Birthday Blues

Entah mengapa, sedari saya menginjak usia 20 tahun, saya merasa selalu bersedih saat hari ulang tahun tiba. Ada suatu perasaan tidak nyaman di benak saya setiap mendekati hari ulang tahun saya.

Saya kemudian mencari-cari di internet mengenai fenomena ketidaknyamanan ini dan secara mengejutkan, saya menemukan banyak sekali artikel berbahasa Inggris yang membahas hal ini.

Mereka menyebutnya dengan “Birthday Blues”, atau cukup diterjemahkan dengan kesedihan akan hari ulang tahun.

Orang yang mengalami hal ini pun cukup banyak di seluruh dunia dan sebenarnya ini bukanlah benar-benar suatu sindrom, apalagi gangguan mental.

Secara mengejutkan, kejadian seperti ini justru kebanyakan adalah kejadian normal. Jadi jika kalian juga merasakan hal ini, jangan khawatir.

Memang apa saja penyebab birthday blues tersebut? Saya coba akan jabarkan semampu saya dan saya berikan tanggapannya.


Introvert

Introvert menjadi salah satu alasan yang paling jelas dan kentara, sehingga mungkin sebagian besar orang sudah dapat langsung menebaknya.

Salah satu alasan introvert menghindari ulang tahun adalah karena mereka tidak menyukai perayaan. Bagi para introvert, hari ulang tahun adalah hari di mana mereka seharusnya memiliki waktu yang berkualitas dengan ruang personal mereka.

Tetapi sayangnya, negara Indonesia ini adalah negara ekstrovert, negara di mana kebanyakan masyarakatnya memiliki prinsip “Gak berisik gak rame”.

Tentu hal tersebut menjadi sebuah ‘neraka’ sosial bagi para introvert.

Cara mengatasi:

Tidak masalah jika para introvert mengambil cuti pada hari ulang tahunnya, kemudian berpetualang sendirian atau hanya menyendiri di rumah menikmati ruang personalnya.

Adakalanya baik jika introvert memiliki lingkaran yang sebagian besar juga introvert atau setidaknya mengerti bagaimana perilaku introvert.

Jika memang diundang oleh rekan sekerja untuk makan-makan, mengapa tidak?


Perfeksionis

Tidak boleh ada yang memungkiri jika di dunia ini begitu banyak orang-orang yang segala sesuatunya ingin terlihat sempurna. Orang-orang tersebut dapat disebut dengan perfeksionis atau bahkan OCD (Obsessive-Compulsive Disorder).

Para perfeksionis selalu ingin milestone atau hari-hari yang menjadi tonggak sejarah dalam hidupnya selalu memiliki kesan yang dahsyat.

Maka dari itu, para perfeksionis akan mencoba merencanakan perayaan ulang tahunnya dari jauh-jauh hari, ingin ulang tahunnya menjadi momentum yang sangat spesial.

Akibatnya, para perfeksionis akan merasa tidak nyaman, kejang-kejang, hingga menderita depresi sebab khawatir pestanya tidak akan sesuai dengan harapannya.

Karena perfeksionis tahu, rencana yang sedikit meleset akan selalu menghantuinya setelah itu.

Cara mengatasi:

Perfeksionis itu normal, namun takarannya saja yang harus dikurangi. Setiap orang ingin hasil terbaik, tetapi sayangnya tidak semuanya memahami ilmunya.

Lagipula, jika seorang perfeksionis ingin menyerang rasa perfeksionisnya, mengapa ia tidak hentikan perayaan ulang tahunnya saja?

Alangkah baiknya jika para perfeksionis tersebut mengganti kegiatan merayakan ulang tahun mereka dengan kegiatan lain yang jauh lebih bermanfaat seperti menambah ilmu-ilmu baru yang dapat menggerus dosis perfeksionis mereka.


Ketuaan

Menjadi lebih tua adalah hal yang mengerikan bagi sebagian orang.

Bagaimana tidak? Tubuh semakin lemah, kualitas paras semakin berkurang, kulit semakin mengkerut, dan mungkin lingkaran akan semakin mengerucut.

Para remaja biasanya yang paling sering mengalami ketakutan untuk menjadi tua. Mereka tidak ingin masa-masa muda mereka yang menyenangkan harus berakhir di saat mereka belum siap.

Apalagi jika menyentuh usia kepala, entah kepala tiga, kepala empat, kepala lima, dan seterusnya, itu hanya membuat rasa takut akan usia senja semakin menjadi.

Cara mengatasi:

Saya mungkin saja berkata bahwa kita harus lebih sering mendalami ilmu agama untuk mengatasi rasa takut akan hari tua ini, dan kalian pastinya sudah tahu itu, setidaknya sebagian besar.

Meskipun mendalami ilmu agama itu adalah cara yang sangat benar, namun saya tidak memberikan tanda titik di sana.

Tambahan dari saya, agar kita lebih sering bergaul dengan orang-orang yang lebih dewasa agar pikiran kita juga ikut terbawa dewasa.

Saya memiliki banyak teman yang usianya di atas 30 dan 40, padahal saya sendiri masih berusia di kepala 2. Namun teman-teman saya berhasil meyakinkan saya bahwa kita masih tetap dapat ‘fun‘ meski usia sudah sangat senior.


Melesetnya target

Ternyata inilah alasan mengapa saya begitu membenci hari ulang tahun.

Saya yakin banyak orang yang memasang target usia. Misalnya usia 25 saya ingin begini, usia 27 saya ingin begitu, usia 30 saya ingin blablabla, dan seterusnya.

