Pengalaman Horor Teman Terbaik #8 : Pulang Kampung

Pulang Kampung

Kembali kepada kisah Uwi yang pernah bertemu dengan Aul dan Pajajaran, kali ini pada lebaran tahun kemarin dia mengalami sebuah kisah yang sangat menarik untuk diceritakan. Kebetulan Uwi baru bertemu saya lebaran tahun ini yang memang sedang ada peristiwa wabah jadi tidak ada yang pulang ke kampung halamannya masing-masing.

Malam itu, Uwi, kakaknya, dan dua orang temannya, Ole dan Sule, sedang melakukan perjalanan pulang kampung ke arah Cirebon menggunakan sepeda motor. Uwi dan kakaknya membawa kendaraannya masing-masing, sedangkan Ole membonceng Sule. Mereka memutuskan tidak melewati Pantura, melainkan melewati Cikamurang yang ketika di Subang mereka bertemu dengan jalur yang dikelilingi kebun-kebun karet.

Sebelumnya Uwi bertemu dengan penjual sekoteng tepat sebelum memasuki kawasan perkebunan karet di sekitar Kalijati, Subang. Mereka memutuskan untuk berhenti dan bercakap-cakap dengan penjual sekoteng tersebut.

“Hati-hati.” Penjual tersebut mengingatkan.

“Di sini banyak kecelakaan. Fokus saja (berkendara). Yang penting ingat tiga pantangan ini selama berkendara di daerah sini, jangan klakson lebih dari tujuh kali, jangan teriak-teriak, dan jangan berkata kasar.”

Uwi merasa ada yang janggal dari penjual sekoteng tersebut. Tapi ia tidak tahu apa. Selepas makan sekoteng, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka mulai memasuki perkebunan karet, Uwi melihat ke spion memperhatikan Ole dan Sule, memastikan masih mengikutinya.

Uwi tiba-tiba menyadari sesuatu, tukang sekoteng sudah tidak lagi berdiri di sana. Bulu roma langsung berdiri di sekujur tubuh Uwi yang sedang mencoba untuk mengacuhkan apa pun itu.

Malam itu begitu gelap, sangat gelap, cukuplah hanya mengandalkan lampu dari kendaraan saja. Kakaknya Uwi memimpin perjalanan, Uwi di belakangnya, sedangkan Ole dan Sule masih jauh di belakangnya. Uwi masih mengikuti cahaya yang ia yakini berasal dari lampu belakang kendaraan kakaknya.

Entah mengapa, atmosfer sepanjang jalan terasa berbeda. Pohon-pohon yang menaungi jalan raya seakan seperti tirai panggung pertunjukan. Ranting pohon-pohon tersebut terlihat seperti bergerak membuka jalan. Namun Uwi tidak terlalu memikirkan itu, ia hanya fokus mengikuti sang kakak.

“Oiii, tungguin dong.” Uwi kesal karena kakaknya sepertinya berkendara terlalu cepat.

“Oiii, tungguin!” Uwi sekali lagi teriak sambil membunyikan klakson berkali-kali.

“OIII A*S*U (Anj*ng, Jw.)! TUNGGUIN!!!” Tak terasa sumpah serapah keluar dari mulut Uwi.

Kendaraan kakaknya tiba-tiba memelan, semakin memelan hingga berhenti. Uwi kini bisa mengejarnya. Namun ada yang aneh, kendaraan kakaknya terlihat mundur, mundur, dan semakin mundur dengan kecepatan yang semakin lama semakin tinggi. Uwi tidak tahu, tapi cahaya yang sedari tadi ia ikuti itu ternyata bukan dari kendaraan kakaknya, tidak tahu itu apa.

Cahaya tersebut semakin mundur dengan kecepatan tinggi dan bersiap menabrak Uwi. Semakin silau, Uwi tidak bisa melihat apapun. Ia semakin ditelan cahaya tersebut.

Drep! Kendaraan Uwi tiba-tiba ada yang menarik dari belakang. Uwi kaget tentu saja, sontak rem langsung ditekan seluruhnya.

“Loe ngapain!!!” Itu suara kakaknya.

Uwi kebingungan. Tadi bukannya ia mengikuti kakaknya?

“Liat di depan tuh!”

Uwi menoleh ke depan, sebuah pemandangan yang hanya dapat disinari lampu depan kendaraannya. Uwi memicingkan mata untuk memastikan pemandangan apa yang ia lihat persis di depannya. Setelah itu, Uwi benar-benar terkejut setengah mati.

Jurang. Benar, jurang. Dan hanya beberapa sentimeter dari roda depan sepeda motornya!

“Loe ngantuk? Sepanjang jalan loe tuh merem pas nyetir!” Kakaknya Uwi membuat Uwi semakin bingung. Dari tadi bukannya saya fokus nyetir ya? Pikirnya.

Begitu sadar, mereka berdua kini tidak lagi berada di jalan raya, melainkan di hutan jauh di dalam perkebunan karet. Hanya ada gelap, dan hanya terdengar suara binatang malam serta bunyi kendaraan mereka.

Akhirnya mereka sepakat untuk keluar, namun begitu hampir sampai ke jalan raya, Uwi kembali ditarik oleh kakaknya.

“Nanti dulu aja, coba panggil Ole sama Sule, share loc, suruh mereka kemari. Khawatir gelap-gelap begini ada begal.”

Setelah mereka semua bertemu di tengah kegelapan malam, ada yang menemukan pemukiman penduduk di dalam hutan. Lampu-lampu tersebut meyakinkan mereka. Di antara mereka ada yang mengusulkan untuk bermalam di pemukiman tersebut, semuanya setuju. Barangkali ada penduduk yang sudi untuk menampung mereka atau setidaknya ada masjid/musala untuk sekedar bermalam di sana.

Begitu tiba di bibir pemukiman, ternyata desa tersebut tidak begitu sepi. Masih ada beberapa warga, terutama anak-anak muda yang nongkrong dan wara-wiri. Sampai akhirnya mereka berhenti di depan salah satu gerbang rumah warga, seorang warga, pria berusia lanjut, yang ternyata belum tidur keluar rumah.

“Sedang apa di luar? Sini masuk…” Sang kakek membukakan gerbang rumahnya untuk mereka. Sang kakek menggunakan bahasa dan logat Jawa yang begitu kental. Uwi dan kawan-kawan heran karena seharusnya di sini orang-orang berbahasa Sunda.

Setelah mereka memarkirkan kendaraannya di halaman warga tersebut, mereka menyampaikan maksud dan tujuan bahwa mereka ingin menginap.

Sang kakek mempersilakan untuk masuk ke dalam. Terlihat beberapa anggota keluarganya dan seorang perempuan muda hilir mudik untuk menyiapkan hidangan untuk mereka.

“Saya di sini adalah orang yang disegani. Kalian pasti lelah, duduk-duduk saja dulu di sini.” Sang kakek menawarkan ruang depan rumahnya sebagai tempat menginap. Salah seorang dari kami menawarkan rokok kami untuk sang Kakek.

Sayup-sayup terdengar hujan turun, yang semakin lama semakin deras, diikuti oleh angin kencang.

Uwi kemudian melihat sesuatu di luar.

Sebuah kain berwarna kuning, kuning ini memang benar-benar warna kain tersebut, bukan kain putih yang terlihat kotor, tergantung di sebuah tiang jemuran di depan rumah sang Kakek. Apa itu jemuran dari keluarga si Kakek yang belum diangkat?

Melihat sang Kakek masih asyik mengobrol dengan kakak dan kawan-kawan Uwi, Uwi akhirnya berinisiatif keluar dan mengambil kain jemuran yang mulai basah kuyup dan berkibar-kibar oleh kencangnya angin.

Uwi membuka gerbang rumah sang Kakek dan berlari ke arah kain kuning tersebut, ia mengangkatnya dan melingkarkan kain tersebut di lehernya agar tidak terbang bersama angin. Tetapi sepanjang perjalanan menuju gerbang rumah si Kakek, Uwi merasa kain tersebut benar-benar ingin ‘melarikan diri’ terbawa angin sehingga Uwi merasa tertarik-tarik oleh kain tersebut.

Apa anginnya benar-benar sekencang itu?

Sesampainya di halaman rumah, Uwi langsung menaruh kain tersebut di atas ember besar yang teronggok di sisi halaman.

“BEDEBUG!” Kain itu mengeluarkan suara kencang. Uwi kaget. Itu hanya kain biasa ketika ia lihat-lihat, mengapa bunyinya seperti ia habis membanting seseorang?

Ketika ia tiba di teras, sudah ada sang kakek di hadapannya.

“Kau barusan sedang apa?” Tanya sang Kakek.

“Oh, tadi ada jemuran di luar mbah, saya tadi langsung angkat biar nggak kehujanan.” Uwi menjelaskan duduk perkaranya.

“Jemuran yang mana?” Tanya sang Kakek.

Uwi kemudian menunjuk ke arah ember dan kain tersebut sudah tidak lagi di sana.

Kemana kain tersebut? Uwi yakin ia taruh di ember besar itu. Uwi terus memberikan penjelasan, namun sang Kakek justru tertawa melihat ekspresi Uwi.

“Kamu tahu nggak?” Tanya sang Kakek dengan logat Jawa yang begitu kental. Uwi mencoba mendengarkan dengan saksama jawaban sang Kakek.

“Yang kamu gendong barusan itu anak saya…”

Jawaban sang Kakek kini benar-benar hampir membuat jantung Uwi copot. Uwi hanya lihat bahwa itu hanyalah sebuah kain. Tidak lebih. Merasa tidak beres, sambil mendengarkan sang Kakek, Uwi segera mengeluarkan smartphonenya dan mewhatshapp kakaknya agar keluar menemuinya.

Kemudian sang Kakek melanjutkan, “Karena kamu sudah tahu hal ini, saya akan menunjukkan sesuatu padamu…”

Bersambung ke kisah #9

Isi kotak di bawah untuk berkomentar, atau artikel di atas dapat kalian diskusikan di Forum Terbaru Anandastoon. :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon