Kata Mutiara

Sumber: Unsplash

Setiap orang senang dengan untaian kata bijak yang kita sebut juga dengan kata mutiara.

Hanya saja, tidak semua kata mutiara berasal dari orang yang bijak dan layak kita konsumsi.

Sebagian “kata mutiara” yang saya temui di media sosial justru berasal dari pembenaran, bias, hingga manipulasi oleh si pembuat.

Sayangnya, banyak orang yang tidak memahami batas moral untuk membedakan mana kata mutiara yang bijak dan mana kata mutiara yang hanya menyenangkan ego mereka saja.

Selama kata mutiara tersebut dibalut dengan desain template yang berwarna lembut dan font yang estetik, tidak sedikit orang awam yang menerimanya dengan mentah-mentah.

Belum lama ini, saya menemukan sebuah kalimat bijak seperti ini pada sebuah postingan di media sosial:

Kecerdasan emosional paling tinggi itu pas kamu gak emosi lagi sama kelakuan toxic seseorang. Kamu malah kasihan, karena bayangin seumur hidup dia harus tinggal di dalam kepala dan sifatnya yang sekacau itu.

Postingan tersebut mendapatkan ribuan likes dan share. Banyak juga yang berkomentar tentang pentingnya memaafkan supaya menurunkan risiko autoimun.

Sekilas kata mutiara itu memang terdengar sangat bijak dan membawa kedamaian.

Tetapi kalau kita telusuri lebih dalam, terdapat sebuah dampak negatif yang sangat fatal jika kita telan mentah-mentah begitu saja kalimat bijak itu.

Sebagai seorang neurodivergent dengan fitur hyper-empathy-nya, saya mencoba membedah akibat ekstrem yang tersembunyi dari kalimat bijak di atas.


Keberpihakan utama

Jikalau kita perhatikan, kalimat di atas seolah mengajarkan kita untuk menerima kenyataan dari perbuatan toksik orang lain supaya kita tidak terbelenggu dengan dendam.

Maksudnya, itu bagus. Siapa di sini yang tidak ingin hidupnya plong dan penuh kedamaian?

Namun jika kita cerna kembali, ada tulisan yang kacau lagi berbahaya di kata mutiara tersebut.

Mengasihani dan menoleransi biang onar sama saja dengan meromantisasinya, yang mana membiarkan perilaku toksik berkembang biak sebebas-bebasnya.

Potongan kalimat “Kamu malah kasihan, karena bayangin seumur hidup dia harus tinggal di dalam kepala dan sifatnya yang sekacau itu.” wajib kita pertanyakan.

  1. Ketika masyarakat terlalu cepat memaafkan atau mengasihani tanpa ada konsekuensi tegas, orang toksik justru merasa mendapat lampu hijau untuk terus kurang ajar.
  2. Kasihan yang salah tempat hanya akan melanggengkan ketidakadilan. Marah adalah respons yang sehat ketika batas diri kita atau hukum sosial dilanggar.

Jadi jangan heran jika orang baik semakin terasa kalah jumlah, tentu saja karena orang toksik itu justru mendapatkan panggung dari rasa kasihan orang di sekelilingnya.

Kalau ada pertanyaan, “Mengapa orang baik selalu kalah?” Kini terjawab sudah.


Bicara masalah EQ

Tadi kata mutiara di atas menyinggung tentang kecerdasan emosional atau EQ.

Bahkan, itu juga mengklaim lebih dahsyat lagi tentang ciri-ciri “kecerdasan emosional tertinggi” tanpa adanya rujukan atau persetujuan dari para ahli emosional yang benar-benar valid.

Lucu, karena orang yang tidak memiliki kecerdasan emosional yang baik, saat berbicara tentang kecerdasan emosional, maka akan terjadi standar ganda bahkan kontradiksi hebat.

  1. Di satu sisi (soal orang toksik): Seseorang berceramah soal kedamaian, EQ tinggi, dan rasa kasihan. Ini sering kali jadi bentuk pencitraan di media sosial agar terlihat bijaksana, menjaring ribuan engagement seperti likes, share, dst.
  2. Di sisi lain (soal pemerintah): Dia sendiri meluapkan kemarahan setiap saat. Ini bukti nyata bahwa dia sendiri belum mencapai tingkat EQ tertinggi yang dia tulis. Dia masih dikendalikan oleh kemarahan terhadap sistem atau figur yang menurutnya tidak adil.

