“App Fatigue” Terlalu Banyak Aplikasi Di Smartphone

Terlalu Banyak Aplikasi

“Jangan lupa download juga aplikasi kami agar dapat menukar poin…!”

Seorang kasir di sebuah kafe menawarkan saya untuk mendownload aplikasinya dan menawarkan berbagai macam keuntungan. Saya tidak serta-merta mendownloadnya karena ada suatu alasan penting.

Saya merasa sudah terlalu banyak aplikasi yang “mengendap” di ponsel pintar saya, yang membuatnya justru seperti semakin tidak pintar. Memori yang semakin cepat habis, baterai yang semakin cepat terkuras, ponsel yang dirasa semakin melambat adalah alasan-alasan utama saya tidak begitu ingin menambah banyak aplikasi.

“App Fatigue”, atau merasa lelah karena terlalu banyak aplikasi, baik di gadget mana pun menjadi fenomena baru bagi sebagian masyarakat di zaman milenial ini. Alih-alih pengguna berbahagia dengan banyaknya pilihan aplikasi, justru pengguna dibuat ‘risih’ dengan kehadiran banyak aplikasi yang dirasa semakin hari semakin menggerogoti ponselnya.


  • Memudahkan yang terlewat batas

Sebelumnya saya sempat menulis artikel yang terkait dampak negatif dari kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi-teknologi masa kini. “App Fatigue” adalah salah satu dampak negatif yang paling tidak kasat mata.

Sekarang bayangkan, jika setiap bulan ada puluhan entre-dan-teknopreneur yang menawarkan jasanya via download aplikasi mereka, dan kita benar-benar download aplikasi-aplikasi tersebut. Pada akhirnya yang paling nyaman di sisi kita kemungkinan hanya ada satu atau dua aplikasi serupa, dengan sisanya yang hampir tidak pernah lagi kita gunakan sama sekali.

Efek sampingnya? Kita akan dilema untuk membuangnya. Ini seperti kita membeli sesuatu yang hanya berguna jika dipakai sekali, namun ragu untuk membuangnya disebabkan kita khawatir jika nantinya barang tersebut akan berguna untuk kita sewaktu-waktu. Begitu pula dengan aplikasi.

Di samping itu, hasrat kita untuk terus mendowload terus-menerus sepertinya sulit untuk dibendung, dengan alasan, “Kita coba dulu saja. Jika tidak puas tinggal uninstall.

Nyatanya, apakah ada aplikasi-aplikasi yang tidak terlalu berfaedah tersebut sudah di-uninstall? Mengapa kebanyakan kita gemar berbohong kepada diri kita sendiri?

Sekarang, kita berbicara mengenai data.

Terlalu Banyak Aplikasi

Berdasarkan penelitian dari Gartner, 41% konsumen tidak mendownload lagi aplikasi tambahan untuk gadget mereka. Dan 20% lainnya lebih memilih untuk menjadi ‘minimalis’.


  • Minimalis, bukan solusi praktis

Kita tidak bisa sembarangan berkata kepada seseorang, “Kan, user tinggal hapus saja aplikasinya yang tidak diperlukan.”, atau, “Kan, user tidak perlu download banyak aplikasi.”

Kebanyakan orang yang senang akan solusi praktis justru akan menuai banyak masalah di kemudian hari. Meskipun terlihat mudah, namun mengubah kebiasaan seseorang apalagi yang terlihat ‘sayang untuk dibuang’ akan menjadi sesuatu yang sulit setengah mati.

Jangan khawatir, segala sesuatu memiliki cara, dan cara terbaik untuk menghilangkan gejala “app fatigue” di sini antara lain,

  • Mulailah mencari aplikasi yang paling jarang digunakan

Saya yakin ada satu, atau dua, di mana aplikasi tersebut memang hampir tidak pernah dibuka sama sekali. Saran saya, hilangkan segala bentuk rasa sayang jika aplikasi tersebut dibuang karena, percaya dengan saya, kalian tidak akan pernah membuka aplikasi tersebut lagi, apa pun kondisinya. Jadi, cobalah mulai uninstall satu… saja.

