Saya waktu itu pernah mengobrol dengan orang yang baru saya kenal. Dia mengobrol dengan saya sembarang tema dan kami selalu larut dalam obrolan. Temanya dari mulai seputar IT, game, agama, masalah sosial, sampai musik. Dia akhirnya berkata, “Nan, elu kalo ngobrol, tema yang lu seneng apaan si?”
Saya bilang kalau saya sebenarnya suka hampir seluruh tema obrolan, cuma ada satu yang paling saya suka, jika mengobrol dengan tema ini mungkin bisa-bisa sampai subuh pun belum juga selesai.
Cerita horor, misteri, legenda urban, namai saja sisanya, adalah tema obrolan favorit saya.
Apa itu artinya saya berani dan tidak takut hantu? Ew no no no… justru saya boleh dibilang lumayan penakut dan saya bersyukur setidaknya hari ini saya belum pernah lagi mengalami hal mistis. Terakhir kali saya mengalami hal mistis yaitu saat saya masih di bawah lima tahun.
Lalu mengapa cerita horor adalah tema obrolan favorit saya?
Saat teman saya bercerita horor, yang saya suka darinya adalah saat ia benar-benar menceritakan pengalaman tidak menyenangkannya itu dengan campuran berbagai emosi. Entah itu perasaan kesal, takut, atau heran.
Perasaan yang dikeluarkan saat saya mendengarkan atau membaca cerita horor inilah yang membuat saya menjadi ikut terhanyut dalam ceritanya. Tentu saja hal ini memberikan sensasi tersendiri yang membuat ketagihan.
Saat seseorang bercerita hal-hal mistis entah lewat tulisan, obrolan, atau video, yang saya nikmati dari cerita tersebut adalah hal-hal yang tidak biasa kita alami.
Misalnya ketika seseorang bercerita bahwa ia seringkali dikuntit oleh sesuatu yang bermata merah tajam, atau saat di atas kepalanya muncul bayangan putih seperti sesosok perempuan tanpa kaki terbang melayang, dan sejenisnya.
Atau cerita horor yang jenisnya adalah ketegangan atau psikopat, juga cerita di mana peristiwa-peristiwa yang tidak terduga dialami oleh seseorang yang memang berbeda dari orang biasanya.
Saya tidak tahu mengapa, saya hanya menikmati cerita-cerita semacam itu.
Ada salah satu aspek cerita horor yang tidak dimiliki oleh cerita lainnya, yaitu atmosfer kengerian. Apa yang ada dipikiran kita saat kita berdiri sendirian di tengah ruangan yang gelap dengan sumber pencahayaan satu-satunya adalah lampu redup di atas kepala kita dengan alunan musik yang bernada lamban dan minim instrumen?
Terkadang atmosfer kengerian ini dapat menjadi seni tersendiri dalam merasakan arti dari kesendirian. Bagaimana jika suatu saat kita tersesat di tengah hutan sendirian di waktu malam? Bagaimana jika kita pergi ke kampung halaman yang masih dikelilingi dengan perkebunan dan minim penerangan?
Bahkan atmosfer-atmosfer tersebut memiliki ‘aroma’ tersendiri yang mungkin kita rindu untuk mengalaminya kembali.
Inilah alasan mengapa wisata malam ke tempat terbuka sesekali harus dilakukan bagi beberapa orang, yang mana saya pernah bahas di artikel berikut.
Beberapa cerita horor memiliki cekpoin tersendiri dengan memori tertentu. Itulah salah satu alasan saat seseorang bercerita mengenai kengerian yang terjadi padanya, ada satu titik di mana sebuah memori lain muncul di benaknya.
Misalnya, “Ini terjadi waktu saya masih di SMA itu. Waktu itu saya benar-benar menikmati masa-masa saat nongkrong dengan teman di sekolah sampai pukul 9 malam”.
Atau, “Ini zaman nenek saya dulu yang masih suka mendengar sirine sebagai tanda datangnya penjajah dan sekampung diperintahkan untuk bersembunyi di sebuah lubang untuk menghindari kejamnya penjajah.”
Kesan yang dapat ikut terbayangkan ini membangun sebuah memori yang kemungkinan dapat melatih rasa simpati seseorang. Biasanya jika kita mendengar cerita kengerian yang dibalut sebuah memori tersebut, otak kita akan merespon seperti misalnya, “Oh yaampun waktu itu banyak betul ya kegiatan yang dilakukan yang mana hari ini sudah jarang terlihat…” atau respon lain yang serupa.
Saat saya sedang bosan dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengisi waktu, biasanya saya mencari teman untuk mengisi kekosongan waktu tersebut. Cerita horor adalah sebuah alternatif yang cantik untuk membangkitkan liarnya imajinasi saya sebagai salah satu bahan bakar inspirasi untuk melakukan sesuatu.
Atau misalnya saat menunggu waktu berbuka puasa, ketika saya dan teman-teman mengadakan acara buka puasa bersama, untuk sekedar membunuh waktu saya menawarkan tema cerita horor sebagai ganti dari tema membicarakan orang lain jika sedang tidak terpikirkan tema lain atau sekedar sedikit siraman rohani.
Jadi meskipun saya berharap saya tidak mengalami hal-hal gaib yang mengerikan, karena alasan-alasan itulah saya tetap bersemangat untuk menjadi pemirsa atas kejadian-kejadian dari dimensi lain.