Nestapa di Perut Bumi: Bogor, Goa Gudawang

Goa GudawangSebenarnya ini tempat sudah saya incar dari semenjak Flinstones brojol dari kandungan (padahal baru kenal ini tempat cuma hitungan minggu). Adalah sebuah ide yang bagus untuk terjun ke dalam perut bumi mengingat yang mainstream saat liburan masa naw adalah antara lembah, air terjun, dan gunung. Kemudian fotonya di pijakan cinta lagi, pijakan cinta lagi, jomblo seperti saya pun menjerit. Mengapa tidak sekali-kali mblusuk ke dalamnya gitu loh?

Goa Gudawang, yang jika kalian kencing di Google… what? Maksud saya, searching di Google, maka mengenai asal mula mengapa goa ini dinamakan demikian pun akan berentet membanjiri halaman browser kalian. Jadi mohon maaf saya tidak posting ulang lagi di sini untuk membahas asal mula sejarah, dan seterusnya, dan seterusnya… elah, bilang aja males.

Teman saya ingin memakai sepeda motornya lagi, tetapi plat belakangnya tiba-tiba meninggalkan dia sendirian begitu saja, yang tentu saja akan mengundang rasa ‘cinta’ dari bapak-bapak berbaju abu-abu kepadanya. Makanya dia ketakutan. Tetapi ketika sudah saya ajak untuk menggunakan KRL, jawabnya hanya, “Ok sip.”

Saya tidak peduli ramalan cuaca. Karena kali ini memang bukan di alam ‘terbuka’.


  • TRUKKK!!!

Pagi-pagi buta ternyata dia sudah di bawah indekos saya dengan sepeda motornya. Katanya terabas saja sambil bismillah dengan keadaan pajak mati dan plat hilang. Ya ampun, tidak tega saya. Sebenarnya platnya sudah hampir jadi, namun jadinya sore. Saya tentu saja tidak bisa menerima kenyataan itu dan teman saya ternyata lebih memilih menggunakan kendaraan pribadinya dibandingkan KRL demi saya. Oh, ya ampun. Terharu saya, jadi mirip adegan pelem Sinderela.

Jika kalian naik KRL, dapat turun di stasiun Parung Panjang. Namun kali ini dengan bermodal Google Maps saya memilih rute yang menghindari jalan tol (ya iya lah sepeda motor), dan menghindari jalan raya (menghindari polisi, tepatnya). Akhirnya dipilihlah jalan ke Ciputat, Puspitek, Muncul, Kadusirung, dan Raya Parung Panjang.

Bagi yang naik umum, dari stasiun Parung Panjang dapat jalan sedikit ke Polsek Parung Panjang, dan naik angkot plat hitam yang disebut angkot preman (wah?). Karena tidak tersedianya angkot menuju Jasinga, maka warga sekitar membuat trayek angkot sendiri dengan mobil carry yang menghadap ke depan semuanya, serasa menumpang di mobil orang hehe… warnanya pun rupa-rupa. Tarifnya sekitar Rp7-8ribu, namun jika diteruskan hingga pintu masuk goa, tambah biaya Rp15ribu.

Goa Gudawang

Angkotnya…

Dan kalian tahu? Setelah Stasiun Parung Panjang jalanan pun hancur… currr… currr! Siapa biang keroknya? Jelas, truk. Jalanan serasa habis dilanda gempa bumi, bukan sekedar berlubang biasa, bahkan jalan di atas lumpur dan tanah merah sepertinya lebih baik. Sekiranya kendaraan teman saya dapat berbicara, dia pasti lebih memilih untuk menangis.

Kanan kiri sepanjang jalan banyak pekerja yang sedang menaikturunkan pasir, sepertinya memang Parung Panjang sudah terkenal dengan pertambangan alamnya untuk dijadikan bahan bangunan. Truk lagi, truk lagi. Bahkan hampir tidak ditemukan rumah sepanjang jalan karena sepertinya memang digunakan untuk proses menaikturunkan itu.

Okay, akhirnya sampai. Skip yang tidak penting.


  • Masuk gua justru masuk hati

Gapura guanya sudah terlihat dari pinggir jalan. Perjalanan dari Warung Jati sekitar 2 jam dengan jarak 60+km. 200 meter dari gerbang, muncul gerbang lain yang fenomenal di Google dengan orang yang tiba-tiba berdiri sepertinya ingin menyambut kami di gerbang. Dan kalian tahu, pengunjungnya hanya kami berdua, padahal hari Minggu!Goa Gudawang

“(Padahal) di tengah-tengah, tapi tidak ada yang mau kemari.” Jawab petugasnya kira-kira begitu, setelah saya tanya mengapa sepi.

Sepertinya memang tempat ini anti-mainstream, makanya jarang orang yang mau mampir. Sudah begitu, jalanan yang rusak, tempat yang terpencil, dan marketing yang payah menjadi sebab yang lain.

Keadaan ini diperparah dengan saya yang lupa narik uang dari ATM padahal dompet kosong! ATM terdekat sekitar 6-8 km. Sial, Sial, SIAL, SIAL!!! Merogoh kantong teman saya, hanya ditemukan Rp6.000, sedangkan kantong saya hanya ada pecahan-pecahan yang jika dijumlahkan adalah Rp10.000. Semoga cukup. Kami berdua ditagih tiket masuk sebesar Rp16.000 yang berarti per orangnya adalah Rp8.000. Alhamdulillah, PAS! Maaf ya pak, receh bayarnya… 🙁

Parkirannya luas banget btw… ya iyalah wong yang parkir cuma sendiri.


  • Sensasi lain dari yang lain

Begitu masuk, langsung tertancap papan petunjuk arah gua. Di sana juga disebutkan mengenai asal-muasal mengapa dinamakan Goa Gudawang. Saya menuju Goa Simenteng dahulu, dan langsung belok kiri.Goa GudawangJalan bertapak ditelusuri, saya pikir jauh dari sana menuju ke guanya. Eh, ternyata tinggal kepleset. Sampailah di mulut gua. Oh, setiap gua ditulis mengenai sejarah, asal-muasal penamaan, peraturan, dan spesifikasinya. What? Spesifikasi? Mau masuk gua apa beli HaPe?

Goa Gudawang

Simenteng

Saya melongok ke bawah dan gelap gulita. Tidak ada lampu sama sekali dan tangganya terjal. Teman saya bertanya apa saya yakin akan masuk, dan tentu saja saya pun ragu-ragu. Di tengah keraguan seperti itu tiba-tiba lampu dari bawah menyala sendiri, mungkin baru dinyalakan oleh petugasnya begitu tahu ada pengunjung. Langsung saja kami masuk untuk merasakan ‘dunia baru’.

Goa GudawangHati-hati, pakai sepatu kasar pun masih terasa licin di sini. Goanya sangat lembab dan gemericik air terdengar di mana-mana. Beberapa dari lampu pun kedap-kedip seperti yang di film-film horor. Di dalam perut bumi, hanya ada kami berdua, ditemani lampu-lampu yang sepertinya tidak terlalu membantu.

Sebenarnya sendirian bisa ke sini, namun lebih baik berdua. Menyewa guide yang sebenarnya orang sananya juga sepertinya akan memakan biaya sekitar Rp50-100 ribu. Karena memang di dalam areanya tidak main-main jika memang belum terbiasa. Namun kuncinya, cukup ikuti lampu saja. Benar-benar seperti ada di dalam video game, atau saya yang norak.

Goa Gudawang

Semakin ke dalam, semakin banyak kelelawar yang beterbangan, juga banyak nyamuk. Guys, guys, kelelawar-kelelawar tersebut mirip yang ada di kartun-kartun jika ada adegan memasuki gua. Bahkan semakin lama bau ketiak teman saya semakin menyengat, teman saya yang tersinggung balik berkata, “Makanya itu mulut jangan terlalu dekat dengan hidung!” Bahahahah, kreatif untuk memutarbalikkan makjleb.

Itu bukan bau ketiak, atau bukan bau mulut saya. Itu bau guano, alias kotoran kelelawar. Memang baunya mirip bau ketiak yang setelah seharian berolahraga berat, maka dari itu disarankan untuk membawa masker. Kelelawarnya ratusan betewe, ada yang terbang dan ada yang bobok terbalik. Jangan khawatir, mereka kecil-kecil.

Dan selanjutnya… jalan buntu. Oh bukan, di bawah ada genangan. Yang pasti harus basah-basahan. Sebagai orang Jakarta yang langganan banjir, it’s not a problem for me. Oops…

Goa GudawangPersetan dengan sepatu kets mahal, saya hanya melipat celana jeans saya karena dalamnya setengah betis. ‘Jeblus, jeblus’ terdengar jelas di keheningan. Jangan coba-coba teriak a la sinetron di sini, pokoknya jangan…

Kemudian lampu ke sananya sepertinya mati. Namun kami tetap lanjutkan dengan senter HP masing-masing, hingga menemui jalan buntu.

Goa Gudawang

Akhir gua Simenteng

Jadi jika dibilang gelap, memang gelap maksimal. Dan di sana nafas saya entah mengapa menjadi ngos-ngosan. Teman saya dengan serta-merta menyuruh saya agar balik dengan segera, saya tentu saja menurut. Teman saya berkata bahwa oksigen semakin menipis, khawatir saya pingsan. Teman saya hanya ingin satu gua lagi dikunjungi karena dia ingin segera pulang. Yah, ya sudah lah. Saya memilih gua Simasigit, dan dia setuju.Goa GudawangPerjalanan keluar pun dilakukan dan menuju goa satunya (padahal ada tiga gua).


  • Sikecil yang berkesan

Masuklah goa Simasigit, yang menurut bahasa Sunda, masigit artinya masjid. Jadi ini juga dapat disebut dengan petilasannya Prabu Siliwangi. Guanya hanya 1,5 meter di bawah permukaan tanah dan panjangnya cuma 40 meter. Masya Allah kecil amat guanya?! Makanya tidak diberi lampu karena memang guanya kecil. Sebenarnya ada pintu masuk lain, namun tidak dibuka karena sempitnya dan demi keselamatan pula.

Goa Gudawang

Goa GudawangDi dalam perjalanan masuk, teman saya ditelepon bapaknya. Katanya apakah tadi menelpon? Saya tentu saja kaget, orang di gua pastinya tidak ada sinyal dan teman saya selalu bersama saya. Saya bahkan melihat sendiri riwayat panggilannya. Nah loh!

Goa GudawangInilah goa Simasigit, kali ini dengan stalaktit dan stalakmit yang jauh lebih memukau dibandingkan gua yang tadi. Stalaktit adalah batuan kapur/mineral yang menggantung di langit-langit gua, sedangkan stalakmit adalah sebaliknya. Agar tidak tertukar, ingat saja stalakTit dan stalakMit, dengan T yang berarti Tergantung, dan M yang berarti Merendah (gak usah dipaksain juga kaleee).

Goa GudawangINI BARU GOA!

Ya, tapi cuma segitu aja. Harus balik lagi.

Di luar ada gazebo cantik untuk melepas lelah dan ayunan bagi yang masa kecilnya masih jauh dari kata puas. Saya kembali deg-degan untuk masalah biaya parkir, aduh.


  • Penutup

Akhirnya saya merogoh sisa-sisa receh dan teman saya juga hingga terkumpul hanya Rp3.500, cukup untuk naik Transjakarta. Namun ternyata parkirnya memakan biaya Rp4.000. Kata petugasnya, “Tidak apa A…” Ya ampun, ternyata dari tadi memang hanya kami berdua pengunjungnya tanpa ada siapapun. Giliran ada customer, ternyata bayarnya kurang, jadi baper maksimal. Aduh, pas menulis ini air mata hampir jatuh. Gak tega saya, maafkan saya ya pak. Untung ramah petugasnya, ya iya dong, kalau petugasnya senyum saja pelit justru semakin dijauhi pengunjung, sudahlah kurang laku…

Di tempat parkir ada kamar mandi gratis, jadi bisa cuci kaki sebelum pulang karena kaki penuh lumut dan tanah. Apa ada guano menempel di kaki saya?

Pulangnya harus berhadapan lagi dengan truk-truk tadi dan trek yang hancur, dan kali ini truk-truk tersebut jumlahnya berkali-kali lipat dengan asap hitam dari knalpotnya yang menyelimuti muka kami!


Oh, tunggu. Teman saya berkata begini di jalanan kepada saya:

“Mungkin secara ilmiah memang benar oksigen di gua tadi menipis sehingga seseorang cepat ngos-ngosan. Namun saya melihat tadi banyak penghuni gua memenuhi gua hingga sesak makanya kamu ikut ngos-ngosan. Mereka memperhatikan kita…”


  • Galeri

Goa GudawangGoa Gudawang Goa Gudawang Goa Gudawang Goa Gudawang Goa Gudawang Goa Gudawang Goa Gudawang Goa GudawangGoa Gudawang Goa Gudawang Goa Gudawang Goa Gudawang Goa Gudawang Goa Gudawang Goa Gudawang Goa Gudawang Goa Gudawang


  • Lokasi Google Maps

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)