
Nabi Muhammad saw adalah idola kita umat Islam, namun seberapa dalam kita mengenal idola kita sendiri?
Banyak dari kita yang selama ini mengenal Beliau lewat cerita-cerita kepahlawanan, strategi perang, cobaan selama dakwah, hingga beberapa kisah-kisah kecil tentang rumah tangga Beliau.
Tetapi, seberapa kenalkah kita dengan pribadi Rasulullah saw itu sendiri? Bagaimana pun Beliau juga seorang manusia, yang pastinya mengalami hal-hal keseharian yang lebih dekat dengan kita sesama manusia juga.
Sebelum itu, saya pernah menulis artikel beberapa waktu lalu kalau saya mendapatkan diagnosa sebagai “neurodivergent” saat berbincang dengan seorang psikolog.
Neurodivergent itu sendiri adalah sebuah keistimewaan yang ada pada sebagian manusia, yang terkadang mendapatkan cap dari masyarakat sebagai “kelainan mental” karena keberadaan mereka tidak umum.
Salah satu yang masih dalam lingkup neurodivergent adalah autis dan ADHD. Autis di sini sama sekali bukan gangguan jiwa. Masyarakat kita masih sering tertukar antara autisme dengan down syndrome.
Autisme di sini justru adalah sebuah bakat, namun masyarakat sering terkecoh dengan orang yang terkena kelainan mental hanya karena sesekali orang autisme melakukan hal-hal yang masyarakat tidak paham dan itu secara spontan.
Padahal, otak seorang neurodivergent memiliki cara kerja yang berbeda, dan itu bisa menjadi istimewa sebab mereka menerima rangsangan yang lebih banyak daripada manusia pada umumnya.
Saya tidak menuduh Rasulullah sebagai ADHD atau autis, jangan salah paham. Neurodivergent jauh lebih luas dari sana, dan sebenarnya orang-orang autis itu sendiri punya potensi besar menjadi orang jenius jika kita berhasil menumbuhkan mereka.
Tetapi begini, apakah Beliau SAW seorang neurodivergent? Wallahu A’lam. Pastinya bagi saya yang memang seorang neurodivergent, saya merasa begitu terikat langsung (relate) saat saya semakin mendalami kisah-kisah Beliau.
Dan tidak ada yang lebih mengenal seseorang yang memiliki sebuah karakter daripada orang yang memiliki karakter serupa.
Orang yang suka mendesain, akan langsung berbahagia menemukan para desainer yang sama-sama mengalami masalah yang ia alami, meski itu adalah masalah sepele di mata non-desainer sekali pun.
Begitu juga dengan orang yang suka menonton film, bermain game, mereka biasanya memahami detail yang lebih baik tentang hobinya dan pastinya berbahagia jika bertemu orang tepat yang bisa jadi ajang bertukar pikiran.
Saya, sebagai seorang neurodivergent, yang jumlahnya memang “jarang”, pasti akan lebih mengenal dan lebih peka dengan sesama neurodivergent, bisa menilai mereka secara tidak langsung dari sifatnya yang sama-sama jarang ditemukan kebanyakan orang.
Jadi apa saja sifat Beliau saw yang begitu memikat saya hingga begitu relate sebagai seorang neurodivergent? Saya coba tarik satu per satu di sini.
Setiap orang memiliki masalah, dan itu adalah hal yang pasti. Namun masalah kebanyakan orang adalah masalah pribadi mereka saja.
Sekali pun kita memikirkan masalah sosial, itu hanya berputar-putar seperti mengomentari pemerintahan korup, atau kesal dengan perilaku orang sekitar yang mana kita sudah terkena dampaknya secara nyata, hanya sebatas itu saja. Pada akhirnya kita akan kembali kepada rutinitas kita masing-masing dan melupakan masalah tersebut.
Neurodivergent tidak. Mereka bisa mengidentifikasi sebuah masalah walaupun itu sepele di mata kebanyakan orang dan itu sama sekali bukan masalah pribadi mereka.
Saya ingat betul sewaktu berjalan-jalan dengan bus Transjakarta, saya menganalisa setiap halte apakah lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk sekitar atau jauh.
Meski orang menganggap kegiatan saya “aneh”, tetapi itu karena saya tidak menemukan orang sepadan yang bisa membahas ini.
Kebanyakan orang hanya menyanggah, “Kan masih bisa begini.” atau “Yang penting ada.”
Mereka baru terbuka ketika sudah ada contoh nyatanya seperti melihat seorang nenek yang kepayahan dalam mencapai sebuah halte yang memang terlalu jauh dari pemukiman sekitar, padahal aksesnya bisa diekstensi yang langsung mengarah ke gang terdekat.
Saya sudah bisa melihat ini sebelum kasusnya terjadi.
Dan kebanyakan masalah saya, yang membuat saya overthinking justru bukan masalah saya pribadi, melainkan masalah-masalah yang saya sendiri tidak alami. Pikiran saya selalu berkecamuk di tengah dunia yang (sedang) damai ini.
Maka dari itu, saya sangat terenyuh saat mendengarkan kajian tafsir, bahwa Rasulullah saw merasakan penderitaan umat Beliau bahkan dalam kadar yang jauh lebih parah.
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
QS. At-Taubah: 128
Saya perhatikan kalimat “berat terasa olehnya penderitaanmu”, seketika pula saya langsung tercerahkan dan bershalawat karena begitu bersyukur mendapatkan seorang panutan yang “seirama” dengan apa yang saya alami.
Maksudnya, masalah-masalah sosial ini memang terlihat ringan dan sepele di mata orang lain, tetapi ini mengaktifkan alarm bahaya di otak saya secara konstan dan terus-menerus.
Saya juga sering mempertanyakan mengapa saya tidak mengabaikan saja masalah-masalah sosial yang tidak terjadi pada saya seperti kebanyakan orang pada umumnya. Mengapa saya terus memikirkan masalah-masalah yang sama sekali bukan masalah saya?
Ternyata ada hadits yang cukup menenangkan hati saya, karena saya merasakan sendiri kandungan hadits berikut,
Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain akan ikut merasakan sakit, dengan tidak bisa tidur dan demam.
HR. Muslim
Sangat saya sayangkan melihat banyak orang harus menunggu sebuah masalah terjadi terlebih dahulu untuk sesuatu yang sebenarnya bisa dicegah.
Maksudnya, saya menemukan banyak sekali masalah sosial yang tidak relate dengan kehidupan saya, namun saya menaruh perhatian mendalam akan masalah tersebut. Saya bisa melihat potensi bom waktu jika masyarakat menganggap enteng masalah-masalah tersebut.
Tentu saja memikirkan itu mengakibatkan rasa stres saya setiap harinya. Bahkan karena stresnya, hingga membuat saya “kebal” dengan berita-berita korupsi para pejabat dan tidak lagi marah dengan mereka.
Kenapa? Karena ternyata masyarakat itu sendiri yang “mengizinkan” para pejabat itu melakukan korupsi secara tidak langsung. Sudah sangat banyak sekali saya tulis hal ini di kategori Opini, dengan artikel terakhir di sini.
Lho, bukannya itu justru bertentangan ya dengan sifat Nabi Muhammad saw yang begitu peduli kepada umat Beliau?
Betul, namun sayangnya, sesekali kita perlu melihat hasil yang diakibatkan oleh rasa abai kita sendiri.
Justru saya masih memiliki rasa peduli, tetapi terkadang seorang ibu perlu membiarkan anaknya mendapatkan akibat dari perbuatannya jika anaknya sudah tidak bisa lagi patuh dan menurut, selama akibat itu tidak mengancam keselamatan si anak.
Saya masih menaruh harapan, mudah-mudahan dampak negatif yang kita rasakan bisa membuat kita berbenah dan kembali (menyadari hal ini dari jauh-jauh hari). Itulah bagian dari rasa kasih sayang saya.
Salah satu bakat atau “fitur” dari seorang manusia neurodivergent adalah kemampuan efisiensi yang tinggi.
Maka dari itu, hal yang paling dibenci oleh neurodivergent adalah ketidakpastian.
Ketidakpastian yang saya maksud di sini bukanlah hal yang gaib atau tidak tampak, melainkan hal yang bisa merusak sebuah keteraturan dan harmoni.
Misalnya, jarak dari rumah ke kantor saya memakan waktu satu jam, dan itu memang benar-benar satu jam.
Sayangnya, terkadang ada faktor dadakan lain yang mengacaukan estimasi tersebut seperti macet mendadak, gangguan kereta, dan sebagainya.
Jika memang faktor mendadak itu karena hal yang luar biasa di luar kontrol seperti bencana alam atau semisal itu, maka neurodivergent pasti memaklumi kejadian tersebut.
Tetapi jika yang menyebabkannya adalah kelalaian yang disengaja, di sanalah kemarahan neurodivergent akan memuncak.
Tidak heran saya begitu terklik dengan hadits berikut,
Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu ia menyulitkan mereka, maka persulitlah ia.
HR. Muslim
Bagi kebanyakan orang yang mendengar hadits tersebut, pikiran mereka akan langsung tertuju kepada para pejabat korup yang hobi mempersulit rakyatnya.
Itu benar, tetapi bagi neurodivergent seperti saya, hadits itu juga berlaku kepada setiap masyarakat, baik kaya atau miskin, siapa pun yang menghalangi urusan atau hajat orang lain dan menjadi sumber ketidakpastian ini.
Seorang neurodivergent tidak bisa memaafkan begitu saja sebuah masalah selagi sumbernya masih ada. Karena tentu saja, potensi mereka berulah di kemudian hari sangatlah tinggi.
Bayangkan, saat kita berangkat ke bandara untuk keperluan mendesak dan tiket yang mahal, tiba-tiba di tengah jalan muncul iring-iringan yang menutup jalan, atau ada pengendara yang berkendara sembarangan, atau supir taksi yang sengaja lamban menjemput atau memutar-mutar untuk mendapatkan argo lebih.
Mereka semuanya adalah sumber dari kesulitan itu sendiri. Mungkin sebagian orang bisa mengabaikan itu dengan cepat dan menganggap itu sebagai “hari sial” saja dan menoleransi peristiwa tersebut.
Namun neurodivergent tidak bisa seperti itu.
Bahkan Nabi Muhammad saw saja sampai melantunkan doa supaya Allah Ta’ala mempersulit orang yang gemar mempersulit orang lain. Artinya ini bukan hal yang main-main.
Contoh lain, Rasulullah saw melarang menebang pohon yang menjadi tempat berteduh orang yang berlalu lalang. Bagi kita mungkin larangan itu sepele, namun hukumannya ternyata begitu mengerikan.
Barangsiapa menebang pohon bidara (tanpa alasan yang benar), Allah akan membenamkan kepalanya ke dalam api neraka.
HR. Abu Daud
Meskipun Rasulullah saw adalah seorang nabi penyampai risalah dari Tuhan semesta alam, namun beliau begitu peka dan peduli dengan hal terkecil yang dialami oleh orang-orang di sekitar beliau.
Kita pernah mendengar Beliau saw menegur sahabat karena shalat lama. Sebegitu lama hingga ada seorang makmum yang keluar dari barisan jamaah shalat sendiri karena ia memiliki urusan dunia yang harus ia penuhi.
“Wahai Muadz, apakah kamu hendak membuat fitnah (membebani orang lain)?” Beliau mengucapkannya tiga kali. “Bacalah surah ‘Was syamsi wa dhuhaha dan sabbihisma rabbikal a’la atau yang serupa dengannya.”
HR. Imam Bukhari
Agak ironi memang. Seharusnya semakin panjang shalat, semakin banyak pula pahala yang akan diraih. Apalagi salah satu yang membuat sahabat Muadz ditegur oleh Nabi saw adalah karena faktor urusan dunia yang dimiliki para jamaah.
Benar bahwa shalat panjang itu insyaAllah memiliki keutamaan yang besar, jika dilakukan secara sukarela. Karena kita tahu, shalat malam Nabi saw sendiri begitu panjang.
Namun yang ingin saya titik beratkan di sini adalah faktor empatinya. Bukan sekadar simpati yang hanya “mentok” pada rasa kasihan, melainkan aksi nyata dalam menjaga urusan atau hajat setiap manusia.
Bahkan ada hadits yang jauh lebih dashyat lagi.
Sungguh aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada ber-i’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan.
HR. Ath-Thabarani
Beritikaf di Masjid Nabawi saja pahalanya sudah sangat luar biasa. Bisakah kalian bayangkan bagaimana Rasulullah peduli terhadap urusan manusia bisa sampai sedetail itu?
Saya ingat waktu menunggu bus di sebuah halte Transjakarta, ada dua jurusan yang sama-sama menjangkau tujuan saya. Hanya saja, salah satu rute itu lebih panjang/jauh (rute 6H) daripada rute yang satunya lagi (rute 6).
Saat rute yang lebih panjang datang, saya tidak menaiki itu, menunggu rute yang lebih pendek. Teman saya yang heran bertanya apa alasan saya, padahal kedua rute semuanya singgah di halte tujuan saya.
Saya bilang, “Rute yang panjang itu busnya lebih jarang, saya tidak ingin ada penumpang yang tidak bisa naik (karena busnya sudah penuh) gara-gara saya, padahal saya sangat memungkinkan untuk naik rute yang lebih pendek dan lebih sering busnya.”
Rasulullah saw sering menangis, dan umat Islam tahu itu.
Apakah Beliau cengeng? “Kok sudah dewasa sering nangis, nggak malu sama anak kecil?”
Nabi Muhammad saw memang sering menangis, bahkan Beliau adalah yang paling banyak menangis daripada para sahabat beliau sendiri, bukan berarti Beliau lemah.
Seorang neurodivergent seperti saya memiliki amigdala atau sensor otak yang begitu sensitif, ditambah dengan sifat keadilan hipertrofi yang tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi kemudian “sudah”.
Salah satunya adalah saat Beliau saw memikirkan kondisi umat Beliau nanti, sampai pernah ada kisah bahwa tangisan Beliau terdengar begitu menyayat hati.
Padahal, Beliau sudah tahu kalau Allah Maha Adil lagi Maha Penyayang jadi seharusnya Beliau tidak perlu khawatir. Apalagi Beliau “tinggal” meminta langsung kepada Allah Ta’ala akan berbagai macam hal, namun itu masih tidak menghentikan tangisan Rasulullah saw yang begitu mendalam dan berkali-kali.
Dari kacamata saya seorang neurodivergent, tangisan Beliau itu bukanlah tangisan biasa. Neurodivergent memiliki sebuah “superpower” yang saya sendiri kesulitan untuk mencari orang yang mirip dengan saya.
“Superpower” seperti apa itu? Yakni kepedulian atas segala sesuatu, dan selalu berusaha melakukan hal yang “extra mile”. Jadi tidak mengerjakan sebuah pekerjaan secara tuntas kemudian sudah.
Neurodivergent selalu menuntut hal ekstra yang bermanfaat dan menyenangkan hati di setiap aktivitasnya.
Misalnya, saat mengembangkan sesuatu, seperti saya yang membuat sebuah aplikasi, saya tidak ingin fitur yang sekadar jadi, namun juga harus memudahkan dan berkesan di sanubari para pengguna aplikasi saya.
Jadi hasil atau produknya memiliki charm atau magic-nya tersendiri.
Maka dari itu sangat tidak heran mengapa di antara seluruh Nabi dan Rasul, hanya Nabi Muhammad saw saja yang Allah berikan keistimewaan dapat memberikan syafaat kepada umatnya kelak.
Itu tentu bukan sebuah prestasi kecil.
Jadi bukan sekadar menyampaikan risalah dan bersabar dengan perlakuan umatnya, kemudian sudah. Selalu ada “gebrakan” positif yang dihasilkan secara berkala dari seorang neurodivergent yang sudah matang.
Saya berbicara seperti ini tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Nabi dan Rasul lain, bagaimana pun perjuangan mereka pun luar biasa beratnya dan mereka begitu mulia. Hanya saja, hasil yang kita dapat dari Rasulullah saw inilah yang saya maksud dengan “extra mile”.
Bahkan beliau sendiri yang menyebutkan pada hadits yang sangat kita kenal,
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
HR. Ahmad
Perlu kita catat bahwa Beliau sendiri yang bilang bahwa orang yang paling bermanfaat adalah sebaik-baik manusia.
Seorang manusia terbaik di alam semesta ini menyematkan “sebaik-baik manusia” bagi mereka yang extra mile (paling bermanfaat).
Siapa yang katanya mengidolakan Nabi Muhammad saw? Apakah tidak tergiur dengan sematan agung sebagai “sebaik-baik manusia” oleh sang idola itu sendiri?
Sekali lagi, wallahu a’lam apakah Rasulullah saw seorang neurodivergent atau bukan.
Namun bagi seorang neurodivergent seperti saya, banyak hal yang begitu mengena dan relate secara langsung mengenai kehidupan Beliau sehari-harinya.
Dan semuanya itu manusiawi, tidak ada hal spesial sama sekali seperti mukjizat yang tidak masuk akal dan tidak dapat ditiru oleh manusia biasa seperti kita.
Hanya saja, ketika kita menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai seorang idola, sudah seberapa dalam kita dalam mengenal junjungan kita sendiri?