Indonesia Negara Paling Santuy, Sebuah Prestasi?

Indonesia Negara Paling Santuy

Ada yang membagikan sebuah link mengejutkan di beranda jejaring sosial saya. Indonesia mendapatkan peringkat sebagai negara paling santuy (santai euy) dalam sebuah situs Inggris Raya. Link. Dalam link tersebut terlihat kelakuan rakyat Indonesia dalam kesehariannya seperti bagaimana cara berkendara mereka, bagaimana mereka menghadapi bencana, dan lain sebagainya.

Perasaan saya campur aduk. Saya bahkan tidak tahu bagaimana saya menanggapi artikel tersebut. Ingin bangga atau dilema? Entah.

Saya pernah melihat kelakuan orang-orang luar negeri yang santuy-santuy namun saya masih belum mengerti bagaimana orang Inggris ini bisa menobatkan negeri tercinta ini sebagai the most chilled country a.k.a negara paling santuy di dunia. Saya lihat komentar para netizen benar-benar sorak-sorai. Mereka berbangga, tentu saja.

Bagaimana tanggapan saya perihal penghargaan tersebut?


  • Bobot prestasi

Saya sebenarnya bertanya kepada diri sendiri yang sebenarnya siap berbangga, “Apa yang harus saya banggakan dari prestasi ini? Apakah ada suatu hal penunjang?”

Benar, saya memverifikasi diri saya sendiri tentang perlunya saya berbangga atau tidak mengenai penobatan negeri ini sebagai yang paling santuy dari ratusan negara lainnya di dunia ini. Jika memang benar harus berbangga, maka saya berbangga. Jadi, saya membaca artikel penobatan tersebut secara keseluruhan. Dan tentu saja, mencari artikel-artikel serupa yang mendukung.

Ada orang berkendara sambil tiduran, ada yang berdansa di tengah banjir, ada banyak siswa yang tidur siang tergeletak bergelimpangan di sekeliling gurunya, ada orang yang makan mie dengan santainya di saat gempa, dan yang lainnya.

Well, semua inikah yang membuat saya harus berbangga? Saya tidak mengerti apa dampak positif yang akan diperoleh sekali pun penisbatan santuy ini memang mendunia dan banyak orang di seluruh dunia yang mengetahuinya. Apakah membuat negeri ini memiliki banyak turis? Apakah membuat negeri ini maju seketika? Apakah ada peningkatan kesejahteraan masyarakan dan perbaikan kualitas ekonomi yang signifikan?

Saya tidak menemukan satu kotak pun yang dapat saya centang.


  • Terka penyebab

Jakarta banjir kembali, sudah ke sekian kalinya sejak awal tahun 2020. Dan lihat? Fenomena bahagia tengah banjir semakin merebak ke mana-mana. Setiap jejaring sosial saya hampir semuanya menayangkan video serupa. Mengopi tengah banjir, anak-anak bermain arung jeram dan seluncuran di antara banjir-banjir, dan kegiatan-kegiatan yang normal terjadi di tengah bencana.

Saya pribadi tidak mempermasalahkan segala kelakuan masyarakat yang santuy seperti itu. Justru saya senang jika memang mereka tidak mempedulikan hal ini dan menyikapinya tanpa tekanan apa pun.

Namun, saya bertanya-tanya apa yang membuat masyarakat bersikap sebegitu santuynya dalam menghadapi beberapa force majeur tersebut? Apakah mereka sudah terlanjur pasrah? Atau mereka memang sudah tidak tahu lagi ke mana mereka harus mengadu? Atau yang lebih parah, apa mungkin masyarakat kita sudah lelah dengan ketidakpastian negeri ini untuk berubah menuju arah yang lebih baik semenjak krisis moneter terakhir di tahun 1998?

Ini masih teka-teki. Saya hanya tidak tahu.


  • Efek samping

Saya bertolak ketika teman saya menunjukkan foto-foto kesantuyan bangsa ini dalam bersikap dalam kesehariannya. Mengapa? Saya tidak ingin hal ini menjadi budaya baru bangsa kita di tengah minim dan tidak pastinya prestasi gemilang yang akan ditorehkan anak-anak bangsa. Ingin sampai kapan kita ingin mengandalkan satu, atau dua anak bangsa yang berprestasi di negeri ini?

Tapi ‘kan banyak benih-benih bangsa yang terus dilatih untuk mengharumkan negeri ini?

Iyes, namun jika kita menengok bagaimana pergerakan India dalam menyongsong negaranya menjadi lebih maju, kita sepertinya masih belum melakukan perbaikan yang signifikan. Ingat, negara maju tidak hanya diukur dari banyaknya gedung-gedung yang berdiri, tidak diukur dari perputaran ekonomi yang terpusat, apalagi jika yang di maksud hanya di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya saja, yang tidak sampai 5%nya dari luas negeri ini.

Bagaimana dengan progres pemerataan ekonomi? Apakah ada kenaikan nominal yang dapat diharapkan? Semoga, saya pun terus mengharapkan secercah cahaya untuk menopang negeri ini agar lebih maju.

Saya hanya khawatir, kesantuyan masyarakat kita hanya menjadi tanda bahwa masyarakat kita memang masa bodoh, tidak ingin melakukan sesuatu dengan maksimal, dan yang lebih parah, menyebabkan sebuah situs berita menuliskan judul berikut,

Indonesia Negara Paling Santuy

Well, well, well…


  • Konklusi

Saya tidak menyebutkan bahwa kesantuyan masyarakat kita ini adalah suatu hal yang buruk. Tidak sama sekali. Yang diharapkan oleh seluruh lapisan masyarakat adalah negara yang memang dapat memakmurkan sebagian besar rakyatnya. Namun kembali lagi kepada masyarakatnya itu sendiri, apakah mereka ingin melakukan sesuatu yang maksimal atau memang sudah cukup melakukan ‘yang penting ada’, ‘masih mending selesai’, dan lain-lain.

Karena pada akhirnya, kita berdoa pemimpin kita dapat lahir dari masyarakat yang taat aturan, peduli sesama, pekerja keras, melakukan segala sesuatunya dengan detail dan maksimal, serta ingin mendengarkan komplain orang lain.

Kita berharap, dan selalu terus berharap… dengan santuy pastinya! Salam Santuy! 🙂

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)