Please Don’t: Cianjur Selatan, Curug Ngebul

Curug Ngebul

Jadwal privat kilat saudara jauh saya dengan saya tiba-tiba diliburkan. Saya tidak tahu apakah ini adalah berita baik atau buruk. Yang pasti, saya harus memanfaatkan sebaik-baiknya waktu luang untuk berlibur…! Maksud saya, tentu saja jalan-jalan, apa lagi?

Sebuah telepon genggam kesaktian langsung saya operasikan dengan membabibuta untuk memberitahu teman saya mengenai jadwal libur saya. Karena kami sudah kangen jalan malam dan menginap lagi, saya memutuskan untuk pergi ke tempat yang jauh. Entah Sukabumi Selatan, atau Cianjur Selatan.

Database destinasi travelling saya masih banyak sih untuk seukuran Jawa Barat dan Banten saja, baik yang menggunakan angkot, maupun yang tidak. Waktu itu saya masih bingung apakah ingin ke Curug Cihear, Curug Cikondang, atau Curug Ngebul. Namun karena gambar di Google ternyata lebih berpihak kepada Curug Ngebul, ya jadi yang itu.

Okay, pukul 5 sore kami berangkat (biasanya bada Isya) karena teman saya harus mengurus plat nomor dan surat kehilangan. Ok, tidak mengapa, karena alhamdulillah ternyata lancar meski banyak polsek yang tutup (ada acara apa sih ya, tutupnya bisa barengan begitu).


  • Kagum diiringi dengan sumpah serapah

Apa? Kami memakai apa ke sananya? Jelas sepeda motor. Karena saya katakan langsung kepada teman saya, bahwa jika dia ikut, maka saya pilihkan destinasi jauh yang tidak dilalui kendaraan umum dan sulit diakses. Sebab jika aksesnya dilalui angkot, jelas saya lebih memilih untuk berangkat sendirian. Hehe…

Maka dari itu, saya menyediakan artikel pelayanan khusus bagi para angkoters tercinta seperti saya ini, dengan mengecek link-link wisata yang cukup ramah angkot berikut. Terima kasih ~

Lewat Puncak dan berhenti dulu di KFC untuk makan malam setelah saya menggeleng ditawari makan di warung lesehan (belagu amat saya yak?), kami bisa melanjutkan ke Cianjur dan melewati rute yang persis sama ketika kami dahulu ke Curug Citambur. Setelah pukul setengah 1 malam, kami istirahat dahulu di masjid mewah depan rumah dinas bupati Cianjur. Alhamdulillah masih dibuka untuk umum jadi saya bisa numpang pipis.

Curug Ngebul

Curug NgebulCurug Ngebul

Sayang tidak diperbolehkan untuk tidur di masjid meski bukan di ruang utama. Untungnya, di luar masjid disediakan saung untuk menginap gratis. Ya sudah. Dan untungnya saya bawa sarung, jadi bisa diselimuti. Namun ternyata angin gunung begitu ganas sehingga saya hanya dapat tidur satu jam saja, ditambah denguran teman saya yang ingin rasanya saya tabok pipinya.

Btw… saya izin riya ya…

Curug Ngebul

Setelah dilanda menggigil parah, kami mulai mencari warung 24 jam dan memesan susu jahe dan mie panas. Di seberang warung persis ada mushalla, eh, masjid yang ternyata banyak orang yang diperbolehkan menginap di area shalat wanita. Ah, coba tadi bobok di sini…

Setelah shalat shubuh di mushalla tersebut kami melanjutkan lagi ke arah kebun teh yang menjadi bibit nostalgia sewaktu ke Citambur. Kemudian, belok kiri menuju Curug Ngebulnya seperti yang diarahkan oleh kuncen Gugel.

