
Sedang mengobrol dengan salah satu teman, anggap saja namanya Asep, dia ternyata pernah mengalami kejadian masa kecil yang menarik dan tidak biasa.
Asep memiliki masa kecil di kawasan Gunung Anten, daerah Lebak, Banten, dengan suasana pedesaan yang begitu kental, ia memiliki cerita mistis yang bikin saya tertarik untuk terlarut mendengarkannya.
Adalah tentang proses kematian salah satu anggota keluarganya yang mencekam, yang kemudian menurut saya layak untuk saya muat di postingan saya kali ini.
Silakan nikmati cerita berikut.
Kakak laki-laki dari ibu Asep, yang mana saya sebut dengan “uwa”, pernah jadi tumbal dari pesugihan salah satu saudaranya. Asep sendiri tidak tahu masalah apa persisnya karena dia masih kecil pada saat itu.
Tetapi cerita yang paling berkesan adalah saat uwanya Asep sedang dalam proses sakaratul maut.
Itu terjadi siang-siang, di kamar uwa yang disinari cahaya matahari sedikit tertutupi bayang-bayang dedaunan pohon, masuk lewat jendela dengan kusen kayunya.
Hanya ada uwa dan ibu Asep pada saat itu. Asep sendiri sedang di sekolah dan ayahnya Asep sudah tiada.
Ibu Asep yang sedang menemani uwa, spontan kaget dengan uwa yang tiba-tiba menjerit-jerit sendiri.
Uwa meronta-ronta, dengan tatapan ketakutan ke arah kakinya. Tubuhnya berusaha ia gerakkan secara serentak.
Tidak ada kata yang keluar, hanya bunyi “aahhh”, “aaaahhh” yang keluar dari mulut uwa, seolah terkunci tidak bisa berbicara.
Dan itu terjadi berulang-ulang.
Ibu Asep yang ketakutan langsung memanggil tetangganya untuk dicarikan orang pintar.
Beruntung, tetangganya kenal dengan seorang kyai yang berjarak hanya ratusan meter dari rumahnya.
Dijemput dengan sepeda motor, sang kyai berhasil didatangkan.
Saat sang kyai masuk ke kamar uwa, beliau sempat terkejut sebentar dan menghentikan langkahnya. Lantas ia langsung bersegera menuju uwa dan duduk di sebelahnya.
Ibu Asep dan tetangganya melihat kondisi uwa yang masih meronta-ronta ketakutan dan berusaha menarik kakinya berulang kali, dengan tatapan melotot ke arah kedua kakinya.
Sang kyai kemudian menunjuk ke arah kedua kaki uwa, dan menoleh kepada ibu Asep dan tetangganya,
“Itu ada tuyul dua lagi narik-narik kaki uwa.”
Ibu Asep dan tetangganya langsung kebingungan karena mereka tidak bisa melihat apa pun. Mereka hanya bisa percaya kepada sang kyai untuk mengobati uwa dan menyingkirkan apa pun itu yang mengganggu uwa.
Tentu sang kyai langsung mulai berkomat-kamit, membaca doa untuk mengusir kedua tuyul yang hanya bisa beliau lihat tersebut.
Saat sang kyai tengah membaca doa, ibu Asep dan tetangganya kompak menatap ke arah jendela di samping kamar tidur uwa.
Ada sosok samar-samar berwarna hitam perlahan muncul dekat jendela, dari mulai bayangan, hingga akhirnya tampak dengan jelas.
Sesosok itu berdiri di samping tempat tidur uwa.
Seorang perempuan bergaun hitam, dengan muka pucat dan mata yang lebar, yang menurut orang setempat disebut dengan kuntilanak hitam.
Siang-siang, kuntilanak itu bisa muncul dengan sangat jelas.
Kuntilanak hitam itu menatap ke arah kyai yang sedang berusaha berdoa mengusir tuyul di kaki uwa, menatap dengan tajam seolah tidak senang.
Tak lama kemudian kuntilanak itu berkata dengan nada tinggi dalam bahasa Sunda, yang intinya tidak senang dengan doa yang diucapkan kyai sembari mengangkat tangannya, menunjuk-nunjuk sang kyai, menyuruhnya berhenti.
Sosok itu ingin memiliki arwah uwa, dan terganggu dengan apa yang dilakukan sang kyai.
Ibu Asep dan tetangganya hanya bisa mematung melihat kejadian itu.
Sekitar belasan menit sang kyai berusaha untuk tetap konsisten berdoa mengusir setiap sosok di sekeliling uwa, pada akhirnya uwa menghembuskan nafas terakhirnya.
Bersamaan dengan wafatnya uwa Asep, sosok tersebut terbang menghilang.
Tetapi ceritanya belum selesai sampai sini.
Beberapa hari setelah kematian uwa Asep, ibu Asep sakit parah.
Untungnya, ada paman Asep yang sedang mengunjungi rumah Asep, ikut merawat ibu Asep.
Tetapi, tak lama ibu Asep bergumam sendiri, mengeluarkan suara-suara acak yang tidak dipahami.
Asep yang melihat ibunya seperti itu, ketakutan dan menjauh.
Ibunya kerasukan, pada siang hari itu.
Pamannya yang panik langsung memanggil tetangga Asep yang kemarin. Dan tentunya, mereka mendatangkan orang pintar.
Kali ini jumlah orang pintarnya bukan hanya satu, melainkan tiga.
Saat mereka masuk ke kamar ibu Asep, alangkah kagetnya mereka dengan pemandangan yang mereka lihat.
