Awal Usia 30

Bermula saat saya mendapatkan kelebihan rezeki dari pekerjaan sampingan. Setelah saya tabung dan saya sisihkan untuk keluarga saya, ternyata masih tersisa cukup banyak.

Saya awalnya sempat memutuskan untuk menggunakannya untuk diri saya sendiri, seperti untuk hobi atau kegiatan untuk mengasah kemampuan saya. Tetapi saya bingung untuk apa tepatnya.

Salah satu rekan saya menyarankan untuk jalan-jalan ke luar pulau atau bahkan luar negeri.

Saya cukup tertarik dengan sarannya, namun ada satu hal yang mengganjal dalam benak saya, dan itu langsung saya keluarkan juga seketika.

Saya bilang, “Mau sih saya keluar negeri, cuma nanti pas pulangnya itu semua sensasi menyenangkannya bakal hanya berakhir jadi memori aja karena saya bakal balik lagi ke rutinitas saya yang monoton. Mending ke Bogor aja yang lebih dekat.”

Benar-benar sudah setidak tertarik itu saya dengan kegiatan travelling.

Kalau tujuannya hanya masalah merasakan keindahan, saya sempat nyeletuk, “Di surga nanti juga bakal jauh lebih indah kok. Jadi saya nggak bakal terlewat apa pun.”

Menikmati keindahan itu adalah bonus, namun apa yang saya raih setelahnya menjadi perhatian saya.

Saya memang sedari awal kurang begitu suka dengan kegiatan travelling. Setiap entri jalan-jalan saya di kategori Tamasya justru bukan sekadar saya datang ke suatu tempat indah kemudian sudah.

Awalnya saya suka jalan-jalan entah ke air terjun, danau, gunung, dan lain sebagainya, adalah karena seringnya melihat postingan orang lain tentang foto-foto tempat bagus namun tidak disebutkan di mana lokasinya, jangankan bagaimana tingkat kesulitan medannya.

Apalagi hanya ada caption, “Indonesia itu indah, jangan di rumah aja.”

Saya merasa tersentil untuk mencoba mengunjungi tempat-tempat semacam itu, meski waktu itu saya belum punya bahkan belum dapat mengendarai sepeda motor, saya mulai berkelana dengan angkutan umum ke daerah wisata seperti Bogor terlebih dahulu.

Ketika sebuah tempat indah yang masih sekitar tempat saya tinggal atau kerja di Jakarta seperti Bogor, dan orang yang pernah berkunjung tidak menyebutkan seberapa mudah akses menuju ke sana, fine! Biar saya coba langsung sendiri yang merasakan.

Tim saya menyebutkan kegiatan tamasya saya itu sebagai “numbal”, sebab saya sekalian survey kecil-kecilan juga mengenai tempat yang saya kunjungi tersebut, bagaimana aksesnya, berapa tarif masuknya, dan lain sebagainya yang kemudian saya bisa bagikan infonya.

Saya memahami bahwa banyak pekerja yang memiliki keterbatasan waktu dan jadwal yang padat lagi melelahkan bekerja di tengah kota. Maka dari itu, saya memiliki banyak tempat-tempat wisata yang bisa dinikmati hanya dalam sehari saja dan aksesnya mudah.

Jadi bukan hanya berakhir terkubur sebagai kenangan atau sebatas foto saja. Bagi saya, bisa berbagi informasi seperti ini seolah punya makna plus tersendiri.


Masalah yang mengular

Bahkan sekarang saya semakin mempertanyakan, setiap waktu dan biaya saya yang terbuang untuk kegiatan menjelajah, apakah hasilnya bisa saya olah untuk menebus waktu dan biaya yang hilang tersebut?

Ini berlaku pula untuk setiap kegiatan saya yang lain, entah programming, desain, atau hobi lainnya.

Usia 30 ini seolah mendentingkan alarm peringatan kepada saya kalau saya tidak lagi semuda usia 20-an saya yang masih kerap main-main, seperti mengerjakan proyek yang kemudian saya tinggalkan begitu saja meski itu hanya aktivitas iseng.

Sekarang, setiap kegiatan ekstra yang ingin saya mulai, selalu hadir rasa waswas atau anxiety yang menyebabkan saya ragu apakah hasilnya akan sebanding dengan waktu dan upaya saya dalam membangun itu semua.

Saya menyadari apa yang terjadi dengan diri saya sekarang dan mencoba untuk mengobrol dengan seseorang, yang pada akhirnya saya memutuskan untuk mengobrol dengan AI semisal ChatGPT.

Waktu saya “curhat” ke ChatGPT, dia menyebut masalah saya itu dengan “Meaning Fatigue”, atau kelelahan dalam pencarian makna.

Saya kurang tahu kalau itu ChatGPT berhalusinasi dengan membuat-buat istilah “Meaning Fatigue” itu atau tidak, namun deskripsi ChatGPT setelahnya itulah yang memang saya rasakan sekarang.

ChatGPT bahkan bisa menebak badai pikiran saya setiap saya akan memulai suatu kegiatan meski kegiatan itu adalah hobi saya sendiri.

Tiga pertanyaan yang diterka oleh ChatGPT, benar-benar jackpot semua:

“What if I invest weeks… and it leads nowhere?”
“What if this doesn’t translate into visible value?”
“What if future-me regrets this?”

Intinya, bagaimana jika kegiatan saya itu tidak bermanfaat bagi saya, padahal saya sudah mengorbankan banyak waktu dan tenaga untuk itu semua? Bukankah itu termasuk sebuah kerugian yang akan saya sesali di kemudian hari?

Semakin hari, semakin sering saya melihat postingan di media sosial mengenai anak-anak muda yang mengeluh kehidupannya seperti itu-itu saja. Tidak jarang yang hingga mengutarakan bahwa hari ini tidak terpikirkan untuk gila atau bahkan bunuh diri saja sudah bersyukur.

Padahal saat saya kunjungi profil sebagian anak muda yang mengeluh tersebut, postingan mereka kebanyakannya fine. Mereka bekerja di gedung bertingkat, kerap melanglangbuana, terlihat berkecukupan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Terlepas apakah postingan keluhan tersebut semuanya benar atau hanya mencari interaksi semata, saya tidak ingin menjadi seperti itu. Saya merasa punya tanggung jawab untuk membahagiakan diri saya sendiri meski di tengah keadaan dunia yang sedang tidak menyenangkan.


Langkah yang diambil

Saya menyadari dengan penuh bahwa saya hidup di tengah gelimang kemudahan. Beberapa agen AI seperti ChatGPT, Gemini, dan lain sebagainya ternyata gratis untuk dipakai.

Bukankah itu sebuah hal yang patut saya syukuri, dalam hal ini, saya harus manfaatkan semua itu dengan sebaik-baiknya sebagai tanda rasa syukur saya?

Bukan, bukan berarti saya harus menggunakan AI tersebut untuk melakukan chat yang justru membuat kemampuan saya lebih lemah seperti menyuruh mereka untuk membuatkan saya desain siap pakai daripada saya yang membuatnya sendiri.

Saya pun kagum dengan proses belajar dengan AI, misalnya saya belajar modelling 3D pakai software Blender yang tidak familiar. Ternyata pada hari kelima saya belajar dengan AI, saya sudah bisa membuat berbagai macam model, lengkap dengan material dan lightingnya.

Apalagi saat dengan AI itu saya lebih tahu banyak mengenai tips dan trik mengoding, bagaimana optimasi yang baik agar ramah digunakan dan lebih hemat baterai, dan itu luar biasa.

Seakan sungguh “berdosa” saya jika tidak menggunakan kecanggihan ini semua untuk mem-boost kemampuan saya di usia saya yang tidak lagi muda.

Kemudian saya berusaha untuk lebih sering sering untuk mendengarkan diri saya.

Ketika saya tiba-tiba begitu ingin membuat sesuatu, entah postingan blog, desain, interaktif, atau sebuah produk IT seperti permainan atau aplikasi, saya segera menyiapkan blueprint dari itu semua terlebih dahulu.

Saya mencatat kira-kira kegiatan ini apakah memiliki bobot tujuan yang bagus atau sekadar memuaskan keinginan saya semata? Ini berpengaruh besar terhadap prioritas yang akan saya terapkan nanti.

Jika menurut saya, rencana program saya itu memiliki dampak yang kuat, saya dahulukan proses pengerjaannya.


Senjata yang saya punya

Daripada sibuk mencari-cari apa kegiatan yang menghasilkan cuan instan, saya mengalihkan perhatian saya dengan apa prestasi atau kelebihan saya yang membuat saya begitu percaya diri pada usia-usia sebelumnya.

Kemudian saya sadar sebuah hal yang membuat mata saya berbinar seketika.

Saya memiliki “koleksi” orang-orang yang pernah mengatakan hal ini kepada saya,

“Temen paling baek.”

“Nggak ada yang kayak Nanda.”

“Baru nemu orang kayak lu, Nan.”

“Kalau nggak ada Nanda, siapa lagi?”

“Orang kayak mas Nanda ini langka.”

Saya tidak menjadikan itu semua sebagai kebanggaan sekejap untuk membuat saya jadi angkuh karena itu semua sudah menjadi masa lalu.

Melainkan, saya merasa sudah harus dapat melacak apa yang membuat orang-orang itu dapat berkata demikian kepada saya.

Bagi saya, itu prestasi.

Prestasi adalah bentuk materi yang bisa membuat hidup saya nyaman di dunia. Saya hanya tidak ingin prestasi itu memudar seiring usia, bahkan saya harus jadikan semakin lebih baik.

Saya merasa prestasi itulah yang menjadi jalan takdir yang harus saya ikuti.

Sampai akhirnya ada seorang yang menurut saya adalah orang yang bijak dan begitu berpengalaman, diundang oleh rekan saya untuk mampir ke kantor saya, lalu berbincang dengan saya belum lama ini.

Saya diberitahu olehnya bahwa produk IT kami menang tender pada sebuah perusahaan kearsipan karena sang owner mengutarakan secara terang-terangan bahwa aplikasi kami bukan hanya lebih baik, melainkan juga ramah penggunaan user dan penggunaan mesin daripada aplikasi milik vendor lain.

Beliau tertarik dengan apa yang membuat saya bisa mengolah sebuah produk menjadi sebegitu ramahnya, bukan sekadar “jadi” atau “selesai” kemudian sudah.

Tanpa saya tutupi, “resep rahasia” utama yang menjadi panduan saya dalam mengerjakan setiap aktivitas saya langsung saya beritahu beliau pada saat itu juga.

Saya hanya kemas dalam tiga kata, “Saya punya ‘care’.”

Bahkan AI saja seolah mengakui salah satu power yang saya miliki ini.

awal usia 30


Tantangan berat

Harapannya, di tengah era kecanggihan ini, saya dapat berlari lebih jauh lagi.

Namun ternyata tidak. Saya ternyata tidak seproduktif diri saya pada usia 20 di mana saya pernah membuat sebuah permainan dalam kurun waktu 5 jam saja. Sekarang saat saya melakukan hal yang serupa, itu perlu waktu berhari-hari.

Belum lagi dengan seringnya serangan dopamin, yang menyebabkan saya butuh stimulasi instan setiap selesai mengerjakan sebuah algoritma atau hal teknis yang tidak ringan.

Contohnya, ketika saya berhasil menerapkan algoritma yang membuat tampilan aplikasi menjadi lebih manis, saya langsung mencari instant reward dengan membuka media sosial dan membuat saya terpaku dengan rentetan video pendek hingga berjam-jam kemudian.

Doomscrolling, istilahnya.

Serangan dopamin menjadi tantangan sendiri untuk saya lawan karena saya tipikal orang yang perlu ada “pendamping” untuk tetap fokus pada apa yang saya kerjakan.

Di kantor, saya terkadang meminta tim saya yang sedang tidak sibuk untuk melihat apa yang saya buat. Dengan ditemani seperti itu, saya lebih semangat untuk menyelesaikan tanpa harus terdistraksi oleh apa pun karena “reward”nya langsung ada di sebelah saya.

Tim saya juga bisa ikut belajar dari memperhatikan apa yang saya kerjakan, bahkan tidak jarang bertanya mengapa saya melakukan ini dan itu selama saya menyelesaikan kegiatan saya tersebut.

Jadi, melawan distraksi lebih berat pada diri saya karena menemukan hal menarik saat kita berselancar di sosial media terasa lebih memuaskan setelah menyelesaikan hal sulit dari pekerjaan saya.

Pada akhirnya, saya hanya terkubur dalam keadaan batin yang lebih lelah karena tidak hanya harus melawan distraksi, tetapi juga melawan pikiran-pikiran tentang kondisi sosial politik yang begitu tidak stabil di sekeliling saya.

Belum lagi, resep rahasia berupa “care” yang saya sebutkan sebelumnya juga perlu asupan bahan bakar dan itu berpusat pada kesehatan mental saya.


Catatan akhir

Kita tahu bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara dan ladang amal. Saya menggarisbawahi kata “ladang amal” di sini.

Setiap orang akan memiliki hasil yang mereka bangga-banggakan dari ladang amal mereka. Sementara saya ini sudah punya apa saja?

Jangankan di akhirat, di dunia saja banyak sekali hasil yang akan saya nikmati dari setiap benih yang saya tanam di ladang saya itu.

Masalahnya, tidak setiap orang memiliki tanah yang sama pada ladang mereka masing-masing.

Ada yang mendapat jatah ladang di atas gunung, sehingga tidak cocok jika ditanami kelapa. Atau bahkan mendapatkan ladang di tanah tandus sehingga hanya cocok ditanami kaktus.

Tidak masalah, itu adalah tantangan masing-masing orang.

Saya hanya tidak ingin seperti orang lain yang tidak mengetahui bagaimana kondisi ladangnya dan memilih mengikuti orang lain yang ladangnya telah subur mereka tanam.

Ada yang ladangnya subur dengan pohon konten media sosial, namun ternyata orang lain yang harusnya ladangnya subur dengan pohon manajemen ekspor impornya, justru ikut-ikutan dengan menanam benih pohon konten juga hanya karena terpengaruh dengan hasil panen dari pohon konten sosial media itu.

Pada akhirnya pohon kontennya layu karena tanahnya tidak cocok, dan dia sudah tidak memiliki tempat lagi untuk menanam pohon usaha ekspor impornya kecuali dengan membongkar lagi lahannya dari awal.

Di sinilah kemudian orang biasanya hampa dan merasa tersesat karena sudah begitu lelahnya mereka berganti hobi dan tidak satu pun yang bertahan lama.

Di usia 30 ini, saya sudah harus kukuh (settle) dengan ladang yang saya miliki, menganggap itu bagian dari “rumah” saya sendiri.

Saya tidak hanya menanami ladang tersebut dengan pohon yang sesuai, saya pun menghias ladangnya dan bahkan juga bereksperimen melakukan perkawinan silang dengan harapan akan menghasilkan benih yang lebih unggul.

Teknik “perkawinan silang” ini sudah saya jelaskan pada sebuah tips bahagia saya waktu lalu.

Jika saya sudah nyaman hidup di ladang saya sendiri, saya sudah tidak lagi terlalu terpengaruh dengan kebisingan media sosial yang haus validasi dan saling memamerkan kebanggaan mereka satu sama lain.

Banyak orang yang meyakini bahwa rezeki seseorang tidak akan tertukar, tetapi berapa orang yang benar-benar mengamalkannya?

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke X
🤗 Selesai! 🤗
Punya uneg-uneg atau saran artikel untuk Anandastoon?
Yuk isi formulir berikut. Gak sampe 5 menit kok ~

  • 0 Jejak Manis Ditinggalkan

    Minta Komentarnya Dong...

    Silakan tulis komentar kalian di sini, yang ada bintangnya wajib diisi ya...
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. 😉

    Kembali
    Ke Atas