Dari sinilah neraka dimulai. Yup, jalanan rusak, even saya tidak tahu harus saya sebut apa jalanan itu. Meski jalanannya kadang ada yang bagus dicor, namun sisanya itu loh. Saya sendiri tidak tega dengan teman saya. Semoga dia tidak menagih biaya servis untuk kendaraannya kepada saya hehe…

Sampai akhirnya saya mengamuk dan bersumpah serapah, serta teman saya yang tidak sanggup dan menitipkan kendaraannya kepada warga setempat. Tak lupa, saya lapor kepada pemerintah provinsi agar jalanannya dibetulkan. Jangankan untuk warga sekitar, untuk para wisatawan yang dapat mendongkrak pemasukan daerah via pariwisata saja cuek.

Saya lapor via Twitter:

Curug Ngebul

Dibalas sih, tapi harus isi form dengan disertakan RT dan RW bersangkutan. WHAT?! Can’t you make everything less tricky?! Jika di Jakarta maka cukup isi kelurahan/desa yang bersangkutan dan patokan jalan dan langsung ditindak. Mana tahu saya RT dan RW berapa, sesuai KTP lagi. Semoga diperbaiki.


  • Tahun 70-an yang menyapa

Mau tidak mau, kami memutuskan untuk berjalan kaki sejauh 3km dan menanjak. Teman saya sempat beli roti tawar dan selainya di Sukanegara atau sebelum kebun teh. Namun coba tebak, minumnya tidak ada. Untungnya, di atas ternyata masih ada pemukiman dan saya istirahat untuk sarapan dan beli minum.

Saya ajak berbincang bapak pemilik warung yang ternyata adalah ketua RW sana. Beliau berterima kasih kepada saya karena sudah peduli atas jalan rusak dan dilaporkan (beliau tidak tahu jika saya masih harus mengisi form pengaduan yang bejubel begitu, huhuhu). Katanya, padahal pemerintah berjanji ingin membetulkan jalannya yang sejauh 3 km ini. Ditepati sih, namun hanya 300 meter saja. Sisanya jalan cor-coran yang sempat terlewati, ternyata adalah hasil swadaya masyarakat, bukan uang pemerintah.

Terenyuh saya. Kalau bisa, besok-besok warga setempat dikorting saja bayar pajaknya. Beliau tertawa.

Perjalanan yang kemudian dilanjutkan, seperti mulai masuk ke nuansa tropis zaman dahulu, dengan sapaan hangat setiap warga dan panorama khas negeri ini, membuat perjalanan di atas bebatuan rusak yang minim alternatif ini tidak terasa lelahnya.

Curug Ngebul Curug Ngebul

Sebenarnya air terjunnya sudah terlihat dari jauh, namun ternyata masih 1 km lagi. Semangat abang-abangquuh… Saya sambil memutar musikal jazz Disney yang meresap dengan pemandangan setempat. Subhanallaahi wa bihamdih.

Curug Ngebul

Bahkan sungainya masih sangat jernih! Saya mau sekali minum langsung dari sana. Tetapi saya jelajahi lebih jauh ternyata banyak emak-emak sedang mencuci pakaian dengan berhiaskan busa detergen. Untung gak jadi minum…

“Ka mana jang? (Ke mana nak?)” Kata setiap warga yang menyapa.
“Ka curug bu, ai curugna tos caket nya? (ke air terjun bu, udah deket ya?)” Sapa saya balik.
“Lumayan ujang… lempeng bae ka dinya. (Lumayan nak, lurus aja ke sana)” Jawab sang ibu.
“Turnuhun ibu… (Makasih ibu…)”

Intinya setelah bertanya sana-sini sedikit tiba-tiba ada gerbang tiket di depan dan kami ditagih Rp7.500,- masing-masing oleh petugas bersangkutan tanpa biaya parkir. Ya iya dong.


  • Skala prioritas

Tiketnya dibuang sembarangan oleh teman saya. Saya pungut lagi dan bertanya kenapa, dia menjawab bahwa pelayanannya kurang memuaskan. Saya tertawa. Mengerti juga masalah pelayanan dia. Tapi sebenarnya untuk ukuran pelayanan daerah masih dapat dimaafkan kok hahah.

Sebelum turun menuju curug, ada warung, jadi lebih baik jajan dulu disana. Tapi aneh, hari Minggu namun pengunjung sangat sedikit. Mungkin mereka kapok dengan kondisi jalannya dan ‘menghasut’ teman-temannya agar tidak perlu datang ke sini hehe… Ya tidak masalah, ini seharusnya jadi PR bagi pemerintah.

Nah, kan, baru juga dibilang, jalanan menuju curugnya rusak lagi,

Curug Ngebul

Gusti… gusti… itu taruhannya nyawa lho. Mana licin begitu tanahnya. Ya sudahlah, mirip seperti jalan ke air terjun Puncak Manik.

Jalannya tidak jauh, mungkin hanya 250 meter, dan air terjunnya memang cukup tinggi.

Curug Ngebul

Ada saung-saung untuk melepas penat. Namun toiletnya tidak memiliki keran. Loh kok?

Dan alasan saya ingin ke Curug Ngebul adalah karena gambar di Google berikut:

curug-ngebul-4

Ini foto orang btw

Tapi mana bunganyaaa….???

Yang ada hanya bendungan kecil untuk berendam.

Curug Ngebul

Ketika saya tanya wisatawan lain yang ternyata dari Bekasi dan Tangerang Selatan, mereka bilang bahwa itu adalah foto zaman dahulu sebelum dibangun bendungan. Mereka mungkin dapat info tersebut dari warga aslinya. Kecewa deh saya. Tak puas dengan jawaban itu, saya bertanya mengenai siapa yang bangun bendungannya.

Dijawab, “Warga dan pemerintah sepertinya.”

Saya timpali, “Mengapa mereka tidak seharusnya fokus dahulu dengan perbaikan jalannya daripada bangun sesuatu yang menghilangkan bunga-bunga???”

Mereka menjawab, “Iya juga ya…”

Ah. Ya sudah. Biarlah curug ini sepi selama jalannya masih belum diperbaiki dan tidak ditambahkan fitur-fitur cantik seperti tetangganya, Curug Citambur.

Setelah itu mau apa lagi? Ya sudah, menikmati kebersamaan bersama dan bercengkrama, kemudian pulang dengan kondisi badan yang bauk karena keringat dan tengah hari bengkak. Untung saya bawa baju ganti, jadi saya buka baju saja di sebuah bilik di tengah perjalanan. Bodo amat.

Tapi… saya agak sulit meninggalkan ini,

Curug Ngebul Curug Ngebul


  • Sayonara

Kami mampir ke masjid bupati yang kemarin malam bersama rekan dadakan kami yang juga ingin pulang. Ternyata semuanya pada mandi di kamar mandi masjid bhahahah. Sekalian shalat zhuhur dan ashar di masjid tersebut karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore lebih.

Sorenya hujan, jadi kami berteduh dahulu di masjid sekalian shalat maghrib, yang sebelumnya di tengah-tengah perjalanan saya dapat berita bahwa server untuk klien saya tidak bisa diakses. You know what? Saya ngoding lewat HP ketika teman saya sedang ngebut di jalan yang meliuk-liuk. Sebuah kantor portable yang praktis!

Saya bahkan sempat tertidur hingga bermimpi di atas sepeda motor ketika masih di Cisarua. Bangun-bangun jelas saya kaget, untung tidak jomplang hahah. Teman saya sudah saya beri kesempatan tidur di saung masjid setelah ashar, disaat saya memilih untuk berbicara dengan rekan perjalanan kami.

Ya sudahlah. Akhirnya saya bertemu bantal jam 11 malam.


  • Galeri

Curug Ngebul Curug Ngebul Curug Ngebul Curug Ngebul Curug Ngebul Curug Ngebul Curug NgebulCurug Ngebul Curug Ngebul

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)