
Sumber: Unsplash
“Jika kamu bisa memutar waktu, apa yang ingin kamu perbaiki di masa lalu?”
Sebuah postingan dengan banyak interaksi, lewat di beranda Threads saya pada pagi itu.
Penasaran, saya banyak membaca komentarnya dan seolah terkoneksi dengan rentetan komentar itu.
Dari mulai yang paling dalam, seperti ada orang yang ingin berada di dekat orang tuanya sebelum meninggal, hingga pengandaian jika ia mengambil kursus yang membuatnya bisa “lebih cuan” di masa depan.
Saya hanya sebagai pemerhati saja waktu itu, sebelum akhirnya menutup utas tersebut dan melanjutkan kembali aktivitas saya.
Tapi di sana membuat saya bertanya-tanya, jika saya mendapatkan pertanyaan itu, apa jawaban yang akan saya lontarkan?
Atau tepatnya, andaikata memang saya mendapatkan kemampuan bisa memutar ulang waktu, apa yang ingin saya perbaiki di masa lalu?
Saya mulai merenung.
Kemudian setelah cukup lama saya mencari jawaban yang potensial, saya hanya bilang,
“Tidak ada.”
Betul, jika memang saya memiliki kemampuan untuk memperbaiki sesuatu di masa lalu, saya dengan mantap menggeleng.
Saya memilih untuk tidak memperbaiki apa pun di masa lalu.
Sejujurnya pertanyaan tersebut seolah menarik dan memang saya punya beberapa hal yang ingin saya tambal di masa lalu, terkhusus pada peristiwa tidak menyenangkan yang sebetulnya bisa saya hindari.
Namun, setelah saya pikirkan lebih dalam, ternyata saya tidak tertarik dengan pertanyaan itu dan membiarkan sesuatu yang telah terjadi apa adanya.
Saya sudah berdamai dengan diri saya sendiri. Justru yang saya khawatirkan adalah sebaliknya, roda takdir saya bisa berantakan apabila ada yang saya ubah di masa lalu.
Di sinilah peran “hikmah” mengambil alih. Segala sesuatu tindakan yang bagi kita bodoh dan sembarangan di masa lalu bisa kita jadikan pelajaran pada kehidupan kita sekarang.
Misalnya, dari pengalaman hidup saya sendiri, jika saya memilih tidak mengambil hal konyol seperti keluar dari kerjaan lama dan menderita berbulan-bulan karena itu, mungkin saya tidak akan membangun perusahaan sendiri yang masih bertahan hingga saya tulis artikel ini.
Atau misalnya, jika saya bisa kembali ke masa lalu memperbaiki kebodohan dalam perbuatan saya dahulu, saya bisa saja selamat dari dampaknya, tetapi itu berarti saya memutus rentetan takdir saya dan saya harus mengulang lagi dari awal.
Contoh, seseorang pernah terjatuh dari sepeda tahun 2010 dan menjadi bahan olok-olok warga sekitar.
Di tahun 2026, ia kembali ke masa lalu dan memperbaiki ‘noda’ di takdirnya sehingga ia tidak pernah jatuh dari sepeda hingga ditertawakan orang.
Ternyata berhasil, ia sukses menambal peristiwa buruk itu. Tetapi, karena ada satu poin takdir yang ia ubah, dia jadi tidak bisa kembali ke 2026 karena jalan takdirnya berubah banyak, seperti efek domino.
Akhirnya, ia harus mengulang lagi seluruh jalan ceritanya dari 2010 sampai ke 2026 tahun ia kembali ke masa lalu.
Berarti, jika orang itu sudah sukses di 2026, maka seluruh jerih payahnya yang telah ia bangun dari tahun-tahun sebelumnya dengan banyak tahap yang sudah terlupa, ia harus mulai lagi dari awal.
Membayangkannya saja sudah sangat melelahkan.
Sayangnya, kita terlalu fokus dengan beberapa kesalahan yang sebenarnya sepele dalam hidup kita pada tahun-tahun lalu sehingga mengabaikan banyak hal indah yang sudah kita alami.
Padahal, satu takdir yang kita tambal, bisa saja merusak takdir lain yang telah sempurna kita jalani.
Inilah kenapa Allah Ta’ala hanya menciptakan waktu berjalan satu arah, sebab pasti banyak hambaNya yang ceroboh mengutak-atik jalan takdir yang telah Dia tetapkan.
Akibatnya bisa jauh lebih fatal, seseorang yang diberi kuasa untuk mempermainkan takdirnya di masa lalu, kemungkinan besar tidak akan bertemu dirinya di masa mendatang.
Maka dari itu tidak heran Rasulullah Muhammad saw., melarang umat Beliau untuk berandai-andai seperti ini.
Jika engkau tertimpa suatu musibah, janganlah engkau katakan, “Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.” Akan tetapi hendaklah kau katakan, “Ini sudah jadi takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya”, karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ akan membuka perbuatan setan.
HR. Muslim
Perlu kita catat bahwa yang terlarang bukan ucapan “seandainya” karena Nabi saw sendiri pernah melontarkan kata “seandainya”.
Kata “seandainya” menjadi terlarang saat itu membuka perbuatan setan, yang maksudnya mengantarkan kepada cara-cara yang merusak kehidupan seseorang.
Seperti hilangnya harapan, putus asa, melupakan banyak nikmat yang telah ia dapat, bahkan sampai menyalahkan Allah Ta’ala yang telah mendesain takdirnya.
Belum lagi kita telah banyak melihat orang yang terlalu menyalahkan masa lalunya sebagai validasi atau pembenaran mereka untuk melakukan hal-hal keji dan munkar.
Banyak orang yang mungkin telah lupa bahwa mereka memiliki fitur akal untuk memutar strategi dengan memetik pelajaran atas kejadian buruknya tersebut. Itulah hikmah.
Analoginya, waktu kecil kita banyak mendapatkan pelajaran dari tingkah kita sendiri.
Seperti kasus terjatuh dari sepeda tadi, mungkin itulah yang mengantarkan seseorang jadi lancar mengendarai sepeda.
Ada pun mengenai orang-orang yang menertawakannya dan bukan menolongnya, dia bisa menganalisis mengapa banyak orang tidak empati kepadanya. Kepekaan seseorang bisa terlatih saat semakin sering ia melihat banyak masalah sosial di luar kacamata pribadinya.
Apabila seseorang terbiasa berpikir dengan akal dan perasaannya, kemampuan pemecahan masalah (problem solving) akan tumbuh yang mana itu adalah salah satu aset langka manusia.
Selagi kita masih hidup di dunia, segala sesuatunya masih bisa berubah ke arah yang lebih baik.
Setiap penyesalan bisa menumbuhkan harapan baru.
Setiap ratapan dan trauma bisa memunculkan insting dan kebijaksanaan baru.
Tidak heran jika banyak filsuf dan orang bijak di seluruh dunia melayangkan kata mutiara bahwa aset yang kita punya adalah hari ini.
Maksudnya, yang bisa kita ubah hari ini lewat pembelajaran dari masa lalu, itu sungguh dapat mengukir masa depan yang jauh lebih baik. Bahkan kita di masa nanti akan sangat berterima kasih dengan diri kita di masa sekarang ini.
Mengeluhkan dan meratapi sesuatu yang tidak kuasa bagi kita untuk mengubahnya, bisa merusak motivasi kita yang seharusnya kita gunakan untuk mencetak masa depan yang lebih cerah.
Pada akhirnya, orang yang gemar meratapi masa lalu akan menjadi lemah, padahal kita familiar dengan hadits tentang mukmin yang kuat itu lebih dicintai Allah Ta’ala daripada yang lemah.