  • Buatlah target

Saya paham bahwa kita tidak bisa semerta-merta menghapus sebuah aplikasi ini. Namun kembali kita bertanya kepada sebuah aplikasi yang jarang kita pakai. Bisakah aplikasi ini akan saya hapus dalam seminggu ini? Kita perlu waktu untuk memutuskan tentu saja, dengan adanya target ini, kita seakan memberi jatuh tempo kepada kecepatan kita dalam mengambil sebuah keputusan.

  • Cari aplikasi duplikat

Pertanyaan saya, ada berapa aplikasi belanja online di gadget kalian? Jika lebih dari dua, persiapkan untuk menghapus salah satunya. Kebanyakan orang mendownload sebuah aplikasi seperti belanja online, transportasi online, aplikasi keuangan online, dan online-online yang lain bukan hanya sebatas ‘ingin mencoba’, melainkan karena adanya promo-promo menggiurkan dari penyedia aplikasi tersebut.

Sekarang, pilih yang promonya sudah habis, lalu uninstall. Mungkin terdengar sedikit jahat, namun inilah memang resiko para pelakor bisnis online. Jangan lupa backup data transaksi jika masih ada. Begitu juga dengan permainan-permainan yang memang sudah tidak pernah dibuka kembali dan memang sudah sangat bosan.


  • Perhatian untuk para entrepreneur

Masih pada survey Gartner, sepertiga entrepreneur tumbang di 2018. Ada apa? Hal ini sudah saya pernah jelaskan di artikel berikut, dan berikut. Kebanyakan para pelaku bisnis membuat menyajikan sebuah aplikasi hanya berdasarkan tampilan dan ‘perasaan’ saja (UI). Ada pun kebanyakan fitur yang memudahkan konsumen dalam menggunakan aplikasi tersebut (UX), seringkali diabaikan.

Saya sudah sangat lelah melihat review aplikasi-aplikasi yang komplainnya kebanyakan masalah teknis yang saya katakan terlalu dasar seperti seringkali tidak dapat login, loading yang terlalu lama, aplikasi menyebabkan ponsel panas dan menyedot baterai, bahkan tidak jarang aplikasi tersebut crash dan membuat ponsel hang.

Bukan, dalam artian bukan berarti bug-bug tersebut dilarang muncul, karena aplikasi sekelas Facebook dan Instagram pun pernah mengalami kejadian serupa. Namun berdasarkan pengalaman saya, kebanyakan aplikasi dari tekno-teknopreneur yang saya coba justru sudah berat dan hang padahal penggunanya masih sangat sedikit.

Inilah masalah teknis ringan yang seringkali diabaikan pihak IT. Mereka terlalu buru-buru me-launch aplikasi mereka, kurangnya manajemen resiko mereka, dan pihak tester hanya menguji sebatas yang normal-normal saja. Padahal banyak konsumen yang “jorok” dan “iseng” mengeksplor seluruh aplikasi.

Saya sendiri jika tidak diminta klien-klien saya, saya enggan membuat versi mobilenya karena kebanyakan customer saya sudah puas dengan aplikasi webnya.


  • Kesimpulan

Kita ingin ponsel kita tahan lama, dalam hal ini termasuk kapasitas baterai yang juga awet. Karena kebanyakan aplikasi-aplikasi yang kita pakai secara tidak langsung bekerja di latar belakang meskipun aplikasi telah kita tutup sempurna. Inilah yang menyebabkan baterai dan memori banyak terkuras.

Jadilah minimalis dengan cara membuangnya satu per satu, dari yang tidak kita pakai sama sekali hingga yang paling tidak efisien. Saya akui itu berat karena adanya perasaan ‘sayang’ kepada aplikasi tersebut jika kita uninstall. Namun saya sendiri akhirnya sudah berhasil meng-uninstall 5 aplikasi dari 30 lebih aplikasi yang menempel di ponsel pintar saya.

Hasilnya lumayan, baterai saya bisa sedikit lebih lama dan saya hampir tidak pernah punya masalah lagi dengan memori. Baik RAM, maupun penyimpanannya. Sesekali kadang saya siram memori buangan aplikasi, namun tidak sesering sewaktu ponsel saya masih memiliki banyak aplikasi.

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)