
Belum lama ini saya memang tertarik dengan topik pergerakan lempeng bumi dan proses terbentuknya pegunungan. Saya bahkan pernah membuat artikel khususnya di sini.
Intinya, setiap pegunungan atau dataran tinggi adalah hasil dari pergerakan lempeng-lempeng bumi itu sendiri. Gunung tidak serta-merta tinggi dari awal, melainkan tumbuh secara perlahan lewat proses selama jutaan tahun.
Salah satu proses pembentukan gunung adalah lewat gempa bumi, akibat tabrakan dua lempeng yang bergerak, mengangkat sebagian daratan layaknya karpet yang didorong naik.
Artinya, di mana ada gunung atau pegunungan, di sana ada sumber gempa.
Kemudian di sini hal yang menariknya.
Ada ayat al-Qur’an, yang mana mungkin kita sudah ketahui dan yakini, yang secara terang-terangan menegaskan bahwa gunung berfungsi sebagai pasak bumi.
Pasak itu sendiri berarti paku, patok, atau apa pun yang menancap demi memperkuat sebuah struktur.
Bayangkan sebuah tenda yang kokoh karena tali-talinya ditopang oleh patok. Atau bayangkan dua buah kayu yang menempel karena direkatkan oleh paku.
Seperti itulah pasak yang ada di benak kita, dan kebetulan ada beberapa ayat al-Qur’an yang memang menyebutkan bahwa gunung berfungsi sebagai pasak bumi.
Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.
An-Nahl: 15
Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?
Dan gunung-gunung sebagai pasak?
An-Naba: 6-7
Dari sini kita mendapatkan sebuah kerancuan:
Bagaimana mungkin gunung menjadi penahan goncangan bumi sedangkan gunung itu sendiri lahir dari gempa bumi?
Artinya, orang yang tinggal di area pegunungan lebih rentan mengalami gempa bumi daripada yang tinggal di tanah datar.
Lalu apa maksud Allah Ta’ala ketika menyebutkan bahwa gunung berfungsi sebagai pasak bumi untuk menahan gempa sedangkan sumber gempa bumi itu sendiri berada di daerah pegunungan?
Pastinya Allah tidak pernah salah dan Maha Mengetahui ciptaanNya sendiri, terkhusus planet Bumi tercinta ini yang ukurannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ciptaanNya yang lain yang lebih besar.
Maka dari itu, hal ini layak kita diskusikan.
Perlu kita ketahui, terkhusus para muslimnya itu sendiri, supaya tidak menganggap al-Qur’an adalah kitab sains.
Al-Qur’an adalah kitab suci sebagai pedoman manusia dan turun sesuai konteks Rasulullah saw yang hidup pada saat itu.
Jadi kita perlu tafsir agar tidak menerjemahkan kata per kata di al-Qur’an secara mentah.
Misalnya, saat al-Qur’an membahas tentang anak yatim, perlu kita ketahui pada masa itu anak yatim kebanyakan dari kalangan konglomerat, jadi jangan bayangkan anak yatim hidup di panti asuhan seperti pada masa kita sekarang.
Itu yang pertama. Kemudian yang kedua, al-Qur’an memiliki mukjizat bahasa yang mana perlu orang ahli (mufassir)Β untuk merangkainya kembali agar kita dapat memahaminya lebih mudah.
Seperti “siang dan malam yang saling kejar-kejaran”, atau “hingga unta masuk ke dalam lubang jarum” atau “Bumi diciptakan dalam enam hari”, dan sebagainya.
Maka dari itu, ketika ada ayat al-Qur’an yang menyinggung masalah urusan dunia seperti sains, sebaiknya kita juga melibatkan ahli di bidang terkait untuk membantu mengulurkan maknanya.
Dan yang terakhir, ayat-ayat al-Qur’an memiliki keterkaitan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya.
Bahkan beberapa ayat ada yang menghapus ayat yang lainnya (mansukh).
Lalu untuk ayat yang berbicara tentang gunung sebagai pasak bumi ini, apakah ada ayat lainnya yang berbicara masalah serupa, yang juga mungkin memiliki keterkaitan?
Ada ayat yang lain, berbicara masalah serupa:
Engkau akan melihat gunung-gunung yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan. (Demikianlah) penciptaan Allah menjadikan segala sesuatu dengan sempurna. Sesungguhnya Dia Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
An-Naml: 88
Artinya, seluruh gunung di muka Bumi juga bergerak mengikuti lempengan tektonik dan tidak diam di tempat selayaknya pasak yang diam di atas patokannya.
Tentu saja bahasannya jadi semakin menarik sebab ternyata ada dua ayat yang justru terlihat bertentangan.
Seolah jadi serba salah, gunung itu sebenarnya pasak bumi atau bukan?
Kalau bukan, berarti ayatnya tidak tepat saat menetapkan bahwa gunung adalah pasak bumi?
Tetapi kalau iya, lantas kenapa pasak atau paku kok ikut bergerak bersama lempeng bumi dan tidak kokoh menempel?
Masalahnya, seluruh ayat al-Qur’an turun kepada setiap manusia, terkhusus muslim, baik mereka ahli geologi atau pun tidak.
Maka dari itu saat ada ayat yang bersifat saintifik seperti ini, sebagian orang jadi mencoba menafsirkannya sendiri-sendiri.
Saya sendiri pun termasuk yang awalnya kebingungan dengan ayat tentang gunung sebagai pasak bumi setelah saya menulis artikel sebelumnya bahwa gunung adalah hasil dari gempa buminya itu sendiri.
Saya mencari sumber di internet yang tidak berhubungan dengan al-Qur’an. Hasilnya, tidak ada sumber yang menyebutkan bahwa gunung adalah pasak untuk membuat planet Bumi lebih stabil dari gempa.
Alih-alih fakta yang saya temui membuat saya mempertanyakan kebenaran ayat al-Qur’an tersebut, saya justru menemukan sebuah hikmah.
Hikmahnya adalah, ayat-ayat sains seperti ini seharusnya membuat para muslim menjadi semakin kritis dalam menggunakan akal mereka.
Muslim dihadapkan oleh sebuah tantangan, mencari bukti ilmiah tanpa mengorbankan kebenaran al-Qur’an itu sendiri. Bagaimana caranya menemukan penafsiran dari ayat-ayat yang seolah bertentangan, padahal sebenarnya tidak.
Manusia telah Allah berikan fitur untuk berpikir secara lateral supaya dapat memecahkan masalah-masalah rumit dan memberikan manfaat kepada sesama makhlukNya.
Saat seseorang terlatih berpikir secara lateral, ia akan lebih bijak dan tenang dengan sendirinya. Ia menjadi pandai mengelola emosi dan tidak lagi bising di media sosial.
Kembali ke pembahasan gunung sebagai pasak bumi di sini, jadi bagaimana yang benarnya?
Betul bahwa lempeng yang bertabrakan bisa menumbuhkan gunung dan pada saat yang bersamaan juga bisa menghujam ke dalam bumi.
Kita mungkin pernah mendengar istilah “sesar naik” dan “sesar turun” saat terjadi gempa. Itu maksudnya saat ada dua lempeng bertabrakan, ada lempeng yang naik dan ada pula lempeng yang turun.
Mudahnya, jika saya boleh mengambil contoh yang kurang menyenangkan, coba kita bayangkan sebuah peristiwa tabrakan antar dua mobil.
Mungkin kita pernah menyaksikan dari tabrakan antar dua mobil tersebut ada mobil yang menaiki mobil yang satunya. Seperti saya lampirkan gambar di bawah ini:

Sumber: Internet
Nah, mobil yang terdorong naik itulah sesar naik, sedangkan di bawahnya adalah sesar turun.
Gempa bumi dihasilkan dari tubrukan antar sesar atau lempeng, dan pegunungan bisa tumbuh bersamaan dengan itu.
Bagian sesar yang turun inilah yang kita sangka sebagai pasak karena turun menghujam seperti sebuah paku yang mengarah ke dasar bumi, padahal bukan.
Seberapa dalamnya sesar yang turun akibat gempa, itu tidak mengurangi kecepatan pergerakan lempeng bumi yang diibaratkan layaknya pergerakan awan pada ayat sebelumnya.
Ya. Rumah kita, gedung kantor kita, stasiun, sekolah, masjid, pasar, hingga kafe yang sering kita singgahi, berada di atas tanah yang pada detik ini juga sedang aktif bergerak dan tidak diam di tempatnya.
Hanya saja pergerakan lempeng Bumi masih terlalu lambat untuk kita sadari seperti kecepatan tumbuhnya kuku pada jari manusia, yakni hanya sekitar satu hingga sepuluh sentimeter saja setiap tahunnya.
