Selera HumorBerawal dari sebuah postingan yang dibagikan dari seseorang di media sosial, sebuah cuplikan mengenai sebuah penelitian yang membuktikan jika selera humor seseorang akan menurun mulai dari saat ia usia 23 tahun. Ini berdasarkan survey Gallup yang melibatkan 1,4 juta partisipan dari 166 negara.

Ditambah lagi, sebuah studi dari Standford Graduate School of Business, penurunan selera humor dialami oleh mereka yang mulai memasuki dunia kerja.

Benar bahwa banyak pekerja yang masih sering tertawa dan menikmati humor, namun intensitasnya hanya lebih menurun sebab mereka sudah menghadapi sebuah tahap yang lebih serius.

Lalu bagaimana pendapat penulis pribadi mengenai peristiwa ini? Apakah penulis juga mengalaminya?

Saya akan membahas ini dengan singkat dan manis.


Saya sendiri sejujurnya mengalami perihal penurunan selera humor. Sebenarnya bukan penurunan tepatnya, melainkan lebih selektif dalam mencerna humor.

Saat saya berusia 20 tahun, saya seakan dapat dengan mudah dengan humor-humor yang paling ‘receh’ sekali pun. Beberapa tahun kemudian saya bahkan sudah tidak dapat lagi dibuat tersenyum dengan humor-humor semacam itu.

Mungkin dapat dikatakan jika selera humor saya sudah berbeda, dan saya tidak mengelak itu. Namun selama saya membangun bisnis bersama tim saya hingga saya memiliki karyawan, saya tetap tertawa dengan mereka.

Yah, meskipun tidak seintens dahulu, intinya saya masih tetap sering tertawa bersama para kolega.

Hanya saja, materi humornya sudah berbeda dari konsumsi lawakan saya beberapa tahun lalu.

Entah kenapa, saya sangat merasa bahwa humor memiliki keterkaitan erat terhadap kedewasaan seseorang.

Yang artinya, tingkat kedewasaan seseorang dapat diukur dari selera humornya.

Misalnya, saya dahulu senang sekali melihat prank yang mengganggu orang lain. Tetapi semakin ke sini, guyonan seperti itu semakin tidak lucu bagi saya, bahkan saya menaruh simpati terhadap orang yang menjadi target pranknya.

Atau beberapa humor politik yang terkesan menjelek-jelekkan seseorang, saya kini menghindari humor tersebut sebab itu hanya menutupi realita bagaimana kehidupan bermasyarakat dan bernegara saat ini.

Begitu juga dengan humor joget, humor modifikasi kendaraan, humor fisik, atau humor-humor receh lainnya, saya sudah tidak pernah lagi tertarik dengan humor semacam itu, setidaknya sebagian besar.

Bahkan saya merasa, lebih dari 80% humor yang beredar di beranda jejaring sosial saya sudah tidak lagi dapat membuat saya tertawa.

Saya menyadari sekarang lingkup humor saya tidak jauh dari humor yang ‘harus berpikir dahulu sebelum dapat dicerna’, humor bahasa, humor yang tidak terduga, humor tentang penggambaran realita yang diwakili oleh sesuatu yang tidak ada hubungannya sama sekali (biasanya dengan kartun seperti Tom & Jerry atau Spongebob Squarepants), dan humor kucing.

Sudah itu saja.

Saya bahkan membuat sendiri meme-meme dari Disney yang berhubungan dengan realita, kemudian saya posting di Tumblr. Contohnya seperti ini:

Selera Humor Selera Humor Selera Humor

Yup, keempat meme di atas (sebenarnya jumlahnya banyak), adalah karya saya sendiri, berasal dari kejadian realita yang dialami oleh banyak orang. Entah kenapa, saat menonton kartun Disney tersebut saya kadangkala terklik untuk memasangkan sebuah cuplikannya dengan realita masa kini.


Kemudian, selera humor saya menjadi agak sempit sebab mungkin saya sudah terlalu banyak mengonsumsi humor dan lama-kelamaan sudah menjadi bosan dengan hal itu.

Situs Anandastoon ini pun memiliki rubrik khusus humor bagi kalian yang ingin menikmati humor-humor yang saya temukan di internet. Jika sebuah humor menurut saya itu cukup ‘lucu’ dan layak dibagikan, maka saya akan sajikan dalam bentuk artikel di kategori humor tersebut.

Namun perlu diketahui, terlalu sering mengonsumsi humor akan membuat ‘stok’ humor yang belum kita konsumsi akan menipis dan kita akan menjadi mudah bosan.

Bahkan, meski humor dapat membangkitkan motivasi kerja, tetapi itu hanya berlaku bagi sebagian orang saja. Sisanya justru dapat menurunkan kinerja lebih parah dari sebelumnya.

Belum lagi, seseorang yang terlalu sering berhumor ria akan menjadi sedikit tidak peka. Berapa banyak saya melihat seseorang dikucilkan kelompoknya karena ia merasa ‘terpaksa’ mencerna humor yang bukan menjadi miliknya.

Dalam kasus yang lebih parah, terlalu banyak mencerna humor secara berlebihan dapat membuat seseorang menjadi lebih sembrono dan menggampangkan banyak hal. Apalagi jika tipikal humor yang disukainya masih ‘receh’, itu tidak menutup kemungkinan orang yang sudah overdosis humor akan menjadi keras hati dan berego tinggi.

Bagi saya yang muslim, mengonsumsi humor secara berlebihan sudah jelas ada peringatannya,

Rasulullah SAW bersabda “jangan kalian terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.”
(HR. Ibnu Majah)


Kembali kepada penelitian di atas yang menyebutkan bahwa selera humor seseorang menurun saat ia sudah memasuki dunia kerja.

Sebenarnya setelah saya pikirkan, setidaknya bagi diri saya sendiri, faktor pekerjaan itu adalah faktor yang lebih khusus dari fenomena menurunnya selera humor pada diri seseorang.

Kita semua sepertinya sudah mengetahui sebuah fakta lumrah yang begitu erat dan bersahabat dengan kita.

Semakin dewasa, seseorang akan semakin banyak bertemu dengan berbagai masalah yang ia harus hadapi sendiri. Inilah mengapa seseorang menjadi lebih ‘jarang’ tertawa.

Mulai dari rentetan biaya yang harus ia lunasi, tugas-tugas yang harus ia selesaikan, masa depan yang harus ia rencanakan, dan lain sebagainya. Selera humor seseorang akan terus turun hingga setidaknya ia pensiun dan kembali beristirahat.

Justru humor ini lebih baik ‘disalurkan’ untuk mereka-mereka yang sedang bersedih, dengan harapan mengangkat sedikit dari masalah mereka.

Tetapi perlu diperhatikan juga, mereka mungkin lebih memilih humor yang matang, bukan humor receh yang sama sekali tidak membantu mereka.

Cobalah agar memberinya humor-humor seputar realita, yang barangkali dapat memotivasi mereka bahwa ternyata banyak orang yang mendapat masalah serupa.

Jadi masalah selera humor yang menurun, sebenarnya bukan kualitas humornya yang menurun, melainkan frekuensi tertawanya yang semakin jarang.

Bagaimana dengan selera humor kalian?

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas