Anak Kota

Sudah beberapa kali di media sosial saya melihat adanya gesekan antara anak kota dan anak desa. Masing-masing entah membanggakan keunggulan mereka sendiri atau menyindir satu sama lain dengan sindiran yang tidak bermakna.

Jika saya diminta untuk memilih, apakah saya ingin menjadi anak kota atau anak desa, apa jawaban saya?

Well, mengingat saya dilahirkan dan dibesarkan serta memiliki perusahaan di kota, namun di satu sisi saya sering bertualang ke desa-desa, ini adalah suatu pilihan yang cukup sulit, meski sebenarnya ini bukanlah masalah pilihan ingin tinggal di kota atau di desa.


Langsung ke inti

Tidak ada masalah jika ingin hidup menjadi anak kota atau anak desa, masing-masing ada pro dan kontranya, ada kelebihan dan kekurangannya.

Masalahnya, masing-masing selalu membangga-banggakan kelebihannya dan menyindir kekurangan yang lain. Tentu saja ini dapat merusak keharmonisan.

Perdebatan antara anak kota dan anak desa takkan kunjung selesai jika mereka hanya dipenuhi pendapat subjektif.

Sekarang kita coba lihat bagaimana yang satu membutuhkan yang lain. Orang kota membutuhkan orang desa, dan sebaliknya.

Orang kota pergi ke desa karena mereka ingin menyegarkan pikiran dari mumetnya kehidupan di kota. Orang kota dituntut untuk selalu produktif di kantornya dan beberapa bahkan bekerja di bawah tekanan.

Mereka hanya butuh menyegarkan pikiran agar dapat kembali bekerja dengan maksimal. Mereka mengunjungi desa-desa yang indah supaya suasana hati mereka dapat dipulihkan.

Suasana hati itu adalah hal yang sangat mahal, namun banyak orang yang masih menyembaranginya. Terlalu sering stres bukanlah hal yang baik.

Inilah titik di mana orang kota membutuhkan pergi ke desa.

Orang desa, tidak sedikit dari yang kita ketahui, banyak yang merantau ke kota untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik sebab pusatnya perputaran uang terjadi di kota.

Orang desa yang tidak memiliki kesempatan untuk mengabdi hidupnya di desa, seperti meneruskan kegiatan bertani dari orang tuanya atau semacamnya, memilih hidup di kota dengan harapan dapat meningkatkan taraf hidupnya.

Berapa banyak lowongan kerja di kota tersedia, menginginkan orang dari manapun untuk mengisinya, bahkan tidak jarang jumlahnya melebihi penduduk kota itu sendiri.

Di kota pun tersedia fasilitas yang lengkap dan berdekatan. Meskipun kehidupan di kota lebih mahal, namun segala sesuatunya lebih dekat dan lebih banyak pilihan. Meskipun kehidupan di kota lebih sesak, namun transportasi umum lebih mudah dijangkau.

Pada akhirnya, masing-masing menyadari bahwa keduanya memiliki simbiosis mutualisme.


Kembali ke jawaban pribadi

Jadi, kembali ke pertanyaan semula, apakah saya ingin hidup sebagai anak kota atau anak desa?

Jawaban saya, “Terserah. Asal…”

Asal? Serius, saya menyorot kemudahan akses di sini. Entah akses transportasi hingga akses informasi.

Sulitnya akses dari kota ke desa atau sebaliknya tentu saja dapat memperparah kesenjangan sosial antara anak kota dan anak desa.

Banyak orang kota yang sulit sekali berlibur ke desa, jangankan dengan transportasi umum, dengan transportasi pribadi saja masih khawatir dengan bagaimana kualitas jalan ke tempat-tempat indah di desa.

Pada akhirnya orang kota menghibur diri dengan mengungkit kelebihan tinggal di kota dan menyindir kekurangan hidup di desa.

Sebaliknya, banyak orang desa yang melihat kehidupan orang kota seakan-akan banyak yang berkecukupan. Mereka ingin ‘mapan’ seperti orang kota namun mereka kesulitan untuk mendapatkan informasi apa pun tentang bagaimana sejatinya hidup di kota.

Dan seperti yang sudah ditebak, pada akhirnya orang desa menghibur diri dengan mengungkit kelebihan tinggal di desa dan menyindir kekurangan hidup di kota.

Hanya karena kurangnya akses di antaranya.


Adakah gesekan di negara maju?

Apakah negara-negara maju seperti Jepang dan negara-negara di Eropa memiliki gesekan antar orang desa dan kota? Sebelumnya jangan salah, hampir setiap negara memiliki rural area atau countryside atau pedesaan, meski pun negara itu hanya sekecil Singapura.

Namun sekali lagi, adakah kesenjangan sosial antara orang kota dan orang desa di negara-negara maju?

Saya sering buka Quora untuk hal ini dan secara mengejutkan saya belum pernah mendengar hal ini terjadi. Mereka semua sepertinya hidup dengan harmoni antarwilayah.

Yup, alasannya sudah dapat ditebak. Akses yang bagus, memadai, dan dapat diandalkan.

Meskipun saya sempat mendengar sedikit gesekan antara orang kota dengan orang desa di Jepang, seperti orang desa yang malu jika dirinya dianggap sebagai petani, namun mereka sepertinya dapat dengan mudah menguasainya. Contohnya, orang kota mengunjungi orang desa untuk ikut merasakan menjadi petani supaya masing-masing dapat saling menghargai, dan banyak dari mereka yang pergi ke sana dengan transportasi umum.

Simbiosis mutualisme antara orang kota dan orang desa di negara maju benar-benar ditunjang dengan akses yang dapat diandalkan.

Di negara-negara Eropa misalnya, hampir setiap daerah dapat dijangkau dengan kereta atau minimal dengan bus.

Bahkan di Swiss, ada desa yang terletak di balik pegunungan yang sepertinya sulit diakses, namun mereka menemukan solusinya dengan membuat kereta gantung dan kereta miring mengikuti curamnya gunung.

Anak Kota

Atau di Jepang, yang pernah saya lihat di sebuah konten jawaban di Quora, ada orang asing dari Amerika Serikat seingat saya, yang tinggal di daerah pedesaan di Jepang.

Mereka mengaku tidak memerlukan mobil pribadi saat tinggal di sana, sebab di depan rumahnya persis ada halte bus yang jadwal kedatangan bus hampir selalu tepat waktu jadi transportasi umum di sana begitu dapat diandalkan.

Anak Desa

Begitulah negara-negara maju merobohkan dinding kesenjangan antara orang kota dan orang desa. Dengan adanya akses yang bagus dan memadai, masing-masing akan dengan mudah mengunjungi yang lainnya.


Penutup

Di negara berkembang, banyak terjadi pemandangan berupa sebuah batas yang nyata antara orang kota dengan orang desa. Saya tidak tahu, mungkin seperti sebuah dinding pembatas yang kokoh menghalangi akses antara kota dan desa.

Parahnya, masih banyak yang tidak menyadari pentingnya kemudahan akses ini. Masing-masing hanya lebih memilih mengagungkan kaum mereka sendiri.

Berapa kali saya melihat orang kota mengejek orang desa karena mereka tidak dapat mengoperasikan sebuah teknologi.

Dan berapa kali saya melihat orang desa yang mengejek orang kota karena mereka tidak biasa melewati jalanan ekstrem di desa.

Tidak ada satu pun yang terpikirkan untuk membangun hubungan yang lebih baik lagi.

Jangankan terpikir masalah kemudahan akses, jika seseorang di negara berkembang tidak pernah memiliki kesulitan, mereka akan memandang sebelah mata orang lain yang memiliki kesulitan yang tidak pernah mereka miliki.

Memang tidak semuanya, namun perlu diingat, jumlah orang yang seperti itu sangat banyak di negara berkembang.

Karena jika sudah banyak orang yang peduli masalah kemudahan akses, entah akses transportasi dan informasi, negara akan mulai maju dengan sendirinya.

Negara yang aksesnya mumpuni, perputaran uang akan lebih merata yang mana keadilan dan kesejahteraan akan lebih terdistribusi.

Bahkan negara yang aksesnya mumpuni, turis-turis mancanegara akan berdatangan dengan sendirinya, membuat perputaran uang lebih dahsyat lagi dan nama bangsa akan menjadi ikut terbawa harum di kancah internasional.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas