Tujuan Wisata

Ini bermula dari sebuah berita kontroversial mengenai seorang ustadz kondang yang ditolak masuk ke Singapura beberapa hari lalu sebab Imigrasi Singapura khawatir masalah ekstrimisme.

Tentu saja pemberitaan tersebut menimbulkan berbagai reaksi dari kalangan masyarakat kita. Namun saya tidak ingin membahas itu.

Saya tergelitik saat tercuat pertanyaan, mengapa banyak orang yang memilih Singapura sebagai tujuan wisata luar negeri padahal Singapura minim keindahan dan sumber daya alam?

Saya cukup setuju jika orang-orang menyebut hampir segala sesuatunya di Singapura itu artifisial atau buatan.

Saya sendiri juga agak bosan saat tempat atraksi turis di Singapura yang ditonjolkan hanya seputar Merlion, Marina Bay Sands, Jewel Changi, Gardens By The Bay, Orchard, dan tidak jauh-jauh dari itu.

Namun saya terkejut saat saya melihat data turis yang berkunjung ke Singapura tahun 2019 sebelum pandemi Covid19 ternyata mengalahkan negara Indonesia ini, dengan selisih tiga juta turis.

Tujuan Wisata

Sumber: Statista

Padahal, luas daratan Singapura hanya 728km², berbeda jauh dengan luas daratan Indonesia yang hingga 1,8 juta km². Artinya, daratan Singapura hanya 0,038% dari daratan Indonesia.

Apa sih yang membuat orang dari seluruh dunia mengunjungi negara seupil yang tidak memiliki kekayaan alam dan serba buatan, dan berhasil mengalahkan Indonesia dan Filipina yang nyatanya jauh lebih indah?

Sangat menarik untuk di bahas.

Sebelumnya saya menegaskan jika saya tidak sedang mempromosikan Singapura sebagai tujuan wisata, namun alangkah baiknya jika kita belajar dari negeri yang sangat kecil tersebut agar negara ini menjadi semakin lebih baik.

Jangan khawatir, saya mencintai Indonesia dan kalian semua. 😘😉

Saya agak tergelitik jika saat seseorang membandingkan negara ini dengan negara yang lebih baik sebagai studi banding, tiba-tiba ada yang berceloteh, “Yaudah pindah aja ke negara sono!”

Dear, jika kita ingin lebih baik tentunya harus belajar dari yang memang sudah lebih baik. Untuk mereka yang mengusir untuk pindah negara, mengapa tidak mereka saja yang pindah ke negara konflik seperti Yaman, Suriah, atau Somalia?

Saya menemukan lima buah, semoga kita dapat mengambil pelajaran. Indonesia yang luasnya 30.000 kali lebih besar dari Singapura harusnya dapat merajai pangsa turis internasional. Apalagi jika dibandingkan dengan negara yang minim keindahan alam.


Menawarkan kenyamanan

Saya pernah ke Singapura tahun 2019 lalu, dan itu adalah pertama kalinya saya pergi ke luar negeri.

Saat saya mendarat di Terminal 4, ternyata bandara sudah lebih dahulu menyambut kedatangan saya dengan papan petunjuk yang besar dan multibahasa. Dari sana saja sudah terbentuk kesan pertama yang menarik.

Kemudian saat mengantri di imigrasi, saya dihibur dengan instalasi seni sehingga saat mengantri saya tidak merasa begitu bosan. Pihak imigrasi pun sangat ramah (meski partner saya mendapatkan yang biasa-biasa saja, tidak ramah dan tidak jutek).

Belum cukup dengan itu, setelah saya lolos dari imigrasi, sebuah mesin menawari saya untuk menilai petugas imigrasi tersebut dengan memberinya bintang seperti kita memberi penilaian kepada driver online.

Segala sesuatunya dengan jelas terpampang hingga setiap tiang lampu jalan pun terdapat nomor agar saat kita tersesat, kita dapat menghubungi 995 dan memberi tahu nomor tiang lampu terdekat agar dapat dijemput.

Saya juga agak kaget saat saya mengetahui jika banyak tempat yang dapat diakses dengan menggunakan eksalator dan masing-masing terintegrasi dengan baik. Saya pikir orang Singapura akan menjadi malas dengan kemudahan ini, namun saya terkejut saat melihat tubuh orang-orang Singapura banyak yang sangat ideal dan bahkan berotot.

Puncaknya adalah saat saya berpisah dengan rekan saya dan saya ‘dibiarkan’ sendirian melanglang di Singapura.

Saat malamnya saya keluar dari MRT, tiba di stasiun Bendemeer. Saya naik eksalator saat stasiun sudah sepi, kemudian terhenti di salah satu ruangan stasiun, termenung.

Pada saat itu saya sudah tidak merasa stasiun ini sebagai tempat yang asing. Saya sudah merasa bahwa stasiun ini seperti rumah saya sendiri. Kenyamanan yang saya rasakan di stasiun itu tidak lagi dapat saya ungkapkan.