Maksud saya, jika memang kita menginginkan kedamaian yang hakiki meski kita paham di dunia ini orang toksik pastinya selalu ada, kenapa kita tidak benar-benar mencarinya lewat orang-orang yang memang bijaksana?


Rasa kasihan yang sehat

Perlu kita ketahui, banyak dari kita yang merasa kalau saat kita kasihan kepada orang lain, itu membuat kita tenang karena kita masih punya rasa empati.

Padahal rasa kasihan itu masih tahap “mentah” yang bisa menjadi pisau bermata dua.

Kasihan muncul sebagai sinyal alami saat melihat orang atau makhluk lain menderita. Tetapi itu belum sampai kepada tahap melihat siapa yang menderita.

Nyatanya, di media sosial sangat banyak sekali saya saksikan orang yang menyesal telah berbuat baik kepada orang yang hobi playing victim hanya untuk menjaring rasa kasihan orang lain.

Inilah yang kita sebut dengan naif atau polos, pernah saya bahas juga di artikel saya yang lain.

Mengasihani perilaku orang toksik sama saja kita membiarkan banyak korban berjatuhan akibat perbuatan toksik mereka itu.

Lantas, memang apa yang kita dapat dari rasa kasihan kita itu? Alih-alih kedamaian, justru porsi rasa tenang dan damai kita menjadi jauh lebih sempit karena suburnya orang-orang salah yang kita kasihani.

Tahun 2022, saya pernah mendengar percakapan dari dua orang:

A: “Gue ogah lewat situ, banyak premannya!”

B: “Kalo lu liat baek-baek, sebenernya preman itu kehidupannya kesian tau.”

A: “Lah, gue mah lebih kasihan sama korban-korban yang udah digangguin itu preman!”

Mendengarkan percakapan itu membuat saya tersenyum dan berbahagia karena si A masih memiliki kompas moral yang baik. Daripada kasihan dengan biang onar, si A lebih memilih kasihan dengan para korban dari perilaku si A.

Dalam kata lain, si A memiliki kecerdasan emosional yang jauh lebih tinggi daripada si B.


Sisi gelap rasa kasihan

Kalau kita pernah menonton film superhero besutan Hollywood, misalnya Spider Man yang versi pertama, ada hal menarik yang kita bisa saksikan di sini.

Tokoh utamanya, Peter Parker yang pada saat itu diperankan oleh Tobey Maguire, memiliki kehidupan yang tidak menyenangkan.

Tetapi pahitnya kehidupan itu tidak membuat Peter Parker menjadi villain (orang jahat) melainkan menjadi super hero.

Beberapa orang yang memiliki masa lalu yang kelam dan trauma yang mendalam ternyata tidak menjadikan mereka toksik, justru menjadikan mereka orang yang lebih baik.

Sayangnya, karena orang miskin atau orang yang memiliki trauma kelam itu tetap memilih untuk menjadi orang baik dengan fokus kepada manfaat kerja, mereka jarang dikasihani oleh masyarakat karena nilai dramanya tidak ada.

Media sosial dirancang untuk memancing reaksi emosional masyarakat supaya mereka tetap lengket dengan layar. Jadilah algoritma lebih memilah postingan yang sarat drama dan penuh emosional karena itu menguntungkan pengusaha media sosial tersebut.

Semakin banyak masyarakat yang terpaku dengan media sosial, semakin besar pula pendapatan iklannya. Pengusaha media sosial tidak begitu peduli apakah kontennya sehat atau tidak.

Apalagi jika sebuah postingan drama yang memancing rasa kasihan tersebut dibumbui dengan nilai agama seperti konten bersyukur.

Di negara yang masyarakatnya mudah terjaring rasa kasihan, konten tersebut merupakan santapan gurih bagi algoritma media sosial.


Bicara autoimun

Di awal tadi, mulai banyak orang yang khawatir tentang autoimun dan mengampanyekan bahwa stres bisa memperparah autoimun.

