Surga Tersembunyi: Bogor, Curug Lontar

Curug Lontar

Berburu tempat-tempat baru nan unik di Google Maps telah jadi makanan sehari-hari ketika saya sedang bosan dengan kodingan program. Geser sana, geser sini, ah benar-benar buat hati menjadi kenyang.

Tapi tunggu, apa itu? Ada tulisan, Air Terjun Curug Lontar, di daerah Bogor Bagian barat. What’s dis? Saya klik tempatnya dan… Ih bagus! Maukkk… Noted, saya masukkan ke antrian agenda jalan-jalan berikutnya. Sebenarnya saya sudah ada janji dengan teman saya mau saya ajak jalan-jalan ke tempat yang sudah ditentukan, namun pada hari H dia bilang ada kondangan. Yass! Ini berarti, sebagai gantinya saya bisa mengunjungi Curug Lontar tersebut.

Kabar baiknya, ternyata tempatnya angkotable, yay! Angkotable? Bahasa apa itu?


  • Kota sejuta angkot

Jam setengah 8 pagi saya berangkat. Pakai apliaksi Trafi saya diarahkan untuk menggunakan KRL ke Bogor, dilanjutkan dengan angkot 03 ke Terminal Laladon dan turun di Terminalnya (Ongkos Rp4.000). Setelah itu saya harus naik angkot ke Jasinga dan turun di Pasar Leuwiliang (Ongkos Rp10k). Wah, nais, nais. Terbantu deh punya aplikasi transitan begini.

Saya benar-benar pusing dengan para calo yang berebut penumpang di Terminal Laladon. Btw, di tempat yang sama katanya pernah ada pembunuhan karena perebutan calon penumpang. Hi, saya kabur saja cari angkot yang sudah berangkat. Itu pun supir angkot yang saya tanya jawab dengan pelan karena takut ketahuan calo mengambil penumpang tanpa sepengetahuan mereka. Kok Bogor masih begini sih?

Si bapak supir bercerita banyak mengenai anaknya yang bekerja di Jakarta, bergaji di atas UMR, namun justru ingin menjadi supir angkot. Saya bilang, what? Kebetulan saya duduk di depan jadi supir angkot bisa sepuasnya mengobrol dengan saya. Lanjutnya, gaji besar tersebut justru selalu habis karena hura-hura. Ya ampun. Semoga kalian tidak begitu ya, alhamdulillah saya masih memisahkan bagian orang tua saya dari pendapatan saya.

Tibalah di daerah macet. Supir angkot mengeluh kenapa macet tidak gerak-gerak. Saya hanya tersenyum, dia tidak tahu bahwa teman-temannyalah yang jadi sumber kemacetan karena ngetime sana ngetime sini.

Sebenarnya macet terjadi hanya karena pertigaan sih, pertigaan Cinangneng (ningnangningklung), pertigaan Cibatok (macet pengen pada wisata Gunung Bunder mungkin, ada Puncak Mustika Manik juga di sana), dan pertigaan Cikampak.

Sang supir juga kaget begitu saya cerita tentang Bogor yang dikenal dengan Kota Sejuta Angkot.

“Jadi bukan kota hujan lagi ya dikenalnya…? Hahahah.”

Saya minta turun di Pasar Leuwiliang, yang kata Trafi harus lanjut dengan angkot 57. Bahkan si Bapak supir saja tidak tahu jika ada angkot 57. Dia tahunya hanya 52. Wah mantap Trafi ini.


  • Sebuah halaman belakang rumah

Mana angkot 57 nya? Oh, ada di pertigaan Karacak tertutup angkot-angkot BL. Naik 57 ya, bukan BL hehe… Turunnya bilang saja di Curug Lontar atau Curug Karacak. Kalau pakai Trafi saya tidak perlu nanya hehe, karena sudah diarahkan turun di Jl. Raya Curug Parapatan – 2 (siapa sih yang namain stop begini, pakai patokan dong). Tarifnya Rp5.000,-

Terus saya ngapain setelah ini. Tidak ada rambu, tidak ada tanda, tak tahu curugnya mana, hanya bengong di tengah pemukiman warga.

Curug Lontar

Ya sudah saya ke warung beli apa kek yang penting sekaligus basa-basi-baso tanya di mana curugnya. Kata pemilik warung,

“Curugnya ada di belakang rumah saya, pintu masuknya itu ke rumah setelah rumah saya, sekitar dua rumah.”

Setelah berterima kasih saya langsung menuju ke… Eh, setelah rumah si pemilik warung tuh sebelah mana? Kanan apa kiri? Coba saya tebak. Setelah saya jalan mencari rumah yang ada petunjuknya…

Curug Lontar

Yay. Sebelah kanan dari warung ternyata. Eh sekarang, saya harus masuk ke rumah warga gitu? Seorang ibu keluar dari rumahnya bertanya, “Mau kemana jang?”

Saya jawab tentu mau ke curug. Kemudian saya diantar si ibu untuk diberitahu arah ke curugnya. Awalnya saya pikir si ibu mau carikan guide, hampir-hampir saya tolak, ternyata beliau secara tulus mengantarkan saya hingga ke belakang rumahnya, dan memberitahu ke mana jalannya.Curug Lontar

Ya ampun. Saya sekarang berada di antah berantah belakang pekarangan rumah warga. Persis anak hilang yang pemandangannya kanan-kiri hanya tembok rumah dan gentong air. Ya sudah, ada jalan setapak saya ikuti saja. Ke bawah ya?Curug LontarSemakin jelas jalannya semakin ke bawah, saya pikir treknya akan kacau. Aduh baik sekali warganya yang mau bangunkan gazebo di sini. Ditambah lagi, harga hanya untuk parkiran kendaraan, pejalan kaki seperti saya tidak dipungut biaya alias Gretong! Subhanallah. Ya sudah, semakin sini jalannya semakin bagus kok.

Curug Lontar

Dan curugnya sudah terlihat. Banyak juga ya yang datang, saya pikir masih banyak orang yang belum tahu. Ternyata rombongan orang yang datang ke sini.

Curug Lontar

Dan yang lebih tidak terduga? Ada orang lagi syuting! Nggak tahu film apaan.

Curug Lontar

Semua itu terjadi di tempat yang sebenarnya adalah halaman belakang rumah warga! Wew! Bahagia banget ya yang tinggal di sini, mau refreshing tinggal kepleset sampe ke air terjun yang cukup bagus. Namun katanya tidak bisa berenang karena airnya cukup dalam, hanya dapat berendam di pinggir-pinggirnya saja.


  • Terlalu alami

Rombongan demi rombongan mulai banyak yang berdatangan. Oh, sudah viral toh tempatnynya. Ada yang bawa temen, keluarga, pacar, dan sebagainya. Apamah akutu, sendirian doang dengan kamera yang bergelayutan di leher. Mencoba jalan ke arah curug yang banyak sesi foto dadakan. Iya, untuk media sosial mereka mungkin.

Saya, siapa yang mau fotoin? *efekSuaraSedotIngus

Saya hanya ambil foto ini,

Curug Lontar

Sampai akhirnya ada rombongan yang menghampiri saya dan… meminta tolong difotoin. Mereka sangat puas dengan hasil-hasil foto yang saya ambil.

“Abang kerja di media ya?” Tanya salah satu dari mereka. Apa? Apa karena hasil foto saya bagus? Atau karena saya sedang menggendong kamera DSLR? Atau keduanya?

“Bukan, saya programmer.”

Tak lupa saya perlihatkan koleksi foto-foto saya di Instagram, sekaligus saya pinta mereka untuk follow akun IG saya. Hehe… Oh, ternyata mereka Youtubers, nama akunnya Si Yakuza atau apa… gitu. Saya katakan bahwa maksud Yakuza di sini bukan Yah Si Kurang Azar kan? Mereka tertawa, yang setelah diberi tahu, Yakuza adalah singkatan dari nama-nama mereka. Wah.

Di antara mereka ada yang teriak-teriak karena batunya terlalu panas. Saya yang penasaran coba membuka sepatu saya dan mulai berdiri di atas batu-batu. Ya ampun, saya hanya bertahan 10 detik karena sengatan panas. Saya berucap, “kalian besok-besok kalau ke sini lagi, jangan lupa bawa telor. Kayaknya ceplok telor di atas batu bisa langsung mateng.”

“Iya ya… Hehe.” Balas mereka.

Mereka akhirnya fokus dengan kegiatan mereka kembali, di mana saya mulai kembali sendirian.

Curug Lontar

Di tengah-tengah renungan seorang diri, mereka datang lagi kepada saya. Iya, Youtubers tersebut. Mereka mungkin akan mengobrol dengan saya lebih jauh…

“Bang, ada Power Bank nggak?”

Oh, cuma ingin pinjam power bank.

“Ada, ambil saja di tas saya bagian depan. Jangan lupa kabelnya yang oren karena daya isinya lebih cepat.”

Setelah itu kembali menyendiri.Curug LontarTerdengar suara berisik-berisik dari belakang. Rupanya orang-orang yang sedang mengambil film tersebut mulai berpindah ke arah saya, dan saya pun belum shalat Zhuhur. Saya lihat sudah pukul dua siang. Ya sudah, mungkin ini sinyal untuk segera pulang.

Para Youtubers tersebut juga sudah pulang. Saya yang sendiri, melihat kembali curug yang akan saya tinggalkan itu.

Curug Lontar

Sering-sering ya, ada tempat wisata seperti ini…

Di atas ada masjid, dan ketika sampai di Pasar Leuwiliang tepat waktu Ashar jadi bisa berjamaah. Tidak, curug yang ini tidak terlalu membuat badan saya bauk seperti curug sebelumnya. Sehingga, shalat jamaah pun tidak terlalu minder hehe, itulah mengapa saya usahakan bawa parfum kemana pun saya pergi.

Dari IPB hujan deras, alhamdulillah ada di dalam angkot. Jam 5 lewat saya sudah berada di stasiun dan kembali pulang ke indekos tercinta.

Apa? Powerbank saya? Sudah dikembalikan oleh mereka kok.


  • Galeri

Curug Lontar

Curug Lontar

Curug Lontar Curug Lontar

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)