Kenyamanan itulah yang menghasilkan kerinduan. Jika sudah rindu dengan suatu tempat, orang akan rela mengunjungi tempat tersebut berkali-kali.

Bahkan, kenyamanan yang saya dapat dari Singapura masih bertahan hingga dua minggu setelahnya meski saya sudah pulang ke Indonesia.

Akhirnya saya mengerti. Ada sensasi yang tidak manusia dapatkan di atas gunung atau di tengah laut. Manusia pada dasarnya juga menyukai kenyamanan sosial, dan Singapura telah berhasil memberi contoh yang cantik mengenai ini.


Melting pot

Saya mengunjungi Chinatown saat mencari makan malam dengan partner saya saat di Singapura. Tentu saja saya mencari makanan yang halal sebab saya muslim.

Yang buat saya agak terwow, saya melihat langsung di depan mata saya sendiri miniatur dari keanekaragaman budaya dari seluruh dunia di tempat sekecil itu.

Ada perempuan beretnis cina membawa anjing peliharaannya berjalan bersebelahan dengan pria muslim keturunan India dengan janggut panjang, berpakaian gamis dan sorban yang serba putih, mirip Osama Bin Laden.

Kemudian ada seorang bule putih kaukasian berpapasan dengan seorang wanita India dengan pakaian yang sering kita lihat di sinema-sinema Bollywood.

Semuanya kerumunan itu bersinggungan tanpa khawatir munculnya penilaian-penilaian yang tidak-tidak dari publik, dan mereka cenderung bangga dengan itu.

Sesuatu yang sangat jarang disaksikan negara lain.

Padahal, menjaga keharmonisan antarsuku dan agama saja sudah sangat sulit, bagaimana jika suku dan agamanya bukan hanya dua, tapi empat?

Di sinilah setiap orang mempelajari keharmonisan yang mungkin mereka tidak akan pernah jumpai di negaranya sendiri, dan ini juga merupakan sebuah daya tarik.

Banyak saya saksikan masjid yang bersebelahan dengan tempat ibadah lain. Bahkan masjid tempat saya shalat pun begitu besar dan kebanyakan langsung di pinggir jalan, dekat dengan stasiun MRT dan halte-halte bus, seakan-akan saya beribadah di negara yang mayoritas muslim.


Artifisial alami

Meski saya mengernyitkan dahi ketika melihat segala sesuatunya yang dipromosikan oleh kementrian pariwisata Singapura itu ‘tidak indah’ dan ‘sangat artifisial’, tetapi ada satu hal yang saya pelajari dari sana.

Meskipun artifisial, namun Singapura berusaha untuk membuat segala sesuatunya terlihat alami.

Orang Singapura pun sepertinya juga memahami bahwa manusia memerlukan sentuhan dari alam sebagai proses “healing” dari kesibukan sehari-hari. Maka dari itu, segala artifisial yang mereka buat, misalnya atraksi kebun di Gardens By The Bay, mereka buat sealami mungkin.

Benar, seluruh atraksi yang bertema alamnya menggunakan pohon sungguhan, yang benar-benar hidup.

Saya pernah mengunjungi Flower Dome dan Cloud Forest. Saya banyak sekali menyaksikan tumbuhan dari seluruh dunia, berikut bunga-bunganya, yang benar-benar hidup di bangunan tersebut.

Ada pohon baobab dari Afrika, pohon kurma dari Jazirah Arab, bahkan hingga tumbuhan-tumbuhan karnivora yang saya tidak mengerti bagaimana pihak Singapura dapat merawatnya sampai mereka tumbuh dengan harmonisnya berdampingan dengan tumbuh-tumbuhan lain di seluruh dunia.

Sekarang kembali ke negara kita yang katanya indah ini. Berapa kali saya lihat saat saya sedang melakukan perjalanan piknik, saya sudah beberapa kali menemukan pembukaan lahan yang masih terlihat bekas gosong di tanahnya seperti baru saja dibakar.

Bahkan, beberapa air terjun sudah tidak lagi mengalir sebulan atau dua bulan setelah musim hujan sebab pepohonannya sudah rontok di atasnya. Beberapa air terjun juga sudah tidak lagi bening sebab sungai di atasnya sudah dijadikan area komersil.

Mengapa kita masih perlu belajar dari negara yang hampir tidak memiliki keindahan alam ini?


Segala sesuatunya jelas

Saya memasuki kawasan kebun raya di Garden By The Bay dengan gratis, tanpa ada pungutan atau tiket masuk sama sekali. Di sana ada toilet umum dengan arsitektur yang elegan dan mewah, serta kita dapat menggunakannya gratis 100%.

Padahal saya lihat Singapura pun banyak penduduk yang berekonomi rendah bahkan saya temukan ada beberapa tunawisma yang tidur di pinggiran ruko.

Apalagi, kehidupan di Singapura sangat mahal. Sebuah nasi goreng dibanderol dengan harga S$5 atau sekitar Rp50.000.

Namun tetap tidak saya temukan adanya orang-orang yang mencoba untuk mengomersilkan tempat-tempat publik yang gratis tersebut.

Orang-orang di Singapura memahami jika transparansi itu membuat nyaman. Mereka tidak akan melakukan sesuatu yang tidak ada peringatan tertulisnya.

Awalnya saya agak khawatir bertandang ke Singapura sebab saya hanya mengetahui jika negara tersebut sangat ketat dan sarat denda. Ternyata barulah saya mengetahui semua itu dilakukan demi melindungi negara yang sudah mereka anggap seperti rumah mereka sendiri.

Saat kita memasuki tempat wisata, semua tarif tiket dengan begitu jelas tertulis di depan muka. Tidak ada ceritanya saat kita mulai memasuki tempat wisata dan mulai menikmatinya, tiba-tiba kita ditegur untuk membayar tarif lainnya.

Tarif berganda dapat mengurangi kenyamanan para turis, padahal turis mengunjungi sebuah tempat wisata agar dapat memperbaiki mood atau suasana hati mereka.

Pada akhirnya, saya sering mendengarkan keluhan tentang orang-orang yang malas berwisata karena tarif tambahan yang terkadang terjadi tiba-tiba ini. Sejujurnya, saya sendiri pun mengeluhkan hal serupa.

Pernah suatu ketika saya mendengar curhat dari pengelola wisata di suatu daerah di Bogor yang sudah ditinggal para pengunjung, kemudian saya jelaskan bahwa pengunjung tidak menyukai tarif berjenjang yang tidak all in. Mereka lebih memilih wisata yang sedikit lebih mahal namun mereka sudah bebas berada di dalamnya setelah itu.


Menjunjung tinggi improvisasi

Salah satu hal yang saya temui dari beberapa orang Singapura saat mereka menjawab pertanyaan mengenai negaranya di Quora, salah satu kesamaan dari jawaban mereka bahwa orang-orang Singapura senang melakukan perbaikan atau improvisasi.

Manusia pada dasarnya menyukai fitur baru, meski terkadang kita belum tahu apakah fitur baru yang ditunggu itu menyenangkan atau mengecewakan.

Bagaimana jika suatu ketika kita menemukan jalanan yang rusak di area yang kita lewati sehari-hari tiba-tiba sudah teraspal dengan mulus? Bukankah kita berbahagia?

Atau bagaimana jika seniman kebanggaan kita tiba-tiba membuat pengumuman tentang karya atau album baru mereka yang siap dirilis? Bukankah kita bersemangat dengan itu?

Singapura telah menjadikan berimprovisasi ini sebagai budaya. Seperti Jepang, mereka pun bekerja untuk komunitas mereka, walaupun mereka memiliki kebutuhan pribadi yang juga harus dipenuhi.

Karena sibuk berimprovisasi inilah, Singapura menjadi negara yang minim kriminalitas di samping hukum mereka yang juga ketat, sebab masing-masing individu, baik kaya atau miskin sudah disibukkan dengan tuntutan improvisasi yang pada akhirnya mereka sendiri jua yang akan menikmatinya.

Seperti misalnya, Bandara Changi yang terus menerus membangun atraksi turis baru seperti Jewel dan banyak lagi hampir setiap tahun. Hal itu tentu saja memikat para calon wisatawan yang penasaran.

Dan bukan cuma berimprovisasi, mereka juga benar-benar melakukannya dengan sepenuh hati. Tidak heran jika Singapura mendapatkan beragam penghargaan internasional yang konsisten selama bertahun-tahun.


Kesimpulan

Semoga dengan kelima hal ini dapat membuat negara kita dapat selangkah lebih baik lagi. Bukankah kita sendiri yang menginginkan negara yang makmur dan minim koruptor?

Apalagi sebagai muslim, kelima poin yang telah saya sebutkan di atas sama sekali tidak ada yang bertentangan dengan syariat bahkan seharusnya sebagai muslim, saya merasa terpukul karena selama ini banyak syariat mengenai akhlak yang belum saya jalankan.

Syariat memberikan rasa aman (kenyamanan adalah bagian dari rasa aman), syariat untuk terus melakukan perbaikan, syariat kejujuran dan transparansi, syariat melestarikan alam, dan syariat hablun min an-nas/al-alam lainnya, telah saya dapatkan dari Singapura untuk menjadi standar penegakkan syariat saya setelah itu.

Singapura hanyalah salah satu contoh, khusus bagi orang-orang yang ingin negara tercinta ini menjadi lebih baik lagi. Bahkan seharusnya kita bisa jauh lebih baik daripada the little red dot tersebut.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas