Dramatis Sekebon: Garut, Curug Orok

curug orok

“Saya insyaAllah nanti Jum’at mau ke Garut!”

Saya meng-icebreaking syukuran perusahaan saya dan tim selama setahun ini.

“Lho, kok ke Garut?” Rekan saya bertanya.

“Lho, memang kenapa?” Rekan saya yang lain ‘membela’ saya.

Jum’at itu, tepat setelah saya pulang kerja, dengan semua peralatan kantor yang masih lengkap di ransel ini. Saya benar-benar terbang ke Garut, mirip Gatot Kaca (Superman sudah kelewat mainstream, nasionalis dong hehe).

Curug Orok, desas-desusnya karena katanya ada orang buang bayi (orok) di curug ini. Siapa? Remaja yang hamil di luar nikah? Atau selingkuhan??? Yaampun… Saya pikir karena banyak air terjun kecil di sana kemudian dinamakan demikian.


  • Mengejar Bus The Movie

Baik, baik. Bus ke Garut terakhir adalah pukul 9. Saya memutuskan untuk shalat Isya dahulu di kantor. Berangkat 19.45 dengan bermodal bus Transjakarta menuju pool bus Primajasa Cililitan tepat di samping halte busway BKN. Oke, dari halte GOR Soemantri menuju transit Kuningan Barat hanya butuh waktu 15 menit. Berarti saya masih aman setengah jam.

Yoss, lanjut bus ke PGC! Alhamdulillah 2 menit langsung dapat. Semoga masih kebur… wait. Macet boookkk… Ini bus TJ berantem sama mobil-mobil yang pada antri di tol! Lupa daku! Kalo gitu mah abis maghrib aja berangkatnya, biarin Isyanya di Poolnya saja, eh di sananya ada mushallanya nggak ya?

20.30 dan saya masih di Pancoran. Emaaaak!!!

20.50 kendaraan tidak bergerak menuju BNN. Kendaraan kenegaraan pun yang lewat sambil dikawal tambah memperkeruh suasana.

21.04 dengan kesetanan saya lari keluar halte BKN. Menerobos tiang-tiang besi, menghancurkan pijakan-pijakan tangga, berguling di ramp off, melompati kepala-kepala manusia, akhirnya saya tiba di… well, busnya baru saja berlalu tepat di depan mata saya.

Semoga belum yang benar-benar terakhir.

Tasik… Bandung… Tasik… Bandung… saya desperate mencari bus Garut. Kemudian saya lihat banyak kumpulan orang-orang yang berdiri di pool bus bergerak maju ke arah sebuah bus. Ke bus mana mereka menuju? Saya memicingkan mata dan di jidat bus tersebut tertulis Garut – Jakarta.

YAAAYYY!!!

Terakhir…! Terakhirr!!! Teriak supir bus. Para calon penumpang secara beringas masuk ke dalam bus. Aduh kebagian tempat duduk nggak ya? Sepertinya memang para calon penumpang ini adalah penumpang ‘sisa’ yang tidak kebagian bus terakhir tadi yang baru saja diberangkatkan. Mungkin karena itulah bus ‘bonus’ ini didatangkan dan mengangkut sisanya yang masih bejubel.

Saya tadinya mau ke toilet. Tapi persetan, busnya benar-benar langsung berangkat. Untung setelah shalat isya saya ada feeling agar lebih baik saya vivis dahulu.

Setelah bayar tiket Rp52.000,-, saya menonton sebuah film Disney lewat HP saya, yang tiba-tiba lampu bus dimatikan dan menyala sebuah lampu putih dari langit-langit bus. Apa itu? Lampu baca? Lampunya menyorot langsung ke HP saya. Saya perhatikan sekeliling, lampu putih kecil yang menyala itu hanya ada di bangku tempat saya duduk.

Aduh… terharu… serasa menonton di bioskop sungguhan.


  • Merem melek

Film Disney sudah habis, saatnya bobok. Saya lihat sudah pukul 11 malam lewat, dan saya berharap tol macet seperti jalan-jalan ke Garut saya sebelumnya agar saya bisa bobok poll.

Tapi nyatanya tidak… (lagi)

Bahkan jam 1 bus sudah keluar tol Cileunyi. Ayo dong mata… padahal tidur saya sudah dikurangi dengan harapan bisa bobok nyenyak seperti para penumpang lain. Hampir jam 2 malam saya baru tiba-tiba diserang kantuk, tapi nyatanya bus hampir sampai terminal. Akhirnya saya tiba di Terminal Guntur dan berlari mencari masjid terdekat.

Ah! Saya pikir gerbang masjidnya dikunci. Nyatanya tidak. Ya sudah, saya geser gerbangnya dan melempar tas serta tidur bersila ditopang tas di beranda masjid. Oh, toiletnya dikunci. Tak masalah, saya tidak ingin buang air. Tak lama kemudian ada orang yang juga mungkin mengantuk dan langsung tidur telentang di beranda masjid. Untung dia hanya telentang, tidak telenmartil atau telenobeng. Jadi saya tidak terganggu.

Di saat-saat penting menuju kahyangan, saya kembali mendengar suara berisik. Ternyata orang-orang sekeluarga lengkap dengan anak-anak kecil mereka yang kemudian semuanya membuat suara gaduh di masjid. Aduuh… pada nggak tahu ya saya pengen bobok!

Untungnya mereka di masjid tidak lama, maksud saya, tidak terlalu lama. Yang akhirnya saya tahu mereka di masjid hanya ‘transit’ saja sebelum melanjutkan perjalanan mereka kembali. Sewaktu mereka tadi berisik, saya memutuskan untuk membuka laptop dan men-charge ponsel saya lewat lubang USBnya. Saya masih terlalu sayang dengan powerbanknya hehe…

Tidak bisa bobok hingga subuh. Payah! Setelah shubuh saya menghampiri seseorang yang ternyata dia juga ingin mendaki Gunung Papandayan bersama temannya. Inginnya daku ikut… tapi kemudian saya lihat temannya tidur di masjid beserta beberapa orang lainnya yang saya tebak mereka juga pendaki karena bawaan mereka itu. Ya sudah, saya ikutan.

Alhamdulillah bisa bobok sebelum akhirnya orang-orang di masjid ‘diusir’ secara halus karena masjid ingin kembali dikunci sampai… Zhuhur mungkin. Tidak apa, saya dapat setengah jam tidur. Saya lihat sudah pukul setengah enam lebih.

Setelah sarapan, saya diberitahu ibu penjual warung terminal begini,

“Kalau mau ke curug orok lebih baik dari sini naik elf ke Cibungbulang karena bisa langsung turun di depannya, cuma ongkosnya lebih mahal (saya lupa tanya mahalnya seberapa). Kalo mau pake angkot, naik yang biru putih itu ke arah Cikajang turun di Papanggungan, terus ada angkot ke Curug Oroknya.”

“Cumaannn… bilang sama supir angkot Cikajangnya, bahwa kamu orang Garut. Soalnya suka ada yang pasang tarif Rp25.000,- kalo supirnya tau penumpang itu pendaki.”

Oh okee… Tapi saya sebisa mungkin bersikap seperti orang Garut asli saja mungkin, tidak sampai berbohong mengaku-aku orang Garut. Terima kasih ibu penjual di warung. Setelah itu saya diarahkan oleh seorang… calo? …untuk naik angkot Cikajangnya. Angkotnya biru putih seperti ini,

curug orok

Wah, angkotnya memiliki formasi duduk ke depan seperti angkot elf dan coba tebak? Saya menunggu hampir 1 jam dari 06.10 sampai 06.54 sampai benar-benar penuh dan diberangkatkan. Ah! Yasudalah. Sepanjang perjalanan saya disiksa kantuk yang akhirnya berhasil membuat saya tertidur pulas. Lumayan, tabungan tidur.

Saya tidak melihat pemandangan apa-apa karena mendung. Hanya sebagian puncak gunung Cikuray yang lancip itu menyembul sedikit dari awan sebelum akhirnya dimangsa kembali oleh awan-awan ganas tersebut.

Oke, turun di pertigaan Papanggungan, saya diantar oleh seorang ibu yang ramah ikut dia jika ingin ke Curug Orok. Saya agak kaget begitu diberitahu oleh ibu tersebut, bahwa tidak ada angkutan langsung yang ke curugnya. What to the WHAT?!


  • Shooting film putri Disney

Oh, karena bekerja sama dengan calo waktu saya naik angkutan Cikajang tadi, saya dan seluruh penumpang dimintai tarif Rp15.000,- di muka. Ya ampun.

Balik lagi ke angkot kuning biru ke arah Curug Orok, eh bukan, ke arah Cikandang, saya sempat ragu ingin naik angkot tersebut karena saya bingung nanti turun di mana. Sempat dipaksa ikut oleh si ibu tersebut, akhirnya saya naik. Ketika sama supir saya ditanya ingin apa tujuan saya ke Curug Orok, saya jawab, saya ingin berwisata. Saya bahkan diinterogasi oleh sang supir apakah saya ada keperluan tugas atau semacamnya ke curug. What? You supir apa petugas imigrasi?

Saya sayup-sayup mendengar pembicaraan si ibu yang baik hati tersebut dengan supir,

“Karunya eta budak, leuwihkeun bae 5.000, (Kasihan anak itu, lebihkan saja 5.000)”

Dan saya benar-benar diantar hingga di depan pintu masuk Curug Orok, dengan tarif Rp5.000,- ditambah dengan tarif kebaikan hati supir angkot (wait, what?) yang juga Rp5.000,- sehingga jadilah saya bayar ceban.

Oke, no probs… cuma nanti gimana pulangnya ya? Saya ada di tengah kebon teh.

curug orok

Sendirian saya masuk. Tidak ada siapa-siapa… bahkan loketnya pun masih tutup, padahal pukul 8 pagi. Saya celingukan di tengah jalan masuk. Hanya terdengar suara alam dan suara biola dari headset saya. Apa ini? Apa nanti tiba-tiba banyak hewan-hewan hutan yang datang menemani saya yang mulai berdansa bak orang kesamber geledek? Ew.

Skip. Skip.

Saya akhirnya tiba di plang curug di mana di situ juga terdapat lahan parkir yang cukup banyak mobil. Seperti sudah banyak pengunjugnya ya? Tapi kok tadi saya tidak dimintai tiket? Di saat saya kebingungan sembari melangkah masuk, seseorang dari balik mobil muncul ke saya ingin menerkam korbannya… ehm, menagih tiket. Dan berikut percakapan saya dengan si bapak,

Saya: “Loketnya tutup pak?”

Bapak: “Oh, loket tutup soalnya saya belom pindah ke sana hehe…”

Saya: “Angkot lewat sini pak?”

Bapak: “Enggak. Enggak lewat sini.”

Saya: “Maksud saya, angkot apa lewat depan pintu masuk yang pinggir jalan itu?”

Bapak: “Oh, cuma elf Cibungbulang. Angkot kuning nggak lewat sini.”

Saya: “Kalo angkot kuning dari mana pak?”

Bapak: “Nanti keluar dari sini, belok kiri. Di sana ada warung-warung, banyak angkot kuning ngetem.”

Saya: “Jaraknya dari sini… maksud saya dari plang tempat masuknya di depan itu berapa jauh pak? 1km?”

Bapak: “(tertawa) Ah, nggak. Nggak nyampe kok.”

Si bapak yang super ramah tersebut merobek tiket untuk saya. Harga tiketnya Rp12.000,-. Oh, ada penginapan dan warung juga di sini. Toilet pun ada. Cuma saya tidak lihat ada mushalla.

Oh sebelum plang masuk, ada tulisan CO:

curug orok curug orok

Apa itu CO? Karbon Monoksida? Tentu saja Curug Orok hehe…

Saya turun melalui pijakan-pijakan tangga yang sudah disediakan pengelola sambil bernyanyi sesuai apa yang saya dengarkan di headset saya dan berjalan gemulai seperti orang yang dipaksa masuk rumah sakit jiwa. Biarin, saya sendirian ini. Cuma ada Allah yang melihat, dan mungkin jin-jin penghuni sana. Jadi saya teruskan kegilaan saya itu.

Oh, curugnya terlihat dari belokan tangga. MasyaAllah…

curug orok

Saya tentu saja ngebut masuk sambil… oh saya dilihat oleh beberapa bapak yang sedang bercengkrama di sebuah warung curug, jadi saya kembali ke mode manusia normal. Bhahahah. Eh, ini tempat wisata ada kolam renangnya jugakk,

curug orok

Dan sekarang, saya sendirian.

Saya. benar. benar. sendirian.

YAASSSSS!!! I’ll do everything I want!

Oh, memangnya apa segala sesuatu yang saya inginkan pada saat itu? Memotret tentu saja. Tidak ada yang lain… sungguh.

Akhirnya saya mendatangi saung di sana dan melepas headset saya, merenungkan segala sesuatunya. Suara air yang jatuh, mengapa orang-orang tertarik dengan sekelompok air yang melakukan terjun bebas? Ini hanya sekumpulan air yang melakukan aksi ‘bunuh diri’ dari ketinggian, dan sebagian besar manusia tertarik dengannya.

Namun inilah suasana yang memang tidak didapatkan saya di tengah penatnya bekerja sehari-hari. Tidakkah suara deburan air itu menenangkan? Alhamdulillah.

curug orok

Tetap saja, kelakuan manusia banyak yang masih menghargai alam ini. Sampah, sampah, sampah di mana-mana. Saya lihat ada sekumpulan bapak-bapak yang tadi saya temui di tikungan tangga mulai membersihkan sekeliling dan menyemprot tanaman. Oh, terima kasih bapaknya… jumlah mereka tiga orang.

Para bapak yang membersihkan curug pun bertegur sapa dengan saya dengan hangat, bekerja dengan ikhlas tanpa meminta orang lain menghargai mereka, seakan mereka sudah cukup dari uang tiket pengunjung sehingga pelayanannya maksimal. Ah, andai setiap tempat wisata seperti ini…

Sebentar, di sini banyak bunga-bunga…

curug orokcurug orok

Saya dapat satu. Kemudian saya harus bagaimana? Mengucap “Hore”? Saya kembali mendesah dan menuju saung. Saya lihat sudah pukul 10.00 dan saya masih sebagai pengunjung satu-satunya di sini. Kemudian apa? Pulang? Oh iyaaa… saya lupa kamera saya punya timer…

Action…!

curug orok

Dipandu dengan lagu sedih, saya mengepak barang-barang saya, menuju pulang. Saya mulai melihat para pengunjung muda mulai berdatangan dan memenuhi curug. Tidak banyak sih, hanya bisa dihitung jari, tapi ya sudahlah.

Sebelum saya pulang, saya menengok kembali ke arah alam yang akan saya tinggalkan sebentar lagi,

curug orok garut

Oke bai…

Di atas saya mau melepas hajat, toiletnya bersih dan airnya berlimpah. Namun para pengunjung yang pada masih remaja banyak yang tidak membayar harga toilet yang hanya Rp2.000,- tersebut. Ya sudah, saya masukkan uang saya ke dalam toples setelah saya menggunakannya.

Oh, saya dapat salam perpisahan dari sebuah bunga…

curug orok


  • Epilog

Saya benar-benar harus jalan kaki membentangi aspal di sebelah kebun-kebun teh demi mendapatkan angkot kuning terdekat. Mungkin sekitar 800m ke kanan setelah plang masuk paling awal. Benar, saya melewati jembatan sungai, sebagian rumah-rumah warga yang sebenarnya dari sanalah trayek angkot kuning biru berasal, namun saya tidak menemukan angkotnya jadi saya tetap berjalan menuju pemukiman yang di depannya.

curug orok garut

Oke, akhirnya angkotnya lewat juga. Penumpangnya cuma saya seorang. Kali ini sampai Papanggungan tarifnya Rp5.000,-. Di pertigaan saya ditawari naik ke terminal dengan angkot biru. Yang ternyata sama seperti yang awal, di mana angkotnya kosong dan saya adalah penumpang pertama. Semoga ngetemnya tidak lama.

Sebenarnya yang langsung juga ada toh…

Untungnya hanya ngetem 15 menit, dan supir sadar penumpangnya benar-benar tidak ada, kecuali saya. Di jalan pun hanya ada ibu-ibu yang naik, dua orang. Supir mengeluh kurangnya penumpang sepanjang jalan. Saya tidak tahu siapa yang salah, yang jelas semuanya salah.

Rombongan orang touring pun seringkali terlihat memenuhi jalan dengan sepeda motor besar mereka, saya apa atuh hanya angkot traveller, sendirian lagi. Yasudalah, sedih jika dipikir-pikir bhahah…

Oke, saya ceritanya sampai terminal, dan langsung makan siang bertemu si ibu penjual di warung yang tadi pagi. Sebuah pembicaraan kembali dibuka.

“Udah pulang? Di sini mah curug harus pakai ojeg semua. Paling cuma Curug Orok doang yang bisa pake angkot… Kalo mau mah ke Karacak Palei jang, bagus di sana, Gunung Karacak.”

Maksud ibu Karacak Valley? Oh… Terima kasih informasinya. Si ibu pun berterima kasih kembali dengan ramah. Alhamdulillah. Saya bergegas ke masjid yang jamnya sudah menunjukkan pukul 2 siang untuk melakukan shalat jamak taqdim Zhuhur-Ashar tanpa qashar.

Jika penumpang sepi sepertinya Primajasa menggunakan bus AC Eksekutif yang bertarif Rp60.000,-. Tidak masalah, hanya saja ACnya super dingin. Untung saya pakai jaket gunung.

Dan seperti yang saya duga, Garut memiliki banyak gunung. Wah saya juga lihat kereta jarak jauh berjalan di antaranya! Saya sendiri kaget banyak gunung yang saya tidak tahu… penumpang asli Garutnya pun tak tahu… bermunculan bak jamur di musim hujan secara tiba-tiba! Apa di Garut tumbuh sebuah gunung baru setiap tahun?! APA INI KONSPIRASI GUNUNG DI GARUT?!!!

Nevermind. Maafkan paragraf saya yang terakhir.


  • Galeri

curug orok curug orok garut curug orok garut curug orok garut curug orok garut curug orok garut curug orok garut curug orok garut curug orok curug orok curug orok curug orok curug orok curug orok garutcurug orok garut curug orok curug orok

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)