Saya tidak tahu sejak kapan tren autoimun itu mulai dibahas masif, namun jika dikampanyekan orang yang kurang tepat, bukannya menjadi edukasi positif, justru bisa membuat segala sesuatunya menjadi lebih buruk.

Orang bisa rawan terkena stres yang lebih membahayakan saat emosi mereka dipaksa hilang dan tidak jujur kepada diri mereka sendiri.

Banyak orang yang salah mengartikan urusan yang belum selesai sebagai dendam yang tercela.

Pada akhirnya, orang awam banyak yang terpaksa harus menjadi baik dengan menolak rasa “dendam” itu walau mereka tahu mereka masih belum bisa melepas rasa trauma mereka tersebut.

Akibatnya tentu bisa menjadi tabungan emosional yang suatu saat bisa meledak setiap kali kita dipaksa untuk pasrah dan menerima perilaku kurang ajar orang lain. Belum lagi karena terus-menerus dikasihani, kita akan menjadi lebih sering bertemu dengan mereka.

Padahal, rasa dendam ini bisa kita olah menjadi sehat dengan mengubahnya menjadi rasa waspada terhadap perilaku sosial di sekeliling kita.


Penutup

Terkadang kita merasa kasihan dan menoleransi perilaku buruk dari orang lain hanya karena kondisi mereka dirasa kurang beruntung oleh kita.

Kita mungkin lupa, justru seseorang bisa menjadi kurang beruntung karena sifat buruknya itu sehingga tidak ada orang baik yang ingin menerima kehadirannya.

Saya sendiri sebagai CTO atau direktur IT di perusahaan, mencoba lebih peka dengan bibit toksik dari orang sekitar di kantor. Pelakunya tidak ada yang saya tolerir, apalagi saya kasihani.

Saya justru lebih kasihan kepada tim saya apabila mereka terpapar perbuatan toksik itu sehingga membuat mereka tidak produktif dan tertunduk lesu sepanjang hari.

Nyatanya, banyak orang yang terlalu sering mengasihani orang yang salah, mereka menjadi toksik dengan sendirinya di lingkungannya.

Rasa kasihan itu menguras energi mereka, dan mereka tidak lagi peka dengan usaha keras dan gigih dari rekan kerjanya hanya karena rekannya itu tidak berjuang di jalanan yang penuh keringat dan diterpa terik matahari.

Padahal, kerja keras timnya itulah yang memperjuangkan perusahaan supaya tetap berdiri. Sekarang orang-orang yang gemar mengobral rasa kasihan itu manfaat atau prestasinya apa?

Kita sering mengeluhkan pemerintah yang minim kerja dan hobi mempersulit rakyatnya. Namun di satu sisi kita juga tidak berpihak dengan mereka yang mencoba menebar manfaat dan berusaha mempermudah orang lain hanya karena nilai dramanya tidak ada.

Jumlah orang yang gigih itu tidak banyak, dan mereka juga mendapatkan dua buah penderitaan ekstra:

  1. Menderita karena usaha kerasnya minim mendapatkan apresiasi karena masyarakat lebih memilih drama.
  2. Menderita karena mentalnya terganggu dengan perbuatan orang-orang yang semakin kurang ajar karena para pelanggar dan biang onar merasa dikasihani dan mendapatkan panggung oleh masyarakat.

Mengerikannya, para biang onar yang sering kita kasihani kebanyakan tidak peduli dengan kita bahkan menjadi lumbung suara segar bagi pemerintahan korup karena tentu saja mereka mudah dimanipulasi.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke X
🤗 Selesai! 🤗
Punya uneg-uneg atau saran artikel untuk Anandastoon?
Yuk isi formulir berikut. Gak sampe 5 menit kok ~

  • Anandastoon punya rubrik baru spesial untuk para neurodivergent, termasuk ADHD dan autisme, khusus untuk yang telah dewasa berusia 30 tahun lebih.
    Sila klik di sini untuk meluncur ~

    0 Jejak Manis Ditinggalkan

    Minta Komentarnya Dong...

    Anggap rumah sendiri, utarakan uneg-uneg kalian.
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. 😉

    Kembali
    Ke Atas