Google Maps pun tidak pernah repot-repot untuk memperbarui data area peta seperti bentuk pulau dan koordinat akibat pergerakan lempeng bumi kecuali dalam beberapa tahun sekali saja, karena banyak hal yang lebih penting untuk diperbarui seperti penutupan jalan atau penitikan bisnis baru.
Kejadian pergerakan lempeng yang luar biasa pun sangat jarang. Terakhir yang saya ketahui, adalah saat gempa besar Jepang pada 2011, yang menyebabkan pulau Honshu bergerak 4cm ke arah timur.
Atau gempa di Myanmar pada 2025 yang mana dalam sebuah video yang beredar, terlihat jelas daratan yang bergeser karena jenis gempanya bukanlah tabrakan, melainkan gesekan antar lempeng.
Maka dari itu, setiap ada gempa terjadi, saya tidak tahu gunung mana di sekitar pusat gempa yang berubah ketinggiannya.
Sebagai contoh, menurut BRIN, sekali gempa besar yang mengguncang Bandung di area Sesar Lembang, bisa membuat Gunung Batu yang merupakan Sesar Lembangnya itu sendiri, tumbuh hingga 40cm!
Jadi saat al-Qur’an berbicara tentang gunung yang berfungsi sebagai pasak bumi, sebaiknya tidak kita bayangkan seperti paku yang merekatkan dua buah kayu.
Apalagi saat fungsi dari pasak bumi tersebut “supaya bumi tidak goncang bersama kamu” pada teks ayat tersebut.
Dengan fungsi berpikir lateral kita, yang tentunya juga berdasarkan fakta atau studi yang sekarang bisa kita cari dengan mudah di internet plus bantuan AI, kita bisa lebih condong membayangkan gunung sebagai shock breaker daripada sebuah pasak.
Allah Ta’ala telah menciptakan lempeng bumi “lembek bagai karpet”, sehingga saat antar lempengnya bertabrakan, goyangannya diserap dengan membuat bagian pinggirnya naik menjadi pegunungan.
Jadi dua buah ayat al-Qur’an yang berbicara tentang gunung sebagai pasak bumi dan gunung yang ikut bergerak tidak ada yang bertentangan. Semuanya benar karena Dialah yang menciptakan Bumi ini bagaimana pun.
Contohnya, sekarang kita bisa melihat Pulau Sumatera, tepatnya pada provinsi Sumatera Barat dan Riau. Saya menggunakan mode “terrain” di Google Maps.
Kita bisa perhatikan gambar berikut:

Riau relatif datar dan aman dari gempa, sedangkan Sumatera Barat sering dilanda gempa bumi dan penuh dengan pegunungan. Lalu apa hubungannya?
Sebelum itu, Pulau Sumatera memiliki deretan pegunungan di bagian baratnya (Pegunungan Bukit Barisan), membentang dari Aceh hingga Lampung, disebabkan sepanjang bagian barat Sumatera mendapatkan tekanan atau tabrakan dari lempeng Samudra Hindia.
Nah di sinilah “pasak bumi”nya bekerja.
Provinsi Riau relatif aman dari gempa kecuali hanya menerima goyangan sedikit saja karena sebagian besar goyangannya sudah diserap di area pegunungan di Sumatera Barat.
Coba bayangkan andaikata Allah menciptakan lempeng bumi begitu keras seperti es yang mengapung di kutub. Pasti saat bertabrakan, goncangannya akan terasa hebat di seluruh lempeng, dari ujung ke ujung.
Seperti sebuah bus yang menabrak sesuatu di depannya, maka seluruh penumpang hingga yang duduk di kursi paling belakang akan merasakan guncangan yang sama.
Sedangkan Bumi tidak, cukup goyangannya di pinggir lempengnya saja saat ada tabrakan antar lempeng.
Sekarang saat lempeng India bertabrakan dengan benua Asia dengan luas dan volume yang dahsyat, ternyata guncangannya berhasil diredam dengan terangkatnya sebagian daratan menjadi pegunungan Himalaya.
Kita bisa saksikan bagaimana pegunungan Himalaya telah berhasil menahan goncangan ke seluruh benua Asia sebagaimana SupermanΒ berhasil menghentikan laju kereta yang ingin bertabrakan. Lekuk “karpet” lempengnya terlihat jelas pada gambar di bawah ini.

Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.
QS. Ali Imran: 191