara maju seperti Singapura sudah melawan perubahan iklim dari jauh-jauh hari sebab mereka dan pemerintahannya menyadari negara mereka rawan terkena kenaikan air laut dan tenggelam sebagian.

Saya sendiri, memahami bahwa kendaraan pribadi saya menyumbang polusi udara yang dapat menyebabkan perubahan iklim, namun saya punya komitmen untuk berkontribusi menanam pohon atau menyumbangnya lewat para relawan.

Atau jika di daerah kalian sudah memiliki transportasi umum yang dapat diandalkan, lebih baik gunakan transportasi umum.

Apabila ingin menggunakan kendaraan listrik sebagai komitmen untuk merawat bumi, kalian mungkin tertarik apakah menggunakan kendaraan listrik dapat membantu mencegah perubahan iklim atau tidak dengan membaca artikel saya ini.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas