Pergerakan Bumi

Kita mungkin pernah melihat entah di buku IPS/geografi kita dulu atau hanya melihat dari internet mengenai info pergerakan benua-benua di Bumi.

Dahulu benua di Bumi pernah jadi satu kesatuan yang kita sebut Pangaea. Kemudian setelah melewati proses panjang jutaan tahun, jadi deh daratan di Bumi ini terbagi dalam benua-benua yang kita kenal sekarang.

Pertanyaannya, apa benua-benua di Bumi masih bergerak ke segala arah sampai saat ini?

Masih, masih banget dong. Terjadinya gempa bumi itu menjadi ciri kalau seluruh dataran di planet tercinta ini masih terombang-ambing ke sana kemari.

Beberapanya ada yang bertubrukan bikin sebagian daratan terangkat ke atas mirip karpet yang terdorong. Daratan yang terangkat itulah kemudian jadi tempat healing bagi para penduduk bumi, termasuk diriquh hehe…

Gunung Tumpeng

Hasil dari tabrakan lempeng dan gempa bumi, indah kan?

Pegunungan-pegunungan itu memang terlihat seperti karpet yang terangkat karena tabrakan sesama “karpet” kan? Yes, lempengan atau daratan Bumi ini sebenarnya begitu “lembek” dan mudah bergerak karena pergolakan inti bumi yang mendidih.

Pergerakan antar lempeng atau ‘karpet’ Bumi yang terbagi menjadi beberapa sesar (patahan) ini disebut Pergerakan Tektonik.

Nah, kemudian di sinilah pertanyaan menariknya.

Karena gempa masih sering terjadi, apakah pegunungan masih tetap tumbuh? Dan apakah memungkin bakal tumbuh pegunungan baru?

Saya mengangguk dengan pasti. Betul, pegunungan akan terus terangkat dan nggak menutup kemungkinan akan lahir pegunungan baru yang dihasilkan dari tabrakan antar lempeng atau sesar tektonik.

Makanya setiap ada gempa bikin saya bertanya-tanya, gunung mana yang bakal terkena efek gempa tersebut?

Tapi sebenarnya ya, tumbuhnya pegunungan tidak harus terjadi karena gempa saja. Setiap hari pegunungan itu tetap tumbuh secara tidak kita sadari, baik ada atau tidaknya gempa, selama masing-masing lempeng tetap bergerak dan mendorong satu sama lain.

Untungnya, Google Maps punya dua mode yang bikin kita bisa telasar-telusur rupa-rupa planet Bumi ini sekarang.

Yakni mode medan atau terrain untuk kita telusuri bentuk ‘karpet’ yang terangkat itu, dan mode satelit untuk kita telusuri ‘biang kerok’ pergerakan tektoniknya yang bikin daratan menjadi terangkat menjadi pegunungan.

Kita bisa mengklik dua mode tersebut dengan mudahnya, baik di laptop maupun di hape masing-masing.

Yuk, kali ini kita mau jalan-jalan melihat betapa ‘geradakan’nya Bumi kita sekarang ini. Tapi geradakannya itulah yang bikin Bumi jadi indah, bikin permukaannya nggak cuma rata polos aja.


Karpet yang terangkat itu

Pertama kita jalan-jalan dulu menelusuri permukaan Bumi di seluruh dunia pakai mode medan atau terrain.

Nggak seluruh dunia juga sih, maksudnya yang layak saya jadiin contoh aja hehe…

Pertama, kita mungkin pernah dengar kalau dulunya India itu satu benua terpisah pada awalnya, nggak nempel sama benua Asia sama sekali, nempelnya sama Antartika malah.

Seiring berjalannya waktu, benua India berpisah dari Antartika dan berkelana ke arah utara trandal-trindil sendirian sampe akhirnya nabrak benua Asia. BEDEBUG!

Hasil tabrakan antara India dan Asia nggak main-main, membuat ujung masing-masing ‘karpet’ atau lempengan terangkat sangat tinggi mulai dari pojok Myanmar, membentang sepanjang Tibet di Cina, sampe Pakistan.

Lempengan yang terangkat tinggi tersebut kemudian kita kenal dengan Pegunungan Himalaya.

Tapi emang beneran mirip karpet yang terangkat sih, mode medan Google Maps yang ‘bilang’ sendiri kok. Liat deh gambar berikut.

Pergerakan Bumi

Lekukan karpetnya terlihat sangat, sangat jelas tepat di bagian utara Myanmar.

Dan ya, meski sudah bergabung dengan benua Asia, benua India masih ‘maksa’ buat nabrak Asia yang bikin Pegunungan Himalaya terkhusus Gunung Everest terus tumbuh semakin tinggi dari tahun ke tahun.

Makanya terkadang bagian utara India dan Pakistan, termasuk negara Nepal, Bhutan, dan bagian selatan Cina masih suka langganan gempa dahsyat. Ya gimana ya, risiko tabrakan tanpa henti.


Keadaan Indonesia

Bicara masalah gempa bumi, negara Indonesia tercinta ini pun termasuk daerah yang mana gempa bumi cinta banget buat gangguin kita.

Nggak heran kenapa Indonesia itu indah karena banyak pegunungan dan air terjun, ya jelaslah itu hasil babak belur dari tabrakan antar lempeng.

Perlu kita tahu, Indonesia dikepung oleh pergerakan batas lempeng yang jadi faktor utama gempa bumi, terkhusus di bagian selatannya.

Lebih parah lagi, karena Indonesia tepat berada di ujung lempeng masing-masing benua Asia dan Australia, gempa yang dihasilkan kemungkinan akan sangat dahsyat yang kita kenal dengan istilah megathrust.

Berikut mode satelitnya. Kita lihat dengan begitu jelas sepanjang barat Sumatra dan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara yang jadi batas antar lempeng.

Masalahnya, lempeng Australia nggak ada henti-hentinya nabrak lempeng Asia, ngedorong Indonesia ke arah utara.

Bicara masalah sepanjang barat Pulau Sumatera, bekas hasil dorongan yang paling gampang kita lihat itu adalah Pegunungan Bukit Barisan. Ya karena lempengnya ada di sepanjang barisan itu.

Bahkan pada gambar berikut ini, kita sangat bisa melihat garis sesar atau patahan di sepanjang barat Pulau Sumatera, dari Aceh sampai Lampung.

Coba lihat pada bagian kirinya.

Pergerakan Bumi

Ya kan? Kayak ada garis yang membelah di antara pegunungannya? Buat yang tinggal di daerah sana, hati-hati aja. Bukan nakut-nakutin, tapi hidup di tengah garis patahan atau sesar itu risikonya memang tinggi.

Intinya, tinggal di daerah yang banyak pegunungan harus siap dengan fenomena yang membentuk pegunungan tersebut, yakni gempa bumi.

Nah, pada gambar di atas juga, kalian mungkin lihat ada beberapa titik hitam semacam ‘bisul’ yang mencuat dekat dengan garis patahan itu.

Itu gunung berapi. Alias memang bisul beneran buat muntahin hasil gencetan antar patahannya.

Logikanya, ketika isi bumi yang mendidih itu ‘tergencet’ oleh tabrakan antar lempengan, pastinya bisa muncrat keluar kan? Betul, dari sanalah tiba-tiba ada dataran bumi jadi menggembung dan memuntahkan apa yang tergencet itu. Kita mengenalnya dengan gunung berapi.

Nih, saya kasih contoh gambar Pulau Jawa yang bruntusan karena ‘bisul’nya banyak beud. Beberapanya ada yang udah pecah kayak di bagian kanan gambar, di daerah Banyuwangi, keliatan banget dari gambar di bawah ini.

Pergerakan Bumi

Indah sih bisulnya, sering kita pakek buat bahan pamer di medsos bertema healing. “Indonesia itu Indah”, katanya. Ya bener juga sih, cuma ya siap-siap aja bisa meletus kapan pun setiap saat kalau pergerakan lempeng di bawahnya lagi aktif.

Indah-indah begini bisul loh.

Gunung berapi cuma ada dua kategori, aktif dan musnah. Jadi meski ada istilah gunung berapi istirahat (dormant) bukan berarti nggak bakal meletus lagi. Namanya juga lagi istirahat, kan? Bisa aja bangun tiba-tiba.


Bagian timur

Kita juga mungkin pernah dengar kalau Kalimantan jadi pulau di Indonesia paling aman dari gempa.

Bahkan hampir tidak ada gunung berapi di seluruh pulau Kalimantan kecuali di daerah utara Malaysia yang berbatasan langsung dengan lempeng Filipina, wajar. Dan itu pun udah nggak aktif katanya.

Tapi ada satu yang menyita perhatian saya, yakni ada karpet yang bergeser di bagian utara Pulau Kalimantan.

Saya nggak tau apakah karpet yang terangkat ini hasil dari kuatnya gerakan dorongan dari batas lempeng di bagian pinggir Pulau Sumatera, Jawa, dan Sulawesi, atau memang ada sesar aktif di Pulau Kalimantannya itu sendiri.

Maksudnya, liat deh gambar berikut, “lekuk karpet”nya jelas banget.

Pergerakan Bumi

Saya lihat kota Tarakan di Kalimantan Utara juga rentan banget gempa, bagian kota Samarinda juga lumayan sering. Barangkali dari sana yang bikin terangkat.

Sekarang kita geser ke Pulau Sulawesi.

Saya bingung mau mulai darimana bahas Pulau Sulawesi karena keliatannya nggak ada yang selamat dari kepungan gempa.

Lihat deh, geradakannya benar-benar dari segala penjuru. Artinya, daerah mana pun di Sulawesi rentan terkena gempa.

Hal ini terjadi karena Pulau Sulawesi mendapatkan serangan dari tiga lempeng tektonik sekaligus, termasuk Provinsi Malukunya juga.

Lempeng Asia, Filipina, dan Australia ‘mengeroyok’ satu sama lain.

Hiiy… Inilah kenapa masyarakat Indonesia harus mendapatkan bimbingan untuk bikin bangunan yang tahan gempa.

Ya… bisa kita contoh Jepang lah ya, yang senasib juga terkepung oleh banyak lempengan di sana dan di mari.

Mari kita lihat bagaimana letak geografis Jepang yang babak belur dihajar banyak lempeng sekaligus.

Megathrust memang sudah jadi isu sehari-hari di Jepang.

Bahkan bagi saya, letak geografis Jepang masih lebih parah dari Chili atau sepanjang bagian timur benua Amerika yang memang langganan gempa Megathrust.

Karena sepanjang Benua Amerika bagian barat hanya mendapatkan satu lempeng teknonik yang bertabrakan aja, yang kemudian menghasilkan pegunungan di sepanjang barat benua Amerika dari mulai Alaska hingga Chili.

Pergerakan Bumi

Okeh, sekarang balik lagi ke bagian timur Indonesia, yang kini ke Pulau Papuanya.

Akhir-akhir ini juga Papua sering diguncang gempa dahsyat, dari mulai Jayapura, hingga ke sepanjang pegunungan Jayawijaya.

Itu terjadi karena Pulau Papua tergencet antara lempeng Australia dan Lempeng Filipina yang mana gencetan terus-menerus tersebut berhasil mengangkat daratan hingga setinggi lima kilometer.

Pergerakan Bumi

Betul, Pegunungan Jayawijaya menjadi pegunungan tertinggi di Indonesia sampai menjadi satu-satunya tempat di Indonesia yang bersalju karena tingginya.

Dan yang tadi saya sebutkan, bahwa tabrakan antar lempeng bisa bikin isi bumi tercurah keluar. Lucunya, di seluruh Provinsi Papuanya itu sendiri tidak ada gunung berapi. Gunung berapinya justru semuanya ada di tetangganya, Papua Nugini.

Gunung berapinya saya kasih panah merah


Pertanyaan inti

Sekarang kembali kepada pertanyaan penting yang saya lontarkan di bagian awal artikel ini.

Karena gempa masih sering terjadi, apakah pegunungan masih tetap tumbuh? Dan apakah memungkin bakal tumbuh pegunungan baru?

Saya sudah menjawab “iya, betul”. Tapi ada buktinya nggak?

Sejauh ini saya mungkin bisa kasih dua contoh saja.

Pertama, warga Jawa Barat termasuk Jakarta sempat dikagetkan ada gempa yang berpusat di perbatasan Bekasi dan Karawang pada Agustus 2025 lalu. Katanya sih, karena dipicu pergerakan Sesar Lembang.

Gempa tersebut juga dikabarkan membuat pegunungan Sesar Lembang tumbuh 40 sentimeter lebih tinggi.

Pergerakan Bumi

Kemudian apakah akan ada gunung baru yang lahir karena pergerakan antar lempeng tersebut?

Bisa jadi. Contoh yang paling signifikan itu ada di sebuah daerah di Mexico, yang mana pada tahun 1943 tiba-tiba ada gunung berapi muncul di tengah ladang jagung milik warga, nggak ada hujan, nggak ada angin.

Gunung Paricutin namanya, berhasil tumbuh sampai 300 meter selama satu tahun.

Kita tidak tahu juga mungkin suatu saat di daerah Cibubur tiba-tiba tumbuh gunung berapi baru karena daerah Jakarta bagian selatan kebetulan dilewati Sesar Baribis. Entah.

Begitulah keadaan planet Bumi kita setiap harinya.

Bagi yang penasaran, memang kecepatannya berapa sih sebuah lempeng sampai bisa tabrakan dan menghasilkan pegunungan yang tinggi banget begitu?

Dari data yang saya temui, kecepatannya lambat banget kok. Cuma sekitar di bawah 10 sentimeter aja pertahunnya. Sama lambatnya kayak kecepatan tumbuh kuku kita.

Cuma karena ukuran lempengnya nggak main-main, meskipun gerakannya super lelet, tapi sekalinya nyentuh lempeng lain, momentum tabrakannya tetep dahsyat juga.

Bahkan apabila tabrakan antar lempeng itu membuat hancur bebatuan di lautan yang bikin goyang parah gelombang lautnya, dampaknya bisa tsunami.

Terakhir, terkadang tubrukan antar lempeng bisa bikin topografi atau lekukan bumi ini jadi unik.

Contohnya di Amerika Serikat dekat California sana, tepatnya di daerah Nevada, lempengan yang terangkat justru terkesan seperti “stretch mark”nya Bumi.

Coba liat deh gambar berikut.

Pergerakan Bumi

Itu cuma pegunungan biasa sih. Nggak ada yang spesial kalau kita lihat dari bawah atau dari jalan.

Ya begitulah serba-serbi planet kita.

Pertanyaan penutup, apakah kejadian serupa terjadi juga di benua Eropa dan Afrika? Mengingat kedua benua itu jauh dari grup lempeng Cincin Api di sepanjang samudera Pasifik.

Kita bisa iseng-iseng menggunakan mode medan dan satelitnya Google Maps untuk menelusuri kejadian-kejadian seperti ini.

Kalian mungkin juga akan tertarik baca bahasan saya tentang negeri sejuta gunung berapi di Chili pada postingan berikut.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke X
🤗 Selesai! 🤗
Punya uneg-uneg atau saran artikel untuk Anandastoon?
Yuk isi formulir berikut. Gak sampe 5 menit kok ~

Sssttt... Anandastoon punya journaling sebagai info di belakang layar blog ini.
Klik di mari untuk menuju halaman diarinya.

  • 0 Jejak Manis Ditinggalkan

    Minta Komentarnya Dong...

    Silakan tulis komentar kalian di sini, yang ada bintangnya wajib diisi ya...
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. 😉

    Kembali
    Ke Atas