Kemudian hari ulang tahun datang dan menampar pipi banyak orang, menyadarkan mereka bahwa usianya sudah tidak lagi sesuai dengan rencananya.

Tidak heran, beberapa orang hingga terjangkit depresi dan kesedihan yang mendalam, sulit tidur, menjadi lebih banyak menangis, bahkan di beberapa kasus yang sudah parah, seseorang dapat menyakiti dirinya sendiri sepanjang hari menjelang hari ulang tahunnya.

Cara mengatasi:

Hari ulang tahun sebaiknya memang dipergunakan untuk merenung.

Jika ada orang yang memasang target bahwa ia wajib sukses sebelum usia 30, lebih baik target tersebut dihilangkan sebab sama saja ia berjudi dengan nasib. Saya pun pernah membahas bahwa kita sebaiknya tidak memasang target untuk sukses sebelum usia 30.

Seperti sebuah kata bijak di internet,

Menikah setelah usia 30 masih wajar, mulai berkeluarga setelah usia 35 masih memungkinkan, memiliki rumah setelah usia 40 masih dapat dihitung sebagai langkah yang luar biasa. Jangan sampai orang lain memburu hidupmu dengan cara mereka.

Dan yang paling penting, mengapa tidak mulai mengerjakan hal yang bermanfaat sekecil apa pun daripada kita terus berangan-angan akan hasilnya?

Ambillah pena, tulislah sesuatu yang harus dikerjakan, dan selesaikanlah. Semoga hal itu dapat mengurangi rasa khawatir kita akan target hidup yang harus dicapai.


Trauma masa lalu

Beberapa orang yang traumatik seringkali teringat masa lalu mereka lewat sebuah peristiwa. Dan beberapa orang dapat teringat masa lalunya lewat hari ulang tahun mereka.

Jumlah mereka mungkin tidak terlalu banyak, namun tetap hal ini harus kita jadikan perhatian jika memang suatu saat kita bertemu dengan salah satu dari mereka.

Trauma ini dapat bermacam jenisnya. Mulai dari drama keluarga, tragedi, hingga sesuatu yang sangat tidak menyenangkan untuk diingat kembali. Apalagi jika kejadian menyeramkan tersebut terjadi di hari ulang tahun.

Cara mengatasi:

Seseorang yang telah mengetahui hal ini, haruslah menjadi teman baik bagi orang yang membenci hari ulang tahun karena rasa trauma.

Orang yang trauma dengan hari ulang tahun memerlukan seseorang yang dapat menjadi ‘keluarga baru’ baginya. Karena tantangannya adalah mengubah rasa trauma menjadi sesuatu yang berkesan.

Rasa trauma ini sulit dihilangkan, maka dari itu merupakan perbuatan yang sangat mulia jika ada seseorang yang dapat membantu melepaskan trauma dari orang lain.


Kesimpulan

Birthday blues atau birthday depression sebenarnya juga mengarah kepada masalah sosial dan bukan hanya masalah pribadi.

Artinya, seseorang yang mengalami depresi di hari ulang tahunnya bisa jadi karena pengaruh lingkungan yang merusak kesehatan mentalnya.

Misalnya, seseorang yang membenci hari ulang tahun sebab banyak targetnya yang belum tercapai, bisa jadi itu dilandasi dari konsumsi sosial medianya yang terlalu banyak mengekspos orang-orang sukses di masa muda.

Padahal banyak milyarder yang sukses di usia tua dan itu lebih murni dan kekayaannya lebih bertahan lama.

Ingatlah, usia kita yang kita sekarang jalani hari ini adalah yang terbaik. Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat berimprovisasi atau terus memperbaiki diri setiap harinya.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
🤗 Selesai! 🤗

Nilai Keterbacaan

Polling

Sugesti

Permainan


  • Sebelumnya
    Jejaring Sosial atau Jejaring Ego? 5 Tips Bermedsos

    Berikutnya
    Tips Lebih Bahagia 21: Komplain & Komplimen




  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas

    Terima kasih telah membaca artikel Anandastoon!

    Apakah artikelnya mudah dimengerti?

    Mohon berikan bintang:

    Judul Rate

    Desk Rate

    Terima kasih telah membaca artikel Anandastoon!

    Dan terima kasih juga sudah berkontribusi menilai kemudahan bacaan Anandastoon!

    Ada saran lainnya untuk Anandastoon? Atau ingin request artikel juga boleh.

    Ups, sepertinya fitur ini masih dikembangkan Anandastoon.
    Rajin-rajin cek ya, barangkali sudah selesai suatu saat.

    Rencananya di sini kalian dapat iseng memberi polling seperti di Twitter, Facebook, atau Story Instagram. Pollingnya disediakan oleh Anandastoon.

    Kalian juga dapat melihat dan menikmati hasil polling-polling yang lain. 😊

    Ups, sepertinya fitur ini masih dikembangkan Anandastoon.
    Rajin-rajin cek ya, barangkali sudah selesai suatu saat.

    Rencananya di sini Anandastoon akan menebak apa artikel yang mungkin menarik bagi kalian untuk baca.

    Temanya bermacam-macam, mulai dari humor, opini, horor, dan yang lainnya. 😊

    Ups, sepertinya fitur ini masih dikembangkan Anandastoon.
    Rajin-rajin cek ya, barangkali sudah selesai suatu saat.

    Rencananya di sini kalian dapat main game langsung di artikel yang baru saja kalian baca! Wew!

    Ingin main game Anandastoon yang lain? Kalian dapat klik menu di pojok kiri bawah dan pilih Game Anandastoon. 😊