Bunuh Diri

Mengapa dalam Islam, orang yang mengakhiri penderitaannya justru malah tambah menderita di fase kehidupan selanjutnya?

Akhir-akhir ini di media sosial sedang ramai mempermasalahkan kasus bunuh diri yang sepertinya semakin sering.

Mereka berdalih bahwa penyebab bunuh diri di kalangan anak muda meningkat karena ketidakpastian masa depan, banyaknya tekanan, kacaunya kondisi politik, sosial, dan masyarakat, hingga tentu saja, faktor ekonomi.

Di antara postingan atau utas kasus bunuh diri tersebut, ada beberapa yang menyinggung haramnya bunuh diri dalam Islam.

Kemudian segala sesuatunya menjadi menarik di sini.

Sebagian warganet langsung meluaskan topiknya, menjadi mempermasalahkan syariat Islam yang “tega” menyemplungkan pelaku bunuh diri ke dalam neraka dan mereka kekal di dalamnya.

Maksudnya, di dunia saja para pelaku bunuh diri sudah menderita. Pastilah orang yang bunuh diri itu jelas karena mereka sudah tidak sanggup melawan penderitaan tersebut. Kok ya malah masuk neraka juga setelah meninggal?

Ini merupakan bahasan menarik yang perlu kita tarik benang merahnya, jangan sampai kita menyalahkan Allah Ta’ala yang Maha Penyayang sebagai dalang utama yang menetapkan syariat yang tega seperti ini.

Sebelumnya, di artikel ini saya tidak akan membahas sampai disalatkan atau tidaknya jenazah pelaku bunuh diri.


Bicara masalah pokok

Bunuh diri memang memiliki risiko yang tidak main-main, si pelaku akan masuk ke dalam neraka akibat perbuatannya itu.

Hal ini dengan tegas sudah tercantum dalam firmanNya,

…dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan zalim, akan Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah.
QS. An-Nisa: 29-30

Syariat haramnya membunuh diri sendiri bahkan termasuk salah satu penyebab masuknya seorang hamba ke dalam neraka tidak muncul dari antah-berantah, itu jelas tertera dalam kitab suci umat Islam itu sendiri.

Bahkan secara mendetail, Rasulullah Muhammad saw secara rinci bukan hanya mempertegas masuknya pelaku bunuh diri ke dalam neraka, melainkan bagaimana kondisi pelaku bunuh diri di neraka.

  1. Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan sebuah pisau yang tajam, maka kelak pisau tajam itu akan berada di tangannya, dan ia akan menusukkannya ke dalam perutnya di neraka Jahanam selamanya.
  2. Dan barangsiapa yang meminum racun hingga membunuhnya, maka kelak ia akan menenggak racun itu di dalam neraka Jahanam selamanya.
  3. Dan barangsiapa yang terjun dari atas gunung hingga membunuhnya, maka kelak ia akan menerjunkan dirinya ke dalam neraka Jahanam dan selamanya berada di sana.
    HR. Bukhari & Muslim

Dalam tiga contoh kasus bunuh diri pada hadits di atas, semuanya kompak memiliki kata “selamanya” di neraka Jahannam.

Ini berarti dosa dari bunuh diri tidak bisa kita anggap remeh.

Hanya saja, dari sini kita mungkin merasa bingung, mengapa orang yang mengakhiri penderitaannya justru malah tambah menderita di fase kehidupan selanjutnya.

Bahkan tidak sedikit yang membanding-bandingkan dengan dosa korupsi, merampok, menipu, dan membunuh yang seharusnya lebih kejam siksaannya.

Karena pada umumnya, orang bisa bunuh diri dengan sebab perbuatan orang lain yang menyebabkan dia terpaksa harus mengakhiri hidupnya. Tetapi kenapa dosa orang yang menjadi penyebab bunuh diri jarang terekspos?


Sudut pandang utama

Sekarang bagaimana jika kita memandang kegiatan bunuh diri ini dari “kacamata” Allah Ta’ala. Apa yang menyebabkan Dia menyiksa orang yang bunuh diri di akhirat.

Ingat, kita hidup di dunia tidak independen atau berdiri sendiri. Jadi sebagai seorang hamba dari yang menciptakan kita, tentu kita harus patuh dengan apa pun ketetapanNya.

Sisi positifnya, sebagai salah satu rahmat Allah Ta’ala, kita diperbolehkan untuk bertanya tentang syariat atau ketetapanNya yang dirasa tidak kita pahami.

Jadi masalah syariat bunuh diri ini, mari kita coba memandang dariΒ POV Allah sebagai yang Maha Mencipta. Dia sendiri yang menyebutkan bahwa,

Hamba-Ku telah terburu-buru (mendahului ketetapan-Ku), maka Aku pun mengharamkan surga baginya.
HR. Bukhari & Ahmad

Benar, bunuh diri merupakan salah satu bentuk korupsi takdir.

Tidak ada bedanya dengan orang yang bosan dengan kemiskinan, kemudian ia mencuri dan korupsi, atau melakukan pinjaman dan terjerumus dalam bunga riba, atau bermain judi.

Hanya saja yang menarik di sini, bunuh diri seolah tidak merugikan siapa pun selain dirinya sendiri yang ia akhiri, berbeda dengan korupsi yang merugikan khalayak luas.

Namun itu hanya dari sudut pandang kita. Bunuh diri memang seolah tidak merugikan siapa pun, tetapi jelas memiliki efek domino yang tidak banyak kita sadari.

Andaikata masyarakat melegalkan bunuh diri sebagai jalan keluar dari masalah hidup, banyak orang-orang yang memiliki potensi khususnya kaum muda akan dengan mudahnya menghilang begitu saja.


Sebuah kerugian besar

Kita mungkin sedari kecil banyak yang tidak mendapatkan pengajaran tentang uniknya potensi masing-masing dari diri kita.

Akibatnya, setelah matang atau beranjak dewasa, tidak sedikit dari kita bingung dengan arah hidup kita di dunia. Seakan manusia hanya diciptakan untuk sekolah, bekerja, kemudian meninggal.

Saya bahkan beberapa waktu lalu pernah menulis bagaimana celakanya seorang manusia yang tidak memaksimalkan potensinya.

Betul sekali bahwa supaya hasil jerih payah seorang manusia bisa bermanfaat bagi manusia lainnya, proses dan ujiannya tidak pernah main-main. Ini yang hampir tidak pernah kita dapatkan saat belajar agama semasa kecil.

Tetapi wajib kita ingat, seluruh luka fisik dan mental yang kita dapatkan saat proses, tidak akan pernah melebihi kesanggupan kita.

Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya.
QS. Al-Baqarah: 286

Setiap manusia pasti memiliki cerita takdirnya sendiri.

Bukankah tidak sedikit kita mendengar orang-orang sukses yang dulunya begitu menderita, tidak dihargai, mendapatkan caci-maki, dan memang memiliki orang tua fakir miskin.

Apa yang membuat mereka lebih bisa bertahan daripada kita? Mengapa kita tiba-tiba memutuskan untuk mengakhiri hidup kita sepihak padahal potensi dalam diri kita belum terbit?

Inilah mungkin yang menyebabkan Allah Ta’ala tidak menyukai hambaNya yang bunuh diri. Mereka mengorupsi jalan takdir mereka secara sepihak bahkan sebelum mereka meminta tolong atau arahan kepada hambaNya yang lain.

Saya paham, mungkin di tahap ini, yang kita perlukan sekarang bagaimana motivasi dan hiburan supaya bisa tetap tegar dan menjauhi pemikiran untuk mengakhiri nyawa sendiri.


Peringatan lembut yang keras

Sebagai orang yang cukup memahami psikologi, bertahan hidup di tengah ketidakpastian kondisi sosial, politik, dan ekonomi tidak dapat kita bilang mudah.

Saya sangat memahami hal itu.

Apalagi jika sedu sedan kita ternyata tidak ada yang peduli, di mana orang-orang di sekitar kita justru lebih sibuk menghakimi daripada membantu meringankan masalah kita.

Di sinilah pentingnya memiliki teman yang memiliki kondisi yang lebih stabil dan lebih bijak daripada kita.

Sayangnya, kita tidak pernah mau menyadari keberadaan mereka di saat kita senang, dan lebih memilih berkumpul dengan orang-orang yang hanya ingin berbicara sesuai selera kita saja.

Akibatnya, saat masalah yang sangat besar menghantam kita secara tiba-tiba, hampir tidak ada dari teman kita yang mau peduli. Itu terjadi karena sedari awal kita memperlakukan teman kita hanya sebatas bercanda dan bersuka ria.

Banyak teman kita yang tidak kita “didik” untuk peka jikalau suat saat kita menemui masa-masa sulit di kemudian hari.

Bahkan tidak sedikit saya lihat orang-orang yang memang tidak akan peka sebelum diri mereka sendiri yang terkena masalah itu.

Ya, orang-orang bijak yang derajatnya lebih tinggi dari kita, mereka bisa memahami masalah kita layaknya seorang psikolog dan memiliki kemampuan untuk menenangkan hingga memberi jalan keluar karena kecerdasan emosional mereka yang begitu tinggi.

Padahal, jumlah orang bijak yang memahami masalah sosial banyak orang itu sangat sedikit dan mereka juga sedang berjuang hebat untuk menjaga diri mereka tetap “waras”.

Sayangnya sedikit sekali dari kita yang mau memerhatikan orang-orang bijak yang jumlahnya sudah sedikit itu, sehingga kehilangan mereka saat kita sedang memerlukan rekan untuk bertukar pikiran.

Maka jelas, mengabaikan kehadiran orang-orang yang bersedia untuk mendengar keluh kesah kita bisa jadi termasuk hal yang tidak dibenarkan oleh syariat.


Oasis di akhir

Untuk muslim yang terlanjur bunuh diri, apakah benar akan selamanya mereka di neraka?

Perlu kita ketahui, kata “kekal” atau “selamanya” ini menunjukkan kiasan kalau waktu akhirat memang tidak secepat di dunia.

Sehari di akhirat bisa seribu tahun di dunia. Kita tidak pernah tahu berapa besarnya dosa seorang muslim yang bunuh diri di sisi Allah Ta’ala untuk “dicuci” di neraka terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam surgaNya.

Beruntung, idola kita, Rasulullah Muhammad saw memiliki fitur di akhirat yang tidak dimiliki oleh rasulNya yang lain, yakni syafaat.

Bisa jadi durasi seorang muslim yang bunuh diri di neraka mendapatkan “diskon” karena syafaat Beliau sehingga yang seharusnya sebulan dalam hitungan hari akhirat, menjadi hanya satu jam saja.

Namun tetap, satu jam di akhirat sangat tidak sebentar dan butuh waktu puluhan tahun jika dibandingkan dengan waktu di dunia.

Lalu yang tak kalah penting, untuk kita yang membandingkan dosa bunuh diri dengan dosa korupsi, begal, berjudi, dan yang lainnya, tidak perlu khawatir, mereka memiliki hukuman dahsyatnya sendiri-sendiri.

Jadi jangan sampai kita terseret ke dalam dosa khusus karena mempermasalahkan ketetapan yang sudah Allah Ta’ala buat disebabkan minimnya pengetahuan agama kita.

Terakhir, jika masyarakat kita memiliki pendidikan agama yang baik sejak dini, kecil kemungkinan akan menghasilkan masyarakat yang tidak peka dengan masalah kesehatan mental.

Nyatanya, banyak muslim yang katanya mencintai Allah dan rasulNya justru gagal dalam urusan krusial seperti ini.

Padahal ada sebuah hadits yang saya yakin sudah sering kita dengar,

Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.
HR Muslim

Saya bahkan sudah berkali-kali menaruh hadits pada artikel kategori Akidah yang lain, bahwa hal yang Allah cintai setelah hal wajib adalah membahagiakan sesama kita, terkhusus yang muslim.

Kalian mungkin tertarik untuk membaca pentingnya pendidikan psikologi dalam Islam pada artikel saya di waktu-waktu lalu.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke X
πŸ€— Selesai! πŸ€—
Punya uneg-uneg atau saran artikel untuk Anandastoon?
Yuk isi formulir berikut. Gak sampe 5 menit kok ~

  • 0 Jejak Manis Ditinggalkan

    Minta Komentarnya Dong...

    Silakan tulis komentar kalian di sini, yang ada bintangnya wajib diisi ya...
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. πŸ˜‰

    Kembali
    Ke Atas