Pengalaman Teman Travel #1: Singapura, Menjelajah Akhlak

Oleh: Vika

     Singapura

Mungkin untuk sebagian traveller pemula seperti saya, Singapura adalah salah satu negara yang bisa dijadikan referensi awal untuk menjelajahi bumi Allah yang terbentang luas.

Sejujurnya, sebelum berangkat saya sendiri bertanya kenapa harus Singapura? Padahal ada negara lain yang lebih oke dan Indonesia sendiri pun masih banyak destinasi yang gak kalah dengan negara-negara lain.

Jawaban pertama yang saya punya adalah karena saya punya teman yang sudah sering bolak-balik Singapura, itu akan memperkecil resiko di negara lain dan saya punya mimpi menjelajahi berbagai negara untuk mempelajari dari segi budaya dan habits nya. Dan saya mulai perjalanan pertama saya di salah satu negara maju di Asia Tenggara.😊


– Imigrasi –

Hari pertama saat saya datang ke Changi Airport, saya dibuat kagum dengan pelayanan di bandara Changi itu sendiri. Kebetulan, teman saya memakai fasilitas bagasi dari maskapai yang saya tumpangi. Antara penumpang dan koper yang ada di bagasi pesawat itu tidak perlu menunggu waktu yang lama.

Hanya sekitar 10 menit koper sudah ada di tangan dan kita bisa melanjutkan untuk proses pengecekkan paspor. Saat mengantri untuk pemeriksaan saya merasa agak sedikit takut karena banyak berita berseliweran tentang random checking. Kita mengantri dan saya pribadi merasa auto-disiplin karena mereka itu sangat-sangat disiplin tanpa banyak kata, saat saya melihat ke sekitar itu akan otomatis membuat kita kebawa untuk disiplin. Sampai saya lihat kanan-kiri saya tidak ada yang berdiri di garis batas untuk pemeriksaan paspor, semuanya berdiri sedikit dibelakang garis tersebut.

Untuk pemeriksaan di Imigrasi memang sedikit menegangkan, karena banyak juga berita kalo bakal ditanya macam-macam. mungkin saya salah satu yang beruntung. saat saya dapat giliran untuk cek paspor petugasnya hanya diam dengan memberikan isyarat cek sidik jari namun disamping saya ditanya-tanya sepertinya sangat detail, sebenarnya isu petugas jutek itu tidak sepenuhnya benar, mereka hanya tegas dengan aturan dan kita mungkin tidak terbiasa dengan aturan-aturan tersebut.

Singapura

Setelah lolos dari Imigrasi, saya dan teman-teman mencari tempat untuk istirahat. Disana saya agak kikuk karena bingung mau tidur dimana, akhirnya saya memutuskan untuk tidur di kursi-kursi tunggu. Karena gak bisa pules sesekali saya buka mata, dan saya baru tau ternyata ada beberapa tentara muda (semacem pemuda yang lagi wamil) berkeliling untuk memastikan keamanan bandara.

Oh iya, para pekerja di sana yang saya lihat beberapa sudah terlihat paruh baya (Sekitar usia 50-60th) bahkan dari segi fisik mungkin ada yang hampir usia 70tahun, namun masih sigap berdiri berjam-jam. Dan ini yang membuat saya takjub kedua kalinya, usia boleh senja tapi semangat dan pelayanannya masih excellent banget.


– Masih Seputar Bandara –

Ada kejadian unik yang saya dan teman saya rasakan saat di Changi Airport, teman saya lapar dan berniat untuk menyeduh mie instan, dan dari kejauhan ada yang memperhatikan gerak gerik kami, namun hanya teman saya yang sadar. Ketika teman saya beranjak untuk mengambil air panas pun tetap diperhatikan.

Teman saya baru bilang saat sudah sangat risih karena terus diperhatikan. Nah saya bingung kenapa kita diperhatikan segitunya, ternyata eh ternyata setelah teman saya berniat untuk membuang sampah dan mendekati tempat sampah security itu mengangkat jempolnya dan mengisyaratkan kepada kami, Nahhh gitu dong… buang sampah ditempatnya.

Jadi security ini bukan memperhatikan kami, melainkan memperhatikan bawaan atau sampah yang sedang ada di tangan kita. Oh My Allah… itu bener-bener buat saya ngerasa malu ih, andai orang kita sangat respect dengan hal-hal kecil, pasti sudah sangat maju negara ini.

Sewaktu saya ingin shalat shubuh pun kami memberitahu petugas dan coba tebak, kami benar-benar diantar ke lokasi mushalla… errr, sebenarnya bukan mushalla, hanya sebuah tempat di bawah eskalator di mana di sanalah kami menunaikan shalat shubuh. Namun, pelayanan dari petugas yang bersedia mengantarkan kami hingga sampai di lokasi yang tersedia/aman untuk kami shalat benar-benar layak diapresiasi.


– Menuju Hostel –

Setelah pagi tiba saya bergegas ke hostel tempat saya menginap, karena check in jam 2 siang saya sampai hostel jam 10 pagi akhirnya saya dan teman-teman menitipkan barang-barang yang kami bawa ke resepsionis, agak khawatir juga naro di tempat umum dan kami gak tau bagaimana pelayanan di hostel tersebut.

Ternyata semua kekhawatiran itu terbantahkan, barang-barang terjaga dengan aman. Oh ya di hostel tersebut ada beberapa loker, saya pribadi sempat di tegur karena saya menyusun sepatu tidak di tempatnya (ada loker khusus sepatu) karena saya melihat banyak sepatu juga yang tergeletak disana, namun petugas tersebut mengingatkan dengan cara yang baik kalau setiap tamu disediakan tempat untuk sepatu mereka, jadi simpan sepatu di tempatnya ya… Jlebbb ahh malu sih, tapi gapapa itu kan pembelajaran.

Sepanjang jalan saya tidak melihat ada sampah yang tergeletak, sangat jarang melihat petugas kebersihan selain tempat-tempat umum seperti bandara, bahkan di stasiun MRT pun tidak ada. Ini yang saya yakini bahwa kebiasaan masyarakat disana membuang sampah di tempatnya.Singapura

Omong-omong mengenai kebiasaan masyarakat di sana, saya juga sangat apresiasi. Sebagian besar masyarakat disana menggunakan transportasi umum, seperti MRT dan bus, tidak diragukan lagi bagaimana fasilitasnya. Di setiap stasiun MRT perilaku masyarakat Singapura sangat disiplin.

Lihatlah bagaimana cara mereka mengantri di depan peron, mendahulukan yang keluar dan yang terpenting memperlakukan orang lain saat di eskalator, ini keunggulan negara-negara maju yang sempat saya pikir, dalam hal kecil saja mereka sudah disiplin, kiri untuk yang berdiam diri dan yang kanan untuk yang langsung berjalan.


– Hari Kedua –

Hari kedua saya mencari makanan halal  dan itu agak jauh dari tempat saya menginap, kami berjalan kaki karena dari tempat menginap ke MRT memang cukup dekat. Di sana kami selalu jalan kaki dan naik MRT. Hak pejalan kaki sangat-sangat di perhatikan, trotoarnya pun lebar-lebar, jadi tak perlu khawatir bakal diserobot ama kendaraan pribadi.

Singapura

Saat ingin menyebrang ada rambu lalu lintas, ada kejadian memalukan kedua setelah di hostel, sistem rambu lalu lintas mereka sangat tertib. Saya dan teman-teman gak tau kalo ternyata harus di tekan tombol yang ada di tiang rambu lalu lintasnya, hampir 5 menit kita berdiri dan saling ngomong “ko ini ga berenti-berenti sih”.

Tadinya mau nekat nyebrang tapi mobil kebanyakan dengan kecepatan tinggi, sampai pada saat dimana orang yang tinggal disana “Tap” menekan tombol tersebut ga lama langsung warna kuning. Kompak kita ketawa karena malu. Sepanjang jalan kita bahas masalah tombol itu aja “Habit kita di Indo mah ya otomatis kan ya” Maunya instan aja kita… hehe.


– Hari Ketiga –

Singapura

Di hari ketiga kami mencari makan di bugis st. dan kita menemukan kejadian yang menurut saya di Indo sangat-sangat jarang di temukan. Ketika membeli makan untuk persiapan makan malam kami mampir ke restoran cepat saji, saya menunggu di luar karena tempatnya tidak terlalu besar. Dari luar saya melihat ada seorang kakek-kakek yang sedang membersihkan meja makan yang baru saja selesai dipakai.

Singapura

Yap… kakek-kakek, lagi-lagi diperlihatkan bagaimana semangatnya orang-orang Singapura yang di usia senjanya mereka masih produktif. Terlebih lagi keadaan kakek tersebut maaf bisa dikatakan tidak sempurna, salah satu kakinya sepertinya lebih pendek yang secara kasat mata membuat jalannya agak tidak seimbang.

Allah menegur saya dengan cara memperlihatkan bagaimana orang lain berjuang dan memiliki semangat yang jauh di atas saya, dan itu membuat saya merasa inilah fungsinya traveling bukan hanya untuk mengembalikan semangat, namun bisa juga menjadikan diri kita bercermin dengan keadaan dan kebaikan yang ada di negara lain.

Sayangnya saya hanya 3 malam di Singapura, sejujurnya saya betah. Kalo saja tinggal di sana gretongan, pasti saya milih untuk belajar di kelas kehidupan 1 bulan disana 😊. Ini bukan akhir dari kisah perjalanan saya, masih banyak yang belum dituangkan dalam tulisan. Semoga tahun depan bisa menulis kembali di Negara lain yang menakjubkan dengan habit dan budayanya…


  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


    Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon

  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Kembali
    Ke Atas
    Mode Gelap