Gunung, lembah, taman, air terjun… gunung, lembah, taman, air terjun… dan begitu seterusnya. AH BOSEN! Ingin sekali-kali ke pantai, main pasir, liat air (di ember banyak), dan dicapit kepiting (hah?). Intinya ingin ke pantai beneran. Maksud saya, bukan pantai seperti yang di Ancol, suasanya pantainya kurang greget.
Awalnya saya ingin ke Pantai yang dekat-dekat Jakarta seperti pantai-pantai di sebelah utara Bekasi dan Tangerang. Namun, begitu saya tahu ternyata airnya keruh karena terlalu banyak abrasi, saya sempat berpikir dua kali. Kata teman saya, pantai yang airnya masih ‘murni’ ada di daerah selatan, jadi bisa sekalian bermain pasir dan bertemu Nyi Roro Kidul.
Saya tidak melihat ramalan cuaca pada hari sebelumnya, dan paginya sempat hujan deras. But, whatevahh tujuan tetap pantai selatan.
Pluit kebanggaan kembali diacungkan, kemudian mulut saya bersambut dengan mulut sang pluit. PRIITTTT!!! Dengan semerta-merta teman saya dari kejauhan datang menuju kepada saya dengan sepeda motornya. Anak pintar. *senyumsinis
Sebenarnya saya agak tidak tega ketika saya berkata bahwa jaraknya adalah sekitar 114km menuju Palabuhan Ratu, ya kok memanfaatkan teman agak kebangetan gitu ya? Namun diluar dugaan, dia menyanggupi. Okay, bersiap menuju jauuhhh… Saya sudah mempersiapkan pantat saya agar dapat beradaptasi dengan lebih baik dengan jok sepeda motor. Secara, saya sudah nyaman dengan jok bus.
Oh, tentu saja. Bagi para angkot travellers seperti saya, menyediakan akses transportasi umum dalam setiap artikel jalan-jalan adalah wajib. Kecuali yang benar-benar tidak tersedia sama sekali, dan itu menyebalkan. Bagi yang ingin tahu bagaimana akses kendaraan umum ke pantai sepanjang Palabuhan Ratu, dapat dilihat pada tulisan yang diberi warna latar biru di bawah.
Kami memulai perjalanan sekitar jam 7 pagi dari Warung Jati, melewati Lenteng Agung, Margonda, kemudian tembus ke Raya Bogor, kemudian Ciawi, dan masuk Cibadak yang menjadi jalan nasional menuju Sukabumi dari Bogor. Nah, pada saat itu dapat dikatakan cerah, sehingga di Cibadak benar-benar terlihat dua buah gunung yang mengapitnya, Gunung Salak dan Gunung Gede. Sayang, gak saya foto. 🙁
Akhirnya masuk jua ke pertigaan Sukabumi, pada saat itu sudah jam 10. Jika belok kiri, maka yang dituju adalah Situ Gunung Sukabumi via Cisaat. Jika belok kanan, tentu saja, Palabuhan Ratu. Dari pertigaan sebenarnya jaraknya masih 40-an kilometer lagi. Saya menarik nafas panjang, menyemangati teman saya sambil teriak-teriak gak jelas a la cheerleader sehingga dia tidak mengantuk (yang ada dia pingsan).
Hingga sampai ke suatu jalan, banyak sepeda motor yang menepi sambil memberikan simbol gunting, atau angka dua dengan tangan menyamping. Teman saya sepertinya paham simbol tersebut dan berhenti tiba-tiba. Saya yang sedang nyanyi-nyanyi kegirangan bak orang stress langsung melongo sambil melihat kanan-kiri.
“Ada apa? Kenapa? Apa ada yang tertinggal? Jatuh?”
Teman saya memarkirkan ke warung terdekat, membeli cilok untuk isi ‘bahan bakar’ sejenak, kemudian berkata.
“Itu ada razia di tikungan.”
Nafas tadi terhembus… ada-ada saja. Masalah pajak atau SIM menjadi hal yang umum untuk diperiksa. Teman saya belum punya SIM… ya ampun.
Saya agak khawatir mengingat cuma kendaraan kami yang berplat “B”, makanya teman saya memberi dua pilihan, alternatif, atau tunggu sampai mereka istirahat. Ternyata alhamdulillah tidak jauh dari sana ada alternatif jalan lain yang hanya dipisah rumput dan pohon. Iya, benar, dari jalan alternatif terlihat polisi-polisi yang sepertinya mengajak orang-orang yang lewat untuk bermain cilukba di tikungan. Nais, nais…
Mana pantainya? Bukit lagi, bukit lagi… Ini kita tidak sedang syuting Ninja Hatori kan? KAN??? Mendaki gunung lewati lembah… memang begitu adanya. Di depan ada bukit tinggi, di daki dan kemudian turun. Di depan ada bukit lagi, tinggi. Naik lagi, turun lagi, meliuk-liuk. Deeste, deeste. Jadi walaupun sudah dekat pantai pun kanan kiri tetap bukit yang sepertinya rawan longsor.
Hingga ketika kami sudah lelah ‘membelah’ perbukitan yang dapat dikatakan cukup tinggi, pada akhirnya jalanan mulai mendatar, dan tentu saja tidak jauh dari situ sudah banyak rumah penduduk dan… LAUT! Yay! Akhirnya sampai juga ke pantai. Alhamdulillah.
Saya dan teman sibuk mencari pantai yang tepat untuk disinggahi. Yang ini ramai, yang itu tidak ada pasir, yang satu lagi agak kotor, sampai akhirnya saya desak untuk pilih yang ada pasirnya saja, mumpung mataharinya masih ngintip sedikit-sedikit. Waktu itu sudah pukul 11.30, tepat yang diramalkan mbah Gugel mep yang bilang bahwa kami akan sampai pada pukul 11-an siang.
Saya tidak tahu pantai apa namanya, tidak ada plangnya pula. Letaknya setelah Pantai Citepus.
Parkir gratis, tidak terlalu ramai, pemandangan tanjung terlihat, dan… apapun itu, pantai ini terlihat sempurna! Ayok main air! Sebentar, saya tidak bawa baju ganti, pakai celana jeans, sweater tebal, ransel laptop, sepatu kets dan… apapun itu, sayanya yang tidak sempurna! Ah!
Wah lautan! Suara ombak itu, seperti berlari melambai menyambut pengunjung yang tercinta. Tentu saja itu adalah saya, siapa lagi. Eh, di tengah ada buah kelapa. Saya jadikan role model untuk foto-foto saya kali ini ah…
Memotret-motret buah dramatis itu membuat saya sampai lupa daratan. Benar, lupa daratan di sini adalah istilah asli, benar-benar lupa daratan. Karena saya tidak sadar kalau…
Ombak besar datang menenggelamkan si kelapa malang tersebut dan hampir saja memangsa kamera saya. Eiitsss, saya langsung tarik kamera saya dan selamat. Nice try, waves. Padahal jarak kelapa dengan batas ombak dapat dikatakan cukup jauh, benar-benar ingin bercanda pantai yang satu ini.
Tentu saja, banyak ide-ide yang lain yang dapat ditumpahkan di pantai, khususnya dalam bidang fotografi, a.k.a potret-memotret. Berikut apa yang menjadi keisengan saya selama di pantai:
Sepatu dramatis, pada akhirnya sepatunya rusak dijilat-jilat ombak dan dikerubutin pasir.
Kaligrafi pasir… (kaligrafi dari Jonggol?!) Banyak yang tulis nama pacar di sini. Eh, saya harus tulis nama siapa??? Dan itu sepatu untuk apa di sana???
Apa ini? Marching Band? Harry Potret? Darth Vader?
Ya ampun, ini jejak kaki saya? Boong ding, jejak kuda.
Dan untuk foto yang satu ini dapat diabaikan…
Eh, ada kepiting muncul dari pasir… namun di satu sisi, angin kencang bertiup dari laut bersenjatakan pasir untuk menyerang saya. Apa ini? Negara angin mulai menyerang kah? Bukan, ternyata awan hitam yang tidak diundang tiba-tiba tampil di depan kami dan meluas dengan super cepat. Langit sepertinya sudah bersiap mengusir kami, tetapi melihat mendung di lautan itu benar-benar pemandangan yang pertama kali bagi saya, dan ini emejing.
Ya Allah, pesan tornado lautnya juga dong… Water spout kan keren.
Banyak kapal di tengah laut, saya agak kasihan dengan kapal terbuka begitu di lepas pantai. Tapi ya sudah lah. Saya kemudian membayar Rp3.000 untuk cuci kaki dan sepatu di kamar mandi, dan dari dalam kamar mandi terdengar suara hujan yang serta merta mengguyur deras. Begitu saya keluar, menikmati pemandangan hujan di pantai benar-benar sesuatu. Subhanallaah.
Oh bagi yang ingin mengakses kendaraan umum, dapat menggunakan bus ke Palabuhan Ratu dari Bogor, Baranangsiang. Sepanjang jalan banyak mondar-mandir busnya, baik yang AC maupun yang Non. Baik yang MGI maupun yang… saya lupa satunya. Tarifnya sekitar Rp40.000 yang non AC, dan Rp50.000 yang AC. Dari terminal Palabuhan Ratu menuju pantai tersedia buanyak pilihan angkot. Sewaktu saya foto-foto berkeliaran angkot-angkot yang rupa-rupa warnanya, juga ada elf ke pantai Sawarna, sepertinya…
Di dekat pantai juga banyak jalur evakuasi jika terjadi tsunami. Jalur evakuasi mudah karena di belakang pantai tersedia banyak bukit.
Perjalanan pulang kami memakan waktu hingga 7 jam karena banyak beristirahat. Tetapi hari itu benar-benar mengagumkan. Trek pulang benar-benar keren. Tanjakan, kelokan kanan-kiri, dan… tangan saya gatal ingin menyetir. Pantat saya juga sudah berprestasi dalam menjaga ‘harga diri’nya di atas jok sepeda motor, bhahah.
Setelah saya searching, nama pantainya adalah Pantai Karang Pamulang.
[flexiblemap address=”Pantai Karang Pamulang” width=”100%” height=”500px” zoom=”15″]