Sudah Shalat

Sebuah postingan saya temukan saat saya sedang berselancar di media sosial. Sebuah postingan yang memuat kalimat keluhan.

Sang penulis mengeluarkan keluhan, bahwa ia sudah shalat, sudah sedekah, sudah mengaji, namun hidupnya hanya begitu-begitu saja. Di satu sisi, ada orang yang menurutnya sering maksiat, jangankan melaksanakan kewajiban, namun justru hidupnya makmur sentosa.

Sejujurnya, saya sendiri dan orang-orang terdekat saya pernah sesekali terlintas pemikiran seperti itu.

Tapi itu dulu, alhamdulillah.


Faktor utama lainnya

Sebuah taushiyah berbahasa Inggris pernah mengutarakan bahwa sebenarnya Allah Ta’ala ingin melihat progres atau kemajuan hambaNya.

Seberapa dalam usahanya, seberapa gigih kinerjanya. Baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat, seberapa dalam usaha hamba-hamba Allah dalam menyeimbangkan keduanya.

Bahkan kita sudah berkali-kali mendengar sebuah ayat yang cukup masyhur tentang perlunya kita tetap berada di garis yang Allah Ta’ala inginkan.

…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Seorang muslim insyaAllah akan tetap berada di dalam takdir terbaiknya Allah sampai mereka sendiri yang menjauh dan berpaling.

Salah satu yang membuat seorang muslim tetap dalam takdirNya yang terbaik adalah berbuat sesuai apa yang Dia perintahkan.

Allah Ta’ala menyuruh kita untuk bertebaran untuk mencari sebagian rezekiNya, termasuk beribadah secara horizontal seperti mencari nafkah, menyelesaikan pekerjaan dengan baik, dan terus melakukan perbaikan.

Mungkin benar seorang muslim sudah menjaga ibadahnya, tetapi siapa yang menjaminnya bahwa ia juga sudah menjaga caranya dalam menjemput rezeki yang memang Allah telah takdirkan untuk ia cari?

Sayangnya, sebagian muslim menggampangkan rezeki dengan menganggapnya bahwa itu semua sudah ada yang mengatur. Lagi, sebagai ironi, mereka juga mengeluhkan rezeki mereka yang tak kunjung datang dengan tindakan minim mereka.

Benar bahwa ada rezeki yang Allah tetapkan akan menghampiri manusia tanpa mereka dapat tolak, tetapi ada beberapa orang yang memilih tidak berusaha maksimal dan mengandalkan rezeki pasif mereka.

Padahal kemalasan bukanlah perbuatan terpuji, bahkan Rasulullah saw., mengajarkan umat Beliau agar senantiasa berdoa agar dijauhkan dari sifat malas.

Termasuk ke dalam kategori malas seseorang yang bekerja tidak sepenuh hati, cenderung berprinsip “yang penting kelar”, dan tidak pernah berusaha untuk memperbaiki kinerja.


Masalah keyakinan

Kalimat keluhan, “Padahal saya sudah shalat, sedekah, mengaji, tapi kenapa blablabla…” bisa jadi keluar karena orang yang mengutarakannya belum memahami intisari ibadahnya.

Seakan-akan shalatnya, sedekahnya, mengajinya, dan ibadah lainnya sudah ia lakukan dengan benar.

Contoh kecilnya, beberapa orang yang mengaji masih memiliki pengetahuan tajwid yang sangat buruk. Mereka bahkan tidak tahu tajwid dasar seperti kapan sebuah huruf dibaca panjang atau pendek, tidak tahu apa itu tasydid, jangankan tajwid kompleks seperti 13 jenis mad atau waqaf.

Begitu pun dengan shalat beberapa orang yang hanya mereka kerjakan wajibnya saja, itu pun sangat jarang berjamaah dan hampir selalu mereka akhirkan waktunya.

Anehnya, sebagian orang justru menganggap ibadah mereka sudah dapat mereka jadikan landasan untuk dapat protes dengan ketetapan Allah Ta’ala.

Belum lagi, beberapa dari para muslim berdoa dengan cara seolah-olah mendikte Allah Ta’ala. Mereka ingin keutamaan dengan usaha yang minim, kemudian mereka hanya berdoa beberapa kali lalu mengeluh Allah tidak mengabulkan doa mereka.

Manusia itu pada dasarnya senang terburu-buru.

Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa…
(QS. Al-Anbiya: 37)


Derajat kehidupan

Saya yakin para muslim telah mengetahui bahwa manusia memiliki derajat atau tingkatan. Bahkan dengan tingkatan atau derajat itu menjadi standar berat atau tidaknya sebuah ujian.

Seorang hamba akan diberi cobaan berdasarkan kualitas agamanya (imannya). Apabila agamanya kuat maka ujiannya semakin berat dan apabila agamanya lemah maka dia kan diberi ujian sesuai dengan kadar agamanya…โ€
(HR. At-Turmudzi no. 2322 dan Ibnu Majah no. 4013 dengan sanad yang shahih)

Di dalam derajat dunia sekali pun, ujian seorang pemilik perusahaan dengan ujian para karyawannya itu tidak bisa kita samakan.

Mungkin kita menganggap bahwa pemilik perusahaan terlihat berleha-leha dan terlena dengan kehidupan dunia hasil dari keuntungan usahanya. Tetapi, kita tidak pernah tahu jika pemilik perusahaan seringkali berhadapan dengan serentetan ujian di mana para karyawannya tidak akan sanggup.

Seperti mempertahankan bisnisnya, menggaet investor, mengurus beban dan biaya perusahaan, terbayang-bayangi para pesaing, berhadapan dengan klien dan vendor yang tidak semuanya menyenangkan, memenuhi ketentuan pajak dan hukum, hingga membuat keputusan berisiko tinggi yang dapat mengancam perusahaan dan seluruh stafnya.

Ujian-ujian yang saya sebutkan itulah yang menentukan apakah seseorang pantas menjadi pemilik perusahaan atau hanya karyawan biasa.

Sama seperti orang-orang shalih yang rajin beribadah. Mungkin kita melihat mereka begitu bijak dan tenang seakan-akan mereka tidak pernah mendapatkan ujian.

Padahal rasa bijak dan tenang para orang shalih tersebut mungkin adalah hasil dari ujian bertubi-tubi yang membuat mereka seringkali tersungkur bermandikan deraian air mata di tengah ibadah malam mereka.

Hati para orang shalih sudah mendapatkan proses pengadukan dan penumbukan dari rentetan ujian berat sehingga membuat hati mereka lembut. Mereka pun menjadi sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.

Kita hanya tidak tahu penderitaan orang-orang shalih sebab mereka tidak pernah melontarkan masalah mereka secara sembarangan dan mereka sudah tidak lagi merasa pantas melakukan hal itu.

Jauh berbeda dengan kita yang masih sering bercanda setiap saat, menggampangkan masalah orang lain dan menganggap masalah kitalah yang paling berat.


Kesimpulan

Padahal di dalam video game sekali pun, kita sudah melihat pemain yang sudah mencapai level 10 dan pemain yang baru di level dua atau tiga akan sama-sama berhadapan dengan tantangan level.

Tetapi kita dapat melihat, para pemain ahli biasanya akan lebih tenang menghadapi tantangan di level tinggi, padahal tantangannya sungguh sulit luar biasa yang membuat mereka gagal berkali-kali, siang dan malam, berhari-hari, sampai akhirnya bisa menyelesaikan level tersebut. Mereka tetap tenang dengan itu.

Di sisi lain, pemain pemula biasanya akan sibuk mengeluh levelnya begitu sulit dan menantang, padahal belum ada seujung kukunya dari kesulitan level para pemain ahli.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
๐Ÿค— Selesai! ๐Ÿค—

  • Sebelumnya
    Bagaimana Ibadah Di Luar Angkasa?

    Berikutnya
    Kenapa Manusia Diuji (1/5): Sebagai Pembuktian


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Minta Komentarnya Dong...

    Silakan tulis komentar kalian di sini, yang ada bintangnya wajib diisi ya...
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. ๐Ÿ˜‰

    Kembali
    Ke Atas

    Terima kasih telah membaca artikel Anandastoon!

    Apakah artikelnya mudah dimengerti?

    Mohon berikan bintang:

    Judul Rate

    Desk Rate

    Terima kasih telah membaca artikel Anandastoon!

    Dan terima kasih juga sudah berkontribusi menilai kemudahan bacaan Anandastoon!

    Ada saran lainnya untuk Anandastoon? Atau ingin request artikel juga boleh.

    Selamat datang di Polling Anandastoon.

    Kalian dapat iseng memberi polling seperti di Twitter, Facebook, atau Story Instagram. Pollingnya disediakan oleh Anandastoon.

    Kalian juga dapat melihat dan menikmati hasil polling-polling yang lain. ๐Ÿ˜Š


    Memuat Galeri Poll...

    Sebentar ya, Anandastoon muat seluruh galeri pollnya dulu.
    Pastikan internetmu tetap terhubung. ๐Ÿ˜‰

    Asik poll ditemukan!

    Silakan klik salah satu poll yang kamu suka untuk mulai polling!

    Galeri poll akan terus Anandastoon tambahkan secara berkala. ๐Ÿ˜‰

    Judul Poll Galeri

    Memuat poll...

    Sebentar ya, Anandastoon memuat poll yang kamu pilih.
    Pastikan internetmu tetap terhubung. ๐Ÿ˜‰

    Masih memuat ~

    Sebelum memulai poll,

    Anandastoon ingin memastikan bahwa kamu bukan robot.
    Mohon agar menjawab pertanyaan keamanan berikut dengan sepenuh hati.
    Poll yang 'janggal' berpotensi dihapus oleh Anandastoon.
    Sebab poll yang kamu isi mungkin akan bermanfaat bagi banyak orang. ๐Ÿค—

    Apakah nama hari sebelum hari Kamis?

    Mohon jawab pertanyaan keamanan ini. Jika jawaban benar, kamu langsung menuju pollnya.

    Senin
    Rabu
    Jumat
    Sabtu

    Atau, sedang tidak ingin mengisi poll?

     

    Wah, poll telah selesai. ๐Ÿค—

    Sebentar ya... poll kamu sedang di-submit.
    Pastikan internetmu terhubung agar dapat melihat hasilnya.

    Hasil poll ๐Ÿ‘‡

    Menunggu ~

    Ups, sepertinya fitur ini masih dikembangkan Anandastoon

    Di sini nantinya Anandastoon akan menebak rekomendasi artikel yang kamu inginkan ~

    Heihei maihei para pembaca...

    Selesai membaca artikel Anandastoon? Mari, saya coba sarankan artikel lainnya. ๐Ÿ”ฎ

     

    Ups, sepertinya fitur ini masih dikembangkan Anandastoon

    Di sini nantinya kamu bisa main game langsung di artikelnya.

    Permainan di Artikel

    Bermain dengan artikel yang baru saja kamu baca? ๐Ÿ˜ฑ Kek gimana tuh?
    Simpel kok, cuma cari kata dalam waktu yang ditentukan.

    Mempersiapkan game...

    Aturan Permainan

    1. Kamu akan diberikan sebuah kata.

    2. Kamu wajib mencari kata tersebut dalam artikel.

    3. Kata yang ditemukan harap diblok atau dipilih.
    Bisa dengan klik dua kali di laptop, atau di-tap dan tahan sampai kata terblok.

    4. Terus begitu sampai kuota habis. Biasanya jumlahnya 10 kuota.

    5. Kamu akan berhadapan dengan waktu yang terus berjalan.

    6. DILARANG Inspect Element, CTRL + F, atau find and replace. Juga DILARANG berpindah tab/windows.