Ibunya Asep melayang sekitar satu meter dari tempat tidurnya, mirip seperti cuplikan film Exorcist.
Asep melihat sendiri ibunya melayang sambil menggerak-gerakan kepalanya ke segala arah beserta gumaman dengan bahasa yang tidak dipahami. Bukan bahasa Sunda atau Jawa kuno, hanya rentetan bunyi yang tidak jelas.
Ketiga orang pintar itu langsung mencoba menurunkan ibu Asep.
Ada yang memegang tangannya, ada yang memegang kaki kanannya, dan satunya lagi memegang kaki kirinya.
Namun usaha mereka menurunkan ibu Asep tidak berhasil.
Bahkan tak lama setelahnya, ketiganya langsung terlempar ke penjuru kamar.
Paman Asep teringat sesuatu, dan menelepon kerabatnya yang katanya juga termasuk orang pintar. Kerabatnya ada di daerah Pandeglang, terlalu lama jika harus didatangkan dengan segera.
Akhirnya kerabatnya paman Asep meminta supaya mengarahkan ponsel jadulnya ke arah ibu Asep, kemudian dibacakan sesuatu.
Kerabatnya kenal dengan ibu Asep, jadi pendekatannya lebih bernuansa kekeluargaan. Asep lupa waktu itu ibunya “dibujuk” apa dengan bahasa Sunda oleh kerabat paman Asep, namun ibu Asep berhasil turun perlahan dan hingga akhirnya kembali terbaring di atas kasur.
Setelah terbaring normal kembali, ibu Asep menggumam, “Hauuuss… Haauuusss.”
Tentu diambilkan air segelas dan diminumkan.
Namun ibunya masih menggumam kehausan.
Paman Asep membawakan air satu teko, menyodorkan kepada ibu Asep, dan semuanya melihat sendiri ibu Asep langsung meminum air dari teko dengan rakusnya, hingga air di teko benar-benar kosong.
Ibu Asep melempar teko kosong itu dan masih menggumam kehausan.
Paman Asep kembali mengisi air ke teko tersebut hingga penuh.
Singkat cerita, hingga tujuh teko air habis ditelan oleh ibu Asep sampai akhirnya ia berhenti mengeluh kehausan.
Asep sedikit mendengar pembicaraan ketiga orang pintar tersebut kalau yang diberi minum itu sebenarnya bukan ibu Asep.
Suasana kembali tenang selepas pemberian minum tersebut, tetapi segala sesuatunya masih belum usai.
Ketiga orang pintar itu mencoba berkomunikasi dengan ibu Asep yang masih kerasukan.
Akhirnya ibu Asep mulai bersuara. Tetapi suara yang keluar bukanlah suara ibu Asep, suaranya berat seperti laki-laki tua.
Ia bilang, dalam bahasa Sunda, bahwa yang merasuki sang ibu adalah “qarin” atau jin pendamping uwa. Ia memberi kabar kalau arwah uwa masih belum berada di alam kubur.
Arwah uwa masih belum tenang, masih menggantung di dunia lain.
Kemudian, jin yang merasuki ibu Asep bilang, bahwa arwah uwa saat ini ada di daerah Cikeuyeup, masih dalam area desa Gunung Anten.
Ia bilang, arwah uwa sudah ditumbalkan pada kerajaan gaib di sana, dan dipaksa jadi salah satu dayang-dayang kerajaan.
Tak lama kemudian memang ibu Asep kembali pulih, jin yang merasukinya sudah keluar.
Menanggapi kejadian barusan itu, salah satu orang pintar langsung berdiri dan mengajak setiap orang di kamar itu untuk langsung menuju kuburan uwa untuk membebaskan uwa.
Apalagi hari masih belum gelap.
Jadilah Asep, ibu dan pamannya, beserta ketiga orang pintar tersebut diantar dengan mobil tetangganya ke kuburan uwa yang masih berada di desa Gunung Anten, tetapi bukan di area Cikeuyeup.
Setibanya di pemakaman, Asep beserta ibu dan pamannya menyaksikan dari jauh ketiga orang pintar tersebut menuju ke kuburan uwa Asep.
Ketiga orang pintar itu mengelilingi batu nisan uwa Asep sambil berkomat-kamit.
Beberapa saat setelah itu, ketiga orang pintar seperti langsung menangkap sesuatu dan bergulat dengan apa pun itu.
Kata Asep, persis yang ia lihat di sinema laga yang ada di layar kaca.
Ada yang tiba-tiba terpental, ada yang berusaha menangkap apa pun itu supaya tidak kabur, ada yang berusaha untuk menekan tangannya ke udara.
Asep dan keluarganya tidak bisa melihat sosok apa yang sedang dilawan oleh ketiga orang pintar itu.
Lumayan lama orang pintar itu melawan sesuatu yang tidak kasat mata, pada akhirnya salah satu dari mereka menuju toko di samping pemakaman.
Beliau membeli kain kafan, kemudian menuju ke arah batu nisan uwa Asep.
Orang-orang pintar itu kemudian berjongkok mengelilingi batu nisan uwa Asep, salah satu yang membawa kain kafan kemudian mengikatkannya ke batu nisan, sedangkan yang lainnya sembari melantunkan doa.
Setelah ritualnya selesai, kata orang-orang pintar itu arwah uwa sudah bisa masuk ke alam kubur, tidak lagi menjadi dayang-dayang kerajaan gaib.